Aku Bosan Saja Denganmu
Desember 18th, 2008 by Prantasi
“Aku bosan saja denganmu!”
Suamiku melenggang enteng meninggalkanku. Bosan, bosan denganku, alasan apa itu? Dia pikir aku ini apa? Barang mainan yang dilempar begitu saja, ketika rasa bosan menghampiri. Aku istrinya, istri yang sah, yang dia nikahi hampir tiga belas tahun. Yang telah ikhlas sebagai tempat mani-nya, dan telah melahirkan tiga anak darinya. Aku tidak mandul, aku istri yang bisa juga mencari uang. Aku istri yang bekerja, tidak hanya tinggal di rumah dan menggantungkan nafkah darinya. Aku juga melayaninya di ranjang. Lantas, apa? Apa kurangku?
Tiga bulan yang lalu, suamiku memang ditugaskan kantornya ke Sulawesi. Buatku, sebenarnya tidak ada masalah kalau suamiku harus kerja di luar pulau hingga tiga bulan. Terlalu enteng. Aku dan ketiga anak-anakku, sudah biasa ditinggal suami lebih lama dari waktu yang hanya sebentar itu. Sewaktu baru menikah dulu, aku dan suamiku sudah harus berpisah. Aku di kota dingin Malang, karena memang aku bekerja di kota itu, dan suamiku berada di Jakarta, karena memang dia harus bekerja di kota tersebut. Hingga kami mempunyai tiga anak pun, aku masih harus jauh darinya. Bukan aku tidak mau berkumpul dengannya tetapi karena kerja suamiku belum menetap di satu kota, jadi aku mesti menunggu di kota mana dia tidak berpindah-pindah tempat lagi. Syukurlah, akhirnya kami bisa berkumpul di kota Surabaya. Baru dua tahun ini aku merasa menjadi keluarga yang utuh, berkumpul, aku, anak-anakku dan suamiku, setelah hampir tiga belas tahun usia perkawinanku.
Tetapi, entahlah, sepulang dari Sulawesi itu, aku merasakan sikapnya banyak berubah, utamanya di ranjang. Biasanya dia yang paling agresif, yang selalu mengawali. Sekarang, jangankan mengawali, begitu sampai di ranjang, hanya punggungnya yang selalu ditampakkan di mataku. Aku capek, hanya itu kalimat singkatnya. Salahku juga, aku termasuk perempuan yang tidak memuja sex. Setidak-tidaknya setelah disibukkan dengan anak-anakku dan juga pekerjaanku. Bahkan, aku kadang merasa nyaman tidak melayaninya di ranjang. Usiaku sepantara dengannya, jadi rasa lelah justru yang lebih sering datang.
Oke-lah, aku memang dicuekin di ranjang, tapi jangan juga dibawa di komunikasi. Suamiku, sejak kepulangan dari Sulawesi itu, dia acuh. Sarapan pagi, setelah itu berangkat kerja. Pulang malam, dan ceritanya seperti di atas tadi.
”Sebenarnya ada apa sih, Yah?” Aku memanggilnya ‘Ayah’, sejak anak pertama lahir.
Pertanyaan itu jujur saja kuutarakan padanya. Dia memandangku singkat, “Nggak ada apa-apa”. Aku hanya menghela napas.
Rasanya dadaku mulai sempit, hingga oksigen yang kuhirup terasa sesak sekali. Ini sudah hampir dua bulan, sikapnya seperti itu. Aku mulai kehilangan kesabaran. Anak-anakku juga merasakan kondisi ini.
“Ayah, pulang malam terus ya, Bunda? Aku hanya bisa mengangguk. Aku jelaskan, bahwa dia harus bekerja keras, supaya mendapat uang banyak, buat sekolah mereka.
“Tapi, masak tidak ada liburnya? Kita aja yang sekolah ada liburnya. Ya khan Kak?”
Anakku nomer satu yang biasa dipanggil oleh adiknya, nomer dua, dengan sebutan ‘Kakak’, meminta dukungan darinya. Kakaknya hanya mengangguk. Dia memang lebih pendiam dibandingkan adiknya. Keduanya baru kelas empat dan tiga SD.
“Sudahlah, nanti juga kalau kerjaan Ayah sudah selesai, pasti Ayah nggak sibuk lagi.” Aku mencoba menjelaskan klise ke anak-anakku.
Aku juga tidak tahu, apa yang terjadi dengan suamiku. Aku terus mencoba bertanya dan bertanya tentang sikapnya, dan akhirnya jawaban itu muncul juga, Aku bosan saja denganmu!.
Sejak itu, ponselnya tidak aktif. Kantornya, saat kuhubungi, menjelaskan bahwa dia ditugaskan kembali ke Sulawesi.
“Masak Ibu, istrinya malah tidak tahu?” Tak kujawab, hanya kututup telpon itu.
Apa maunya suamiku? Haruskah aku mengejar informasi lagi. Sejujurnya, saat dia pertama ke Sulawesi itu pun, aku tidak tahu persis daerahnya. Hanya minggu-minggu pertama saja dia aktif menelponku, itu pun aku tak sempat bertanya lebih dalam di mana lokasinya di Sulawesi. Setelah itu, hanya SMS-nya yang ada, setelah satu bulan ia tinggal di sana. Tidak ada kabar beritanya lagi, aku coba sms dan telepon dia, HPnya tidak aktif atau kadang memang sengaja tidak mau menerima. Hingga satu hari menjelang tepat tiga bulan dia di sana, SMS singkat aku terima, Aku besok pulang, nggak usah dijemput.
Antara senang dan kecewa aku membaca SMS tersebut. Senang karena suamiku akhirnya pulang juga, tetapi kecewa karena aku tidak diijinkan menjemputnya. Selanjutnya setelah dia datang, semuanya serba dingin, sedingin dia ucapkan, Aku bosan saja denganmu!.
Ada perempuan lainkah di hatinya? Perasaan ini yang selalu berkecambuk di benakku. Aku segera menutup prasangkaku. Mengapa baru sekarang. Mengapa tidak dulu-dulunya, saat kita masih berjauhan setelah menikah itu. Aku tahu persis watak suamiku. Aku percaya dengannya. Dia tidak mudah tergoda dengan perempuan lain. Takut dosa? Mungkin, tapi lebih tepatnya, dia justru takut pada penyakit menular bila jajan dengan sembarang wanita. Kalau toh dia mau, sebenarnya kesempatan itu sangat luas. Pekerjaannya, menuntut dia harus sering keluar kota. Sering berjumpa kolega dan pasti banyak perempuan cantik di sekitarnya. Kadang aku iseng menggodanya, bukan aku istri cerewet dan selalu mencurigainya, hanya ingin tahu keteguhan hatinya.
”Nggak kegoda yang cantik-cantik itu, Yah?” Dia cuma tersenyum.
” Maunya sih, barang muda, lebih fresh, lebih nekat lagi. Cuma aku takut aja, enaknya semenit, nggak enaknya bisa seumur hidup. Belum lagi kamu, pasti nggak mau nglayani aku.”
Kalau sudah begitu, biasanya dia menyumbat segala rasa ingin tahuku dengan menarikku ke ranjang. Dari belakang, dipeluknya pinggangku sambil menciumi leherku yang putih.
“Sudahlah, nggak usah mikir yang macam-macam, bagiku kamu aja sudah cukup. Masih cantik, masih menarik, dan masih menggairahkan di ranjang.”
Aku pura-pura tak mendengar. Entah itu sekedar rayuan atau apalah, yang pasti aku cuma tertawa mendengarnya, aku sudah terangsang menikmati ‘permainan’ suami pada tubuhku. Desah nafasnya antara birahi, nafsu dan gelora yang menggebu, menyatu jadi satu. Sungguh membuatku melambung di atas kenikmatan dan kami bercinta sampai puncak tertinggi.
Itu dulu, sebelum dia ditugaskan di Sulawesi. Sepulang dari Sulawesi, suamiku berubah 180 derajat. Kini dia menghilang lagi, tempat bekerjanya mengatakan kalau dia ditugaskan kembali ke Sulawesi. Menghilang, sebenarnya tidak juga, cuma suamiku pergi tanpa pamit. Aku harus tahu jawabannya! Jaman secanggih ini, mana mungkin suamiku lenyap begitu saja. Ada telepon, ada internet, semua informasi tersedia, mengapa mesti buntu mencarinya. Cuma, pikiranku yang lain juga mendominasi. Buat apa aku cari, kalimat terakhirnya toh, menyakitkan sekali, Aku bosan saja denganmu!. Gila tidak!
Seandainya aku mencarinya, dan seandainya aku juga menemukannya, dan dia hanya menyambutku dengan ucapan, Buat apa kamu cari aku, tentu aku malu. Mau ditaruh di mana mukaku, walau sebenarnya itu lazim saja. Aku istrinya, aku berhak mencarinya. Yang aku lakukan hanya dua hal, pertama selalu berserah diri pada Tuhan, meminta petunjuk-Nya. Aku lebih percaya ini, daripada klenik-klenik lainnya yang meminta persyaratan yang tidak masuk akal. Dan yang kedua, nasehat dari ibuku yang tidak pernah aku lupa, sehari menjelang hari pernikahanku dulu.
Aku duduk di lantai, memijat kaki ibuku yang sedang rebahan di kasur. Dua nasehatnya saat itu, “Ibu sekarang merestui kau menikah Nduk, dulu tidak ya. Lha wong kamu dulu ya nekad, mosok masih kuliah kok minta kawin. Memang rejeki dari Gusti Allah, tapi ingat, rejeki itu harus dicari Nduk, tidak turun dari langit begitu saja. Kamu berdua belum bekerja, masih kuliah. Selesaikanlah kuliahmu dulu. Nah, sekarang kamu dan Prim, suamimu besok, memang sudah pantas untuk menikah. Tapi Nduk, kamu setelah menikah pun, tetaplah bekerja. Bukan karena apa, tapi ingat kematian manusia itu bisa datang tiba-tiba. Kalau suatu ketika suamimu dipanggil-Nya dengan tiba-tiba dan kamu tidak bekerja, bagaimana nanti kamu dan anak-anakmu kelak. Atau kemungkinan yang terburuk Nduk, walaupun Ibu sangat tidak suka ini, kalau suatu ketika pernikahanmu harus bercerai, paling tidak kamu masih punya pangan.”
Kala itu aku mengangguk, aku setuju dengan nasehat beliau. Ibuku memang perempuan yang tegar. Beliau seorang guru. Ibulah yang berjuang mati-matian membiayai kuliahku dan kakak-kakakku, karena Bapak telah meninggal, saat aku masih duduk di bangku SMP.
Selanjutnya saat itu, Ibu menghela nafas panjang, dan memberiku nasehat yang kedua.
“Ini memang tidak pernah terjadi pada bapakmu, Nduk. Bapakmu adalah suami yang baik. Tapi Ibu tidak tahu nanti, bagaimana perkawinanmu dua, tiga, sepuluh atau entah berapa tahun lagi, apakah semuanya adem ayem saja. Bila suatu ketika suamimu rada nyleneh Nduk, keganggu perempuan lain misale, kamu jangan sekali-kali meninggalkan rumahmu yo, Nduk.”
Aku mendongak menatap wajah ibuku. Belum sempat kutanya, Ibu sudah mengerti maksudku, lembut diusap rambutku.
“Nanti akan diisi perempuan lain.” Kala itu aku hanya tersenyum.
“ Ah, Ibu bisa aja. Insya Allah, nggak Bu, Mas Prim, lelaki baik kok.”
Nasehat pertama sudah aku jalani. Aku memang tetap bekerja, sekali pun sudah menikah. Dan saat ini, nasehat kedua yang dulu kutanggapi dengan guyonan saja, sekarang benar-benar harus aku terapkan. Jangan meninggalkan rumah, nanti akan diisi perempuan lain. Yah, Ibu benar. Perceraian-perceraian yang terjadi saat ini, yang aku ikuti sepintas jika aku menonton infotainment televisi atau jika lagi iseng membaca majalah gosip, mereka selalu mencoba untuk pisah dulu. Yang istri pulang ke rumah orangtuanya, yang suami entah kemana, dan akhirnya, mereka bubar.
Aku pun sebenarnya menginginkan seperti itu, pulang ke rumah ibuku dan mengadukan semuanya ke beliau. Atau ke rumah mertuaku, mereka sudah sangat dekat denganku, mengadukan kelakuan suamiku pada mereka, orangtuanya. Tetapi aku tak tega. Mereka semua sekarang sudah tua. Tak sepantasnya kubebani dengan masalah seperti ini. Hanya mengganggu hari tuanya saja. Karena itu, nasehat kedua dari ibuku, akan aku terapkan, aku harus tetap tinggal di rumah, setidaknya setelah pulang kerja. Hanya anak-anakkulah tujuanku, dan mereka ada di dalam rumah.
Pagi ini aku harus mengikuti kuliah penunjang program strata tigaku. Aku memang sedang mengambil S3 di kota pahlawan. Pekerjaanku sebagai dosen, menuntutku untuk menimba ilmu setinggi mungkin. Cukup berat buatku. Pagi aku kuliah, menjadi mahasiswa, dan malam, aku ganti memberi kuliah ke mahasiswaku. Untunglah tidak setiap hari. Seminggu hanya tiga kali, sehingga waktuku dengan anak-anak masih panjang. Justru yang mengganggu pikiranku adalah suamiku. Aku tidak menginginkan perceraian dengannya. Aku tidak siap dengan gelar baruku, janda cerai hidup. Mungkin lebih terhormat dengan julukan janda cerai mati. Tapi bukan dua-duanya mauku, yang aku inginkan adalah mencari jawaban dari pernyataan suamiku, Aku bosan saja denganmu!.
“Ibu, turun di mana?”
Suara kernet angkot cold diesel yang biasanya masyarakat kota pahlawan ini menyebutnya bison, membuyarkan lamunanku. Lucu, padahal bodynya tidak mirip bison, sapinya orang Amerika sana, justru menurutku mirip roti tawar raksasa.
“Eh ya, aku turun terminal Joyoboyo!” jawabku agak tergopoh-gopoh.
Mobilku sengaja tidak aku pakai. Pengiritan. Dua bulan tanpa nafkah dari suamiku, membuat aku harus kencangkan ikat pinggang. Aku memang bekerja, tapi jelas gajiku jauh lebih kecil dibandingkan suamiku. Untuk uang antar jemput sekolah dan SPP anak-anakku saja, sudah menyita separo gajiku, belum untuk uang makan sehari-hari dan menggaji pembantu. Jadi wajar kalau sekarang aku harus irit. Ibuku benar, bagaimana jika aku dulu tidak bekerja.
Di atas lin angkot yang membawaku ke kampus, aku coba menghitung hari. Sudah dua bulan ini, aku ditinggal suamiku yang entah ke mana. Kuusap keringat di dahiku. Wuih, angkutan kota ini memang sesak dan panas. Dalam hati aku berharap semoga cepat ada beberapa penumpang yang turun. Doaku terkabul, di depan Pasar Pucang, ada dua penumpang yang turun. Seketika aliran udara kurasakan masuk ke dalam ruang angkot ini, tidak segar memang bahkan berbau sampah, namun cukup melonggarkan nafasku.
Angkot bergerak melaju kembali, tidak terlalu kencang, menghindari lubang-lubang jalan yang rusak akibat banjir. Kusandarkan sejenak punggungku di jendela, lumayan mengurangi penat di tubuhku.
“Thing….thing..”
Nada dering SMS masuk di telepon genggamku. Kubuka, dari Rudi, adik iparku. Rudi adalah adik suamiku, dia belum menikah. Usianya telah lebih dari tigapuluh tahun. Dia memang baik denganku juga dengan anak-anakku yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Eksekutif muda yang cukup berhasil untuk ukuran seusianya. Tinggalnya juga di kota pahlawan. Rumah, mobil, tanah, tempat penginapan, toko, dan deposito di bank yang jumlahnya tidak sedikit, telah ia punyai. Hanya satu yang belum dimilikinya, istri. Pernah sekali kutanya mengapa menunda perkawinan, dan jawabannya cukup diplomatis, “Perempuan yang kucintai, tak pernah tahu kalau aku mencintainya Mbak. Jadi mana bisa aku menikahinya.” Ringan terdengarnya dan kemudian Rudi selalu mengalihkan pembicaraan.
Dulu, sebelum berhasil seperti ini, Rudi pernah ikut suamiku di Ibukota, hampir satu bulan untuk mencari pekerjaan. Dan kalau pekerjaanku agak longgar, aku dan anak-anak pun selalu menyempatkan diri untuk menyusul ke Ibukota. Kubaca SMS dari Rudi.
Mbak, lgi dmna..? Sorry nich, lgi jdi intel, tgs dri mas Prim…
Tugas dari suamiku? Setengah tak percaya, kuulangi lagi bacaan SMS itu. Tugas dari suamiku? Apa maksudnya? Permainan apa lagi ini? Hubungan suamiku, Rudi serta aku dan anak-anakku, sangat dekat, jadi kalau sekarang suamiku menghilang dan mungkin hanya Rudi yang diberitahu olehnya, rasanya wajar saja. Kubiarkan saja SMS itu, sekalipun hatiku rasanya bergemuruh kencang. Aku sungguh ingin tahu, tapi jemariku rasanya berat buat membalas SMS-nya.
“Thing….thing..”
Suara SMS masuk lagi di telepon genggamku, mengagetkanku.
Mbakku dmna..?
SMS dari Rudi lagi. Aku jawab atau tidak ya? Pikiranku berkecambuk. Belum lepas bingungku, tiba-tiba HP-ku berdering. Rudi lagi, dia pasti tidak sabar menunggu jawabanku.
“Ya, hallo.” Nadaku tidak bersemangat sama sekali.
“Mbak, Mbakku di mana? Kenapa sih gak dibalas SMS-ku.” Aku tarik nafasku sebentar,
“Sorry Rud, aku lagi mo kuliah, “ jawabku singkat.
“Sampai jam berapa nanti, Mbak ?” pertanyaan Rudi terus mengejar.
“ Jam empat sore, kenapa?”
Tanpa dijawab pertanyaanku, malah balik berujar, “Nanti aku kesana Mbak. Aku jemput, jangan pulang dulu ya. Da……!” .
Belum sempat aku bertanya, teleponnya sudah ditutup. Penasaran, mau aku telepon dia atau aku sms. Ah…sudahlah, aku harus tunda dulu keinginanku.
Kali ini, kuliahku sungguh tidak terfokus. Pikiranku beraneka ragam di otak. Kulirik sebentar, Rina, teman kuliahku. Serius sekali. Jelas dia pasti serius. Aku rasa belum ada banyak pikiran di benaknya. Usianya masih muda, terpaut sepuluh tahun denganku dan masih single, belum menikah. Tentu saja yang ada di pikirannya hanya kuliah. Sedang aku, harus berpikir banyak, anak-anakku, pekerjaanku dan yang paling mengganggu adalah suamiku, di mana dia?
Mataku kembali menatap layar LCD yang membuat materi-materi kuliah hari ini. Aku coba fokuskan otakku. Sulit memang, tapi terus kucoba. Aku mencoba konsentrasi, memusatkan segala pikiranku dan mulai kembali mendengarkan materi yang disampaikan dosen pengajar. Beliau menyajikan materi kuliahnya dengan tenang, jelas, baik sekali, dan ini yang membuatku tidak merasa bosan. Begitu juga cara menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sering dijumpai sehari-hari.
Tiba waktu istirahat yang cuma sebentar, rasanya sayang bila aku juga ikutan istirahat, karena ada beberapa materi yang harus aku selesaikan hari ini juga. Kadang terasa lelah badan ini, tapi apalah artinya kalau dibandingkan aku harus segera menyelesaikan studi ini. Rina yang selalu mengingatkan.
”Bunda, makan dulu, lihat sudah hampir lebih jam dua siang lho.” Rina selalu memanggilku dengan sebutan ‘Bunda’. Aku tersenyum menatapnya.
” Tanggung Rin, ntar selesai kuliah aja.”
Kembali kuikuti kuliah sesi kedua. Aku terlalu menikmati sajian-sajian kuliah hari ini hingga, tak sadar kulirik arloji ditangan kiriku. Wuih… sudah hampir jam empat sore. Pantas, dosen promotorku ini sudah mulai merapikan laptopnya.
”Sampai ketemu satu minggu lagi!” kalimat terakhirnya seraya meninggalkan ruang dengan agak sedikit bergegas.
Belum sempat kuangkat pantatku meninggalkan kursi dan ruangan yang ber-ac ini, tiba-tiba bunyi nada panggil telepon genggamku, membuyarkan konsentrasiku.
”Aku sudah di tempat parkir Mbak,” suara Rudi agak berteriak lewat telepon genggamku.
“Iya.. iya, tunggu lima menit lagi,” jawabku mencoba meredakan emosinya. Bergegas kurapikan buku-bukuku dan setengah berlari kutinggalkan ruangan itu.
Dari lantai dua, kulihat Rudi menyandarkan punggungnya di mobil kebanggaannya, Land Cruiser keluaran terbaru. Begitu melihatku turun dari tangga, sedereten gigi putihnya dipamerkan kepadaku. Malas aku membalas senyumannya. Tiba-tiba saja otakku yang hampir tujuh jam mengikuti kuliah dan melupakan suamiku, jadi tersadar mengingatnya kembali.
”Ayolah, jangan cemberut begitu dong. Masuklah dulu Mbakku!” Rudi tetap saja tersenyum sambil tangan kirinya membukakan pintu untukku.
Aku duduk kuletakkan tasku di bawah kaki. Rudi berlari masuk ke dalam mobil, menyalakan mobilnya, AC, dan alunan musik instrumen yang benar-benar enak didengar telinga. Mobil mewah ini membawa kami keluar dari kampus.
Aku berusaha memendam gejolak dada yang benar-benar ingin menanyakan keberadaan suamiku. Dan kurasakan Rudi memahami apa yang ingin aku tanyakan. Rudi menatapku sekilas, kemudian pandangannya ke depan lagi. Kemudian, ”Mbak, ada sesuatu yang ingin Mas Prim sampaikan pada Mbak,” dia menghela nafas sejenak, ”tapi dia takut mengutarakan.”
Aku menoleh tajam ke arahnya.
”Apa maksudmu?”
Dadaku semakin terasa berdebar. Di luar, hujan cukup deras mengguyur kota pahlawan. Rudi yang tadi kulihat serius, sekarang malah tersenyum, santai.
”Kita makan dulu ya, Mbak, aku lapar banget nih. Aku gak bisa ngomong kalau perutku kempes gini,” seraya tangannya tanpa seijinku menarik tanganku untuk memegang perutnya. ”Pegang nich Mbak, kempes khan?”
Aku diam saja, hanya cepat-cepat kutarik tanganku dari perutnya.
”Kita makan di rumahku aja ya Mbak. Aku tadi sudah pesan beberapa makanan dan pasti begitu kita sampai, makanannya pasti juga nyampe deh.”
Aku menatap Rudi, setengah emosi kulontarkan kalimatku, ”Rud, tolong jangan kau buat keadaan ini seperti permainan! Mas Prim sudah tidak ada kabar hampir tiga bulan ini. Sekarang kamu bukan menolongku, kamu malah membuatku susah!”
Tak kusadari butiran bening di pelupuk mataku menetes. Rudi setengah terperanjat, kemudian dengan gesitnya, dia hentikan mobilnya di bahu jalan. Mobil berhenti tanpa mesin dimatikan. Hujan tetap deras menyiram mobil itu dan hawa sejuk AC menusuk ke tulangku. Rudi menatapku lembut tapi tajam.
”Mbak, kalau aku tidak sayang Mbak, sudah lebih dari dua bulan yang lalu aku sampaikan kondisi Mas Prim yang sebenarnya. Tapi aku tidak tega. Sabarlah Mbak, sepuluh menit lagi kita akan sampai di rumahku. Aku akan buka semua yang ada pada Mas Prim.” Tangan kiri Rudi lembut memegang tanganku, sementara tangan kanannya menghapus air mataku dengan sapu tangannya.
”Aku akan selesaikan masalah ini dengan secepatnya Mbak. OK, jangan menangis ya.” Rudi tersenyum ramah, kemudian dia jalankan kembali mobilnya. Sepanjang perjalanan, kami terdiam dengan gemuruh dan kecambuk hati masing-masing.
Rudi membelokkan mobilnya tepat di depan pagar rumah mewah dengan halaman yang luas terlihat dari sela-sela pagar, tak lupa dia bunyikan klakson mobil.
”Ini rumah siapa, Rud?” tanyaku penuh keheranan. Rudi tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih.
”Rumahku Mbak. Ada rejeki lebih, yah aku inveskan buat rumah aja, persiapan mau menikah.” Kaget juga aku mendengar lontarannya.
” Wah, selamat Rud, akhirnya kamu menikah juga. Siapa perempuan yang beruntung itu Rud?”
Rudi terbahak mendengar pertanyaanku. Aku yang heran sekarang, apanya yang lucu. Tawa Rudi masih lepas.
”Justru itu Mbak, perempuan yang aku cintai untuk aku ajak menikah, tidak pernah tahu kalau aku mencintainya, jadi ya, mungkin aku gak pernah menikah, ha…ha…..!” Rudi masih saja kegirangan dengan candanya.
” Tau deh Rud, kamu memang paling seneng bikin aku kheqi dan penasaran!” jawabku sekenanya. Rudi cuma cengengesan mendengar jawabku.
”Masuk Mbak! Tuh si Parno, yang jaga rumah sudah buka pintu pagar.”
Rudi memarkir mobilnya di garasi, kemudian dia membukakan pintu mobil untukku. Aku melangkah masuk mengikuti langkah kaki adik iparku ini. Ruang tamu rumah Rudi cukup luas dan segar. Aku amati segala pernak-pernik yang ada di ruang ini, Rudi memang cukup berseni dalam menata ruangan.
“Aku mandi dulu Mbak. Mbak kalau mau mandi juga, di kamar sebelah situ ya. Semua perlengkapan mandi sudah komplet, Mbak!”
Tanpa menghiraukan jawabanku, Rudi sudah nyelonong masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya aku malas untuk mengikuti sarannya, tetapi setelah kupikir, aku memang harus mandi. Badanku yang kotor sejak pagi tadi, harus dibersihkan total dengan mandi. Atau paling tidak cuci muka, supaya segar kembali.
Dua puluh menit kemudian, aku sudah keluar dari kamar. Badanku benar-benar sudah segar kembali. Kulihat Rudi juga sudah rapi dan segar. Kaos t-shirt hijau tua yang dia kenakan, sangat serasi dengan warna kulitnya yang memang agak kecoklatan. Rudi terlihat gagah dan tampan, sekilas aku melihat ada kemiripan dengan wajah suamiku. Suamiku yang menghilang dan hari ini akan dibongkar rahasianya oleh Rudi.
”Kita makan di ruang ini saja, Mbak. Ini ruangan santai, buat nonton TV, video, main musik, yah, ruang-ruang pelepas lelah deh.” Rudi mengajakku masuk. Kulihat di atas meja kaca yang lebar, telah tersedia makanan pengugah selera. Ini makanan yang dipesan Rudi tadi.
”Makanan pesananku tidak mengecewakan khan, Mbak?” Rudi meminta pendapatku, aku hanya mengangguk. Selanjutnya aku dan Rudi menikmati sajian santap malam ini dengan tanpa banyak bicara.
Selesai makan, kulihat Parno, tukang jaga rumah Rudi, merapikan semuanya dan menyajikan dua gelas es juice melon di meja dekat sofa indah yang terletak di ruang itu juga.
”Duduk sini, Mbak. Sudah siap dengan semua rahasia Mas Prim?” Aku mengangguk, kuhampiri Rudi dan duduk di pinggir sofa.
”Dua bulan yang lalu Mas Prim mengirim semua ini kepadaku,” Rudi menunjukkan kiriman dari suamiku, dua buah CD dan dua map. Kemudian dia berdiri dan menyalakan CD yang dibawanya. ”Mbak harus melihat CD ini, di sini semua rahasia Mas Prim.”
Mulutku rasanya kaku buat menjawab omongan Rudi. Hatiku mulai tegang, ada apa dengan suamiku. Video mulai menyala, perasaanku tambah tidak karuan.
Tiba-tiba muncul dalam layar kaca, gambar suamiku! Dia tertunduk dan duduk di atas kasur. Selanjutnya dia mendongakkan kepala perlahan-lahan, kemudian tersenyum dan berkata, ”Apa kabar, Sayang? Masih marah dan penasarankah denganku? Maafkan aku ya, hampir enam bulan ini, aku menyia-nyiakan kamu. Memang aku sengaja, Sayang, maksudku supaya kamu marah, marah, dan marah, sehingga akhirnya kamu minta cerai dariku. Eit, tunggu dulu Sayang, permintaan ini yang aku tidak dapat jelaskan kepadamu. Kamu masih ingat Johan?! Yang sering aku ceritakan dulu saat kita masih pacaran, dia kembali datang padaku.” Selanjutnya kalimat suamiku terhenti. Tiba-tiba datang lelaki tinggi besar, tampan, menghampiri suamiku. Mereka berdua perpelukan.
Oh Tuhan, kututup mukaku. Apakah suamiku…… Belum selesai kutemukan jawabannya, kulirik kembali layar kaca di depanku, dan kulihat suamiku dan lelaki itu saling berciuman, dan adegan berikutnya, aku tidak kuasa menyaksikan .
”Matikan! Matikan, Rud!!” Aku berteriak sekuatku. Rudi segera mematikan VCD dengan tombol remotenya.
Badanku terasa lemas seluruhnya. Seluruh persendianku sepertinya terlepas semua. Aku sandarkan tubuhku di sofa. Rudi menawarkan minuman juice melon.
”Minumlah dulu, Mbak.”
Aku teguk minuman itu, syukurlah sepertinya meredakan emosiku. Rudi duduk di sampingku.
”Mas Prim sekarang sudah di Belanda, mereka sudah menikah tiga bulan yang lalu. Dan di dalam map ini, tertulis semua surat-surat yang Mbak inginkan seandainya Mbak minta cerai. Nafkah Mbak dan anak-anak, juga sudah ditulis di sini.”
Aku tak menjawab semua yang diomongkan Rudi. Hatiku rasanya bercampur baur jadi satu. Antara marah, kesal, kecewa dan hancur merata dalam dadaku. Bodohnya aku juga, hampir tiga belas tahun usia perkawinanku, aku sama sekali tak mengetahui kalau suamiku seorang gay, seorang homo seksual.
Rudi mendekatiku, lembut dia sibakkan rambutku.
”Tulisan terakhir Mas Prim juga menyampaikan, aku disuruh mengganti posisi Mas Prim Mbak. Maaf, itu kalau Mbak tidak keberatan.”
Aku menatap tajam mata Rudi. Ingin kutampar mulutnya, lancang dia berkata seperti itu. Dia anggap apa aku ini. Oh, tapi tidak, Rudi tidak bersalah sedikit pun, suamikulah yang keterlaluan.
”Telponkan aku taksi Rud, aku mau pulang.” Rudi menggelengkan kepalanya.
”Tidak! Biar aku saja yang mengantarmu Mbak. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Mbak.”
Tak kuhiraukan omongan Rudi, aku berdiri dan kutinggalkan Rudi di dalam ruangan itu.
”Mbak! Tunggu, tunggu! Perempuan yang selama ini kucintai dan tak pernah tahu kalau aku mencintainya adalah kamu, Mbak! Kamu yang selalu ada dalam doa-doaku! Aku tidak pernah meminta Tuhan seorang perempuan untuk menjadi istriku kecuali kamu, Mbak! Ini memang sudah takdir-Nya setelah sekian tahun aku menunggumu, Mbak.”
Kalimat-kalimat Rudi terus mengalir dan aku merasakan kepalaku semakin berat dan berat sekali. Selanjutnya semua serba hitam dan gelap, dan aku melayang entah ke mana…..
Kota udang Sidoarjo
Januari 2008
luar biasa! jalan ceritanya bagus,mengalir lancar dan mudah dimengerti
hai mba….sabar yah…
ceritanya menarik!
tapi, endingnya agak menggantung,,
blh request cerita misteri gak??? >_
Aq suka cerita ini…Tp apkah ada cinta yg tulus dlm kehidupan ini??Q sendiri sdh rapuh…
waw…. bguuuuuzz.. dpt inspirasi dari mana ?? ta perlu ad lanjutanna tu,, rudi jd kwin am mbk iparna kagak ??
Wah ceritanya bagus. Tapi klo itu kisah nyata, q turut prihatin. Boleh dong tuliskan kelanjutannya.
Rudi punya cintanya senidri tuh mbak…dan q rasa dia punya ketulusan disana dan kesetiaan sampai dia rela menunggu seseorang tanpa pernah berpikir pakah yang dia cintai tahu…justru cinta ini yang patut untuk mu mbak…seorang wanita hebat….
Tapi bicara hati…cuma mbak yg punya hak..
Salut utk mbak…
Andae mamaku juga punya hati seperti itu..
Tapi aku ttp bsukur dg semua ini….
perkawinan adalah suatu yang sakral…,jangan mbak berpikir pendek menghadapi masalah ini..,tuhan cuma menguji apakah hambanya mampu mengatasi masalah yang diberikan nya..,tuhan tidak menguji melebihi kemampuan manusia..,mbak sabar & tawakal itulah kunci nya..,
mbanya udah setia cuman suaminya aja yang punya kelainan sebagai wanita sholehah pria yang harus menerima baktinya cuman pria sholeh si Rudi bisa diandelin tuh kelihatan banget setianya bahkan mau terima mbak apa adanya lagi