Mesung Jalalintan
Desember 25th, 2008 by Ahmad Hijaz
Aku harus kubur segala sengsara dan nestapa yang pernah singgah di peraduan suram, teramat hina. Kini mataku takkan rela lagi ‘tuk menolehnya. Biarkan saja ia terbakar hangus tanpa meninggalkan bekas. Dan kini… bebaskan aku ‘tuk menghirup udara segar…
Ahad, 22 Januari 1579
Setelah selesai menuliskan catatan itu, Mesung Jalalintan segera menutup lembaran lontar di pangkuannya lalu dengan gegas menyusupkannya di bawah bantal.
***
Wanita dengan paras lelah itu mematut wajah di hadapan cermin hias dengan ukiran patung gadis-gadis bugil melingkari sisi pigura, seperti arca di serambi-serambi candi. Tampak magis, mencuatkan aroma mistik. Wanita itu bernama Mesung Jalalintan. Entah sudah berapa lama dia berhias diri di depan cermin itu, namun senyum puas tak kunjung jua tersungging di bibirnya. Tak lama lagi seorang tamu kehormatan akan segera bertandang. Wanita itu harus tampil sesempurna mungkin. Tamunya bukan orang sembarangan. Dia seorang saudagar kaya keturunan bangsawan, asal Brunei Darussalam. Saudagar Samdoga Rontef, begitulah orang-orang biasa menyebut namanya.
Beberapa saat kemudian Babu Dantik Saluju menyeruak masuk ke ruang kamar itu dengan membawa sebuah nampan berisi samurai berbalut sutera merah.
“Samurai ini telah diberi mantera oleh Datok Tando Suang Kaloy selama sepuluh hari. Tadi pagi sebelum fajar menyingsing, seorang pesuruhnya mengantarkan samurai ini pada hamba,” Babu Dantik Saluju bertutur dengan merundukkan wajah
Mesung Jalalintan menoleh. Sorot matanya tajam menikam. Bibirnya yang tampak merah menyala itu menyeringai puas.
“Bila telah tiba saatnya nanti, kau pasti tahu apa yang harus kau perbuat dengan samurai itu.”
“Ya, Tuanku. Hamba akan selalu siap dengan segala titah yang Tuanku berikan kepada hamba.”
“Bagus! Sekarang cepat kau taruh Samurai Thai-Che-Lang itu di meja persembahan! Lalu nyalakan kemenyan!”
“Baik, Tuanku.” Dengan patuh Babu Dantik Saluju gegas menunaikan titah sang majikan.
Di balik dinding kamar Mesung Jalalintan itu, terdapat pula sebuah kamar dengan ruangan pengap berpenerangan redup. Di dalamnya tampak sebuah dipan megah dengan selimut dan bantal mewah bersulamkan benang emas. Di sana terbaring lemah seorang wanita kurus, tampak bak belulang yang hanya dibungkus kulit keriput. Matanya yang rabun terlihat cekung legam. Gurat bibirnya putih pucat retak-retak. Sudah sepuluh tahun ini dia tak kuasa beringsut dari kamar itu. Kondisi kesehatannya kian memburuk. Tubuhnya sudah mirip mayat yang diawetkan! Wanita itu adalah Maylana Homanta Ney, istri pertama Saudagar Somanja Daung.
Saudagar Somanja Daung adalah saudagar yang disegani oleh masyarakat. Tutur katanya bersahaja dan ramah pada siapa saja. Ringan tangan membantu yang kesusahan. Kebun pala dan ladanya ribuan hektar. Para petani betah bekerja di sana karena gaji mereka selalu dibayar tepat waktu.
Namun semenjak Saudagar Somanja Daung beristri lagi dengan Mesung Jalalintan, istri keduanya, keadaan menjadi berubah resah penuh kecaman. Apalagi tahun-tahun belakangan Saudagar Somanja Daung sering melawat ke luar daerah untuk menilik proyek-proyeknya yang bertaburan di berbagai tempat. Niat awal Mesung Jalalintan sangat berambisi menjadi istri kedua Saudagar Somanja Daung, karena dia ingin menguasai kekayaannya yang melimpah ruah. Untuk mewujutkan impian besarnya itu, berbagai cara pun dilakukannya. Perhiasan-perhiasan milik Maylana Homanta Ney yang tersimpan rapi di peti-peti perhiasan, sedikit demi sedikit dia preteli satu-persatu. Gaji para petani yang bekerja di kebun pala dan lada mulai dia potong beberapa persen setiap pekannya. Begitu juga dengan pegawai-pegawai yang bekerja sebagai pesuruh di anjung kebesaran, tak luput dia gerogoti juga. Sementara Maylana Homanta Ney, istri pertama Saudagar Somanja Daung itu, perlahan-lahan dia binasakan pula dengan mencekokinya racun mematikan yang dia larutkan dalam minuman dan makanan yang diberikan padanya setiap hari. Kini jasad Maylana Homanta Ney telah lumpuh total!
***
Maylana Homanta Ney begitu muaknya setiap kali bertatap dengan Mesung Jalalintan. Dia sangat paham bagaimana liciknya perangai Mesung Jalalintan. Semenjak masa gadis, mereka adalah sabahat karib. Mereka sudah seperti saudara kandung. Mereka sama-sama miskin, hidup menderita penuh nestapa di dusun terpencil. Namun semenjak Maylana Homanta Ney dilamar Saudagar Somanja Daung, Mesung Jalalintan menjadi begitu bencinya terhadapnya.
“Kau begitu tega merebut orang yang kucintai! Padahal kau adalah sahabatku! Kau sungguh tak punya hati!!” Mesung Jalalintan sesengukkan waktu itu.
“Aku tak pernah berbuat begitu! Saudagar itu yang meminang aku dan menikahi aku! Aku tak tahu kalau engkau mencintai dia.”
“Kau bebas memilih lelaki mana pun yang kau inginkan! Tapi kenapa orang yang kucintai yang kau renggut?!”
Maylana Homanta Ney benar-benar merasa bersalah waktu itu. Dia minta maaf, namun Mesung Jalalintan tak sudi mengulurkan tangannya. Akhirnya untuk menebus rasa bersalahnya itu, Maylana Homanta Ney pun memohon pada Saudagar Somanja Daung untuk menikahi Mesung Jalalintan.
“Aku sangat mencintaimu! Sampai kapan pun aku tak kan rela membagi kebahagiaan kita untuk orang lain!” bergetar nada bicara Saudagar Somanja Daung menahan geram yang meletup.
“Kalau begitu ceraikan saja aku!” Maylana Homanta Ney berkata lirih. Ada isak di ujung tutur sendunya.
“Apakah kau dah hilang akal? Aku tak mungkin tega menceraikanmu! Kita sudah hidup bahagia. Kenapa harus terusik oleh kehadiran orang lain?!”
“Aku akan sangat bahagia bila Mesung Jalalintan juga bahagia! Menikahlah dengannya!” Sungguh teramat menyesalnya Maylana Homanta Ney telah melontarkan kata itu. Hatinya teramat perihnya kala itu, serasa dicabik-cabik pisau berkarat. Hingga kini telah 20 tahun. Namun luka itu masih membekas dalam, bahkan kian parah!
***
Maylana Homanta Ney terbujur kaku di dipan megah. Dia belum mati. Duka di dadanya menyeruak kian dalam tak berdasar. Luka di hatinya semakin mengaga lebar, perih menyayat. Suaminya sudah empat bulan ini tak menjenguknya di peraduan. Begitu juga Sarina Salmania Saula, anak gadis satu-satunya itu, dia tak ada dengar kabar beritanya lagi sejak suaminya Somanja Daung mengantarnya setahun lalu ke negeri seberang untuk menimba ilmu. Dengan harap sangat akan menjadi seorang cerdik pandai sekembalinya ke kampung halaman esok.
Pagi masih bercumbu kabut saat daun pintu kamar itu terkuak. Babu Dantik Saluju mengantar makanan untuk Maylana Homanta Ney lalu menyuapinya seperti biasanya.
“Adakah engkau dengar kabar tentang anakku Sarina Salmania Saula, Dantik?” tanya Maylana Homanta Ney pada Babu Dantik Saluju dengan suara serak parau. Bibirnya yang pucat pecah-pecah bergerak lamban. Mata cekungnya tiada kediapan, nanar memaku langit-langit kamar.
Babu Dantik Saluju merundukkan pandang. Tak ada sahutan. Hening. Mata teduhnya bergerak-gerak digerayang resah.
“Ampuni hamba Tuanku Maylana, hamba tak bisa mengatakannya,” suara Babu Dantik Saluju bergetar. “Hamba…”
“Apa yang telah terjadi dengan anakku, Dantik? Ada apa? Cepatlah engkau katakan padaku!” Maylana Homanta Ney teramat cemasnya. Matanya mengerjap-ngerjap tak sabar.
“Sarina kini… dia tak lagi di negeri seberang. Di… dia… telah dijual oleh Majikan Mesung Jalalintan pada Saudagar Samdoga Rontef, saudagar kaya asal Brunei yang kapal dagangnya merapat di dermaga beberapa waktu lalu.”
“A… apaaa…??!”
“Dahulunya Saudagar Samdoga Rontef itu adalah majikan tempat ayah Mesung Jalalintan bekerja. Namun sebekerjanya di sana, ayah Mesung sering sakit-sakitan. Sampai akhinya ia wafat meninggalkan hutang yang menggunung. Sebelum ia menghembuskan nafas terakhir, ayah Mesung sempat berwasiat kepada Mesung Jalalintan untuk membayarkan hutang-hutangnya pada Saudagar Samdoga Rontef. Namun setelah sekian lama, Mesung Jalalintan tak kuasa jua melunasi hutang-hutang ayahnya itu. Akhirnya diam-diam, Majikan Mesung Jalalintan pun menawarkan Sarina Salmania Saula kepada Saudagar Samdoga Rontef. Saudagar Samdoga Rontef yang memang suka main perempuan itu amat tergiur. Dan dia langsung menerima tawaran Mesung Jalalintan itu. Hutang pun dianggap lunas!”
“Hah, bagaimana bisa kau tahu perihal itu?”
“Karena… ayah Mesung Jalalintan sebenarnya adalah… kakak kandungku…!”
“Terkutuk kau Mesung Jalalintan! Kau benar-benar wanita iblis!! Begitu tega kau jadikan anak gadisku satu-satunya sebagai pembayar hutang!” tubuh Maylana Homanta Ney bergetar hebat. Matanya membeliak-liak menyiratkan amarah yang bergejolak. “Uhuk… uhukkk…!” Maylana Homanta Ney batuk-batuk, lalu muntah darah!
***
Udara tengah malam dingin menyergap tulang sum-sum. Suasana anjung kebesaran telah sepi senyap, larut dalam lelap yang lena. Namun Maylana Homanta Ney tak henti meratap. Air mata yang mengucur dari kedua kelopak matanya tiada surut, terus mengucur bak air bah. Telah sepuluh hari dia larut dalam duka yang teramat sangat. Semenjak dia dengar kabar yang menikam jantunngnya: suaminya Somanja Daung terbunuh di tengah perjalanan pulang! Tak diketahui siapa pembunuhnya. Namun Maylana Homanta Ney sangat yakin, Mesung Jalalintanlah yang mengomando beberapa orang untuk melakukan pembunuhan terhadap suaminya itu.
Derit pintu kamar yang terkuak terdengar seperti dentuman halilintar di telinga Maylana Homanta Ney, saat dia mengetahui yang datang adalah Mesung Jalalintan. Tak lama Babu Dantik Saluju menyusul dengan membawa samurai Thai-Che-Lang di atas nampan beralas beludru merah. Aroma magis mencuat membaur dengan kemenyan yang menusuk penciuman.
“Kasihan sekali nasibmu, Maylana… Kini kau benar-benar sebatang kara dalam kedaan lumpuh! Kau tak berdaya berbuat apapun lagi. Kukira sudah saatnya kau akhiri derita panjang yang menyiksamu selama ini.” Mesung Jalalintan menyeringai dengan sorot mata tajam menikam.
“Bedebah kau Mesung!! Kau ingin membunuh aku?!!” Mata Maylana Homanta Ney membelalak. Tubuhnya bergetar hebat menahan letupan amarah yang bergejolak.
“Apakah kau tak rindu untuk berjumpa dengan suamimu secepatnya? Jangan biarkan Somanja Daung memendam duka karena terlalu lama menunggumu! Huahahahaha…!!!” tawa Mesung Jalalintan membahana seperti kerasukan iblis. “Dantik… sekarang sudah saatnya kau buktikan kesetiannmu padaku…” Mesung Jalalintan menatap tajam Babu Dantik Saluju. Bola matanya berkilat-kilat serupa bara api.
“A… apa yang harus aku lakukan?” suara Babu Dantik Saluju bergetar.
“Bunuh Maylana Homanta Ney dengan samurai itu sekarang juga!” pekik Mesung Jalalintan lantang.
“A… aku?” mata Babu Dantik Saluju membulat.
“Cepat lakukan!!”
“T… tapi…”
“Bukankah beberapa waktu lalu aku telah memberitahukan ini padamu? Kenapa sekarang kau ragu??!” amarah Mesung Jalalintan meletup-letup murka.
“Ak… aku…”
“Cepat lakukan! Kalau tidak dua anak gadismu akan kujual pada saudagar-saudagar hidung belang! Dan kau bersama suamimu akan disiksa di penjara sampai kalian temui ajal! Apakah kau mau itu, hah?!!
Dengan langkah gemetar Babu Dantik Saluju mendekati pembaringan Maylana Homanta Ney. Dengan kedua belah tangan diangkatnya samurai yang berkilat-kilat itu. Mata Maylana Homanta Ney membelalak saat Babu Dantik Saluju menghujamkan samurai itu ke ulu hatinya. Darah menyembur deras membaur dengan lengkingan panjang yang menyayat!
Bibir Mesung Jalalintan menyunggingkan senyum puas. Gegas dilangkahkannya kaki menunuju pintu kamar yang terkuak. Namun tiba-tiba pintu itu menutup dengan sendirinya! Dia terhenyak sesaat. Debar jantungnya berlompatan. Diraihnya gagang pintu mencoba membukanya, namun tak bisa. Dicobaya lagi, berkali-kali, pintu tak jua bisa dibuka. Hah, apa yang terjadi?
“Maylana Homanta Ney telah mati…” Babu Dantik Saluju berbisik pelan di telinga Mesung Jalalintan. Deru nafanya terasa hangat membelai daun telinganya.
Saat Mesung Jalalintan membalikkan tubuhnya, didapatinya Babu Dantik Saluju yang menyeringai dan menatapnya dengan sorot mata tajam berkilat-kilat. Detik berikutnya, samurai yang masih tergenggam erat di tangan Babu Dantik Saluju itu ditikamkannya sigap, menghujam tepat di jantung Mesung Jalalintan! Tubuh Mesung Jalalintan rubuh ke lantai, seiring dengan sebuah lengkingan panjang menyayat yang menggema memenuhi seluruh ruang kamar. Mesung Jalalintan tewas seketika!
Beberapa saat kemudian pintu kamar itu terkuak. Suami Dantik Saluju telah berdiri di muka pintu dengan memikul sekarung intan berlian curian di pundaknya. “Ayo kita tinggalkan anjung ini sekarang juga! Hari masih gelap. Orang-orang masih terlelap. Anak-anak kita telah menunggu di dermaga…”