KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Genangan Sehari

Angin dingin menerpaku. Aku bisa merasakan suhu tubuhku hampir mendekati titik beku. Kulihat keadaan diriku saat ini. Di pagi yang buta berada di jalanan. Tanpa pelindung yang mengahalangi hembusan sang subuh. Memang angin tidak terlalu kencang, tapi cukup membuat tubuh menggigil karena matahari belum menampakkan diri. Masih bisa kulihat bulan di pucuk langit Barat. Menghiasi langit gelap tanpa awan sedikit pun.

Dari jauh sayup-sayup kudengar sebuah suara. Lambat laun makin banyak suara serupa itu terdengar. Seolah saling sahut menyahut. Mengucapkan kata-kata yang sama, “Allahuakbar Allahuakbar…”

Belum selesai suara-suara itu saling menyahut, langkah pelan datang ke arahku. Dari jauh kulihat seseorang dengan sajadah mengalung di lehernya. Jalannya agak bungkuk. Kakinya pun tertatih-tatih menuju asal suara yang tadi kudengar. Dia makin dekat denganku hingga bisa kulihat dengan jelas wajahnya. Tak kutemukan kantuk di sana. Malah terlihat sangat segar meski banyak kutemukan kerutan keriput di wajah itu. Seolah dia sudah bangun jauh sebelum suara-suara itu terdengar. Tapi aneh, dia hanya diam saja melewatiku. Tidak melihat sedikit pun ke arahku. Tidak menyapa sama sekali.

Suara-suara itu berhenti dan si Keriput menghilang dari penglihatanku. Semakin masuk ke dalam gelap.

Kini muncul suara lain yang saling menyahut. Kuperhatikan hanya satu kata yang diulang-ulang dengan nada yang agak mirip namun kadang ada yang terdengar lebih panjang dari yang lain, “Kuukkuruyuuuuuukk…”

Kutunggu, mungkin akan ada lagi yang lewat seperti saat suara yang tadi membuat seorang keriput lewat di hadapanku. Kutunggu. Kuedarkan pandangan ke sekelilingku. Tidak ada yang lewat. Namun ada sesuatu yang perlahan menyita perhatianku. Langit timur mulai memerah. Semburat-semburat jingga hadir mengalahkan hitam yang sedari tadi kulihat. Namun masih ada sedikit hitam di langit Barat.

Hei! Ke mana bulan? Lingkaran penuh berwarna putih itu hilang. Apa mungkin dia ikut bersama kakek itu ke dalam gelap? Tapi kakek tadi pergi ke arah Timur. Menuju langit Timur yang kini memerah.

Terdengar derap kaki yang berlari ke arahku. Membuyarkan pikirku tentang sang bulan. Derap kaki itu makin dekat. Aku takut. Derap derap kaki itu seperti mengejarku. Aku ingin pergi dari tempat ini. Aku ingin bersembunyi. Tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Tidak meski hanya untuk berpindah satu millimeter dari tempat ini.

Dia semakin dekat! Kini bisa kulihat sepatu putih yang saling mengejar. Lurus ke tempatku berada saat ini. Dia akan menabrakku!

Uuuwh…hampir saja! Sepasang kaki itu kini menjauh meninggalkanku. Tetap dengan irama yang sama. Kaki-kaki itu memiliki sosok yang hampir mirip dengan si Keriput. Hanya saja di wajahnya tidak ada keriput, masih terlihat sangat kencang. Dari balik punggungnya kulihat dua buah tali terpasang di telinga pemilik kaki itu. Dua tali yang menyatu di sebuah benda di pinggul orang itu. Aku bingung. Ini orang atau robot? Kenapa ada tali di tubuhnya?

Langit Barat yang hitam benar-benar menghilang. Semua terlihat biru bersih di atasku. Ada segaris dua garis putih yang menggantung di sana. Seperti kapas. Indahnya….

Ada juga benda aneh yang bergerak-gerak. Benda itu melayang-layang. Dia mengeluarkan suara yang merdu. “Cuit… Cuit…” Kalau tidak salah begitu bunyinya, dengan nada yang mengalun menenanggkan hati. Dia mendarat tepat di sampingku. Menengok dengan cepat ke kanan dan ke kiri, berputar seperti mencari sesuatu di belakangnya. Lalu diam. Melihat ke arahku dengan mata yang berbinar-binar. Mengarahkan paruhnya padaku. Hanya beberapa detik, kemudian kembali melesat ke langit yang kini biru. Seluruh gerakannya membuatku terpesona.

“Mama, ayo! Nanti Adik telat!”

Lamunanku buyar. Sosok yang seperti miniatur si Keriput tiba-tiba berada di belakangku. Miniatur ini memakai pakaian yang sangat rapi. Atasan putih dan bawahan merah. Sebuah benda berbentuk persegi menempel di punggungnya. Dia lebih kecil dari orang, atau mungkin robot, yang tadi menginjakku. Tapi dia sangat kuat. Dia bisa menarik orang yang lebih besar darinya. Orang itu terlihat agak kesulitan berjalan di belakangnya. Dengan pakaian yang tidak serapi si miniatur, dia menjaga jarak dan berusaha mengatur langkahnya agar tidak menabrak si miniatur di depannya.

Gawat! Si miniatur terlalu sibuk menarik-narik orang itu. Dia tidak memperhatikan langkahnya. Dia akan menginjakku!?

“Awas! Perhatikan langkahmu!”

Si miniatur, yang tadi sepertinya menyebut dirinya “Adik”, berhenti tepat di depanku. Melihatku sekilas kemudian mengambil langkah di sampingku.

Untung aku tidak jadi diinjak. Terima kasih… “Mama”…?

Kurasa tadi dia dipanggil begitu.

Hanya dua orang itu yang terkhir kulihat. Si keriput tak jua kembali. Apa dia ditelan gelap? Entahlah.

Sudah lama aku berada di tempat ini, hingga kini matahari sudah lebih tinggi dari benda-benda yang ada di sekelilingku.

Penantianku ternyata tidak berlangsung lama lagi. Bisa kudengar langkah kaki di sekitar tempatku ini. Tapi ada suara-suara aneh yang menyertai derap ini.

“Sayuuuur…!!!”

Bukan hanya teriakan itu. Tapi ada satu suara lagi.

Si Sayur makin dekat. Dia mendorong sebuah kotak di depannya. Kotak ini lebih besar dari yang dibawa si Adik. Lagi pula ada dua benda bulat seperti bulan di kanan dan kiri kotak itu. Ternyata dua benda bulat itu yang menghasilkan suara “yang satu lagi”. Dia berhenti tepat di sampingku. Lalu mengulangi kata yang sama dengan suara yang lebih lantang. “Sayuuuurr…!!!”

Tak lama orang yang seperti “Mama” berdatangan. Ternyata ada banyak sekali yang seperti “Mama”. Mereka mengerubungi si Sayur. Mulai memilah-milah benda yang ada di atas kotak itu sambil berbicara. Banyak yang mereka bicarakan. Saling menyahut, manimpali omongan yang lain.

“Tahu nggak. Besok majikanku mau jalan-jalan ke Eropa lho. Aku juga diajak tahu! Seneng deh.” Orang yang ini berbicara sambil senyum-senyum. Tapi sepertinya senyumnya tidak tulus.

“Aku juga udah pernah ikut Ndoroku ke Swiss…” Yang ini menimpali dengan senyum yang tidak kalah anehnya.

Obrolan mereka makin membuatku bingung. Sesekali terdengar tawa yang agak menyeramkan dari orang-orang itu. Lalu dilanjutkan dengan obrolan lainnya. Pusing!

Sudah tidak tahan lagi aku mendengar pembicaraan mereka. Aku ingin pergi dari sini. Pergi!

Satu per satu dari mereka meninggalkan si Sayur. Masuk ke bangunan-bangunan mewah yang terlihat angkuh karena pagar beton yang menjulang tinggi. Sangat tinggi, seolah menolak semua yang penasaran akan isi pagar itu. Kini tinggal satu orang yang menemani si Sayur.

“Ni semua berapa, Bang?”

“Dua puluh rebu.”

“Mahal bener! Salah itung kali.”

“Udah deh Neng. Lagu lama! Mau ngutang lagi, kan?”

Orang yang terakhir ini hanya nyengar-nyengir. Setelah si Sayur menulis sesuatu, mereka berpisah. Si Sayur kembali mendorong kotak itu sambil berteriak, “Sayuuuur…!”

Keheningan kembali menyapaku. Matahari tepat berada di atasku. Membuatku tidak bisa menatap langit dengan nyaman. Sayup-sayup terdengar suara dari kejauhan. Sama seperti waktu langit masih hitam. Suara yang membuat si Keriput berjalan ke dalam gelap. Kutunggu. Lama. Tapi tak ada satu orang pun yang berjalan melaluiku. Tidak juga si Keriput.

Waktu terus berlalu. Matahari berjalan makin ke langit Barat. Tidak lagi terlalu menyilaukan mataku untuk melihat birunya langit.

Rasanya bosan juga seharian berada di tempat yang sama. Aku ingin berpindah. Tapi… Memang aku tidak bisa beranjak. Tunggu. Sepertinya ada yang aneh dengan diriku. Rasanya tadi tubuhku agak jauh dari balok keras berwarna hitam putih ini. Tapi kini tubuhku hampir merapat padanya. Jangkawanku tak lagi luas. Apa yang terjadi?

“Apa kamu lihat Kakek?”

Aku terlalu asyik melamun. Sampai-sampai keberadaan dua orang ini tidak kusadari. Yang satu adalah orang yang tadi pulang paling terakhir meninggalkan si Sayur, kalau tidak salah dia dipanggil “Neng”, dan orang yang satunya mirip “Mama” tapi di wajahnya banyak keriput seperti “si Keriput” yang aku temui saat bulan masih di langit gelap.

“Mungkin di kebun, Nek.”

Wajah si Keriput yang dipanggil “Nek” terlihat lega. Dia tersenyum sambil manggut-manggut lalu berbalik meninggalkan Neng.

Aku merasakan ada sesuatu yang mendekat. Sesuatu yang suaranya mirip benda bulat di gerobak si Sayur. Tapi sepertinya yang ini lebih besar dan lebih banyak. Ternyata benar. Sebuah kotak berbentuk aneh berwarna putih dengan empat benda bulat di sisi-sisinya. Ada lampu yang menyala di atasnya. Benda ini juga berbunyi aneh, ”nguing…nguing…”. Dia melaju sangat cepat. Tidak! Dia akan melindasku!

CPROOOOT!!

Kotak putih itu berhenti tepat di samping si Keriput “Nek”. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Tapi aku bisa melihat si Keriput “Nek” masuk ke dalam kotak itu. Dan mereka melaju menjauhiku.

Tak lama mereka kembali. Melewatiku. Kulihat di dalam kotak itu kini ada banyak orang. Si Keriput “Nek” ada di dalamnya, juga orang-orang yang aku tidak tahu siapa. Mereka seperti si Keriput. Tapi jauh lebih muda dan badan mereka masih tegap, seperti si Robot. Di belakang kotak putih yang melaju itu ada banyak orang yang mengikuti namun tak berniat mengejar. Orang-orang itu seperti “Mama” dan banyak yang seperti si Robot.

Sayup-sayup kudengar orang yang mirip “Mama” berbicara dengan si Neng.

“Ditemuin di kebun…”

Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Pandanganku makin kabur. Kulihat matahari yang masih berada di langit biru. Baru aku sadari, tubuhku semakin lemah karena lingkaran terang ini. Tak terasa kini aku semakin dekat dengan balok hitam putih yang tadi berada agak jauh dariku. Birunya langit tidak bisa lagi kulihat. Tapi masih bisa sedikit kurasakan hembusan angin dan aku tahu masih banyak orang di sekitarku. Entah sedang membicarakan apa.

“Adek, awas ada genangan air!”

“Udah kering kok, Ma.”

One Response to “Genangan Sehari”

  1. on 22 Dec 2008 at 13:46L_179

    melankoliZ……n tak terdga,…….

Tinggalkan Komentar