Koma
Desember 17th, 2008 by Didi Arsandi
Akhirnya sampai juga saya di sini, sebuah tempat yang amat gelap dan sunyi, yang mungkin tak ada lagi lapisan langit di atas sana. Segala bintang, matahari, dan bulan tidak ditugasi di sini. Tidak ada apa-apa. Kosong melompong tanpa burung-burung walet yang suka berseliweran di sore hari, tanpa awan putih-kelabu yang sering dijadikan landasan prakiraan cuaca hari esok, juga tanpa kunang-kunang yang kerap keluyuran di langit malam. Tidak ada benda yang bisa dilihat di atas sana, cuma gelap yang sia-sia bila diterawang.
Dan yang sedang saya injak ini, mungkin juga masih berupa tanah. Ya, mungkin cuma tanah biasa. Sangat biasa hingga tidak terasa adanya lumut yang lembut, tulang ikan, serbuk beling, atau batuan kerikil untuk terapi bagi penderita reumatik. Tidak, di bawah saya juga tidak ada apa-apa. Bahkan setelah berputar-putar sebentar tanpa arah, tak pernah kaki saya terantuk batu atau balok-balok kayu. Juga tak ada semak atau alang-alang, apatah lagi seekor bekicot yang jika terinjak menimbulkan bunyi serenyah kerupuk atau kulit kuaci. Setelah meraba dan menciumnya, yakinlah saya bila ini cuma tanah biasa yang tak usah dijelaskan apa saja kandungan zat di dalamnya. Bukan urusan saya.
Sekarang ini, saya cuma mau duduk-duduk saja sambil mengingat-ingat beragam bunyi burung bila berkicau. Aha! Saya masih ingat suara kwok-kwok burung hantu di pokok pinang belakang rumah kemarin malam, keberisikan pipit-pipit yang mencuri setangkai-dua tangkai padi pagi tadi di hamparan sawah, atau kata-kata bagus yang terlontar dari paruh bengkok beo muda punya tetangga saya, “Sekali merdeka, tetap merdeka lho, Om!”
Wah! Siapa yang tega betul memperalat unggas apes itu untuk berkata-kata? Sinuhun, pemiliknya itu? Tidak mungkin, tetangga saya itu cuma pedagang ‘bunga hutang’ merangkap tukang pukul dari seorang tambun yang berkedudukan tinggi di kantor pemerintahan. Dia itu belum dan sepertinya tidak mungkin berslogan. Seingat saya, Sinuhun cuma pandai beriklan.
Lagi pula, di mana pun juga, selama masih di planet biru yang konon paling apik dari seluruh planet dalam tata surya, belum pernah ada dua atau tiga atau empat kata ‘merdeka’ yang berurutan dalam satu rantai. Mesti berselang-seling. Sekali merdeka, maka yang kedua bisa berbalik ditindas, dan yang ketiga berkemungkinan untuk merdeka lagi, dan yang keempat belum tentu makmur-sentosa, dan yang kelima boleh jadi gilirannya untuk diperbudak, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan dengan alasan itulah, saya memutuskan pergi ke tempat ini, sebuah tempat yang amat gelap dan sunyi.
***
Tidak ada waktu, maka tidak ada perhitungan. Mungkin bila dikira-kira, bukan baru sehari-dua hari saya berada di sini. Tiga hari. Sendirian saja. Saya menjerit-jerit sepuasnya, jungkir-balik, jongkok, berlari sprint sejauh-jauhnya, dan tidur. Toh, ketika bangun saya masih di tempat ini. Masih gelap dan sunyi. Bosan juga.
Saya kangen anak-istri saya, saya rindu suara latah Marpuat, seorang ‘organisatoris kiri’, yang karena itu dia selalu diburu-buru polisi, dan saya ingin bermain-main lagi dengan tangkai-tangkai padi, belut lumpur, atau kecebong yang mulai susut ekornya sebelum benar-benar menjadi katak. Saya tidak bisa terus-terusan di sini. Saya belum mati, dan tidak boleh mati sebagai pengecut yang mencari aman di titik permasalahan. Tidak!
Pokoknya saya harus kembali ke dunia. Saya tidak takut bila dada saya akan dilubangi lagi gara-gara dicap orang sosialis. Nggak juga, tuh. Saya cuma tidak mau kapitalisme balik lagi ke negeri ini. Negeri ini terlalu kikuk untuk berdemokrasi, karena sudah terbiasa dengan pen-strata-an masyarakat dan aturan kerajaan. Demokrasi cuma slogan. Itulah kenyataan yang paling sederhana sedari dulu hingga sekarang. Titik!
Lagi pula, kasihan juga pak dokter yang gugup, gagap, dan panik lantaran dimaki-maki istri saya, “Dokter tolol! Membangunkan orang sakit saja tidak bisa,” atau “Setrum lagi! Ayo setrum lagi! Biar jantung suamiku berdegup lagi!”
Tenang saja, Dik, Abang akan pulang ke badan sebentar lagi. Abang tidak mau terus-terusan di tempat yang amat gelap dan sunyi ini. Abang kan belum disuruh mati?
2008
DALIJO OYEEEEEE………..
CRISH eneng lanang bagus neng produser
hadi bagus dewe sak editor
ya ampun….
blum pernah koma nie,, emg gitu y rasanya koma?
mati lage…..mati LaGe……! ! !…..o…ya kah?????