KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kala Hujan

Sebentar lagi akan turun hujan. Sebentar lagi. Pertanda itu sudah muncul, mencuat di langit. Bantalan-bantalan hitam sudah memenuhi, menutupi segala yang cerah sang mega. Langit terlihat kelam. Begitu hitam. Angin bertiup kencang. Dingin mengoyak-ngoyak suasana hangat. Aku takut. Takut sekali. Aku merasa akan terjadi sesuatu. Musibah besar, karena pertanda itu persis pertanda tahun lalu. Pertanda akan datangnya banjir besar. Dimana aku harus kehilangan orang-orang yang aku kasihi. Dimana aku harus merelakan mereka hanyut dibawa arus air yang begitu deras.

Langit kelam ini, mengusik memori kelamku. Mengangahkan kembali luka, sayatan-sayatan kecil yang hampir sembuh. Membuatku tak kuasa menahan buliran air bening dari indra penglihatanku, yang akhirnya kubiarkan menetes. Berderai. Bercucuran. Ikut mendeskripsikan suasana hatiku saat ini. Galau.

Tapi berbeda denganku. Tetanggaku, Mak Edah yang sekarang hanya bisa duduk di kursi roda yang sudah mulai karatan itu mengekspresikan wajah yang sebaliknya. Ia tampak bahagia. Senyum selalu menghiasi bibir pucatnya kala hujan turun. Benar-benar tampak bahagia.

Seperti kataku, Mak Edah memang selalu begitu. Bila mendung sudah menapaki cakrawala, ia pasti sudah berada di serambi rumahnya. Dan ketika hujan turun ia pasti bersorak ria, tangannya menengadah mencoba menangkap dan merasakan kesejukan percikan-percikan air murni yang langsung menetes dari langit itu. Lalu tubuhnya yang kerempeng ia biarkan basah dan kedinginan. Mak Edah benar-benar suka hujan.

Dan aku. Aku sama sekali tak menyukai hujan. Bagiku hujan begitu menakutkan. Kala hujan turun aku tak bisa berbuat apa-apa. Selalu berdiam diri, menangisi kisah pahit yang sudah berlalu tapi tetap membekas, tertancap begitu dalam di sanubariku. Kala hujan turun aku hanya bisa bersembunyi di balik selimut tebalku. Kalaupun ada keberanian, paling aku hanya berani menatap hujan di balik jendela yang kacanya tertutup rapat.

Entah mengapa bayangan-bayangan kelam itu, masih saja menyelimutiku hingga saat ini. Padahal bayangan itu hanya sebatas ketakutan belaka. Dan anehnya aku baru tersadarkan ketika hujan telah berhenti. Dan aku baru bisa tersenyum lega ketika melihat aksesoris langit tujuh warna telah tampak dengan sketsa keindahannya. Ya, saat itu baru aku yakin kalau sebenarnya tidak terjadi  apa-apa. Semua baik-baik saja.

Terus terang aku jemu dengan semua ini. Aku ingin lepas, bebas, dari ketakutanku ini yang sudah menjajahku terlalu lama. Aku ingin seperti Mak Edah yang tak pernah takut dengan hujan, sederas apapun. Justru sebaliknya, selalu sumringah. Bahagia. Tapi aku tak bisa. Aku sudah mencobanya berulang-ulang kali. Berbagai cara pun sudah kutempuh. Tapi hasilnya nihil, kenyataannya aku hanya bisa bersembunyi di balik selimut tebalku.Ya, aku tetap terjerat dalam ketakutanku sendiri.

Aku ingat waktu itu, masa kecilku. Aku begitu suka hujan, persis seperti Mak Edah. Sumringah. Bahagia. Hujan selalu kunanti-nantikan. Aku selalu berharap setiap hari turun hujan, hujan yang lebat. Hujan yang bisa mengguyur tubuh mungilku hingga basah kuyup dan kedinginan. Entah mengapa pada saat itu aku begitu suka dengan dinginnya hujan. Begitu bahagia. Ya, rasanya seperti diberi puluhan permen lolipop.

Seperti Mak Edah, bila mendung sudah menapaki langit aku pasti sudah ada di serambi rumahku, tengah bersiap-siap untuk merasakan  derasnya hujan. Beramai-ramai atau sendiri, aku tetap enjoy.

Aku juga teringat  waktu itu. Aku demam. Aku terkena demam karena terlalu lama diguyur hujan. Aku membuat ibuku cemas. Saking cemasnya Ibu sampai menangis. Bagaimana Ibu tidak menangis, sudah berminggu-minggu demamku tak juga turun. Dan aku juga ingat, Ayah waktu itu memarahiku habis-habisan, tidak peduli aku sedang sakit. Itu kali pertama aku melihat Ayah marah pada anaknya. Sebelumnya, kalau kami, anak-anaknya dimarahi Ibu pasti Ayah datang. Datang  merangkul kami terus bilang, Ayo minta maaf sama Ibu dan jangan diulangi lagi. Tapi saat itu, Ayah benar-benar marah. Sampai-sampai aku melihat bayangan tanduk di kepalanya. Ayah memarahiku dan mengultimatumku. Aku dibuatnya jera, benar-benar jera. Aku tidak mau lagi mengulanginya. Dan itu terakhir kalinya aku merasakan derasnya hujan.

Setelah kejadian itu aku memang tak pernah bermain hujan lagi. Tapi pada saat itu aku tetap suka hujan, walaupun aku hanya bisa melihat dan menikmatinya di balik jendela yang tertutup rapat. Aku tetap senang. Aku bahagia melihat hujan saat itu, seperti Mak Edah saat ini.

Sekarang kebahagian itu tak pernah aku rasakan lagi. Hujan yang dulu begitu indah dan menyenangkan kini tampak menakutkan. Kenangan indah masa kecilku dengan hujan, terhapus sudah berganti dengan rasa ketakutanku.

Trauma. Aku trauma dengan hujan. Hujan merenggut semua yang aku miliki. Keluarga hanyut, cita dan asa mengawang-awang. Aku kehilangan semuanya, susah untuk diraih kembali. Terus terang aku begitu iri dengan Mak Edah, sampai tua ia bisa menikmati hujan dengan sketsa keindahan masa lalunya. Sementara aku, aku terjebak dengan kemunafikanku sendiri. Kenangan masa laluku yang indah dengan hujan kini hanya tersisa bayangan-bayangan kelam, yang semakin lama semakin kelam.

&&&

Pagi. Ya, sudah pagi. Sudah terdengar siulan manis yang dilantunkan burung-burung mungil yang tengah mencari makan. Sudah terpampang pemandangan hijau basah tampak menyegarkan pikiran. Matahari pun telah bersinar begitu cerah, menghangatkan tulang rusukku yang semalaman terasa begitu beku, kaku karena digerogoti oleh rasa dingin.  Dan pagi ini aku tak perlu bersembunyi di bawah selimut tebalku yang pengap. Ya itu dia, karena awan kali ini tak segelap yang lalu justru begitu indah, membentuk tabir yang berlapis-lapis terang. Artinya, kemungkinan besar tak akan turun hujan.

Kunikmati secangkir teh yang hampir dingin. Ketika hendak kuteguk tegukan kedua, tiba-tiba kudengar suara cempreng memanggil namaku.

“Kak Fatma…. ”

Aku sedikit kaget melihat sosok gadis kecil bersweater hijau cerah yang begitu akrab memanggil namaku itu.

“ Leli, ayo masuk!”

Kaki mungil Leli terlihat bergetar melangkah masuk ke dalam ruang tamu, mengusikku untuk bertanya.

“Kamu kenapa gemetaran gitu?” tanyaku tidak bermaksud mengintrogasinya.

“Tidak papa kok Kak, saya hanya kedinginan, semalaman saya dan Ibu kebasahan. Genteng rumah bocor lagi,” jawabnya polos.

“Lo, kan seminggu lalu dah diperbaiki. Kok bisa bocor lagi?” Kali ini aku sudah seperti polisi yang mengintrogasi Leli.

“Tau tu Kak, Emak. Mak sengaja menyuruh tukang untuk tidak benerin genteng yang bocor di kamar.”

Kali ini apa yang Leli utarakan benar-benar menikam pikiranku. Benar-benar membuatku tak mengerti. Entah apa yang ada dalam benak ibu Leli, Mak Edah, aku tak paham.

“Trus Kakak bisa bantu apa?”

“Saya mau minta jahe.”

“Untuk makmu?”

“Iya Kak, Mak batuk berat.”

Sudah kutebak. Kemarin, Ketika melihat Mak Edah asyik bermain dengan rinai hujan, aku sudah mengira ia akan kena batuk berat. Tapi mengapa Mak Edah tak menghiraukan kesehatannya, justru sebaliknya ia biarkan tubuhnya yang rapuh basah kuyup diguyur hujan.

“Kenapa makmu tak dibawa ke dokter saja?”

“Mak tidak mau, Mak hanya mau minum jahe. Trimakasih Kak , saya pulang dulu ya.” Leli berlalu, ia tampak terburu-buru.

&&&

Ba’da dzuhur, aku berniat menjenguk Mak Edah sekalian bersilaturahmi. Karena selama ini aku belum pernah ke rumah mereka, sejak mereka menjadi warga sini, kira-kira enam bulan yang lalu. Bukan cuek, atau sombong tapi ini lebih dikarenakan keadaanku yang tak karuan.

Akhirnya, kami bisa saling bertatap muka setelah sekian lama kami bertetangga. Mak Edah yang selama ini hanya bisa kulihat di balik jendela rumahku kala hujan, bisa kupandangi lebih dekat, bisa kusapa lebih intim.

“Bagaimana keadaan Mak? Air seduhan jahenya sudah diminum belum?”

“Alhamdulillah, sudah baikan Nak. Trimakasih ya, atas jahenya.”

Sekarang mata mak Edah menerawang, kosong. Bibir pucatnya saling mengulum. Membisu, hanya nafasnya yang bergetar, menembus, memecah udara basah.

“ Nak, apa hari ini akan turun hujan lagi?” Bibir wanita setengah baya itu kembali bergetar, memulai dialog denganku.

“Mungkin,” jawabku ragu.

“Kenapa mungkin ? Mengapa tidak bilang saja ‘ya’ atau ‘tidak’ ? ”

Aku terdiam. Perasaanku gusar. Berusaha menyembunyikan ketidakberdayaanku akan hujan. Mak Edah tidak tahu kalau aku sebenarnya berharap hari ini dan seterusnya tidak akan turun hujan lagi. Dan Mak Edah juga tidak tahu sebenarnya tujuan aku datang ke rumahnya bukan hanya menjenguknya atau sekedar bersilaturahmi, tapi juga karena aku ingin mencari tahu apa yang membuat Mak Edah begitu suka dengan hujan. Tapi, aku tak tahu harus memulai dari mana.

Tapi karena nekad, akhirnya kumulai juga.

“Mak, apa Mak berharap hari ini hujan lagi?” Aku memulai dialog dengan pertanyaan yang kurang bermutu, yang sebenarnya sama sekali tak ingin aku lontarkan. Mak Edah  hanya tersenyum simpul, membuatku semakin penasaran.

“Hujan, hujan bagiku adalah surga.” Tiba-tiba pikiranku kembali tertikam, dalam. Mencoba menyibak makna di balik kalimat yang baru saja mak Edah lontarkan.

“Surga?”

“Ya, surga. Hujan menyimpan kenangan indah aku dan suamiku.”

“Suami?”

Ya, suami. Suami Mak Edah yang tak pernah aku lihat. Di mana dia sekarang? Apakah sudah meninggal? Atau…

Rasa penasaran membuatku berani untuk bertanya panjang lebar. Dan ternyata membuahkan hasil. Mak Edah tak keberatan menceritakan masa lalunya dengan hujan dan suami tercinta. Rona kebahagian menghiasi wajahnya yang sudah mulai keriput saat bercerita. Kenangan mak Edah dengan hujan memang begitu indah. Mak Edah bilang, sang suami menyatakan cintanya pada saat hujan. Pada saat itu ayah Leli mengutarakan perasaannya dengan lagu dan iringan gitar yang terdengar mellow. Bukan hanya saat itu. Saat melamar Mak Edah juga masih dibalut dengan suasana hujan. Romantis. Sungguh romantis, sampai-sampai aku juga turut merasakannya. Tapi, ada satu hal yang belum aku ketahui juga, di mana pujaan hati Mak Edah itu sekarang? Apakah sudah… Ah, tapi lebih baik aku langsung menanyakannya saja kepadanya.

“Mak maaf sebelumya, kalau boleh aku tahu, dimana ayah Leli sekarang?”

Mak Edah bungkam. Matanya berkaca-kaca. Rona kebahagian di wajahnya menjadi buram. Suasana terdiam kembali.

“Ayah menikah lagi.” Tiba-tiba saja Leli menjawab dengan nada suara yang terdengar parau.

“Apa?” Aku tersentak kaget. “Kok?”

“Iya, dia menikah lagi, tapi ini bukan karena kesalahannya. Ini karena kesalahanku, tak bisa membahagiakannya lagi. Keadaanku yang seperti ini tak bisa mengurusnya lagi.” Mak Edah tegar, walau air matanya tak berhenti menetes.

Sekarang aku semakin tak mengerti. Apakah arti cinta suami Mak Edah sesempit itu? Ketika pasangannya telah kehilangan fungsinya maka cinta yang dulu begitu halus membelai rasa, menghidupkan sukma, surut begitu saja bahkan hilang. Ya Allah, ternyata arti cinta di hadapan suami Mak Edah tak lebih dari alat atau barang, ketika sudah reok dibuang begitu saja.

Tapi, aku salut dengan Mak Edah yang begitu tegar. Tak pernah menyalahkan siapa-siapa, justru selalu bahagia dengan kenangannya bersama hujan. Kenangan bersama hujan yang begitu indah sekaligus begitu memilukan. Sementara aku? Aku rapuh mengenang hujan. Tapi aku sekarang berusaha tegar. Berusaha bahagia kala hujan. Seperti Mak Edah, kala hujan.

Rinai hujan hari ini
Tak lagi semburatkan kelam kusam
Tak lagi menggores duka lara

Justru membentuk senyum pelangi

Sang maha karya Tuhan

Makassar, 30 Oktober 2008

Tinggalkan Komentar