Sepeda Pelaris
Desember 25th, 2008 by deni_doank
Kala itu sungguh sial nasibku, sudah puluhan kali aku berjalan mengitari rumah-rumah itu namun tak ada satupun orang yang sekedar berucap “Jamunya Mbak”. Tak biasanya kurasakan sial seperti ini, sesial-sialnya aku, paling tidak lima gelas jamuku larut dalam perut mereka tiap harinya. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada ketiga anakku nanti. Bukannya apa-apa, aku sudah berjanji pada mereka semua akan mencarikan uang sekolah yang sudah menunggak sejak tiga bulan lalu.
“Maafkan Ibu ya Nak, hari ini Ibu tidak bisa memberikan uang itu pada kalian,” sesalku dalam hati.
Hari kian sore namun jamuku masih tetap utuh seperti tadi. Akhirnya kuputuskan untuk pulang tanpa membawa sehelai uang pun. Anak-anak terlihat tak sabar menugguku pulang, mereka bersandar pada pintu sambil melihat tiap orang yang lewat.
“Assalamualaikum,” sapaku kepada Johan, Jefry, dan Jodi anakku.
“Walaikumsalam,” jawab mereka.
“Ibu, gimana uangnya? Sudah ada kan!” tanya mereka padaku.
“Johan, Jefry, Jody , maafkan Ibu ya Nak, sama sekali jamu Ibu tak laku hari ini. Mungkin besok atau lusa uang itu sudah ada,” hiburku pada mereka.
“Ya sudah gak apa-apa, Bu. Ibu istirahat saja sekarang, Ibu terlihat capek sekali hari ini!” kata Johan padaku.
Aku sungguh bersyukur mempunyai anak-anak seperti mereka. Mereka mengerti kondisi serta kemampuanku. Tak lama kemudian Johan menghampiriku.
“Bu, daripada Ibu capek menggendong jamu, mending Ibu pake’ sepeda. Jadi Ibu gak usah capek-capek jalan dan nggendong jamu,” tutur Johan padaku.
“Iya ya, Nak! Kenapa Ibu sampe gak kepikiran, kan Ibu punya sepeda. Tinggal Ibu buat tempat jamunya saja kan,” kataku girang.
Esok hari kuputuskan bejualan jamu dengan sepeda. Matahari sudah meninggi, aku harus bersiap berangkat. Kukelilingi rumah-rumah sambil kuteriak, “Jamu..Jamu..”. Sudah kering tenggorokanku namun tak ada satu pun yang membeli jamuku. Sampai pada akhirnya kumelintas jalan lebar yang ramai.
“Nggreng…nggreng…” Motor ngebut ada di belakangku dan tak lama kemudian “Braakk”. Motor itu menabrak aku sampai aku, jamu, dan sepedaku terguling jatuh. Motor itu lantas pergi begitu saja. Lalu sekerumunan kuli bangunan yang sedang mengerjakan proyek di seberang jalan itu menghampiri dan menolongku.
“Ibu gak apa-apa Bu. Ada yang luka Bu?” tanya salah seorang di antara mereka padaku.
“Ibu tidak apa-apa. Hanya lecet saja, gak parah kok,” jawabku sambil membereskan jamuku.
“Ibu jualan jamu? Boleh saya coba jamu Ibu?” tanya mereka.
“Boleh saja, tapi gak gratis lho ya!” candaku.
“Ya iyalah Bu. Mana ada sih jaman sekarang yang gratis,” kata mereka sambil tertawa.
“Ayo teman-teman kita coba jamu Ibu ini, pasti enak!” seru salah seorang di antara mereka.
Mereka terlihat kasihan kepadaku. Oleh karena itu mungkin mereka mencoba menghibur dengan membeli jamuku.
“Jamu Ibu ternyata enak juga ya!” ucap mereka.
Mereka semua memuji jamu buatanku. Malah ada beberapa di antara mereka yang habis beberapa gelas. Jamuku yang semula masih menyundul tutup botolnya, kini semua habis tak tersisa oleh mereka.
“Ini kali pertamaku berjualan jamu dengan sepeda. Ini juga kali pertama jamuku habis tak tersisa. Sepeda ini mungkin membawa keberuntungan sendiri bagiku. Terima kasih Ya Allah, Engkau berikan aku rezeki hari ini!” pikirku sambil tak percaya semua itu.
Mulai saat itu aku berpikir bahwa sepeda itu sepeda pelaris bagiku, meskipun sepeda itu juga membawa sedikit luka bagiku. Hari- hari berikutnya pun aku berjualan jamu dengan sepeda itu, dan hasilnya jamuku selalu laku setiap hari walaupun tidak setiap harinya habis.
Kini berkat sepeda itu aku bisa membayar tunggakan biaya sekolah ketiga anakku dan rencananya aku akan membuka kios jamu di rumah kelak setelah aku punya cukup modal. Meskipun kelak aku tak berjualan jamu dengan sepeda ini, aku masih tetap percaya sepeda ini adalah sepeda pelaris bagiku. Selama ada sepeda ini dan selama aku selalu berdoa kepada Allah, aku yakin usahaku akan tetap laris.