KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Hasrat

Paras nan rupawan dengan sedikit kerut di pelipis mata yang diselimutinya dengan sehelai kain kerudung itu tak lepas dari hujam tatap mata seorang Deni, siswa tahun ketiga dengan segudang prestasi di sekolah itu.

Ya, tak pelak lagi Deni sedang mengagumi keindahan raut muka wanita paruh baya itu. Semenjak tahun pertamanya di sekolah itu dia kerap kali menjadikan wanita itu sebagai objek amatan seperti halnya yang dilakukan para professor terhadap penelitiannya. Tak henti-hentinya dia memandang dan mengamatinya dari ujung kerudung sampai ujung sepatu. Sesekali ia menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, “Cantik, sungguh cantik!” Siapa dia?

Wanita itu tak lain adalah salah satu guru di sekolah itu, Bu Siti Qomariyah namanya. Wanita berdarah asli Ponorogo yang dikenal penyabar itu memang teramat sangat cantik. Kerut di pelipis matanya tak mampu menutupi kecantikannya, apalagi tahi lalat di pipinya semakin mempermanis raut mukanya itu.

Saat ini awal tahun ajaran di tahun ketiga Deni, tak disangka guru nan cantik itu menjadi guru sekaligus wali kelasnya. Kebahagiaan yang teramat sangat kini berlabuh di hatinya, bukan kenapa-kenapa, sejak kelas satu Deni selalu memimpikan guru itu menjadi guru pengajarnya, dengan harapan ia dapat memandanginya setiap saat. Deni begitu mengagumi wanita itu, hanya sebatas kagum dan tak lebih. Maklum sejak usia 5 tahun ia harus kehilangan Ibu yang disayanginya lantaran penyakit diabetes yang menahun. Keluarganya hidup pas-pasan yang hanya bertopang pada bapaknya, seorang tukang becak di kota besar metropolitan nan jauh disana. Tak heran penyakit yang diderita ibunya itu tak kunjung sembuh karena minimnya pengawasan serta biaya pengobatan. Oleh karena itu, tak heran apabila dia mengagumi sosok Siti Qomariyah sebagai figur seorang ibu yang sabar dan lembut.

Berlatarbelakang dari keluarga pas-pasan tak menjadi penghalang Deni untuk menorehkan tinta prestasi di lembar catatan akhir sekolahnya. Anak cerdas itu bisa dibilang hidup mandiri dari berbagai beasiswa yang diperolehnya dan hasil hadiah event-event serta perlombaan yang diikutinya. Sesekali dia memberikan tambahan les kepada anak-anak SMP, bahkan teman sekelasnya pun turut serta menjadi ladang penghasilannya itu. Ya begitulah Deni, dia selalu tegar dan mandiri mengahadapi pasang surutnya cobaan hidup. Di benaknya hanya terpikir bagaimana cara mengubah hidupnya yang pas-pasan menjadi lebih baik dan sekedar membuat bapak dan almarhumah ibunya itu bangga dan bahagia.

Sudah dua bulan ia diajar oleh Bu Qom~sapaan murid-muridnya terhadap wanita cantik itu~namun guru itu masih terlihat cuek terhadap Deni meskipun dia sudah menunjukkan tajinya sebagai anak yang paling pintar di sekolah itu. Semua tak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Padahal Deni berharap dengan kepintaran serta kecerdasannya itu, Bu Qom akan simpatik dan perhatian kepadanya.

Bel pulang sekolah berbunyi..Teng..Teng..Teng. Deni segera bergegas dan yang ada di benaknya dia harus bersiap berpanas-panasan mengayuh sepedahnya. Namun belum kakinya melewati pintu kelas,

”Den, sepulang sekolah ini kamu menemui Ibu ya di ruang guru!” sapa Bu Qom.

Dengan spontan Deni menjawab,”Iya Bu.”

Ada apa ya, kok tumben orang cuek seperti beliau tiba-tiba memanggil saya. Setidaknya pikiran itulah yang coba direnungkannya. Kemudian Deni bergegas pergi ke ruang guru.

“Ada apa Bu? Kok Ibu memanggil saya!”

”Duduk Den!” pungkas bu Qom sambil menunjuk kursi di hadapannya.

“Den, kamu peringkat satu paralel kan di sekolah ini, kamu juga sering menang berbagai lomba kan, setelah lulus kamu melanjutkan ke mana, bapak dan ibumu kerja apa, saudaramu berapa?” tanya Bu Qom tak henti-hentinya.

Rentetan pertanyaan itu menandakan wanita itu penuh semangat menanyakan semua itu kepada Deni. Deni yang bingung hanya diam terpaku memandang wajah cantik wanita itu. Dia kaget tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba dia diserbu rentetan pertanyaan oleh wali kelasnya itu.

“Bukannya orang ini cueknya minta ampun, kok tumben dia tanya macam-macam ke aku!” tanya Deni dalam hati.

Setelah sejenak pikirannya jenuh oleh perasaan itu dia mengedipkan matanya dan sambil merendah dia berkata, “Nggak kok Bu, saya hanya melakukan yang terbaik untuk diri saya, orang tua saya, dan sekolah ini.” Belum sempat Deni memikirkan untuk menjawab pertanyaan yang lain, Bu Qom segera menanyakan hal yang lain. Mereka berdua terlihat akrab seperti layaknya ibu dan anak. Deni hanya tersenyum, sudah lama dia tak menemui orang yang begitu perhatian kepadanya. Itu membuat Deni ingat masa kecilnya dulu bersama ibunya. Senyum bahagia itu pun didapatinya bersama matanya yang berkaca-kaca.

“Ini lho Den, saya tidak sengaja membaca data-data pribadi anak-anak yang diberikan oleh guru BP, saya baca kalau ibumu sudah meniggal dan bapakmu kerja sebagai tukang becak, apa benar?” tanya Bu Qom lanjut.

“Iya Bu,” jawab Deni. Kemudian akhirnya dia mengatakan semua keadaannya itu kepada wanita itu.

“Lantas kamu mau melanjutkan kemana setelah lulus nanti?” lanjut Bu Qom.

“Pengennya sih kuliah Bu, tapi saya gak punya uang sedikit pun untuk biaya masuknya, mungkin saya akan kerja satu atau dua tahun dulu untuk biaya kuliah saya nanti,” jawabnya pelan sambil menunduk.

“Begini saja, kamu teruskan belajar yang giat, nanti saya carikan informasi tentang beasiswa supaya kamu bisa kuliah, sebenarnya saya merasa sayang kalau anak cerdas seperti kamu tidak bisa melanjutkan kuliah hanya karena masalah biaya,” terang Bu Qom.

Setelah percakapan itu Deni langsung pulang, namun dia masih tidak habis pikir apa benar yang tadi itu benar-benar wali kelasnya yang dia kenal karena sepengetahuannya wanita itu benar-benar cuek terhadap muridnya. Sesampainya di rumah, Deni mencoba memejamkan matanya. Sudah satu jam ia mencobanya namun ia tetap tak bisa. Dia masih terus memikirkan percakapannya dengan Bu Qom tadi. Inilah hal yang ditakutkan Deni sejak dulu. Dia takut dirinya akan terbuai nikmatnya cinta dengan wanita cantik paruh baya itu. Apalagi kini wanita itu memberi perhatian lebih kepadanya. Deni memang tipikal orang yang mudah jatuh cinta apabila ada orang yang memberikan perhatian lebih kepadanya, tak peduli siapapun orang itu. Dalam hati ia berkata, ”Den, jangan Den, kamu tidak boleh mencintai orang itu, dia itu gurumu, wanita yang telah memiliki keluarga, perbedaan usia di antara kalian sangatlah jauh, kamu lebih pantas mencintai dia sebagai ibu, lupakan, lupakan perasaan ini, jangan, jangan Den”. Perasaan inilah yang terus timbul tenggelam di hatinya. Dan sejenak kemudian ia berkata, “Iya ya, kamu itu lucu, masa kamu mencintai orang yang lebih pantas jadi ibumu, Deni, Deni, ada-ada saja kamu itu”. Setelah ia meyakinkan dirinya, perasaan itu kemudian hilang. Deni melupakan perasaan itu dan kembali bersikap normal seperti biasanya.

Percakapan kemarin agaknya semakin mengakrabkan Deni dengan Bu Qom. Terlihat Bu Qom sering melempar senyum kepada Deni ketika berpapasan, begitu pula sebaliknya. Bu Qom juga sering terlihat memanggil Deni ke ruang guru lantaran informasi beasiswa yang ia janjikan. Acapkali perasaan yang dikhawatirkan Deni dulu timbul kembali. Peribahasa Jawa “tresno jalaran kulino” itu agaknya berlaku pada Deni. Di sela-sela waktunya, Deni sering terlihat tersenyum-senyum sendiri layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Entah apa yang ada di pikirannya itu, yang jelas dia sedang memikirkan wanita itu.

****

Kini kelulusan telah tiba. Deni semakin mempesonakan wali kelasnya itu, dia berhasil meraih nilai NEM tertinggi di sekolahnya sekaligus di kota tempat ia menimba ilmunya itu, kota pahlawan. Meskipun begitu saat-saat yang ditakutkan Deni akhirnya tiba juga. Entah kenapa anak itu begitu takut akan saat-saat ini. Mungkin dia takut karena wanita itu tak dapat dipandanginya lagi setiap saat.

“Oh Tuhan, kini saat itu telah tiba. Aku akan meninggalkan sekolah ini, itu artinya aku tak dapat melihat lagi wanita terindah ciptaanMu itu. Aku sudah mencoba menghapus perasaan ini, namun tak bisa. Entah kenapa aku begitu takut kehilangan dia. Apa ini yang namanya cinta? Tapi aku ragu Tuhan, apakah perasaan ini adalah perasaan cinta anak terhadap ibunya atau justru perasaan cinta seperti cinta yang dirasakan oleh sepasang kekasih? Tuhan, kenapa Engkau uji aku dengan hati, tak bisakah Kau uji aku dengan cara yang lain? Apa yang harus kuperbuat Tuhan?”

Pikirannya buntu, dia sering terlihat bodoh dan linglung akhir-akhir ini. Betapa tidak, selain memikirkan perasaannya itu ia juga bingung mau kemana setelah ia lulus. Pasalnya beasiswa yang dijanjikan oleh wali kelasnya itu tak kunjung ada. Saat ini ia hanya bisa pasrah terhadap apa yang digariskan oleh Sang Khalik.

Tak disangka pagi itu sahabat Deni, Bachtiar , datang ke gubuk kecil dimana Deni tinggal. Dia sengaja bertemu Deni untuk memberi Deni formulir ujian seleksi perguruan tinggi negeri.

“Ini Den, formulir untuk kamu.”

“Formulir apa? Aku tak merasa ingin daftar lomba atau ajang pencarian bakat seperti di televisi-televisi itu!”

“Formulir UMPTN Deni! Sudah terima saja, aku tahu kamu sangat membutuhkan ini. Hanya ini yang bisa kuberikan kepadamu sebagai sahabat.”

“Tapi Bach, percuma aku ikut ujian ini kalau aku tahu aku gak akan bisa membayar biaya kuliah yang selangit itu.”

“Kamu inget ya Den, Allah itu pasti memberi jalan kepada hamba-Nya asal ia mau berusaha. Jadi kamu usaha dulu, urusan nanti serahkan pada yang di atas, OK!”

“Tapi Bach, ini kan mahal!”

“Sudah terima saja, atau kita gak usah sahabatan lagi! Kamu pernah bilang kan sama aku, kalau kamu ingin mengubah hidupmu kan! Ya cuma ini caranya Den!”

“Baiklah, sebagai sahabat aku terima pemberianmu ini.”

Tak lama setelah Bachtiar pulang, air mata itu jatuh membasahi tanah. Ternyata ada sahabat yang begitu perhatian pada Deni. Deni tersenyum bahagia tapi di samping itu pikirannya juga bingung lantaran ia tak punya uang sepeser pun untuk membayar biaya kuliah jika ia diterima nantinya.

Akhirnya pengumuman itu tiba. Deni diterima di perguruan tinggi favorit di negeri ini, pun di jurusan terfavorit saat ini, kedokteran. Dari kecil Deni selalu bercita-cita berprofesi sebagai juru suntik. Mungkin ia teringat almarhumah ibunya dulu yang akhirnya meninggal karena tak punya biaya untuk berobat. Deni bingung seribu bingung, ia tak henti-hentinya memutar otak untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan. Tak lama kemudian ada suara ketukan pintu di luar sana. Ya, sahabat baiknya, Bachtiar, datang untuk bertemu dia.

“Ada apa Bach?”

“Den, kamu dipanggil Bu Qom, kamu disuruh ke rumahnya sore nanti!”

“Ada apa ya Bach?”

“Aku gak tahu Den, beliau gak bilang apa-apa tuh sama aku. Dia hanya menyuruh aku memanggil kamu untuk datang ke rumahnya.”

“Ya udah Den, cepet ya! Beliau nunggu lho. Aku pulang dulu ya.”

“Ya udah ati-ati ya!”

“Ada apa ya orang itu manggil aku? Apa dia tau kalau aku diterima di fakultas kedokteran, tapi dari mana dia tahu? Atau jangan-jangan dia mau ngasih info tentang beasiswa seperti yang dia katakan dulu. Apapun alasannya dia manggil aku, yang penting aku bisa lihat wajah itu dan yang pasti aku bisa tambah dekat dengan dia. Ha…ha…ha…!” ucapnya pelan dengan hati yang riang.

****

Hari sudah sore, Deni ingat ia harus segera bergegas menemui Bu Qom di rumahnya. Akhirnya ia tiba di depan rumah Bu Qom.

“Apa bener ini rumahnya? Alamatnya bener kok! Bayanganku rumahnya besar banget soalnya dia kelihatan seperti orang kaya sih, tapi kok rumahnya sederhana ya. Aku gak peduli, rumah bukan ukuran kaya tidaknya seseorang, bisa saja memang sifat beliau sederhana, tidak seperti orang-orang kaya lainnya.”

“Oalah.. Deni, masuk Den.”

“Iya Bu”

“Duduk!”

“Ada apa toh Bu? Kok tiba-tiba manggil saya!”

“Kata anak-anak kamu diterima di fakultas kedokteran ya! Terus rencanamu apa?”

“Iya Bu saya diterima, tapi gak tahu saya masuki apa nggak soalnya saya gak punya uang sama sekali. Saya masih bingung, gak tau harus gimana.”

“Lho kan eman Den, gak semua orang lho bisa masuk kedokteran, paling-paling mereka yang bener-bener pinter atau mereka yang berduit. Dulu saya kan pernah bilang ke kamu mau nyarikan beasiswa, tapi Ibu minta maaf , sampai saat ini Ibu belum dapet.”

“Gak apa-apa Bu. Saya mau kerja aja dulu.”

“Lho jangan! Eman Den, kamu masuki aja. Gini aja berhubung Ibu gak dapet beasiswa itu, biar Ibu aja yang membiayai kamu, semua biayanya biar Ibu saja. Kamu gak usah mikir.”

“Tapi Bu!”

“Gak pake tapi-tapian, sudah terima saja, kamu gak usah mikir gimana cara ngembalikannya. Yang penting kamu sekarang belajar yang bener supaya bisa jadi orang kelak. Ibu percaya kamu pasti bisa. Anggap Ibu ini sebagai orang tua asuhmu, atau anggap Ibu ini sebagai ibu kandungmu.”

“Tapi Bu!”

“Sudah diem, sekarang kamu pulang. Besok Ibu temeni kamu untuk daftar ulang. Titik….!”

Sesampainya Deni di rumah dia masih tidak habis pikir. Sesekali dia cubit pipinya untuk menyakinkan bahwa dirinya tidak sedang berada di bawah alam sadarnya.

“Apa aku bermimpi Tuhan? Apa ini mukjizatMu Tuhan? Sungguh Tuhan aku berterimakasih padaMu. Tak ada kata yang lebih pantas selain ucap syukurku kepadaMu. Tapi aku masih bingung, apa harus kuterima maksud baik beliau? Tapi…kalau aku terima, aku berhutang budi pada beliau, apakah bisa kubalas budi baik beliau kelak? Tapi ini pemberian Tuhan kepadaku, bagaimanapun aku harus ambil kesempatan ini, kalau aku tolak sama saja dengan menolak pemberian Tuhan. Toh aku juga seneng, soalnya masih ada alasan buatku untuk selalu dekat dengan beliau. Senangnya aku! Apa itu berarti Tuhan merestui perasaanku ini? Mungkin barangkali ya!”

Esok paginya Deni ditemani Bu Qom untuk daftar ulang. Akhirnya cita-cita Deni selangkah lagi akan terwujud. Pasalnya dia tak usah capek-capek berpikir masalah biaya. Dia hanya tinggal belajar sungguh-sungguh untuk menyongsong hidupnya yang lebih baik kelak. Namun kenyataanya tidak segampang itu. Ini justru menjadi titik klimaks pergolakan batin yang ia rasakan. Rasa itu semakin kuat menghempas dadanya. Sungguh nyatanya ia tak kuasa menutupi. Maksud baik wanita itu malah menjadi katalis rasa gila itu. Ya, dia gila! Itulah kalimat yang pantas untuknya.

“Sekarang aku yakin, ini bukan rasa cinta seorang anak terhadap ibunya tapi aku benar-benar cinta dia. Dia sempurna, elok rupanya sebanding dengan hatinya yang mulia. Sungguh dia wanita yang kucari selama ini. Aku sakit, aku gila, aku sudah gila! Mencintai istri orang, mencintai orang yang 26 tahun lebih tua daripada aku, mencintai orang yang sepantasnya menjadi ibuku. Oh Tuhan aku gila! Aku benar-benar mencintai dia Tuhan. Ha…ha…Aku gila! Oh Tuhan, sekali lagi kuminta padaMu jangan kau uji aku dengan hati, aku tak sanggup Tuhan.”

Hari-harinya kini dipenuhi bayang-bayang sosok wanita itu, aroma sedapnya makanan pun tak mampu menjadi pesaing sosok imajinatif itu. Serasa hinggap di alam nirwana, ia dibuai rasa itu, rasa yang tak lazim dirasakan oleh mereka yang normal. Meskipun ia sadar cintanya itu bertepuk sebelah tangan, namun ia tetap saja bertepuk. Anak gila itu berpikir pasti ada muara rasa cintanya itu, tapi kapan dan dimana ia pun tak tahu.

Kini ia disibukkan dengan kuliah serta prakteknya di kampus, namun tetap saja ia punya banyak waktu untuk sekedar berpacaran dengan angan-angannya itu. Dasar anak gila, kecerdasannya tak mampu mengalahkan rasa tanpa logika itu. Rasa rindunya terhadap wanita itu kini telah sampai pada titik tertinggi. Untuk memenuhi hasratnya itu, setelah pulang kuliah ia sempatkan mampir ke rumah Bu Qom. Setidaknya ia punya alasan kuat untuk mengunjungi wanita itu, yah dengan dalih sekedar menjalin silaturrahmi, itu alasan termudah baginya.

Mereka tampaknya semakin akrab. Deni yang memang sengaja datang kesana untuk sekedar memandangi wajah itu tampaknya banyak bercerita tentang kegiatan kuliahnya. Disela-sela pembicaraannya itu tak sengaja ia melihat Nina, putri Bu Qom yang masih SMA. Terpanah seketika Deni melihatnya.

“Cantik juga putri orang ini, tapi tak secantik ibunya,” ucapnya dalam hati. Setelah melihat Nina, ia mulai terpikir apa yang seharusnya ia lakukan.

“ Aku memang seumur hidup tak bisa memiliki wanita yang kucintai, tapi masih ada harapan bagiku untuk terus mencintainya. Ya! Nina akan mewujudkan harapanku itu. Aku akan mendekatinya, pura-pura ku mencintainya, sampai akhirnya ia jatuh ke tanganku. Dengan begitu kelak ia akan menjadi istriku. Setelah itu aku akan serumah dengan Bu Qom, aku tetap bisa mencintainya dan memandanginya setiap saat yang ku mau. Biarlah seumur hidup aku tak dapat memilikinya asalkan aku bisa terus mencintai dia.”

Deni riang bukan kepalang. Secercah harapan itu akhirnya datang juga. Semenjak saat itu Deni selalu berusaha menarik simpati Nina. Apapun ia lakukan untuk mewujudkan ambisinya itu. Tak peduli sekalipun cara-cara gila yang ia pakai, memang anak itu sudah gila sejak dia mulai mencintai wanita itu. Kataku “Dia gila!”

Tinggalkan Komentar