Jangan ke Sana!
Desember 18th, 2008 by hirokakkuen
Hai, namaku Rai Andika Sadewa, dan kalian bersama denganku di Dark Channel. Channel misterius, yang mengungkap kisah-kisah alam gaib dan dunia nyata serta bagaimana hubungan keduanya.
Kalian tahu apa itu arwah gentayangan? Benar, sosok yang selalu ditakuti banyak orang, bahkan orang-orang yang berpikiran modern! Sebuah ikon yang tak akan hilang dari sejarah manusia, dari pikiran manusia, dari kehidupan manusia.
Dendam, suatu hal yang tak bisa terlupakan. bagaimana bisa terjadi, dan bagaimana bisa menjadi, adalah suatu hal yang tetap tersimpan rapi dalam brankas malam. Dalam kisah ini, diceritakan bagaimana ada dendam dalam dunia lain dan kehidupan sesudah kematian, dan bagaimana seseorang yang tak tahu apa salahnya, tiba-tiba harus menanggung akibat dari dendam itu sendiri.
Suatu hari, aku dan teman-temanku berencana untuk camping di bukit. Jarak dari kota ke bukit yang terletak di kecamatan sebelah lumayan jauh, sekitar 25 kilometer. Dan kami menempuhnya dengan sepeda motor. Hal itu sudah biasa kami lakukan, biasanya kami melakukan acara ini pada hari sabtu, kadang menginap di bukit. Dan hari ini kami juga akan menginap.
Sesampainya di sana, kami langsung mendaki ke atas bukit. Namun di tengah jalan kami menemui seorang kakek yang mengatakan jangan mendaki pada hari Sabtu pada bulan Maret, bulan ini. Katanya sering ada yang kerasukan ketika mendaki pada hari itu.
“Woi, jangan dipikirkan,” ucap temanku berusaha menenangkan kami semua. “Kalian tidak percaya dengan takhayul, kan?” Aku sih mengangguk saja. Tapi aku masih penasaran. Kualihkan pandanganku ke arah kakek-kakek itu, namun ia telah hilang. Lenyap. Bulu kudukku jadi merinding.
Tanpa mempedulikan kata-kata kakek tadi, kami meneruskan pendakian. Aku, Undy, Fazrin, firdaus, dan Pras, mungkin agak lelah sehingga berhenti di tengah jalan pada pendakian. Salah mereka sendiri. Siapa suruh banyak-banyak merokok. Ketika kami beristirahat di pertengahan jalan, aku merasa ada yang mengawasi kami semua. Kulayangkan pandanganku ke pohon-pohon. Wah, ada yang nggak beres nih…
Ketika kami sampai di tempat tujuan, puncak. Pemandangannya indah sekali. Seperti melayang di pulau yang terbang di langit luas. Rasanya mau tidur aja saking enaknya… ha ha ha. Namun aku masih heran, ke mana ya kakek itu pergi? Kok bisa menghilang begitu saja.
“Hei semua, coba ke sini!” seru Fazrin dari rerumputan.
Mendengar seruan Fazrin yang penuh rasa keterkejutan itu, kami langsung menghambur mendekatinya untuk mengetahui apa yang terjadi. Sebelum beranjak kulihat Firdaus seperti menggigil. Padahal kan anginnya sejuk. Apa dia sakit?
Begitu kami sampai di sana, alangkah terkejutnya kami, kakek tadi terlihat lagi, sedang berjalan menuruni bukit dari tempat ini. Itu mustahil! Padahal kan tempat kami menanjak tadi sampai ke tempat ini kan perlu jarak yang sangat jauh untuk memutar. Bagaimana kakek itu bisa memutar begini cepat dan menuruni bukit? Padahal bukit ini kan terjal sekali.
“Nggak beres tuh,” ucap Undy agak tegang.
“Tenang saja, Un, mungkin orang lain?” balas Fazrin menenangkan.
“Orang lain kok bajunya sama?” sahut Pras.
Aku sih tak mau berkomentar apa apa. Kulihat Firdaus. Dia masih saja gemetaran. Dan aku tak ingin menanyakan alasannya.
Tak terasa waktu sudah menjelang malam. Pada senja hari, aku dan yang lainnya memutuskan untuk bermalam di bukit karena besok hari Minggu. Kami bisa bersantai di sini. Pemandangan di bukit sangat indah, kita bisa melihat horizon dari atas sana. Bentuknya seperti garis tipis yang memisahkan bumi dan langit. Tapi aku tak terlalu peduli.
Malamnya, kami memutuskan untuk mengadakan suatu permainan untuk mengetahui siapa yang paling berani di antara kami. Kegiatan uji mental seperti ini jarang sekali kami lakukan, terutama di bukit dan tempat tempat sekitarnya. Tapi toh, tak ada yang bisa kami lakukan kecuali mengisi waktu menunggu pagi.
Enam orang dari kami berbaris. Aku, Undy, Fazrin, Firdaus, dan Pras. Kami bergiliran mengambil nomor urut yang sebenarnya sudah kuurutkan secara acak agar kami tak protes dengan urutan jalannya. Hasilnya : Fazrin, urutan pertama, Undy urutan kedua, Pras ketiga, aku sendiri keempat, dan Firdaus kelima. Asyik sekali dan sangat menegangkan jika kau dihadapkan pada perjalanan menegangkan menuju dunia lain!
Peraturannya begini, satu persatu para peserta harus menuruni bukit dengan hanya bermodalkan satu buah lilin yang sudah dipotong menjadi setengah. Setelah sampai ke tiang berikatkan kain kuning di bagian tengah bukit, si peserta harus kembali lagi ke atas. Di dekat tiang ada bunga putih, bunga itulah yang harus dibawa sebagai bukti bahwa ia sudah berhasil mencapai bawah. Meskipun kelihatannya melelahkan, namun ini cara bagus untuk melewatkan malam. Fazrin yang pertama. Dengan agak ragu ia berjalan menuruni tanjakan menurun yang ada di jalan masuk kami tadi. Jauh.. jauh… sehingga yang tersisa hanya cahaya lilinnya saja yang dapat ditangkap oleh mata. Setelah setengah jam, ia kembali dengan lilin yang telah habis dan bunga putih yang terlihat rusak seperti diremas.
“Nah, kamu pasti gemetaran sampai meremas bunganya ya!” tuduhku. Fazrin menggeleng dengan cepat.
“Siapa yang gemetaran? Aku tidak takut!” ucapnya. Padahal tangannya masih berkeringat dan tubuhnya gemetaran. Dasar…
Urutan kedua, Undy. Tak ada yang menarik dari jalannya pada waktu Undy melaksanakannya, hanya saja ada beberapa kali suara terdengar dari bawah. Seperti suara teriakan, namun aku tak mempedulikannya. Beberapa saat kemudian Undy kembali dengan wajah pucat pasi dan langsung masuk ke tenda tanpa banyak bicara. Kami jadi heran.
Urutan ketiga, Pras. Pras orang yang paling percaya diri dengan urutannya, dan katanya nomor 3 adalah nomor keberuntungannya. Tapi aku hanya menganggap ia berusaha untuk menenangkan dirinya saja. Urutan Pras berlangsung dengan biasa-biasa saja. Namun sepertinya, terdengar suara-suara lagi dari bawah. Entah suara apa itu, tapi ada dua kali suara erangan kecil dan sekali teriakan keras. Sepertinya Pras berteriak, apa yang ia lihat? Beberapa saat kemudian Pras juga kembali dengan wajah pucat pasi. Kami tak berani menanyakan apa yang terjadi. Hanya saja ia langsung menyusul Undy ke dalam tenda dan langsung berselimut.
Urutan keempat, aku. Aku memberanikan diriku karena mungkin aku saja yang paling tidak percaya diri di antara kami semua. Terlalu banyak kekhawatiran. Aku bersiap dengan lilin yang menyala di tanganku. Namun sebelum aku berjalan turun, Firdaus memanggilku.
“Jangan ke sana!” katanya. “Aku merasakan sesuatu yang nggak enak. Kamu akan diganggu kalau turun ke sana.”
Aku tak begitu mengerti apa maksudnya, tapi apa maksudnya “diganggu”? Firdaus tetap terus menghalangiku untuk mengikuti permainan ini. Lagi-lagi ia menggigil. Aku malah tidak mengindahkan kata-katanya. Itu semua kulakukan karena aku tak mau jadi pengecut selamanya. Huh… siapa yang mau?
Aku turun ke bawah, menuruni jalan licin yang ditutupi embun malam, menusuk tulangku dan sedikit demi sedikit menggoyahkan keyakinanku akan diriku sendiri. Kamu akan diganggu…, kata-kata itu terus menghantuiku. Entah apa maksudnya, dan aku seakan terus saja memikirkannya tanpa henti sepanjang perjalananku menuju bawah.
Tanpa sadar, aku sudah berada di pertengahan perjalanan. Di sana, beberapa meter jaraknya di depanku, ada tiang berikatkan kain kuning. Dengan perasaan agak lega karena sudah selesai sampai di sini, aku berjalan ke sana. Mengambil bunga putihnya, wah, ada tiga sisa bunga putih. Benakku. Yang dua tadi itu harusnya bagian Undy dan Pras, tapi entah kenapa mereka tak ingin mengambilnya dan kembali ke atas dengan wajah pucat. Mengerikan sekali kalau memikirkan apa yang mereka alami di bawah sini. Namun itu tak terlalu kupikirkan dan malahan kuindahkan saja. Toh, semuanya hanya perasaanku saja dan mereka pasti berbohong.
Aku naik ke atas. Mulai mendaki naik. Agak susah karena turunan yang tadi kulalui sudah berubah menjadi tanjakan. Aku mengembuskan nafas dan kemudian mulai mendaki. Tapi sebelum aku sampai di tanjakan pertama, suara berbisik memanggilku.
“Pssst…”
Aku menoleh. Wah, tak ada seorang pun. Aku melirik ke semua arah. Ke atas, bahkan ke bawah. Memang tak ada orang. Mungkin hanya perasaanku saja. Aku kembali meneruskan dakianku.
“Psst…”
Suara itu terdengar lagi. Kali ini agak keras. Suaranya seperti suara seorang wanita. Tapi aku yakin tadi tak ada orang! Aku meraba bulu romaku untuk memastikan saja apa yang kurasakan sekarang.
Berdiri.
Aku bergidik. Terasa hawa dingin menghembus di leherku. Sesaat dingin, kemudian menghangat. Aku menggigil. Kutarik resleting jaketku ke atas, lalu berjalan menaiki bukit. Langkahku kembali terhambat saat aku mendengar suara itu, lagi.
“PSSSST!”
Suaranya menggema di dedaunan sekelilingku. Ilalang di kiri dan kanan bergerak menyayat jaketku. Meskipun tak ada rasa sakit, tapi suaranya membuat merinding. Tanpa terasa tanah dakian sudah basah oleh embun. Kutoleh ke arah tiang yang berikatkan kain kuning tadi, ada seorang wanita yang berambut panjang, menutupi seluruh wajahnya berbaju layaknya seorang putri raja. Pakaian adat khusus dari Kalimantan bagian tengah. Berbalutkan kain putih panjang yang terikat di sekeliling kedua pergelangan tangannya, bergoyang ditiup angin. Wanita itu melambai ke arahku. Dari pakaian dan caranya memanggilku, aku tahu ini bukanlah hal yang baik. Dan aku yakin dia bukanlah orang lokal ataupun turis domestik. Mana ada wanita berpakaian ala adat daerah berkeliaran malam-malam di bukit seperti ini! Dia pasti hantu!
Keringat dingin mengalir deras. Meskipun malam itu dingin, namun keringatku terus terusan keluar. Rasanya mengerikan. Wanita itu melambai tanpa henti, kakiku seperti bergerak sendiri mengikutinya, bagaikan ditarik. Aku berusaha melawan, namun tak bisa. Seperti ditarik kekuatan yang misterius. Kupejamkan mataku. Ia kemudian berkata, “Mau merah atau hitam?” dengan suara serak seperti nenek-nenek yang sedang terserang penyakit tenggorokan.
Aku menjawab, “Hi… hitam,” jawabku. Asal jawab!
Aku memejamkan mataku sekali lagi. Lalu kubuka mataku. Kulihat ia sudah tak lagi ada di tempatnya semula. Dan sekarang sudah berpindah ke dekat pohon. Ia semakin menjauh. Tanpa sadar kuikuti ke mana ia pergi. Aku berkata pada diriku sendiri dalam hati untuk tidak mengikutinya, namun tak bisa!! Apakah gerangan yang terjadi?? Kenapa tubuhku tak mau menuruti perintahku?? Untuk kesekian kalinya kupejamkan mataku. Dan ketika kubuka, ia berpindah lagi. Semakin jauh ke bagian bawah bukit yang aku tak tahu mengarah ke mana. Tangannya melambai, terlihat dari bawah. Hanya tangannya saja yang terlihat. Aku terkejut. Apa yang ada di bawah tebing sana mungkin sesuatu yang berbahaya! Aku berusaha berlari. Namun sekuat apapun aku berlari, atau sejauh apapun aku melangkah, aku tetap kembali ke sana. Tangan wanita itu terus saja melambai ke arahku. Aku berteriak sekeras-kerasnya. Berteriak lepas, berteriak seakan aku tak peduli dengan pekatnya malam.
“AAAAAAAAAAAARRRRRGGGHHH!!!”
Sesudah teriakanku itu bergema, wanita itu berhenti melambai. Tangannya kini terlihat kaku di bebatuan. Tiba-tiba ada suara menggema telingaku.
“Mau merah atau hitam?”
Aku menjawab dengan lantang, “HITAM!!”
Setelah mengatakannya, tangan wanita itu membalik gerakannya dari gerakan menarik ke gerakan mendorong. Seperti ingin menyuruhku pergi. Belenggu diriku terlepas. Tubuhku rasanya melayang. Ringan dan enak digerakkan. Aku segera berlari menjauhi bebatuan tempat tangan wanita itu berada. Aku berlari sekencang-kencangnya. Dakian yang tadinya sulit dilalui kulalui dengan mudahnya bagaikan tak pernah lelah. Kutolehkan wajahku ke belakang, memandangi wanita itu. Ia naik ke atas bebatuan, dengan rambut panjang yang masih menutupi keseluruhan wajahnya. Ia lalu merentangkan tangannya setelah berhasil naik ke atas, seakan ingin aku melihatnya. Lalu ia menjatuhkan dirinya ke belakang, membiarkan gravitasi membawanya turun. Hingga tak terlihat lagi. Aku hanya bisa menyaksikan adegan itu dari kejauhan sambil terus berlari menaiki bukit yang tanahnya sudah becek karena basah oleh embun.
Tanpa terasa aku sudah naik ke puncak bukit, menemui teman-temanku. Sekarang aku tahu kenapa Undy dan Pras bisa berwajah pucat ketika kembali dari bawah. Dan sebab teriakan keras yang kami dengar.
“Hei!!” seruku pada Fazrin dan Firdaus yang sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu, “aku melihat sesuatu! Ada wanita di bawah. Rambutnya panjang sekali! Dia…dia…” aku tergagap. Pras menyibak jalan masuk tenda dan berseru padaku.
“Kamu melihatnya juga, ya!”
Aku terdiam. Seketika kami ribut membicarakan wanita itu. Dan ketakutan setengah mati karenanya. Bagaimana ini, karena besok pagi kami harus melewati tempat itu lagi untuk pulang. Jika saja kami mendengarkan kakek yang tadi siang itu, pasti sekarang kami tak akan mengalami semua ini.
Malam itu kami berenam tidur di satu tenda yang sama. Tak ada yang berani berjaga atau berani tidur di tenda yang berbeda. Ada enam orang dari kami yang tidur di tenda, dan itu membuat tenda menjadi sesak sekali. Namun itu tak kami pikirkan. Semuanya takut kalau-kalau wanita itu memanjat ke atas dan mengejar kami.
Esok paginya, kami langsung berkemas pagi-pagi sekali dan langsung turun dari bukit. Bayangkan betapa takut dan terkejutnya kami sewaktu melihat apa yang ada di balik bebatuan di pertengahan bukit. Jurang yang curam dan terjal, bebatuan yang begitu tajam menonjol ke atas. Bayangkan jika kami jatuh ke sana, dan untung saja kami tidak mengikuti wanita itu ke bawah sana! Aku menyudahi mengintip. Tak berani lagi mengintip ke bebatuan tajam dan turunan curam itu.
Ketika sampai di bawah, kami bertemu lagi dengan kakek itu. Ia menanyakan apa yang terjadi di atas mewakili para penduduk lain yang penasaran karena ada teriakan keras yang terjadi beberapa kali tadi malam.
“Kalian bertemu dengan dia ya?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan. Dengan penuh rasa penasaran kutanyakan asal usul kenapa bukit ini bisa dihantui sedemikian rupa.
Kakek itu mengatakan bahwa dahulu kala ada seorang putri yang cantik jelita, sangat cantik bahkan mengalahkan kecantikan rembulan pada legendanya. Banyak lelaki yang datang untuk melamarnya. Namun semuanya ia tolak. Cintanya hanya untuk seorang lelaki miskin yang tampan. Orang tuanya tak setuju dengan hubungan mereka. Makanya mereka merahasiakan hubungan mereka dan selalu bertemu secara sembunyi-sembunyi. Si pria miskin itu tak bisa memberikan harta pada si gadis, jadi ia memberikan satu-satunya selendang yang dipunyainya. Selendang itu dililitkan di kedua lengan gadis itu agar cinta mereka tak dapat dipisahkan sampai kapan pun juga. Namun pada suatu hari kedua orang tua dari si gadis mengetahui hubungan keduanya dan membunuh si pria pujaan sang gadis. Sang gadis tak terima perbuatan keji kedua orang tuanya dan langsung bunuh diri dengan melompat ke jurang. Konon, tebing yang berada di pertengahan jalan menuju puncak bukit itu adalah tempat di mana sang gadis bunuh diri. Kasihan.
Setelah berbincang beberapa lama, aku dan teman-teman yang lain langsung pamit pada penduduk sekitar setelah terlebih dahulu berterima kasih atas petunjuknya dan meminta maaf akan sikap kami yang tak mengacuhkan perintah mereka.
Tapi aku masih belum berani menanyakan apa arti dari “mau Merah atau Hitam” itu, dan lebih memilih pergi secepatnya dari sini. Lebih baik tidak tahu daripada dihantui terus menerus.
Pada perjalanan pulang, beberapa dari kami yang duduk di jok belakang motor langsung terlelap. Memang, karena dari tadi malam kami terus menerus terjaga dan sulit tidur. Mengerikan. Meskipun samar-samar masih terdengar suara desisan nafas gadis itu, tapi aku tak memperdulikannya. Kami sudah selamat. Untunglah…
“Hei,” panggil Firdaus. Rupanya ia belum mengantuk. Baguslah, jadi bakalan ada teman ngobrol sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Karena aku yang menyetir, ketiduran di jalan mungkin jadi hal yang berbahaya.
“Apa?” jawabku.
“Waktu dia tanya pilih merah atau hitam, kamu pilih apa?” tanyanya.
Aku menggumam, “Aku pilih hitam.”
Firdaus mendesis pendek. “Kenapa nggak pilih merah?” tanyanya lagi.
“Aku nggak mau pilih merah,” jawabku agak kesal karena suaranya tadi agak memaksa. Aku membuka mataku lebar-lebar. Sadar. Tadi malam kan Firdaus tidak sempat mengikuti uji keberaniannya!
“Padahal…..” Suaranya berubah menjadi suara lembut seperti suara perempuan, mendesis seperti ular. Kulirik ke kaca spion. Firdaus tertidur. Lalu, siapa yang sedang berbicara denganku ini??
“Padahal aku mau kamu pilihnya merah lho.” Aku bergidik. Nafasnya yang menderu memompa jantungku untuk berdetak lebih kencang lagi. Ingin rasanya aku berteriak, namun tak bisa. Kutoleh ke arah Undy dan Pras serta Fazrin yang sedang mengendarai motor mereka dan dengan asyiknya mengobrol. Tanpa kusadari kuubah sendiri arah jalan motorku ke arah sebaliknya, melawan arus. Sebuah truk besar menghadang di depanku. Siap menerjang dan melindas kami.
“HARUSNYA KAMU PILIH MERAH!!” teriak wanita itu padaku sebelum semuanya menjadi gelap.
critanya bagus,,
jd sbnrnya merah ato hitam maksdnya ap???
trus yg terakhr, mereka pulang naek motor ato mobil???
yg mati sapa aj???
Iya,critanya bguz bgt. . ! Cuman yg msh jd misteri adl arti merah n hitam it. .
Hitam adalah dunia yang penuh dengan kesunyian dan kegelapan. Sedang merah adalah kekuatan dan keberanian yang membara,
bisa jadi, hantu itu pengen lelaki lelaki tadi di kejar banteng. Tapi berhubung lekaki pilih hitam jadi ya di kejar manusia kegelapan alias hantu.
Sampai mrinding aku nulisnya.
aDuh…
mRindIng nE baCanya…
sEtaNnyA miriP saDako giTu Ya??
SereM ih…
hiiiiiiiyyyy
dpt Inspirasi Darii Mna??pngalaman Pribadi y?
ending’a mati smua??
critax bgus tp endingx gmana ?
buat semua yang uda komen…thanks yak! ceritanya sengaja dibuat ngambang supaya seru…biasanya kan cerita yang ngambang seru banged. jadi ya Hiro kasi cerita ngambang. hehehe. sory yak
Se…se..remna…..

Akhirnya smuana pada mati ya???
Tapi,biar serem critana keren bgt!!
Ngeri Bngt Crta Nya,, Knp jd Ad Prtanyaan Hrus M_milih Hitam atau Merah?? Brrti yg Brcrta Ending Nya Mati zG?