KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Penjemput Ombak

Tono adalah panggilannya, si Lajang Lapuk adalah julukan yang diberikan orang-orang kampung padanya, sedang namanya sendiri adalah Hartono Bin Husin: ‘Husin’ adalah nama yang ia bubuhi sendiri di belakang namanya setelah jelas ia tak punya data apa-apa tentang kedua orang tua kandung. Sembarangan saja, sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan penanda hubungan keluarga seperti lazimnya pada nama-nama keluarga muslim. Tapi satu hal yang boleh dipuji: dia punya slogan bagus, “kesendirian berarti kemerdekaan penuh dan kebahagiaan dalam kesedihan yang utuh”.

Sedari kecil Tono hidup menumpang pada keluarga Pak Yakub, warga biasa kampung nelayan, dan sudah terlatih mendorong perahu menjemput ombak. Dia suka sekali naik perahu, dan ada-ada saja yang dikerjakan: kadang memancing, kadang sekadar jemur-jemuran sambil membelalakkan mata ke atas menantang matahari, atau malah duduk-duduk saja sambil mengamati ikan-ikan kecil yang tak sungkan berlama-lama menunggui tangan Tono melempar dua-tiga kepal pelet ikan.

“Mana orang tua kalian?”

atau, “Siang panas begini kok keluyuran?”

atau, “Eh! Di bawah sana ada tidak sekolahan?”.

Pertanyaan-pertanyaan goblok seperti itu sudah jarang ia lontarkan belakangan ini, sudah bosan. Dulu sih iya, waktu masih kecil. Tapi sejak Pak Yakub menceritakan tentang orang tuanya, di suatu senja yang rupa-rupa, di depan kawanan ombak yang berbaris rapi seperti menaruh curiga, kira-kira dua bulan lalu ketika perihal itu pertama kali dipermasalahkan Septia –teman kecil yang alergi pada bunga biasa— Tono pun mulai jarang kelihatan di hiruk-pikuk bujang-gadis kampung; kalau pun kelihatan yang tampak hanya raut muka tak bersahabat yang menandakan sedang murung. Tapi tetap saja tak ada yang peduli, dan murung Tono pun makin menjadi.

“Baiklah, akan kuceritakan. Tapi janji, kau jangan berubah setelah ini,” ujar Pak Yakub setelah didesak-desak oleh Tono yang mulai pusing tentang asal-usulnya ketika itu; dia sudah besar dan tak satu pun orang-orang di kampung Nelayan, termasuk Septia, yang mau percaya bila dia juga orang Melayu.

“Peristiwa itu pada Selasa petang,” kata Pak Yakub dengan serius menghisap pipa rokok. Tono lebih serius mendengarkan.

“Aku baru pulang dari melaut, baru turun dari perahu untuk meniti pantai berkabut.”

Ah, Untuk hal-hal seperti ini, Tono paling benci bahasa penyair.

“Saat itu, setelah menambatkan perahu, sayup-sayup suara azan sampai di pantai. Syukur aku bisa pulang tepat waktu. Kau tahu kan, itu bukan gampang dilakukan oleh nelayan.”

Tono mencoba sabar, lebih sabar. Sudah kebiasaan Pak Yakub bicara berputar-putar.

“Baru lima langkah meninggalkan perahu, tiba-tiba muncul belasan kalelawar kira-kira lima belas meter dari arah Timur laut menujuku yang berjalan menghadap Selatan. Ada apa gerangan? Kalelawar kan paling peka suara. Mereka bisa mendengar suara yang frekuensinya di bawah 20 HZ. Kalau kita kan berkisar antara 20-20.000 HZ.”

Tono sudah tahu beliau jago matematika, tapi ini bukan waktunya untuk menggunakan angka-angka sebagai bahasa. Tono mau kata-kata yang langsung saja.

“Ada apa dengan kalelawar itu, Pak? Mereka kenal orang tuaku?” sergah Tono menandai ia gagal sabar. Padahal petang itu ombak-ombak tak sedang ribut, seperti khusuk turut menyimak pembicaraan. Angin saja seperti bermalas-malasan mengganggu daunan nyiur. Semua seperti sedang menyusun keheningan. Namun Tono memang jarang betul lulus ujian bersabar.

“Tapi bukan tentang kalelawar yang mau kuceritakan. Tidak ada kaitannya dengan orang tuamu. Nah! Kau tahu tidak, pohon kelapa yang sudah mati disambar petir di pinggiran pantai yang di dekat lautnya banyak keramba-keramba yang bertahun-tahun ditinggalkan pemiliknya ke luar kota mencari penghidupan yang lebih layak, dan sekarang sering kita gunakan buat memelihara bibit-bibit ikan…”

Pak Yakub tak menyambung kalimatnya, cuma menghisap pipa rokok.

“Di depan rumah kita ini?” tebak Tono.

“Betul sekali!. Di situlah aku menemukanmu, bayi dalam karung yang ditinggalkan tanpa jelas dari mana, punya siapa, atau kok tega-teganya ditelantarkan saja. Cuma itu, selebihnya tidak ada cerita lain yang kuketahui tentang orang tuamu.”

Dada Tono sesak. Bergemuruh. Siapa bilang ombak cuma tinggal di laut?

“Aku ini nelayan miskin yang cuma tahu ikan, iman, dan uang. Baru pulang dari melaut, tahu-tahu dikagetkan kalelawar sialan. E..e..eh, ada kamu rupanya yang waktu itu tertawa lepas, menghibur sekali, dan memang tak dibebani dosa-dosa, ha..ha..ha”.

Pak Yakub tertawa semakin keras sampai kemudian azan maghrib mengalahkan suaranya —saat itu di telinga Tono cuma terdengar dua suara: tawa Pak Yakub dan azan maghrib.

“Sudah, sudah. Kau sudah berjanji tidak akan berubah setelah ini. Pulang sana! Shalat. Jangan jadi pelamun. Di laut banyak ikan kok berang-berang pergi ke selokan,” tegur Pak Yakub sebelum meninggalkan Tono yang terkulai di pasir pantai. Tono memang belum puas, masih mau mengajukan satu lagi pertanyaan: kenapa Pak Yakub menamainya Hartono? Tapi kulitnya yang hitam legam, tubuhnya yang pendek gempal, sudah menjawab hal itu. Ingin rasanya Tono bangun dan menceburkan diri ke laut. Nyemplung saja, tak usah pakai aba-aba.

***

“Maaf Dik, di luar sudah ada tamu baru.”

Tiba-tiba Pak Hasan, bapaknya Septia, menengahi pembicaraan paling genting dalam sejarah hidup Tono: Septia bakal memberi kepastian malam ini.

“Bang Tono, kalau Abang tidak bisa memberi alasan yang membuat Septia percaya…”

Septia menahan nafas, tentu bukan asma. Jarum jam dinding berdetak dengan tak tega.

“Alasan yang bisa membuat Septia dan Bapak percaya kalau Abang juga orang Melayu”.

Lagi-lagi Septia menahan nafas, membuang muka, seperti tak mau bicara lagi. Tapi Tono bisa apa? Mau mengatakan kalau dia orang Melayu yang terlalu sering berjemur di laut sepanjang pagi-petang, bertahun-tahun, sedari kecil sampai besar? Itu belum cukup. Apalagi namanya saja sudah Har-To-No, dan matanya tidak sipit, dan dia memang tidak diberkahi kulit yang kekuning-kuningan, dan gaya bicaranya tidak betul-betul mengesankan logat Melayu. Sempurna sudah. Maka Tono diam saja. Dia tahu betul kalau mempertahankan garis keturunan bagi keluarga Septia adalah suatu kebanggaan. Pembeda-bedaan atas dasar suku di jaman modern begini memang belum hilang. Kalau sudah mengatasnamakan “pelestarian suku”, cinta cuma sebatas sampai di muara.

“Silakan masuk! Jangan sungkan. Pasti letih perjalanan seharian dari kota. Oh ya, mau minum apa, Dik Anton?” tanya Pak Hasan. Bu Hasan manggut-manggut saja di sebelahnya. Ramah sekali mereka berdua pada lelaki paruh baya itu yang berkemeja putih bersih, celana coklat tua, dan sepatu licin yang mereknya entah apa –pasti mahal.

Pun begitu pada Septia. Gadis kurus yang mukanya seperti jeruk purut sedari awal kedatangan Tono, mendadak sumringah. Menyambut tangan lelaki itu, lalu menuntunnya duduk berdua di sofa yang lebih panjang –seperti umumnya ruang tamu kalangan menengah; ada dua kursi pendek yang mengapit satu kursi panjang dan meja. Tono tentu berada di kursi yang lebih pendek. Pas betul buat sendirian.

Bibir Septia lancar saja bertanya-jawab dengan tamu baru itu. Seperti ini:

“Bang Anton, kok mau kemari tidak sms dulu sih!”

atau, “Bagaimana pabrik tempe dan kios-kios minyak di kota? Lancar bin laris kan?”

atau yang lebih tolol lagi, “Cariin pekerjaan buat Septia sih, bosen nih di dapur!”

Tono menyimak saja. Rasa-rasanya mau tertawa. Bukan karena Tono sedang berada dalam kesatiran, atau dalam posisi sebagai pencinta yang dicuekin si pujaan hati, atau dalam nomor urut antrian yang pertama, dan juga bukan karena Tono tidak bisa apa-apa lagi selain tertawa, tapi mimik wajah Anton yang takut-takut atau malu-malu itu terlihat merah tomat. Dan Septia terus saja memburu dengan pertanyaan basa-basi ala gadis kampung biasanya.

“Bang Tono! Jangan berisik ih!” hardik Septia tiba-tiba, kasar sekali, risih melihat Tono yang gelagapan menahan tawa.

“Bang Tono!”

Septia berdiri. Anton juga berdiri. Pak Hasan dan Bu Hasan keluar kamar. Tono dikepung empat pasang mata yang sebentar lagi menyala. Dan Tono malah ngakak sekeras-kerasnya sambil memukul-mukul meja. Menyedihkan. Selanjutnya: “Plak!”

***

Tono adalah panggilannya, si Lajang Lapuk adalah julukan yang diberikan orang-orang kampung Melayu padanya, dan dia sama sekali tidak mangkir atas hal itu. Dia seorang yang sungguh mencintai laut, sebagai timbal baliknya, ombak-ombak selalu mendekat di mana pun dia berada: di pinggir-tengah laut, atau di dalam sebentuk wadah yang punya nama bagus, “asmara”. Ombak-ombak itu setia di dekatnya, dan pasti bersorak girang bila saja Tono jatuh terlalu lama. Sudah bisa digulung, pikir ombak-ombak, barangkali.

Tono memang bukan orang Melayu, dan dia memang tidak berhak mengaku-ngaku atau berdalih ini-itu. Tono cukup sadar diri bila ia cuma orang hilang yang muasal sebenarnya dari tanah sebrang, dari tanah yang penduduk aslinya tersebar di mana-mana. Ini saja baru nasibnya, belum lagi yang kebetulan naas dioper kaum kolonial ke Negeri Siam, Jepang, atau daerah-daerah di Eropa. Terlalu banyak berita untuk sekadar tahu hal itu.

Dan memang bukan sekadar keputus-asaan biasa bila Tono belakangan ini lebih banyak mengelak dari tatapan-tatapan sarat ejekan. Jiwanya tertekan, dia sudah sadari hal ini. Adalah satu-satunya keberuntungan bagi Tono: sekomplot ikan kecil di bawah perahu yang menggelikan. Sedari kecil hingga Tono sudah besar seperti sekarang ini, ikan-ikan itu belum bisa membedakan antara pelet yang dijadikan umpan dan yang dihamburkan secara gratisan. Kegoblokan ikan-ikan memang jadi hiburan khas bagi Tono.

“Sebaiknya kalian bermain jangan jauh-jauh dari sang induk,”

atau, “Eh, ketemu lagi di siang hari yang panas begini,”

atau, “Dasar ikan! tidak pernah sekolah,”

Perkataan-perkataan goblok seperti itu selalu keluar dari mulut Tono untuk mengusir kantuk di atas perahu yang berayun-ayun di tengah lautan, seharian.

2008

Tinggalkan Komentar