Lihatlah. Ia tampak begitu kedinginan. Bukan disebabkan karena saat ini sedang musim hujan. Bukan. Lihat juga, di dalam selimut orang tua itu bersandar pada sebuah bantal. Telah pucat kulitnya yang lisut. Rambut beserta jenggotnya yang dulu tebal dan hitam, kini sudah memutih. Tak ada tanda-tanda ia dapat disebut sebagai orang tua yang sehat bugar. Kata orang, karena tubuh itu telah lama dipakai, sudah saatnya menjadi usang dan kian susut.
“ Ambillah buku yang paling ujung itu,“ dengan suara berat ia berkata pada Surin yang sedari tadi duduk menemani.
Cepat-cepat ia menghampiri buku yang dimaksud. Sebuah buku catatan yang agak tebal. Ketika ia kembali mendekati ayahnya yang terbaring di tempat tidur, sejenak berpikir dan menerka-nerka maksud sang Ayah.
“ Periksalah angka-angka di dalamnya.” Dan buku itu pun dibuka Surin. “ Ada jugakah yang masih belum selesai ?”
“ Masih ada dua catatan hutang yang belum dibayar, dan beberapa piutang yang belum lunas.”
“ Jika aku tak sempat membayar yang belum dibayar itu, aku harap kau mau melunasinya untukku.”
“Tentu Ayah,” sambil memegang tangan ayahnya yang dingin.
Surin terduduk diam. Kenapa tidak kepada Uda Suran saja ayahnya meminta ini ? Angka di dalam buku ini tidak sedikit. Uda Suran kan jauh lebih berada daripada saya yang hanya seorang tukang ojek. Tapi pertanyaan itu disimpan saja dalam dadanya. Ia hanya ragu kalau ia tak dapat memenuhi permintaan ayahnya itu. Tapi bagaimanapun, ia adalah anak Ayah, yang berkewajiban melunasi hutang ayahnya jika ayahnya meninggal. Lagi pula Uda Suran akan membatunya. Begitulah pikirnya.
Surin menyaksikan sendiri kemajuan yang diperoleh kakaknya. Lebih pesat bila dibandingkan dengan langkahnya yang lambat. Namun ia berusaha untuk tidak cemburu pada kakaknya itu. Kesuksesan yang diraih Uda Suran berarti juga kesuksesan keluarga dan dirinya. Bila Uda Suran berhasil dari segi perekonomian, maka martabat keluarganya pun tentu saja akan naik dengan sendirinya. Seperti itulah seorang anak yang diharapkan, pambangkik batang tarandam.
Ketidakberhasilannya membangkik batang tarandam adalah kesalahannya sendiri karena malas sekolah. Selain malas dijebloskan ke sekolah, sifatnya yang nakal dan suka melawan sering membuat kedua orangtuanya jengkel. Apalagi di sekolah, kerap orangtuanya dipanggil oleh pihak sekolah. Ya berkelahilah, ketahuan merokoklah, bolos sekolahlah. Ada-ada saja perangainya di sekolah.
Tapi kini Surin mengerti, betapa bodoh dirinya telah membandingkan dirinya dengan kakaknya. Nasib Uda Suran adalah nasibnya sendiri, terpisah dan berbeda dengan nasibnya. Sekarang di tempat yang hampir cemburu itu rasa syukur pun berkembang tumbuh. Ia sadar, kesuksesan Uda Suran tak lain karena ketekunannya semenjak kecil. Uda Suran selalu mendapat peringkat terbaik di sekolah dan menjadi anak yang baik. Di surau pun ia adalah anak yang paling cepat khatam Al quran dibanding yang lain. Berbagai perlombaan juga acapkali dijuarai, dari lomba sholat jenazah, lomba baca doa, lomba mengarang, ataupun lomba-lomba di sekolah. Kini Surin hanya bisa menyesal. Kenapa dirinya tidak seberuntung udanya. Seharusnya sejak dulu ia meniru dan mengikuti kakaknya yang hampir sempurna itu.
“ Cobalah ditelpon sekali lagi Udamu itu,” kembali ayahnya bicara.
Surin menaruh buku kas itu di atas meja, lalu beranjak menuju gagang telpon. Beberapa jenak ia bercakap-cakap dengan seseorang di seberang jalur telepon. Gagang telpon diletakkannya dengan mata menerawang. Jelas sekali seperti memikirkan sesuatu rasa kecewa. Ayahnya tahu itu.
“ Bagaimana, masih sedang sibuk?”
Surin mengangguk pelan. “ Asistennya lagi yang angkat.”
Kini Uda Suran adalah seorang dokter yang juga punya klinik sendiri di Jakarta. Kesuksesannya disempurnakan oleh istrinya yang cantik. Istrinya memang bukan orang Jakarta tapi masih berkampung di kecamatan yang bertetanggaan dengan kecamatan mereka.
“ Carilah istri yang masih orang kita,” kata ibu dulu kepadanya.
Mereka paham agar nanti kalau merantau masih sempat pulang menjenguk orang tua. Uda Suran pun tampaknya paham akan hal itu, mungkin karena itu Uda Suran mau menikahi Uni Neli. Dan setiap lebaran Uda Suran pun menyempatkan untuk pulang agak beberapa hari, meskipun kadang tidak sempat menginap.
Pun Surin teringat saat-saat terakhir kakaknya di kampung. Kala keberangkatan itu, Ibu dan Ayah tak mampu menahan tangisnya melepas Uda Suran yang akan merantau. Begitu pula Uda Suran, butir-butir bening itu mengalirlah. Suasana begitu haru hampir saja seperti sebuah pemakaman.
“ Elok-elok di negri orang, Nak,” kata Ibu.
“ Pergilah, bangkik batang tarandam itu,” kata Ayah dengan suara berat.
Dengan santun Uda Suran mencium punggung tangan Ibu dan Ayah. Tak ketinggalan para tetangga ikut melepas kepergian Uda Suran, sebab suri tauladan bagi anak-anak mereka akan pergi. Mereka akan merasa kehilangan.
“ Biasanya aku katakan pada anakku, contohlah Suran itu! kini aku harus menyimpan kalimat itu karena Suran tak lagi di sini,” kata salah seorang tetangga.
“ Jangan buat Ibu dan Ayah susah ya!” Itulah pesan terakhir Uda Suran pada Surin sebelum ia benar-benar pergi.
Tangannya begitu hangat di pundaknya waktu itu. Jarak umur mereka berselisih lima tahun, dan saat itu Surin masih duduk di bangku Sekolah Menengah. Seperti anak-anak tetangga, seharusnya ia meneladani kesantunan seorang anak dari sosok Uda Suran. Surin mestinya berbangga hati ketika itu, karena memunyai seorang kakak yang menjadi panutan keluarga dan masyarakat. Sudah sepantasnyalah Uda Suran menuai keberhasilan.
Surin memang haruslah malu pada dirinya. Tak semestinya ia menjadi tukang ojek, sebab ia berasal dari keluarga yang lumayan berada. Terlebih-lebih kedua orang tuanya adalah pensiunan guru. Bahkan Surin merasa malu pada orangtuanya karena tak mampu menaikkan derajat keluarga tapi malah membuatnya menurun. Untunglah Uda Surin berhasil, sehingga menjadi tidak begitu kentara dampaknya pada status sosial keluarganya. Dan lebih untung lagi, Ayah dan Ibu tidak terlalu menuntut hal itu pada Surin.
Di kampungnya status kehormatan keluarga memang ditandai oleh keberhasilan dalam ekonomi. Orang-orang kampung sangat menyegani Ayah dan Ibu Surin karena mereka adalah seorang guru, pegawai negeri pula. Bagi mereka seorang pegawai negeri memang lebih baik dibanding petani karena pegawai menerima gaji tiap bulannya meski kecil. Tapi rasa penghargaan itu tak sama untuk Surin karena Surin hanya seorang tukang ojek. Itu sebabnya Surin tak henti-henti memaki dirinya yang gagal mambangkik batang tarandam. Namun Surin masih bersyukur karena kehormatan keluarganya masih dipertahankan oleh Uda Suran.
“ Surin, shalatlah, hari telah maghrib,” suara Ibu dari dari dapur.
Surin tahu, Ibu tak pernah bosan menyuruhnya sholat. Sampai sekarang pun Ibu masih menyuruhnya untuk sholat, meski ia tak lagi serupa dulu. Ibu seperti belum percaya padanya, begitulah pikirnya. Tak seperti Uda Suran yang tak perlu disuruh untuk sholat. Bila tiba waktunya ia akan sholat tanpa dusuruh.
“ Ya, Bu,” jawab Surin.
Sembari ia sholat, Ibu menggantikannya menemani Ayah. Dengan sepiring nasi beserta lauknya, Ibu duduk di samping Ayah. Seusai bertayamum dan sholat, Ayah disuapi Ibu untuk makan. Terlihat begitu tulusnya kasih seorang istri kepada suami. Diam-diam Surin melihat mereka. Dalam diam dihatinya ia berharap akan menemui hal yang sama dari istrinya kelak ia menua. Tapi ia percaya kasih istrinya sama dengan kasih Ibu kepada Ayah. Sama seperti istri Uda Suran.
“ Bu, aku pulang ya Bu.” Surin pamit seusai shalat
“ Kau ndak makan dulu.”
“ Aku makan di rumah sajalah, Bu. Kasihan Yati, mungkin ia sudah masak.”
Ia mendekat ke ranjang hendak berpamit pula pada Ayah. Tapi Ayah terlihat lelah, ia tertidur meski dengan nafas yang seperti berpacu. Baru saja Surin hendak membalikkan badannya, mata Ayah terbuka lalu mencari sesuatu. Surin tahu mata itu sedang mencarinya.
“ Ayah, aku pulang dulu ya. Besok aku ke sini lagi.”
“ Iya,” jawab Ayahnya pelan. “ Sekalian bawa menantu dan cucu-cucuku besok, aku taragak ingin ketemu mereka. Aku masih punya hutang pada kalian.”
Perlahan ia menutup matanya, kembali menemui tidurnya yang lelah.
***
“Bagaimana keadaan Ayah ?” sembari menyodoran kopi panas. Surin menyambut kopi yang disuguhkan Yati, persisnya membantu Yati menaruh kopi di atas meja.
“ Masih begitu,” Surin menyulut rokok yang dirogoh dari saku bajunya. “ Anak-anak sudah tidur ?Apa mereka sudah mengerjakan PR?”
“ Sudah, mereka kepengen ketemu kakek katanya. Ajak mereka besok, ya.”
“ Kebetulan, Ayah juga pengen ketemu kalian semua.”
Rokok dihisap dalam-dalam tapi matanya memandang keluar jendela. Pandangannya masuk ke dalam malam. Ia masih memikirkan catatan hutang Ayahnya karena ternyata jumlah itu tak sedikit. Tapi sudahlah, pikirnya. Yang penting uangku masih cukup membeli obat untuk Ayah, namun dengan suara yang tak terdengar. Bicara soal hutang, tadi Ayahnya bilang bahwa ia masih punya hutang pada Surin dan keluarganya. Hutang apa itu?
Di mata Surin terlihat ada bintang yang sedang berkelip-kelip. Ia kembali merasa bersalah pada Ibu. Lagi-lagi ia membuat Ibu kecewa. Sepatutnya ia tadi makan di rumah Ibu. Mungkin Ibu sedang bersedih karena tak mau lagi makan masakan Ibu. Kini selera makannya telah ditelan perasaan bersalahnya.
“Surin, Surin!” Seseorang dengan nada buru-buru mengetuk pintu rumah Surin.
“Ada apa Jang?”
“Saya disuruh Ibu memanggilmu ke rumah. Ayah semakin sekarat, cepatlah.”
Tanpa lupa pamit pada Yati, Surin bersegera menuju rumah Ayah dan Ibunya. Kedua orang itu pun menghilang dalam malam. Seperti itulah yang terlihat oleh mata Yati yang berdiri di depan pintu dengan doanya. Doa seorang menantu untuk mertuanya.
Akhirnya Surin sampai di rumah yang menyimpan kenangannya semasa kecil. Harus dipercayainya, Ibunya sedang tersedu disamping tubuh Ayah yang membujur di dipannya, di tengah rumah. Beberapa orang yang sesungguhnya tetangga mereka, di hadapannya terbentang Al’quran. Dan lantunan ayat-ayat bergetar memenuhi rumah. Tubuh Surin mendadak lemah, persendiannya menjadi linu, dan lututnya menjadi tak sanggup menopang tubuhnya lagi. Ia melutut di samping Ayahnya, tapi tak berani melihat wajah Ayahnya yang bagai orang tidur itu. Surin pun tak bisa pura-pura kuat menahan air matanya dengan kepala yang tertunduk.
“Telponlah udamu, Surin.” Ibu bicara di antara isaknya.
Perlahan Surin bangkit menuju gagang telpon. Dua kali Surin mengulang menekan nomornya karena yang pertama tak ada mengangkat.
“ Hallo, assalammualaikum, Pak Suran ada? Oh, kalau begitu sampaikan bahwa ayahnya di kampung telah berpulang ke Rahmatullah. Ya, terimakasih.” Surin meletakkan gagang telpon dengan jemari yang bergetar kecewa.
Matahari pagi tetap terbit walaupun dengan langit yang mendung. Semua sanak keluarga juga sudah berkumpul di rumah itu, terutama istri dan anak-anak Surin. Semuanya telah lengkap di pagi itu kecuali Uda Suran. Sejak semalam Surin berulang kali menelponnya, namun belum juga dapat berbicara langsung dengan udanya itu.
“Cobalah sekali lagi,” bujuk Yati memberi kesabaran pada Surin. Surin kembali menekan nomor telpon.
“ Uda, pulanglah. Ayah telah mendahului kita, Uda.” Akhirya Surin dapat bicara langsung dangan udanya.
“ Apa katanya, Surin?” tanya Ibu.
“ Ia hanya menjawab, iya. Tapi tak usah menunggunya, katanya.”
***
Sudah tujuh hari berlalu dan langit masih suka mendung-mendung seperti tujuh hari sebelumnya. Semenjak ayahnya meninggal, hingga kini tak pernah sekali pun Uda Suran pulang menjenguk Ayah. Kesibukan telah menelannya tanpa ampun, bahkan untuk melihat ayahnya untuk yang terakhir kali. Mata Ibu masih bengkak dan merah. Bukan menangisi kepergian Ayah tapi menangisi anak yang tak peduli lagi pada orangtuanya. Anak yang katanya pambangkik batang tarandam.
“Ternyata benar dugaanku,” Ibu memulai pembicaraan yang sedari tadi hening. “sejak beberapa kali lebaran tahun-tahun yang lalu, aku sudah menduga ia takkan pulang untuk Ayah dan Ibu.”
Semua terdiam seperti mendengar sebuah rahasia yang besar dari mulut Ibu.
“Beberapa tahun yang lalu, setiap ia pulang, dengan mobilnya yang bagus itu, pada hari pertama ia tak langsung singgah ke rumah. Ibu melihatnya sendiri mobilnya itu lewat begitu saja menuju rumah istrinya. Tapi Ibu tak pernah katakan itu, karena malu anak adalah malu ibu juga. Menitik air mata Ibu melihatnya lewat Surin, tapi… Ternyata bukan istri yang sekampung yang akan membuat anak lelaki bisa selalu pulang. Bila ia tak ingin pulang tetap saja takkan pulang meski beristri sekampung. Bahkan sampai ayahnya meninggal, ia seolah-olah lupa pada kami.” Surin tak tahan melihat kesedihan pada airmata Ibu, ia pun menangis di dalam telapak tangannya.
“ Surin, kau tahu hutang yang belum lunas itu? Yang di dalam buku?”
“ Ya, Bu. Aku tahu.”
“ Kau tahu kepada siapa Ayah berhutang? Kau tahu nama siapa yang tertulis di situ?”
“ Kalau tidak salah, Biram kan Bu?”
“ Ya, kau tahu itu siapa?”
“ Tidak.”
“ Itu adalah nama kecil udamu. Itu adalah nama penggilan kesayangan udamu waktu ia kecil. Ayah senang sekali memanggilnya Biram sewaktu kecil.”
“Hah. Jadi….”
“Ya, Ayah ingin mengembalikan semua uang yang telah dikirimnya ke rumah.”
***
Begitulah Ujang datang membawa uang dan bercerita. Aku jadi malu pulang ke kampung. Meski aku telah punya segala-galanya, istri yang cantik, gelar dokter, uang, rumah, dan mobil mewah. Tapi semua membuatku kehilangan Ayah dan Ibuku. Setiap kali pulang aku tak langsung ke rumah, hanya lewat saja. Bahkan ketika ayahku meninggal, aku seperti tak berminat menemuinya untuk yang terakhir kali. Mereka barangkali kecewa padaku, hingga mereka seperti tak menganggapku anaknya lagi, sebab uang yang pernah kukirimkan dikembalikan lagi padaku, mereka jadi menganggap itu adalah hutang.
RuangSempit/Padang, 2007
Pambangkik batang tarandam : pembangkit batang terendam
Bahasa baku untuk kata ‘hutang’ adalah ‘utang’