Saksi Mata
Desember 17th, 2008 by Didi Arsandi
Di Kamar Seorang Perempuan, pukul 22.00 WIB Kemarin
Waktu aku datang lagi padamu, kamu sedang sibuk membuka-buka sebuah buku tebal bersampul hitam dan beratus-ratus halaman. Malam itu, angin mabuk dan mengamuk-ngamuk di luar rumah. Jaringan listrik putus, dan belum berani diperbaiki. Mungkin baru bisa besok pagi. Mungkin saja sengaja dibiarkan putus dulu biar orang-orang bisa cepat tidur: belakangan ini tidur digolongkan dalam kesempatan langka, sama langkanya dengan kesempatan menjadi kaya atau menemukan jodoh yang sungguh setia. Tapi sebuah lampu semprong sudah cukup bagimu untuk bisa melihat jelas ke lembar-lembar kusam kekuningan pada buku. Dan kamu pembaca yang tekun, setahuku.
“Siapa yang memakai peci hitam dan kostum mewah itu?” tanyaku berbasa-basi.
Kamu diam saja, seperti memikirkan sesuatu.
Sebuah halaman menyodorkan gambar seorang lelaki tua yang berdiri seperti sedang berbicara, dan tentu saja, berwibawa. Karena kamu tidak menjawabku, langsung saja aku masuk ke kepalamu dan memeriksa satu-persatu syaraf ingatan di sana. Aneh, lelaki itu tak ada. Mungkin ada beberapa ingatan yang terlalu rapi kamu simpan. Yang kutemukan cuma beberapa rekaman yang juga tidak asing bagiku: huru-hara 1998. Sebuah tontonan yang indah, bukan?
Dalam rekaman itu tampak ribuan orang memenuhi jalanan, kata-kata terlontar dengan ringan saja –kalau saja setiap orang paham betul yang dia ucapkan. Spanduk dan ‘poster-poster lucu’ ditenteng oleh banyak orang. Ada yang bertuliskan, “Turunkan Soeharto! Turunkan harga sembako!” atau, “Gedung MPR Sarang Siluman. Bakar!” dan banyak lagi tulisan-tulisan lain yang aku tidak tahu betul apa maksudnya. Entah apa.
Maklum saja, ketika rangkaian peristiwa itu sedang heboh-hebohnya, aku cuma mahasiswa kupu-kupu yang sibuk membantu penyerbukan kembang warna-warni di kepala: mimpi naik mobil sedan, berlibur di kapal pesiar, dan banyak lagi mimpi lain yang mesti kutebus dengan berpuluh buku bacaan dan jam belajar. Aku tak punya sisa waktu buat urusan semacam itu. Sorry, di masa itu aku adalah mahasiswa teladan semester 7 dan mesti lulus dengan gelar Cum Laude.
“Mas Tono, kamu sekarang di mana?” ujarmu tiba-tiba, seperti suara jendela yang susah dibuka. Kamu lalu memukul-mukul meja, merobek-robek lembaran buku, ah, betapa kalapnya kamu. Lampu semprong saja sempat bergoyang mau jatuh, tapi tidak jadi. Aku yang sedang asyik menonton rekaman tadi, langsung terlontar keluar lewat lubang telingamu. Kepalaku membentur daun pintu. Kamu kalau marah kasar juga ya?
Aku cepat bangun ketika melihatmu masih terisak. Entah ada apa denganmu. Kamu mengacak-acak rambut sendiri. tanganmu yang mungil dengan jemari bercincin seperti mencakar-cakar meja. Seperti kucing. Aku mau sekali menenangkanmu atau sekadar mengajakmu berbicara empat mata –kalau saja bahasa cukup lebar untuk menjembatani dua perasaan. Tapi nanti dulu, siapa itu Mas Tono? Pacarmu, kakakmu, temanmu, atau jangan-jangan lelaki dalam foto itu? Ah, tidak mungkin. Meski pertanyaanku yang pertama tadi sekadar basa-basi, tapi aku sudah kenal lelaki dalam foto itu.
Dia adalah orang yang dipuja-puji oleh masyarakat awam sekaligus dicaci-maki oleh banyak cendikiawan. “Bapak Ilmu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme,” ejek para cendikiawan itu. Sedangkan masyarakat awam mengganggapnya seperti dewa yang (kebetulan) jatuh dari atap rumah –mungkin ada yang bertanya sedang apa dia di sana– lalu tertimpa tangga yang dibuat dari bambu tua. Belum sempat bangun, beberapa genteng yang tergeser oleh tangga itu turut jatuh dan (juga kebetulan) tepat mengenai jidatnya. Kasihan dia. Kasihan tangga itu. Kasihan juga rumah yang kehilangan beberapa gentengnya. Tapi apa peduliku? Aku cuma peduli pada kamu.
Tiga puluh menit adalah kisaran waktu bagimu buat menguras tangis. Tapi matamu terlanjur sembab, jelek jadinya. Binaran matamu ketika pertama kali menemukan buku itu di kolong ranjang, redup sudah. Kenangan-kenangan yang berduyun-duyun minta dibayangkan lagi olehmu, pulang sudah. Lalu kamu memungut kembali lembaran yang dirobek tadi, membuka-buka lembaran berikutnya, kembali larut dalam cerita si penulis, menyimak kata demi kata, mengenang gambar demi gambar. Tapi siapa Mas Tono? Namanya seperti pernah kudengar. Di mana ya? Aku tak mungkin masuk ke kepala sendiri dan mencari data tentangnya. Itu melanggar prosedur Kekinian. Aku bisa saja masuk lagi ke kepalamu dan mencari rekaman tentangnya (kamu pasti tahu), tapi aku tak tega. Apa pula pedulimu? Toh, kamu tidak melihatku.
Di Pinggir Jalan Dekat Pasar Malam, pukul OO.13 WIB Sepuluh Tahun Lalu
Sepi. Dan mungkin sedari petang memang sudah sepi orang. Jam sebelas malam tadi sih, masih ada suara ribut : komidi putar yang diputar-putar angin, konser hujan, dan anak-anak langit yang bermain petasan. Dan sekarang? Cuma suara jatuhan liur hujan dari lembaran dedaun, itu pun sudah mujur bila masih bisa kudengar.
Pelan-pelan kuangkat pantatku yang kesemutan duduk di trotoar. Aku mulai mondar-mandir sambil ekor mataku terus mengawasi sudut-sudut jalan. Mungkin bisa menemukan sekomplot tikus yang bergerilya dari got ke got. Mungkin masih ada seekor anjing yang berkeliaran. Atau mungkin saja, malam ini seekor monyet sedang mengendap-ngendap kabur dari tenda sirkus?
Ah, malam ini sungguh sepi, Tika.
Aih, kok kamu tega betul menolak cintaku siang tadi? Chairil Anwar pun mungkin tak sesedih ini. Buktinya dia masih bisa menulis “Senja di Pelabuhan Kecil”. Sedangkan aku? Jangankan pena atau pensil, sebatang rokok pun tak kuat lagi kuangkat. Aku jadi lemas, Tika. Sungguh. Tapi laki-laki tak boleh mengeluh, tak boleh mengaduh, tapi Tika…
“Hei Kampret! Minggir lu! Jangan ngelamun di tengah jalan!”
Bayanganku di aspal mendadak hilang dihalau sorotan lampu mobil yang melaju dari arah perumahan penduduk. Tapi itu cuma sekilas, selanjutnya adalah tubuhku yang diserempet hingga terguling-guling tanpa aba-aba.
Tapi Tika, itu belum seberapa, cuma berakibat luka di luar badan.
Tapi dalam keadaan seperti ini, tentu sulit bagiku untuk lekas bangun dan melempar kaca belakang mobil itu dengan batu. Tapi bukan ini yang membuatku penasaran. Mobil itu lalu berhenti di tempat yang tak disinari lampu jalan, dan terdengarlah, “tar-ter-tor”. Lalu menyusul suara seperti benda jatuh, dan beberapa lelaki kembali masuk ke mobil. Mobil itu pun pergi setelahnya. Dan berikutnya sudah bisa ditebak : sepi.
Tika, aku ini cuma makhluk yang kesepian, cuma bisa mengkhayalkanmu.
Maka itu tak patut bagiku untuk turut bersitegang dengan rerumput, lampu jalan, dan kunang-kunang tentang siapa yang rebah di badan jalan ini, mengapa dadanya mesti dilubangi peluru, atau berapa nomor sepatu bagusnya itu. Siapa pun dia, yang pasti dia bukan kerabatku.
Pertama, semua kerabatku tergolong orang susah di kampung, dan jarak kampungku ke kota ini tak kurang dari seratus kilometer. Untuk belanja sembako ke pasar saja mereka nitip pada tetangga, tak pernah ada ongkos. Selalu saja ada hal lain yang lebih mendesak daripada itu. Kedua, di kampungku itu cuma aku yang sempat mencicipi bangku perkuliahan. Boleh dibilang, orang-orang di kampungku lebih goblok dariku. Maka tak mungkin mereka berani berbuat aneh-aneh seperti ikut-ikutan berdemonstrasi, buang-buang solusi ke telinga boneka, apatah lagi bermain-main dalam ucapan verbal maupun metafor di media massa. Pasti bukan kerabatku, titik!
Tapi Tika, aku ini juga manusia. Sekadar iba aku masih punya.
Maka itu aku mencoba lebih dekat padanya. Rasa sakit gara-gara terkilir di dengkul dan pundak harus bisa kuanggap biasa. Lalu kupegangi pergelangan tangan lelaki yang bau amis itu, seperti tak berdenyut. Kulihat di dada lelaki itu setidaknya ada tiga lubang tempat bersarangnya peluru. Lalu kuperiksa nafasnya, ah, terlalu susah. Malam dingin begini susah betul membedakan antara nafas lelaki yang pasrah dengan angin yang membaur pada gerimis.
Tiba-tiba dari saku bajunya terdengar dering handphone. Sebuah pesan masuk, isinya: ”Mas, hari ini aku didatangi beberapa orang berpakaian preman, mereka seram-seram. Mereka menanyaimu, kubilang saja “aku tidak tahu”. Memangnya mas sekarang di mana? Urusan organisasi-organisasimu sudah kelar kan? Kalau mau tidur baca doa ya, I love you. Muaccchh.
Wah, ini pasti pacarnya. Kasihan dia. Apa perlu aku balas pesannya, dan memberitahu bila lelaki ini hampir atau sudah tiada? Aku tak berani. Salah-salah, nanti aku yang dituduh pembunuhnya. Lalu besok aku yang dicari-cari polisi. Ngeri, aku nanti digelandang masuk ke bui. Padahal aku kan cuma lelaki kesepian yang sama sekali tak mau berurusan dengan perkara rawan, seperti kriminal, menelanjangi aib orang lewat tulisan atau lisan, kumpul-kumpul di organisasi ilegal, atau ikut-ikutan turun ke jalan meneriaki, “Turunkan Sembako! Kok harganya sekarang lebih mahal dari zaman Soeharto?!” Itu sama sekali bukan duniaku. Aku tak hidup untuk itu.”
Duniaku cuma untukmu, Tika.
Lalu kutinggal pergi saja lelaki itu. Aku tak mau ambil peduli. Sebab sekali-kali itu bukan urusanku. Lagi pula sekarang sudah larut malam, sudah waktunya pulang ke rumah. Nanti sedihnya kulanjutkan di kamar saja. Segelas kopi, sebungkus rokok, dan sebuah komputer sudah cukup buat melahirkan ribuan puisi.
Mataku tiba-tiba silau. Sebuah mobil berhenti di depanku, mobil tadi rupanya.
”Nah! Itu die temennye Si Tono. Die yang tadi ngeliatin gue. Uber, uber!”
Mau apa lagi mereka? Menunjuk-nunjuk ke arahku seperti melihat pencuri saja. Dan siapa pula Tono itu? Aku tak pernah mengenal dia. Karena tak mau terjadi sesuatu yang bukan-bukan, aku cepat berlari ke arah tenda-tenda pasar malam, sepi sekali di sana. Derap langkah beberapa orang terdengar semakin cepat di belakangku. Maka jelas, aku sekarang jadi buruan! Siapa mereka? Aku tak mungkin berhenti dulu dan menanyai nama mereka satu-persatu. Aku tak sedang bermain sinetron atau film laga. Tapi mungkin akan lebih baik bila ini bukan sungguhan. Tubuhku yang pendek membuatku terlalu mudah dikejar, dicekal, dan tentu saja, dihajar.
”Tar-ter…” Itu suara terakhir yang kudengar. Selanjutnya sudah bisa ditebak: sepi. Tidak ada lagi suara rumputan yang terinjak-injak sepatu. Kunang-kunang yang tadi cuma beberapa ekor, sempat menjadi banyak sekali, tapi sekarang sudah hilang semua entah ke mana. Tiang listrik kelihatan seperti kembar dua, lampu jalan pelan-pelan seperti dimatikan. Lama-lama aku tak bisa lagi melihat, tak bisa mendengar, pun tak bisa merasakan kedinginan angin di kulit badan. Dan…
Tika, sekarang aku seringan udara!
Di Pekarangan Rumah, pukul 04.00 WIB Hari Ini
Sengaja aku duduk-duduk di kursi beranda sekadar menunggu kemunculan matahari yang mirip jeruk tua, cicit beberapa burung gereja di pagar dan kotak pos, juga koran baru yang biasa dilempar seorang lelaki bersepeda. Sengaja aku tunggu anak-anak sekolah lewat di depan rumahmu ini sambil menggigiti batang pensil, biasanya ada pula ibu-ibu yang baru pulang dari pasar sayur. Dan sengaja aku biarkan kamu tidur saja, barangkali mimpimu bisa lebih bagus dari dunia nyata.
Aku bisa saja mengarang sebuah cerita dan mengirimkannya ke tidurmu, biar mimpimu bisa dijamin bagus –tapi mimpi tidak mungkin lebih lama dari satu malam. Aku juga bisa membantumu dengan mengambil beberapa ingatan yang terlalu lama kaukenang, yang kerap mengganggumu dalam jaga, dan yang membuatmu jadi tak nyenyak tidur dan tak enak makan. Satu lagi, terlalu mudah bagiku untuk membuatmu bahagia, tinggal kuhasut saja pikiranmu untuk mau bunuh diri. Setelah mati, kamu bisa bebas dari kukungan kenangan, dan menertawai orang-orang yang masih sibuk saja menuntut keadilan dari hura-hara 1998.
Tapi aku masih mau melihatmu menyiapkan senyum di depan kaca sebelum berangkat menjumpai anak-anak sekolah. ”Selamat Pagi, Bu Guru!” pasti begitu sapaan mereka padamu. Menyenangkan, bukan? Apalagi setelah habis jam sekolah, kamu bisa jalan-jalan dulu ke pasar, toko buku, atau sekadar berdiri saja di atas jembatan penyebrangan. Di sana kamu bisa memandang wajah-wajah kuli panggul yang tabah, geli mendengar percakapan lugu sepasang remaja, juga menertawai seorang anak yang serius mengunyah kembang gula.
Aku mau kamu tetap hidup, Tika.
Biarkan saja pohon kapuk di sebrang jalan itu kehilangan banyak daun lantaran dipereteli angin semalaman, biarkan saja burung gereja sibuk memperbaiki jerami sarangnya, biarkan saja matahari kali ini terkejut-kejut melihat banyak tiang listrik yang roboh, pohon-pohon di pinggiran jalan banyak yang tumbang. Semua orang panik gara-gara tidak bisa masuk kerja lantaran transportasi lumpuh total, sementara ribuan anak-anak menghambur di jalanan, berkejar-kejaran sambil tertawa renyah dengan bibir kecilnya. Mereka tak perlu tahu apa-apa, kecuali sebuah pengertian bahwasanya mereka masih memiliki dan dimiliki Indonesia.
Lihat, bendera kita itu masih terikat di tiangnya. Tapi aku masih mau kamu tidur lebih lama, sebelum mengucap salam pada Indonesia.
Bandar Lampung, 2008