KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Berkat Gigi Nongol di TV

“Aduh keras sekali daging ini, sampai-sampai gigiku yang tinggal separuh ini tak mampu lagi menggigitnya,” keluhku sambil meringis.

Umurku memang belum setua gigiku ini. Tapi banyak orang mengira aku hanyalah kakek-kakek yang sudah kehilangan sebagian besar giginya. Padahal umurku terbilang masih muda, masih di bawah limapuluhanlah. Makanya tak heran banyak orang memanggilku dengan sebutan Pak Ompong, terlebih lagi murid-muridku di sekolah. Profesiku sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Surabaya tak ditunjang dengan penampilanku ini.

Sebagai guru Fisika sekolah menengah pertama aku harus mempunyai cara-cara kreatif untuk membantu mereka memahami ilmu eksak yang dikenal sulit oleh sebagian besar anak usia mereka. Aku selalu membuat piranti-piranti yang dapat merefleksikan teori-teori rumit itu. Tak heran apabila aku dikenal sebagai guru yang cerdas dan kreatif di sekolah bahkan di wilayah pemkot Surabaya. Namun, suatu kali pernah aku dipermalukan oleh salah seorang muridku lantaran gigi ompongku ini. Kala itu aku sedang menjelaskan sebuah bab sambil kutunjukkan pada mereka sebuah konsep dengan menggunakan piranti yang kubuat sendiri. Setelah aku menjelaskan semua materi pada bab itu lalu aku memberi kesempatan pada mereka untuk bertanya. Aku kaget tiba-tiba salah seorang diantara mereka mengacungkan tangannya dan berceletuk…

“Pak! Bapak selalu menemukan cara yang mudah untuk menjelaskan teori-teori Fisika yang rumit, tetapi apakah Bapak kekurangan cara untuk menambal gigi Bapak yang ompong itu?” tanya muridku sambil meledek.

Seisi kelas tertawa tanda pertanyaan itu memang benar-benar lucu. Sebagai guru aku hanya bisa membalas mereka dengan tawaku pula. Aku tidak marah karena itu memang kenyataannya. Aku memang tak punya cara untuk menambal gigiku ini. Salah satu cara, ya pergi ke dokter gigi atau ahli gigi untuk menambal gigiku ini. Tapi gajiku yang pas-pasan kembali menciutkan nyaliku untuk segera pergi ke tempat itu. Aku yakin untuk menambal gigi yang tinggal separuh ini perlu biaya yang tidak sedikit.

Siang itu aku berniat untuk berbaring sejenak di kamar, namun suara dering telepon membatalkan niatku itu. Salah seorang karyawan televisi swasta menelponku.

“Halo, benar ini dengan Bapak Joko?” tanya karyawan TV itu.

“Iya benar, saya bicara dengan siapa ya?” sahutku.

“Saya karyawan OK TV, kebetulan Bapak diminta mengisi talk show interaktif di stasiun TV kami. Apakah Bapak bersedia?” kata karyawan itu.

“Tunggu dulu, saya bukan orang penting di negeri ini, saya hanya seorang guru. Lantas apa kapasitas saya untuk mengisi acara anda?” tanyaku bingung.

“Justru kemampuan Bapak sebagai guru yang cerdas dan kreatif dalam mengajar yang kami butuhkan untuk memberi inspirasi guru-guru yang lain,” jawabnya.

“Baik saya bersedia, untuk tempat dan waktunya tolong diberitahu!” sahutku bangga.

Kemudian sampai pada waktu aku harus mengisi acara itu, aku segera bersiap untuk segera berangkat. Akhirnya aku sampai juga. Sempat aku gemetar merasakan dinginnya studio TV, seluruh badanku terasa dingin dan gigiku yang tinggal separuh ini terasa semakin mau copot. Maklum aku hanya orang desa yang tidak pernah sekali pun masuk TV. Aku diminta menjawab seluruh pertanyaan presenter acara itu, dan sesekali menjawab pertanyaan penelpon. Aku sempat takut juga karena acara itu ditayangkan secara live. Pada intinya aku diminta menjelaskan ide-ide kreatifku dalam mengajar agar dapat memberikan inspirasi pada guru-guru yang lain. Kalau bicara soal itu sih aku sudah biasa, jadi tak heran apabila rasa gemetar yang tadi kurasakan musnah begitu saja.

Setelah acara itu selesai, aku pun pulang dan segera mengistirahatkan tubuhku agar esok aku kembali siap untuk mengajar. Niatku untuk berbaring kembali terusik. Terdengar suara telepon yang tak henti-hentinya. Awalnya kubiarkan telepon itu sampai tak berbunyi lagi, namun telepon itu tak juga henti-hentinya berbunyi. Aku memutuskan untuk mengangkat telepon itu, meskipun tubuh ini menolaknya.

“Halo, benar ini dengan Bapak Joko?” tanya seorang wanita.

“Iya benar, saya bicara dengan siapa ya?” sahutku.

“Saya seorang dokter gigi tak seberapa jauh dari rumah Bapak,” jawabnya.

“Ada apa ya Bu?” tanyaku bingung.

“Saya tadi kebetulan menonton acara Bapak. Kelihatannya ada yang salah pada gigi Bapak. Orang seusia Bapak belum pantas kalau harus menerima panggilan Ompong,” kata dokter itu.

“Iya Bu, lantas?” tanyaku lagi.

“Begini Pak, kalau Bapak berkenan saya berniat untuk memperbaiki gigi Bapak yang tinggal separuh itu,” terang dokter itu.

“Tapi saya tidak punya uang, saya mau kalau hanya gratis saja,” jawabku.

“Tenang saja Bapak, semuanya gratis kok,” tegas si dokter.

Karena kesempatan ini sudah kutunggu-tunggu sejak lama, tanpa pikir panjang aku segera mengiyakan tawaran dokter itu.

Esok hari kuputuskan untuk pergi ketempat dokter itu. Setelah satu jam lamanya mulut serta gigiku ini diutek-utek, jreng…...gigiku kembali utuh dan agaknya menyilaukan orang yang melihatnya. Sepulang aku dari tempat dokter itu, tak satup un tetangga dan muridku yang melewatkan kesempatan untuk bertanya ada apa gerangan dengan gigiku. Mulai saat ini tak perlu lagi wibawaku dikalahkan oleh gigi ompongku dulu. Yang lebih mengherankan lagi stasiun TV yang mengundangku dulu kembali memanggilku untuk mengisi sebuah acara, namun pada acara yang berbeda, yang sifatnya guyonan dan menghibur. Pada acara itu aku ditanya bagaimana semua ini bisa terjadi. Sambil bercanda aku menjawab, “Berkat gigi nongol di TV, ha..ha..ha..!”

Tinggalkan Komentar