Pesan Emak Menjelang Ramadhan
Desember 18th, 2008 by ELFATY
“Hidup mahasiswa!!”
Terdengar teriakan di seluruh penjuru kampus yang berorientasi mendidik mahasiswanya menjadi seorang guru. Seorang guru. Ya itulah cita-cita yang didambakan oleh seorang mahasiswa baru yang sejak tadi diam meskipun suara gemuruh teman-temannya bercanda. Hari itu adalah hari terakhir OSPEK. Namun, sama sekali pikirannya tidak berada di taman Pancasila tempat ospek yang teduh itu. Pikirannya melayang ke sebuah toko, tempat les, atau apa saja yang ia dapat bekerja untuk membiayai kuliahnya nanti. Sebut saja Nur. Tepatnya nur ramadhan. Remaja yang telah diterima oleh kampus keguruan itu nampaknya tidak terlalu senang. Bagaimana tidak ? Selama ia kuliah nanti, ia pun belum tahu bagaimana cara membiayainya. Hanya modal pangestu dan tekad baja yang mengantarkannya nekad ke Yogyakarta untuk menimba ilmu guna menggapai cita-cita luhurnya itu.
“Maafkan Emak, Le. Bapak dan Emakmu tidak bisa menuruti keinginanmu untuk kuliah. Hasil panen kemarin habis untuk berobat Bapakmu,” pesan ibunya tercinta itu selalu terngiang-ngiang di telinganya.
“Ya Mak, saya paham benar keadaan Emak. Tetapi Mak, saya sudah diterima di UNY. Ijinkan saya untuk mengambil kuliah itu. Yang saya butuhkan hanya pangestu Emak dan Bapak. Semoga Allah senantiasa membuka pintu untuk ke sana. Saya yakin Mak, jika Allah membuka pintu untuk kuliah, pasti Allah juga membuka pintu yang lain untuk mencapainya,” kata Nur membesarkan hati simboknya.
“Amin. Bapak dan Simbokmu selalu mendoakan tanpa kamu minta. Hati-hati di sana. Jaga diri baik-baik Nak.”
Pesan singkat namun mendalam itu mengiringi perjalanannya ke Jogja. Kota yang ia idam-idamkan sebagai pencerah masa depannya. Tes, air matanya meleleh mengingat semua itu. Baru kali itu ia menangis. Aku tidak boleh cengeng, gumamnya setelah ia merasakan air hangat disekitar pipinya. Seorang Nur yang dikenal kuat dengan berbagai badai cobaan hidup itu, tak kuat menahan tangis ketika mengingat pesan mulia simboknya.
“Nur,” panggil seorang temannya yang berada di sampingnya. Ia terhenyak dari lamunannya.
“Ya. Ada apa,” jawabnya tergagap.
“Sebentar lagi ada sambutan dari Pak Dekan Laho. Didengerin dengan baik. Bukannya ngelamun gitu,” kata Wahid. Temannya yang satu itu memang sejak tadi memperhatikannya.
“Ya…ya… Eh, ntar aku minta bantuanmu ya Hid,” jawab Nur.
“Oke, Bos. Aku siap membantumu,” kata Wahid sambil mengangkat tangannya seperti orang hormat.
Tak lama kemudian sambutan dari Bapak Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi dimulai. Semua mahasiswa terkesima oleh tutur kata dan pidato Bapak Dekan. Pidato yang mengandung motivasi dan arahan bagi mahasiswa baru disampaikan tata bahasa yang empuk dan enak dicerna. Dengan menyitir bebrapa kalimat bijak dipadukan dengan kelihaian memasukkan beberapa ayat Alqur’an dan terkadang diselingi dengan canda membuat semua mahasiswa terdiam dan hanyut dalam aliran petuah bijak Pak Dekan.
“Menjadi mahasiswa bukan hanya sekedar gengsi. Maha artinya tinggi. Kalian harus mengukir prestasi yang tinggi, cita-cita yang tinggi, dan budi pekerti yang tinggi. Dan untuk mewujudkan itu perlu perjuangan dengan semangat yang tinggi, dan tentunya butuh keringat dan air mata pula. Ingatlah bahwa sopo nandur bakal ngunduh. Sekali lagi, janganlah kau sia-siakan masa mudamu, wahai Anakku,” Pesan pak Dekan itu dengan semangat empat-limanya.
Petuah bijak dan mengena itu pun disambut dengan applause yang meriah dari mahasiswa. Suasana di taman Pancasila senja yang menguning itu tampak seperti lautan semangat dan mahasiswa menyelam dengan tenang terbawa arus optimis yang akan membawa mereka ke muara kemenangan.
“Seandainya saja saya kelak jadi Pak Dekan, saya akan seperti beliau. Tapi, ach.. hanya mimpi kali. Aku kan hanya anak petani. Bisa jadi guru SD saja sudah senang,” gumam Nur dalam hati.
Ospek selesai, ia beranjak dari tempat duduk yang dibawanya sebagai tikar intelektual. Wahid masih saja memperhatikan tingkah Nur yang lucu dan tersenyum.
Awan merak berarak bergandengan seolah bertasbih menyebut keagungan-Nya. Angin semilir dingin mengiring burung camar menuju sarangnya. Menandakan senja telah menyapa Jogja. Dengan langkah gontai, Nur berjalan bersama Wahid untuk pulang. Tak tahan rasanya pengen segera sampai kos dan melepas lelah. Di wajahnya terlukis semangat juang yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita luhurnya
***
Hawa dingin masih tebal menyelimuti sebagian desa Samirono. Tidak ada seorang pun yang terjaga pada malam itu. Semua anak kos telah beristirahat setelah seharian beraktivitas. Langit tampak temaram dengan beberapa bintang saja. Nampaknya sang dewi malam malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Malam itu memang sepi. Ya sepi. Hanya suara jangkrik dan binatang malam yang terdengar memecah kesunyian.
Tit…tit..tit… Bunyi alarm yang dipasang Nur berdering nyaring membuatnya terbangun. Rasa capek dan pegal yang masih ia rasakan membuatnya menutup selimut ke tubuhnya lagi. Tak lama kemudian, ia terhenyak dan bangun. Entah mengapa tiba-tiba ia seperti mendengar pesan ibunya. Nur beranjak seketika untuk mengambil air wudlu.
“Air dingin, jangan jadikan aku takut menyentuhmu, aku ingin berwudlu dan menghadap Dzat yang menjadikanmu dingin,” kata Nur untuk melawan kedinginan air di musim kemarau itu.
Suasana sepi. Teman-teman Nur terbuai dalam selimut hangatnya. Tetapi di sepertiga malam yang akhir itulah saat yang tepat untuk berdoa dan mengadukan keresahan di hati. Dengan penuh kekhusyukan Nur berdoa.
“Ya Allah Dzat yang Maha Mengerti isi hati, dua hari lagi akan datang bulan yang penuh rahmat. Semoga Engkau izinkan aku mendapatkan rahmat-Mu tahun ini. Ya Allah Yang Maha Memberi Petunjuk, sampai saat ini hamba belum memperoleh pekerjaan untuk membiayai kuliah. Tunjukkanlah pada hamba pekerjaan yang Engkau ridhoi, dengan rizki yang halal dan barokah. Ya Allah, jadikanlah hamba termasuk golongan orang-orang yang bersyukur atas pemberian-Mu ini. Dengan penuh harapan, kabulkanlah doaku di waktu mustajabah-Mu ini. Amin.”
Basah mata Nur dengan limpahan air mata kerinduan kepada-Nya. Dada Nur terasa lega setelah mengadukan semuanya. Ada kedamaian yang menyusup dalam rongga hati dan jiwanya. Ditariknya nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan sambil berkata,”Alhamdulillah………”
Malam semakin merayap. Nur masih terlihat sibuk membolak-balikkan catatan-catatannya. Cukup lama ia mencari catatan yang diberikan Arif kemarin tentang lowongan pekerjaan. Arif adalah kakak angkatan sekaligus pemandunya dalam ospek.
“Nah ini dia. Ya, besok akan kucoba ke sini. Siapa tahu rizkiku ada di sana,” kata Nur dengan semangat.
Dimasukkannya catatan itu ke dalam tas canglong yang telah usang. Sebentar ia mencatat agenda untuk esok hari. Setelah semuanya beres, ia merebahkan tubuhnya untuk barang sebentar memejamkan mata. Besok banyak tenaga yang harus ia keluarkan. Ia harus menyiapkan stamina yang fit agar semuanya lancar. Nur terlelap sambil memegang tasbih kayu pemberian ibunya. Ia tidur tenang seperti bayi di pangkuan ibundanya.
***
Kaki Nur bergerak terus, menandakan ia gelisah. Bagaimana tidak? Sudah dua jam ia menunggu Arif. Arif berjanji akan mengantarkannya untuk mencari kerja. Ia mencoba menghubungi Arif dengan HP Wahid. Tetapi gagal terus. Nur sepertinya lemas dan pasrah.
“Kalau hari ini belum dapat kerja mungkin besok, kalau besok belum dapat juga…. Ah, Allah lebih tahu kok,” gumam Nur karena hatinya resah. Ia tersadar ketika Wahid memanggilnya.
“Arif tidak bisa Nur. Mendadak dia pulang ke Kebumen. Saudaranya ada yang sakit. Ni kamu baca sendiri SMSnya, sekalian dibalas aja,” kata Wahid sambil menyodorkan HP ke Nur. Ia membaca SMS itu.
“Terima kasih Wahid. Ya besok-besok saja ga apa-apa kok. Dah hampir Dzuhur. Aku keluar dulu ya, mau ke Masjid, sekalian coba deket-deket sini. Siapa tahu ada lowongan,” kata Nur sambil menyerahkan kembali HP Wahid.
“Oke. Hati-hati lho, jalan rame. Aku mau nyuci dulu ya. Jangan sore-sore. Oke,” pesan Wahid.
Nur berjalan menyusuri took-toko di Jalan Gejayan sampai Colombo untuk mencari kerja. Dari counter, toko buku, minimarket, sampai swalayan ia coba semua. Sudah berkali-kali ia bertanya, namun hasilnya tetap nol. Nampaknya Nur capek. Ia pengen sholat dulu dan istirahat barang sebentar. Kakinya berhenti di sebuah masjid berpapan nama Al-Muttaqien.
Gema adzan dari segala penjuru sudah terdengar. Ia segera mengambil air wudlu dan mengumandangkan adzan, karena ia menunggu-nunggu belum ada adzan di masjid itu. Setelah adzan, Nur menunggu orang untuk sholat berjama’ah. Tak lama datanglah seorang bapak berusia setengah baya memarkir mobilnya di bawah pohon di depan masjid. Langsung saja ia iqamat setelah bapak tadi selesai bewudlu. Ia mempersilahkan bapak tersebut untuk mengimami sholat. Namun bapak tersebut menolaknya, dan menyuruhnya mengimami. Dengan ikhlas Nur menerimanya.
Dengan kusyuk mereka sholat dzuhur berjamaah. Setelah satu rakaat, ada dua sampai tiga orang anak muda menyusul untuk berjama’ah. Semua jama’ah terhanyut dalam lantunan ayat-ayat yang dibaca Nur. Setelah selesai sholat, Nur tidak segera meninggalkan rumah Allah itu. Nur berdzikir secukupnya, lalu berniat untuk meneruskan pencariannya. Ia berbalik dan menyalami bapak tersebut. Nampaknya Nur berkenlan dan berbincang-bincang dengan bapak itu. Bapak itu bernama Pak Burhan.
“Dek Nur asalnya mana? Kok tadi bacannya bagus, mondok ya.”
“Ah, Bapak bisa saja. Saya dari Pati, Pak. Saya tidak pernah mondok, cuma ngaji.”
“Di Jogja kuliah, kerja, atau…”
“Insya Allah, kuliah pak. Tapi sekarang lagi cari kerja sambilan untuk membiayai kuliah.”
“Dek Nur memangnya pengen kerja apa?”
“Apa sajalah Pak Burhan. Asal halal dan dapat uang untuk biaya kuliah tapi tidak mengganggu kuliah saya.”
“Ehmm… sebenarnya saya sudah lama mencari orang untuk membantu saya. Kalau Dek Nur ga keberatan, kerja di tempat saya saja gimana? Masalah jadwal nanti bisa diatur.”
“Apa saya tidak salah denger, Pak? Alangkah senangnya saya jika bisa kerja.”
“Beneran, saya sungguh lagi mencari orang untuk membantu saya di rumah. Karena istri saya sedang sakit dan anak-anak masih pada kuliah di Jakarta. Bagaimana?”
“Wahhh terima kasih sekali Pak. Dengan senang hati saya mau kerja di rumah Bapak.”
“Ya sudah kalau begitu, Dek Nur bisa langsung ke rumah saya sekarang atau besok. Nih alamat saya, sekarang saya permisi dulu. Masih ada urusan.”
“Terima kasih sekali lagi, Pak. Besok saja saya ke rumah Bapak. Silakan Pak.”
Dengan tersenyum Nur memandangi kepergian Pak Burhan sampai mobilnya membelok. Mata Nur berbinar-binar mendapatkan pekerjaan itu. Ucapan Syukur tak henti-hentinya ia ucapkan.
“Alhamdulillah ya Allah. Semoga Engkau meridhoi langkahku ini. Semoga semua pemberian-Mu ini bisa meningkatkan ghirahku untuk beribadah kepadaMu,” bisiknya.
Kupu-kupu nampak berkejaran riang di atas taman dekat masjid, seriang hati Nur. Bunga yang dihinggapi pun terlihat segar, merekah dan berayun-ayun cantik. Seolah memberi ucapan selamat kepada Nur sore itu. Semburat kekuning-kuningan di langit Jogja menandakan senja akan segera menyapa.
Orang-orang berlalu lalang untuk kembali ke rumahnya. Nur segera bangkit untuk kembali ke kos Wahid. Dengan langkah optimis dan senyum mengembang, ia berkata dalam hatinya, Emak, pesanmu menjelang Ramadhan memberkahiku. Begitu besar doamu memudahkan jalanku. Aku tidak akan mengecewakanmu, Mak.
Jogja, 11 Ramadhan 1429 H
11 September 2008
*Ku persembahkan ini untuk Emak. You are my big inspiration…
Seneng..
Eh..Bangga ding..
Bneran dr FISE y..
He..Kenalan y..Q dr FMIPA..
keren….
ceritane jan keren and memes
it’s so cool,,
bkin yg keren ge dumpz,,
he hehh…
♥☺♥☺♥☺♥
sometimes we make LOVE
with our eyes,
sometimes we make LOVE
with our hands.
Sometimes we make LOVE
With our bodies,
Always we make LOVE
With OUR HEARTS.
I still luph u mom,,
now and ever…
no matter what happen..
muach…muach…