KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bumi Kekasihku

Aku terbangun memeluk bumi, di pagi hari yang tak begitu sunyi. Setiap sekali putarannya seirama satu detak jantungku. Pendar cahaya kebiruan yang tipis dan lembut menyerap ke tubuhku melalui pori-pori kecil di kulitku, aku merasakan sejuknya. Wangi tanah basah, kayu-kayu, rerumputan dan bulu binatang membaur menjadi aroma wajar yang setiap kali tercium tanpa sadar. Suara angin, gemericik air, desau angin berpadu dalam musik dan lirik yang hapal didengar.

Kami menyatu, maka demikian sebaliknya.

Bau knalpot jalanan yang tersisa di tubuhku, sisa shampo di rambutku, sabun di kulitku, sisa pengawet makanan di kentutku. Raungan kendaraan, deru mesin-mesin, dan erang kesakitan.

Bumi, kita menyatu. Engkau menyerap energiku, memelukku erat seperti sepasang kekasih, memenjarakanku di inti perutmu.

Walau begitu Bumi, jangan takut aku tak akan menusukmu, karenanya aku akan berdarah darah, dan kau tak akan menghancurkanku karenanya kau akan hancur.

Tapi bumi, jangan buat aku patah hati dengan kesunyian karena itu lebih mematikan. Biarkan sekali-kali, angin bergemuruh resah, air menerjang garang, api berkobar marah, gunung-gunung melahap lapar, dengan itu kami lebih merasa hidup dengan normal, dan diam, sunyi, ketenangan, harmoni, kami akan mendapatkannya di surga nanti.

Tinggalkan Komentar