Senyummu yang Kurindukan
Desember 18th, 2008 by riska
Masih teringat dengan jelas terngiang di telingaku, tangis ibuku yang takkan pernah kulupakan. Hari itu, dimana koran-koran lokal diserbu oleh para manusia yang menunggu nasib mereka. Hari pengumuman kelulusan masuk SMA, nasibku sekarang ditentukan oleh nomor peserta ujian. Nasib pendidikanku tak ubahnya sebuah lotre yang menunggu keberuntungan untuk menang. Dan pada hari itu, tepatnya Senin, tiga Agustus, aku mencari nomor ujianku di sebuah lembar koran yang masih hangat. Butuh perjuangan keras untuk bisa membeli koran yang harganya tiba-tiba naik menjadi tiga kali lipat dari biasanya. Kutelusuri dengan seksama halaman koran yang didalamnya terdapat kumpulan beberapa angka dari para pemenang lotre, mata dan jariku naik turun mengikuti baris kolom koran. Kutelusuri sekali, dua kali, tiga kali nomor lotreku tidak ada. Aku masih kurang beruntung, dan sepertinya taruhan uangku masih kurang banyak untuk memenangkan lotre kali ini.
***
Tinggal di rumah sederhana, yang atap terasnya terbuat dari deretan seng aluminium yang sudah berkarat dan bocor di sana sini. Di dalamnya tidak tampak sesederhana di luarnya, ada banyak kehidupan sosial dengan kekompleksannya yang tercipta dari anggota keluarga di dalamnya. Tanganku masih bergetar, jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, mataku mulai sedikit di basahi oleh air yang berasal dari dalam mata dan keluar akibat dorongan emosional yang tak terkendali akibat selembar kertas koran yang ada di hadapanku ini. Mama, masih dengan wajahnya yang penuh kasih memandangku penuh harap dan rasa penasaran ini sedang duduk di sampingku, menunggu sebuah kata yang ditunggunya dari mulut ini, tapi harapannya itu akan membuatnya merasa kecewa atau bahkan sakit.
“Bagaimana, apa hasilnya?” Mama memegang tanganku yang tiba-tiba menjadi dingin, tangan tuanya yang telah membesarkanku sampai sekarang.
“Ng…n…gak ada,” jawabku secara terbata-bata.
Entah suara yang keluar dari mulut ini didengarnya atau tidak. Namun aku rasa dia mendengarnya, sebab tangannya yang memegangi tanganku tiba-tiba berubah menjadi dingin. Tangan satunya, yang memegang kartu ujianku dapat kulihat gemetar mendengar ucapanku yang seolah bagai mimpi baginya. Mama merebut koran yang sedari tadi kupegang, dapat kurasakan bahwa sekali lagi aku tak dapat membahagiakannya. Aku memang anak yang sial, anak yang diciptakan hanya untuk menyusahkan orang tuanya, tapi aku ingin merubahnya menjadi sebuah kebanggaan, tapi sampai saat ini cita-cita ini belum bisa aku wujudkan untuknya.
Mama mengambil kacamatanya yang terletak di atas meja dimana minuman dan kue untuk sarapan sudah tersedia seperti biasanya. Kue yang terhidang ini selalu mengundang selera makan dengan baunya yang menggoda, tapi hari ini nafsu makan bahkan merupakan kata yang asing di telinga. Kata dari makhluk alien menurutku.
***
“Huff… pergilah mandi, lalu kita ke calon sekolahmu yang baru,” ucap Mama seraya melipat koran itu dengan sangat hati-hati seolah koran tersebut merupakan hartanya yang paling berharga di rumah ini.
Aku bahagia ternyata Mama tidak seperti dugaanku. Aku berpikir Mama akan marah dan berhenti melanjutkan pendidikanku sampai ke SMA, tapi itu tidak terjadi. Aku lalu beranjak dari sofa tempat aku duduk bersama Mama. Aku lalu masuk ke kamar mandi, melaksanakan perintah Mama, tapi butuh waktu tiga puluh menit sampai aku bisa meraih gayung untuk menimba air yang ada di kolam.
Aku duduk merenung di dalam kamar mandi ukuran 3×4 m itu, merenung dan meratapi nasib yang sedang menimpa pada diriku, lelehan air hangat mengalir deras di pipi kiri dan kananku. Aku menangis, dengan suara tangis yang tenggelam oleh bunyi keran ledeng yang sedang mengalir ke kolam tempat penampungan air. Satu jam lamanya aku berada di dalam kamar mandi. Mama pasti tahu bahwa aku menangis di dalam kamar mandi, sebab ketika bercermin kulihat mataku membengkak tanda habis menangis. Entah mengapa aku menangis, siapa yang kutangisi. Apakah aku menangis karena sedih tidak lulus di SMA pilihanku? Apakah aku menangis karena uang untuk membeli formulir ujian terbuang percuma? Apakah aku menangis sebagai luapan akibat tekanan yang kualami beberapa bulan ini? Atau, aku menangis karena memang itulah kodratku, selalu menangis tanpa tahu secara pasti mengapa aku menangis?
Aku berangkat bersama Mama ke sekolah yang aku sendiri tidak tahu di mana. Kami berangkat dengan menggunakan angkutan umum, pete-pete. Trayek pete-pete ini, menuju ke Antang, tempat yang sama sekali tidak pernah aku datangi. Di atas pete-pete, kami bertemu dengan seorang ibu yang mungkin sebaya dengan Mama, ibu itu juga bersama dengan anaknya. Dapat kulihat anak gadis itu membawa sebuah map yang dapat kutebak apa isi di dalamnya. Ibu itu berkerudung sama seperti Mama tapi ibu itu tampak lebih segar dan terlihat muda dari usianya sangat kontras dengan wanita yang duduk di sampingku. Wajahnya tampak sedih, ada sedikit raut kekhawatiran terpancar dari matanya yang mempergunakan kacamata.
“Anak Ibu, mau pergi daftar ulang juga ya,” tanya ibu itu yang membagi senyumnya kepada kami.
Kami membalas senyum ibu itu dengan sangat terpaksa, semata-mata demi rasa kesopanan kepada orang yang telah berbuat sopan kepada kami dan yang telah mengingatkanku akan nasib pendidikanku ke depan akan seperti apa. Ah…tidak, jawaban Mama sungguh sangat singkat tapi sangat dalam menyakiti hatiku. Bukan sakit hati karena tidak lulus di SMA pilihanku tapi karena telah mengecewakan Mama yang telah membiayai sekolah dan bahkan bimbingan di luar. Aku memang anak yang bodoh lagi berdosa.
***
Ketika tiba di rumah ternyata sudah ashar. Aku lalu menyegerakan shalat. Entah berapa lama aku shalat, tapi aku merasa doaku lebih panjang dari shalat asharku sendiri. Aku lalu mengadu kepada Dzat yang telah menciptakan aku, mengapa aku diberi nasib yang sungguh sial ini. Mungkin sudah jadi penyakitku ketika tertimpa suatu masalah maka aku lari dan mengadu kepada-Nya, tapi ketika aku dalam kubangan kebahagiaan aku malah melupakan-Nya, penyakit yang hanya bisa di sembuhkan dengan taat beribadah dan memperkuat iman. Aku berharap cuma akulah siswa satu-satunya yang tidak lulus, agar Allah tidak terlalu pusing menerima aduhan dan keluhan hamba-Nya.
Usai shalat Ashar, aku menuju ke dapur, sekadar melepas dahaga dari tenggorokan dan lapar perut ini. Ketika berjalan depan kamar Mama yang berdampingan dengan dapur, langkahku terhenti. Kamar Mama terkunci tapi aku dapat mendengar suara isak tangis seorang tua yang sedang bersedih. Mamaku menangis. Selama ini Mama selalu memberiku ketegaran untuk tidak menyerah dan menangis terhadap nasib, tapi kali ini segala ketegaranku dan ketegaran Mama seolah runtuh, diruntuhkan oleh sebuah deretan angka yang tidak tertera dalam selembar koran. Tangis Mamaku membuat rasa dahaga dan lapar menjadi hilang. Aku akan membanggakannya, pasti suatu saat nanti.
***
Sekian tahun telah berlalu sejak kejadian itu, Anakku Khia. Kau telah meninggalkan mamamu yang sudah tua renta ini. Aku tahu kau selalu menangis setiap malam, menangisi nasibmu yang begitu tidak adil buatmu. Allah selalu menyimpan rahasia-Nya, Anakku. Mungkin kamu harus sedikit bersabar untuk mengetahuinya, dan kesabaran itu butuh pengorbanan yang sangat besar. Kamu telah membuktikan kepada Mama, sudah cukup pembuktianmu ini, Mama sudah kenyang dengan setiap kebanggaan yang kau berikan. Maafkan Mama, karena begitu lancang mengacak-acak kamarmu sampai kutemukan buku harianmu. Maafkan Mama, karena telah membaca segala rahasia yang tidak kau ceritakan ke Mama. Anakku Khia, kau telah berhasil membuat mamamu bangga akanmu, kamu telah berhasil mengembalikan senyum yang sangat ingin kau lihat, kamu telah berhasil menjadi anak yang diidamkan setiap orang tua seperti Mama.
Khia, ada satu hal yang sampai saat ini masih kusesali. Aku telah meninggalkanmu di saat kau sangat membutuhkan Mama. Mama tidak ada ketika kau sekarat membutuhkan belaian kasih seorang Mama. Kecelakaan mobil itu telah merenggutmu dari tangan Mama. Mama berterima kasih karena kau telah membiayai haji Mama, tapi kau tidak menjemput Mama ketika tiba di Makassar, Mama tidak bisa lagi melihat senyummu. Kamu terlalu cepat meninggalkan Mama, tapi Mama yakin kau pasti akan menjemput Mama suatu saat kelak ketika Mama di panggil oleh-Nya. Mama akan melihat senyummu yang seperti biasa, berdiri dan kita saling berpelukan karena Mama sudah sangat merindukanmu.
Tema bagus..Tp latar belakang kurang jelas, juga alur yang langsung pada inti cerita…Tp yang pasti, kasih dan doa ibu adalah hal paling berharga dalam hidup… I lup U .M0m…
hebbbbaaaaddddd
mamaa mang te-o-ppe be-ge-tte dee
akuh sayyyyyyyaaaang mamma ..