Perempuan Dalam Hujan
Desember 18th, 2008 by riska
Senja kini mulai berganti malam, kicauan burung yang kembali ke peraduannya mulai lenyap seiring menghilangnya matahari di ufuk barat. Nahyu belum juga pulang dari sekolahnya, sudah tiga jam lebih aku berusaha untuk menghubunginya lewat handphone kepunyaannya tapi hasilnya tetap saja nihil. Jantungku kini berdegup lebih kencang dari biasanya, sekujur tubuhku menjadi sedingin es, dan mataku mulai terasa panas oleh air yang mendesak untuk dikeluarkan. Tidak biasanya ia pulang terlambat tanpa memberitahuku terlebih dahulu.
***
“A…a…ku ada di mana ?”
Gadis itu nampak lemah di pembaringannya, sekujur tubuhnya dipenuhi luka yang masih mengucurkan darah segar. Kepalanya diperban, tangan dan kakinya kini tak lagi dapat ia gerakkan, sekujur tubuhnya betul-betul terluka.
“Tidak apa-apa, kamu lagi ada di rumah sakit, kamu habis kecelakaan tadi, sekarang istirahat dan jangan pikirkan macam-macam,” jawabku berusaha untuk menenangkannya.
Gadis manis ini sebelumnya tidak sadarkan diri selama dua jam lebih, aku sempat khawatir akan terjadi apa-apa dengannya apalagi keluarganya sampai saat ini masih terus berusaha untuk dicari dan dihubungi. Ia sama sekali tidak membawa kartu pelajar satu-satunya yang dapat diketahui bahwa kini ia masih duduk bangku SMA terlihat dari seragam yang ia kenakan.
Semoga ia dapat bertahan, doaku dalam hati melihat kondisinya saat ini yang sangat mengiris hati.
***
Aku berjalan mondar mandir dengan gelisah, tubuhku kini sudah semakin dingin menunggu anakku satu-satunya untuk pulang ke rumah. Tatapanku tak henti-hentinya menatap telepon di atas meja, menunggunya berdering dan mendengar suara riangnya di seberang sana.
Kecemasanku sedikit berkurang ketika aku mendengar suara suamiku yang memberi salam di pintu depan, aku segera berlari ke arahnya, memeluknya dan menumpahkan segala rasa cemasku di dadanya. Bajunya kini tampak mulai basah oleh air mataku yang tak henti-hentinya terus mengalir.
“Tenang…tidak usah terlalu cemas, Nahyu kini sudah dewasa bukan lagi anak kecil,” suaranya berusaha untuk menenangkanku.
Ia lalu mengajakku untuk masuk ke dalam rumah, berusaha untuk mencari jalan keluar dan terus berdoa.
***
“Pak… kami telah berusaha untuk menginterogasi temannya, tapi anak itu hanya menangis dan tidak mau mengatakan apa-apa, sepertinya ia masih trauma dengan kejadian siang tadi.”
“Huff… kalau begitu beri pendekatan psikologis agar ia mau memberi keterangan tentang temannya yang saat ini lagi terbaring sekarat,” perintahku kepada bawahanku yang dengan setia masih terus menanyai satu persatu korban kecelakaan tragis yang terjadi siang tadi.
Angkutan umum yang mengangkut dua belas penumpang di dalamnya bertabrakan dengan mobil truk yang mengangkut semen, dengan arah yang berlawanan kedua kendaraan yang memiliki ukuran besar yang berbeda itu saling menghantam satu sama lain, ketika diselidiki ternyata angkutan umum yang berwarna biru muda itu berusaha untuk menyalip pengendara motor di depannya. Sampai saat ini ada lima orang yang tewas akibat kecelakaan itu, pengendara motor yang berusaha disalip oleh angkutan umum, supir angkutan umum dan tiga penumpang mobil angkutan umum itu. Supir truk itu kini ditahan di kapolres untuk dimintai keterangan, ia hanya mengalami luka ringan, sedang sembilan penumpang lainnya masih dirawat di rumah sakit. Salah satunya adalah gadis manis yang terbaring sekarat penuh luka di sekujur tubuhnya.
Handphoneku berdering, telepon sang bawahan yang mengatakan bahwa nomor telepon orang tua sang anak yang sekarat itu sudah diketahui tinggal menunggu perintah selanjutnya.
“Hubungi orang tuanya cepat, ingat kamu harus menyampaikannya secara perlahan dan hati-hati,” kataku dengan suara yang tertahan antara ingin berteriak dan menangis.
***
“Pak polisi, bisakah aku menghubungi orang tuaku di rumah ? Mereka pasti cemas sekarang apalagi sedari siang aku tak memberinya kabar seperti biasanya,” pintaku kepada pak polisi yang nampak kelelahan.
Ia sepertinya tidak mendengar perkataanku, tampaknya ia sedang sibuk menelepon seseorang. Tanganku tiba-tiba saja susah untuk digerakkan, ketika berusaha untuk digerakkan rasanya sakit sekali. Aku berusaha untuk mengingat kejadian siang tadi, kepalaku rasanya sakit memikirkan tragedi yang mengenaskan itu, hanya suara teriakan panik dari para penumpang dan Nita yang berusaha memeluk dan melindungi diriku dari tabrakan yang…
Ouch kepalaku tiba-tiba sakit tidak terkira dan semuanya menjadi gelap.
***
Malam kian larut, suasana malam yang hening berubah menjadi gemuruh petir di angkasa, hujan turun dengan derasnya menenggelamkan isak tangisku yang tiada henti sepeninggal senja. Hawa dingin yang ditimbulkan hujan bergabung dengan hawa dingin yang sedari tadi telah merasuk di setiap sendi tulang belulangku, meremukkan secara perlahan pertahanan tubuhku dan akhirnya menyerah dengan kegelapan yang tiba-tiba muncul dan menghantui.
Dalam kegelapan dapat kulihat anakku Nahyu terduduk di sudut ruangan yang gelap sambil menangis, memanggil namaku dan tiba-tiba ia menghilang. Aku berlari berusaha mengejar Nahyu yang kian menjauh dan menghilang di balik hujan yang kian deras, teriakannya yang memanggil namaku ditenggelamkan oleh gemuruh hujan dan petir. Aku terus berlari mengejarnya hingga pergelangan tangan kanannya berhasil kuraih namun tangannya tidak semulus dan seputih biasanya, tangannya dipenuhi dengan luka dan darah yang terus mengalir. Kutatap wajahnya yang penuh dengan air mata dan luka memar di sekujur wajahnya. Pandanganku akhirnya menyapu seluruh anggota badannya ujung kaki hingga ujung kepalanya tidak luput dari luka, aku lalu berteriak menangis memanggil namanya dan tubuhku seolah-olah dihantam sesuatu yang keras merobohkanku dan membawaku ke sebuah tempat yang terang dan dengan suara gemuruh petir sebagai latarnya.
Aku membuka mata, tampak samar wajah suamiku yang membelakangi lampu yang tergantung. Penglihatanku yang kabur kian jelas, suamiku yang berusaha tenang tadi kini tampak panik dari raut wajahnya, ia tak dapat menyembunyikan air mata yang mengalir di pipinya, dan ada senyum tipis di balik kepanikannya.
***
“Agghh…sakit, kepala saya sakit,” rintihan sakit tak dapat tertahankan keluar dari mulutku. Mataku mulai membuka dan pak polisi yang tadi mengacuhkanku kini tampak panik berada di sampingku.
“Dek, kamu tidak apa-apa kan ?” tanya polisi yang kedengarannya sangat cemas melihat kondisiku yang lemah dan tidak stabil ini.
“Ma…ma…mama, saya ingin telepon mama. Nahyu rindu sama Mama, tolong Pak Polisi telepon mama Nahyu,” pintaku terbata-bata karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhku.
Dari raut wajahnya polisi itu nampaknya bingung harus melakukan apa dengan permintaanku terhadapnya, maka aku lalu melirik tas yang tergeletak di meja samping tempat tidurku, menyuruhnya untuk mengambil dompet di tasku yang di dalamnya ada nomor telepon rumah di balik foto keluarga. Polisi itu langsung menangkap komunikasi non-verbal yang kuberikan lalu bergerak ke arah meja tempat tasku tergeletak tak bergerak. Walau agak sedikit bingung dengan kode yang kuberikan akhirnya dia dapat menemukan sesuatu yang kumaksud.
Dengan sedikit suntikan pereda sakit, aku mulai berusaha bangkit dari tempat tidur, menunggu disambungkan dengan Mama. Entah mengapa aku sangat merindukan suaranya yang lembut dan senyumnya yang menenangkan. Tiba-tiba aku teringat dengan nasib Nita, sahabat yang berusaha melindungiku dari kecelakaan. Bagaimana keadaannya sekarang, di mana ia sekarang, dan sedang apa dia sekarang, pertanyaanku itu terus menggaung di kepalaku yang mulai kembali terasa sakit.
“Dek, ini sudah terhubung.” Polisi itu menyodorkan handphonenya ke arahku, aku memegang handphone polisi itu dengan tangan gemetar.
***
Dering telepon membuat hatiku senang sekaligus cemas mengetahui ada apa dibalik deringannya. Dengan sedikit memaksa tubuhku yang masih lemas aku bangkit dari sofa dan mengangkat gagang telepon, lalu terdengar suaranya di seberang sana. Suara yang kukenal walau terhalangi oleh gemuruh petir di langit. Suara anakku yang kurindukan. Aku lalu berteriak bahagia ke suamiku memberitahu bahwa yang menelepon adalah anak yang mereka tunggu-tunggu sedari tadi.
***
Seminggu setelah kejadian itu keadaanku mulai membaik, obat dari dokter sangat membantu kesembuhan fisikku, dan cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuaku membuat kondisi mentalku jauh lebih baik. Semenjak kejadian itu aku menjadi trauma untuk mengendarai mobil angkutan umum. Aku tidak tahu bagaimana kondisi Nita waktu itu, tapi kata orang tua Nita kondisinya mulai membaik namun lengan kirinya butuh pengobatan yang lebih lama. Kasihan Nita, lengan kirinya harus patah karena melindungi diriku dari kecelakaan tragis tersebut. Aku takkan pernah melupakan kebaikan yang telah diberikannya kepadaku, sahabat yang selalu menjagaku.
Andai waktu itu aku tidak memaksa Nita untuk menaiki angkutan umum itu, andai aku tidak memaksanya untuk tidak mengikuti les tambahan pelajaran Fisika yang membosankan, andai semuanya itu tidak terjadi semua pasti akan baik-baik saja. Aku mungkin tidak akan menjadi trauma terhadap setiap angkutan umum yang kutemui. Nita mungkin tidak akan mengalami patah tulang di lengan kirinya. Aku sangat bersyukur karena Nita masih diberi umur yang panjang oleh-Nya sehingga aku masih diberi kesempatan untuk membalas semua kebaikan yang dilakukannya kepadaku, walau Nita pasti tidak akan meminta balasan apapun terhadapku. Hal paling kecil yang dapat kulakukan untuknya saat ini ialah menjaga persahabantanku dengannya dan memberinya semangat untuk terus berjuang dan semangat dalam hidup ini.
ngebosenin ceritanya kurang bgus tpi ttp smangat trus ya utk buat cerita !! ^.^
Wahhhhhh!!!!! Ceritanya seru banget!!!!!!
Setuju sama koment diatas
no comment!!
Kurang seru,,. Tp, prshbtn mang hrs spt itu, bth pgorbnan ..
cerita awalnya kurang seru tapi pertengahan dan akhir ceritanya bikin ue pengen punya sahabat ky Nita.
TERUS BERKARYA YACH……………