Tangis di Ujung Malam
Desember 18th, 2008 by riska
Masih dengan mata sembab dengan rambut yang acak-acakan, Nia berusaha tetap terlihat tegar dan tersenyum kepada setiap tetangga yang mampir melayat di rumahnya. Wanita 20 tahun ini baru saja ditinggal pergi oleh suaminya untuk selama-lamanya. Hari yang berat namun tetap harus dijalani bagaimanapun caranya.
***
Jumat Kliwon ketika senja mulai memudarkan biasnya bergantikan malam, kejadian itu pun terjadi. Suara teriakan seseorang di luar rumahnya, membuatnya beranjak dari rumah panggungnya yang baru dibangun dua tahun lalu ketika ia mulai membina rumah tangga bersama istrinya. Nalar mengintip dari balik jendela yang berhiaskan gorden sederhana buatan tangan istri tercinta, mencari tahu siapa si pemilik suara yang telah mengganggu waktu istirahatnya yang berharga bersama dengan keluarga kecilnya. Setelah mengamati sejenak, Nalar turun melewati undakan anak tangga yang terbuat dari kayu jati berpelitur hitam, ketika sampai di bawah, Nalar yang akhirnya mengenal siapa pemilik suara itu serta merta tersenyum dan menyapa kepadanya.
“ Tumben… kenapa malam-malam datang kesini, lalu berteriak. Kenapa tidak naik lalu mengetuk pintu ?” tanya Nalar menginterogasi Dani, teman kerjanya di ladang setiap hari.
“Ahh… cerewet sekali mulut kau itu, kayak burung Beo saja!” bentak Dani seraya mengeluarkan sebuah benda dari balik bajunya lalu menghunuskan benda itu tepat ke perut Nalar.
Nalar yang tidak siap dengan apa yang dilihat dan dialaminya tidak dapat mengelak, dan… parang itu terhunus sedalam 10 cm ke perut Nalar. Darah bersimbah dari balik bajunya dan segera merembes keseluruh pakaian Nalar yang berwarna hijau yang telah lusuh itu.
“Aggghhh… N… Nia…,” teriak Nalar ke istrinya yang lebih terdengar seperti sebuah erangan sakit yang memilukan.
Teriakan Nalar tampaknya tak sampai ke yang dituju, lalu ia tersungkur tak sadarkan diri di tanah yang becek akibat hujan yang terus mengguyur seharian ini. Meninggalkan sebilah parang yang masih tertancap di perutnya yang kini dibanjiri oleh darah, dan si pelaku lari begitu saja melihat apa yang telah dilakukannya, meninggalkan teman kerjanya sekaligus teman bermain ketika masih kecil dulu.
***
Nalar sudah setengah jam meninggalkanku, mungkin ia pergi bersama orang itu, lalu lupa akan diriku ini yang menantinya cemas, batin Nia. Hujan di luar sana sangat deras, dingin terasa sangat menusuk di kulit, Nia menyempatkan diri menengok ke kamar anaknya yang masih berusia lima bulan yang lagi tertidur pulas di ranjang kecilnya yang nyaman. Ia lalu mencium dahi anaknya, lalu tersenyum sembari menghilangkan air liur yang mengalir dari sela bibir kanan anaknya. Memastikan apakah ia tidak mengompol, maklum saja tempat tinggalnya begitu terpencil dan pendapatan suaminya yang pas-pasan mengharuskan anaknya terpaksa tidak dapat menikmati peralatan bayi modern itu.
Nia lalu beranjak dari kamar anaknya, lalu berjalan ke beranda rumah untuk memastikan apakah gordennya tertutup. Karena rumah Nia sudah sedingin di dalam kulkas sekarang. Ketika ia tiba di jendela tempat Nalar sebelumnya menengok orang yang memanggil di bawah rumahnya, ia terkejut melihat ada seseorang yang terbaring di bawah rumahnya. Walaupun hujan deras, dan pandangannya dibatasi oleh embun di kaca jendela rumahnya, Nia yakin kalau yang sedang terbaring di sana adalah seorang manusia, tapi Nia tak tahu siapa orang itu. Dengan agak takut, Nia dengan balutan dasternya di tambah sarung batiknya yang melingkari tubuhnya dan tangan kanan yang memegang payung, ia memberanikan diri melihat orang yang terbaring di bawah rumahnya. Hawa dingin seakan menambah ketegangan dalam hatinya yang sedang bertanya-tanya.
“Na…lar ?!” ucap Nia diiringi oleh rasa kengintahuan yang dalam.
Keingintahuan Nia pun terjawab ketika ia melihat sebilah parang telah tertancap di perut suaminya dan darah yang merembes dan telah tercampur oleh air hujan yang masih mengguyur dengan derasnya. Dengan gerak refleks, Nia lalu membuang payungnya yang sedari tadi di pegangnya dengan tangan gemetar, entah gemetar karena hawa dingin yang dibawa oleh hujan atau gemetar karena hawa dingin yang dibawa oleh hatinya.
Ia lalu berlari, menuju ke rumah tetangganya, meminta pertolongan. Nia sudah tampak seperti orang gila, berlari di tengah derasnya hujan, mengganggu tetangganya yang lagi beristirahat sambil menangis atau lebih tepatnya meraung kepada setiap orang yang ditemuinya. Malam ini merupakan malam terpanjang yanng pernah dialaluinya, semasa hidupnya dan paling menyedihkan.
***
“Sudahlah Nia… relakan kepergian suamimu, toh arwahnya juga tidak akan tenang di alam sana kalau kau tetap seperti ini,” bujuk ibunya yang tinggal tidak terlalu jauh dari rumah Nia.
Dengan cepat rumah Nia telah dipenuhi oleh tetangganya yang juga sanak saudaranya. Nalar sudah di pindahkan ke atas rumahnya, rauangan kesedihan menggaung jelas di rumah panggung yang baru dibangun itu. Semua yang hadir di rumah Nia berusaha uuntuk membesarkan hati wanita yang mendapat giliran disapa oleh kesedihan. Nia sangat mencintai suaminya, ini dibuktikannya ketika ia lulus SMA, ia menikah dengan Nalar, pemuda desa Moncongloe. Nia rela tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, sebab orangtuanya sudah tak mampu membiayainya lagi, dan akhirnya ia memutuskan untuk menikah.
Entah secara langsung atau tidak, anak Nia menangis, mungkin karena kaget tiba-tiba rumahnya dipenuhi oleh orang yang sedang menangis. Ini menyadarkan Nia bahwa masih ada kehidupan yang harus dilanjutkannya, masih ada titipan dari-Nya yang harus dijaga, dirawat, dan diberi kasih sayang. Nia beranjak dari tempatnya menuju ke kamar anaknya yang meminta perhatiannya. Tangis terus menerus mengalir tiada henti, menyayangkan melihat anak muda yang baik hati ini harus pergi dengan begitu cepatnya, tangis yang memecah keheningan malam, tangis yang menghangatkan tubuh yang sedari tadi dililit kedinginan karena hujan yang terus menerus mengguyur desa Moncongloe, tangis yang sendirinya akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu.
***
Sudah tiga tahun sejak kejadian memilukan itu, Nia harus mencari nafkahnya sendiri dengan bekerja di ladang warisan suaminya terkadang juga ia menjual kue jajanan pasar di pagi hari. Ia harus menghidupi dirinya sendiri dan anaknya yang sudah pandai mengucapkan kata “Mama”.
Dani, yang merampas nyawa suaminya itu akhirnya dipenjara, ketika diinterogasi polisi mengapa ia membunuh temannya itu, ia hanya menjawab karena ia iri dengan kebaikan Nalar, bahkan istrinya selalu menyanjung Nalar dan membandingkan dengan dirinya. Ia lalu curiga, kalau-kalau istrinya ada main dengan Nalar, maka di hari kejadian dengan keadaan mabuk dan bermodalkan sebilah parang yang selalu dibawanya ke ladang untuk bekerja, ia melakukannya.
Ketika mengetahui hal itu dari pihak kepolisian, Nia hanya pasrah. Begitu mudahnyakah membunuh manusia, makhluk yang paling tinggi derajatnya di mata Allah hanya karena masalah sepele, bahkan dalam kasus ini persoalannya tidak sepele, bahkan sama sekali tidak ada persoalan. Suamiku sudah mejadi korban dari manusia yang sudah kehilangan akhlak seperti Dani. Bisa-bisanya dia, tanpa meminta penjelasan dari suamiku langsung menghunuskan sebilah parang ke tubuhnya, andaikan saja ia memiliki indera keenam sehingga dapat mengetahui apa yang akan terjadi ketika suaminya dipanggil waktu itu, andaikan ada dokter terdekat di desa terpencil itu mungkin suamiku bisa tertolong.
Semua itu telah berlalu, tak ada yang patut untuk disesali, mengingat kejadian hari itu hanya akan membuatku bersedih terus, padahal ada seorang anak dengan kepolosannya meminta untuk diberi kasih sayang sepenuhnya dari satu-satunya orang tua yang dimilikinya itu.
***
Aku selalu membawa Qahar anakku, ketika berziarah kubur di makam suamiku. Aku biasanya ke pekuburan ketika bulan puasa menjelang. Walaupun Qahar selalu menangis ketika memasuki areal pekuburan, ia senantiasa kubawa serta hanya untuk sekadar bertemu dengan papanya, walau cuma nisannya.
“Mas… andai kau masih hidup, betapa sempurnanya hidupku. Di sampingku ini, ada anak kita, semakin hari ia semakin besar dan lucu, sayang kamu tidak bisa melihatnya secara langsung,” kataku sesenggukan berusaha menahan tangis yang ingin meledak ini.
“Ma, kenapa Mama menangis ?”
Pertanyaan polos yang keluar dari bibir mungil anakku menyadarkanku dari kesedihan yang mulai menyapa lagi.
“Mama, hanya sedih mengingat kamu belum sempat bertemu dan mengenal papamu dengan baik. Ia hanya mengisi hidupmu selama lima bulan lamanya lalu ia pergi untuk selamanya.” Air mataku tak terbendung lagi sehabis mengucapkan kata terakhir tadi. Entah Qahar mengerti ucapanku atau tidak.
“Ma…Papa itu siapa ? Di mana ia sekarang ? Apa dia orangnya jahat ?” tanya Qahar kepadaku dengan wajah lugunya yang tanpa dosa. Bagaimana aku harus menjelaskan semua masa lalu itu, ia masih terlalu muda untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya, kejadian memilukan yang telah merenggut semua cita-cita masa depan yang mulai dibangun dengan semangat dan cinta.
“Qahar dengar Mama, walau kamu tidak pernah melihat papamu dan merasakan hangat dekapannya di tubuhmu, tapi percayalah Papa adalah orang yang paling baik di dunia ini, Papa adalah cahaya di siang hari dan bintang yang berkelip di malam hari, jadi kalau kamu ingin melihat Papa maka menengadahlah ke langit di malam hari maka kamu akan melihat Papa mengerlipkan matanya ke kamu,” jawabku berusaha untuk mengucapkan kata per kata dengan jelas agar ia mampu memahami ucapanku.
Aku berdiri dari nisan suamiku lalu menggandeng tangan kanan Qahar membawanya menjauh dari area pekuburan yang selalu diliputi dengan kesunyian dan duka di dalamnya.