KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Hari Kemenanganku

Hari yang cerah, siang itu dengan ringan aku melangkahkan kaki ke taman kampus. Hari ini aku ada janji dengan Frisa, sahabat terbaikku. Siang ini kuliah kosong kami pun janji untuk bertemu dan jalan-jalan. Hari ini sahabatku mengajak untuk mengunjungi ‘Cavé’, sebuah kafe kecil baru di pusat kota yang menyajikan es krim dan coklat sebagai menu favorit. Hmm.. pasti lezat sekali, rasanya tidak sabar mencobanya.

Sudah dua tahun lamanya kami bersahabat. Aku tidak pernah habis pikir mengapa gadis dengan kategori “sempurna” seperti Frisa bersedia berteman dengan diriku. Dalam kacamata laki-laki maupun wanita, Frisa memang gadis yang dengan sukses masuk kategori ini, karena disamping cantik, kaya, pintar serta sifatnya yang menyenangkan, dia bahkan tidak pernah membeda-bedakan teman dalam pergaulan, khususnya untuk bersahabat dengan diriku.

Kelebihan yang selalu disanjung dan dikagumi setiap orang di kampus ini mengingatkanku akan istilah  3 B (Brain, Beauty, Behavior) seorang Miss Universe, istilah yang terdengar berlebihan tapi aku yakin semua orang akan mengangguk setuju bila mendengarnya. Dengan segala kelebihannya itu tidak heran apabila ia selalu dikejar banyak teman pria, namun dengan halus Frisa menolak mereka untuk menjadi kekasih. Aku tidak pernah tahu alasannya kenapa, yang aku tahu bahwa masalah hati seseorang memang tidak ada sesuatupun yang dapat memaksa ataupun menduganya.

“Boni! Bon…”

“Eh iya!” Aku menyahut panggilan suara yang tiba-tiba memangilku.

“Hayoo ngapain bengong aja? Lagi mikirin Sena yah?”

“Iih… apaan sih?”

“Hi..hi..hi.. becanda Neng… udah siap? Jalan sekarang yuks…” Dengan sigap dia langsung mengandeng dan menarikku ke arah mobilnya di parkiran.

Persahabatan kami adalah persahabatan yang unik, persahabatan yang dibangun dari sebuah perbedaan. Bagaikan dua kutub yang berbeda namun merupakan satu kesatuan dan saling melengkapi. Diriku yang rapuh, dirinya yang kuat, diriku yang introvert dan dirinya yang ekstrovert, satu-satunya persamaan kami mungkin bahwa  kami berdua adalah anak tunggal.

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya, kami berdua adalah mahasiswi baru yang sedang menjalani OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus). Dia begitu bersemangat untuk berteman denganku, sedangkan saat itu aku yang masih begitu trauma dan dihantui mimpi buruk masa lalu, sama sekali tak bergairah membuka hubungan pertemanan. Namun dia tak pernah menyerah, dengan sikapnya yang selalu ceria dia seakan menarikku ke kutub kehidupannya dan sejak saat itu dia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupku.

      ***

Mobil sedan kami melaju kencang menuju pusat kota, di sepanjang jalan seperti biasa dengan antusias Frisa menceritakan segala macam cerita dan kegiatannya. Lalu sesampainya di sebuah pusat perbelanjaan besar, dia membelokkan mobilnya menuju pelataran parkir.

“Boni, kita belanja dulu yah, Aku mau cari baju sama kado untuk ulang-tahun mamaku.”

“Oke sip, aku juga lagi cari-cari baju soalnya THR dari Mama sudah turun…hehe..”

Acara belanja-belanja di mall ini selalu mengingatkanku pada pengalaman seru kami berdua beberapa bulan yang lalu. Saat itu Frisa mencetuskan proyek “gila” untuk me-make over diriku, dengan kata lain adalah merubah penampilanku habis-habisan dari ujung kuku sampai dengan ujung rambut. Proyek yang tercetus berkat rencana kencan pertamaku dengan Sena-teman kencanku-itu pada awalnya kutolak, namun karena desakan Frisa dan keinginan untuk tampil beda di depan Sena, akhirnya aku pun menyetujuinya.

Proyek itu dimulai dengan membeli pakaian dan sepatu indah untukku, lalu make up, serta menata rambut dan badanku di salon perawatan kecantikan langganan Frisa. Hasilnya? Aku hanya bisa terdiam memandang bayangan diriku di cermin begitu menakjubkan, dan Frisa pun tersenyum puas.

Sena adalah ketua Senat Mahasiswa di kampus kami, sudah lama secara diam-diam aku mengaguminya, bukan karena kepopulerannya atau ketampanannya. Sena tidak tampan tapi dia memiliki sesuatu yang tidak kulihat ada pada orang lain; ketenangannya dalan segala situasi yang menyejukan kawan dan lawan, selera humor yang menyenangkan, dan religiusitas yang membuat banyak wanita jatuh hati. Aku tahu hubunganku dengan Sena mungkin tidak akan pernah terwujud tanpa campur tangan Frisa. Sebagai sahabatku dialah yang selalu mendorongku untuk bersikap lebih terbuka terhadap Sena, sedangkan tanpa kuketahui bagaimana caranya, sebagai anggota Senat Mahasiswa dan tangan kanan Sena, Frisalah yang sedikit demi sedikit membukakan hati Sena untukku.

Setelah berputar-putar beberapa lama di Mall, kami membeli beberapa potong pakaian untuk kami berdua serta sebuah tas tangan kulit cantik berwarna merah maroon untuk kado ibunya. Perjalanan langsung kami lanjutkan ke kafe ‘cavé’ untuk berbuka puasa bersama. Di tengah jalan menuju kafe tiba-tiba  handphone Frisa berbunyi dan ekspresinya yang semula ceria berubah menjadi kecemasan. Seketika Frisa memutar balik mobilnya, membuatku bertanya-tanya kebingungan.

“Ada apa Fris??”

“Maaf yah kita gak jadi ke kafe hari ini….”

“Tapi ada apa sebenarnya??”

“Aku harus ke rumah-sakit sekarang, kakakku kritis…”

Napas Frisa terdengar memburu, aku pun berusaha menenangkannya dan memutuskan untuk ikut ke rumah-sakit.

Sesampainya di rumah sakit kami langsung menuju ke arah ruang tunggu UGD, di ruang tunggu itu aku melihat ibunda dan beberapa kerabat Frisa sudah berada di sana. Dengan terus terisak beliau memeluk Frisa dengan erat. Beberapa lama kemudian dokter keluar dan memberi tahu kami bahwa pasien telah berhasil melalui masa kritis dan telah dipindahkan ke kamar perawatan. Keadaan itu kurasakan begitu suram dan mencekam.

Dalam langkah kakiku menuju kamar perawatan, ada satu hal mengganjal yang terus aku pikirkan. Aku teringat perkataan Frisa; “Kakakku kritis…”. Kakak? Sejak kapan dia memiliki seorang kakak? Mengapa tidak pernah memperkenalkannya kepadaku? Karena yang aku tahu selama ini bahwa Frisa adalah anak tunggal, sama sepertiku. Aku tidak sampai hati untuk menanyakan pertanyaan bernada interogasi itu saat ini. Hal yang aku ingin ketahui jika dia memang memiliki seorang kakak,  seperti apakah kakak sahabatku itu, mengapa ia menyembunyikannya dariku.

Aku memasuki kamar nomor 306 itu dengan perlahan, seorang gadis terbaring dengan tenang, begitu banyak selang di tubuhnya. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas, tirai penyekat menghalangi sebagian wajahnya. Frisa dan keluarganya segera masuk dan berdiri melingkari ranjang gadis itu. Mataku lalu tertuju pada sebuah papan yang tergantung pada bagian bawah ranjang, tertulis nama pasien dan nama dokter yang merawatnya disitu.

Tiba-tiba tenggorokanku tercekat, tertulis nama gadis itu ‘ADINDA PUTRI’, tidak mungkin, ini pasti kesalahan, mana mungkin mimpi buruk itu adalah kakak sahabatku. Dengan sigap kubuka tirai penyekat, ya Tuhan, benar itu dia, tidak salah lagi. Entah bagaimana saat itu aku merasakan seakan ruangan menyempit dan aku tak dapat bernapas lagi, aku pun berlari dan terus berlari meninggalkan kamar itu. Samar-samar aku mendengar suara Frisa memanggil namaku, aku tak peduli, aku hanya ingin pergi dan berlari.

***

Aku berada di WC sekolah, tiba-tiba seseorang menjambak rambutku dengan kuat dan menariknya, beberapa tangan memegangi tubuhku, aku meronta-ronta dengan sekuat tenaga, tapi seberapa kuat pun aku meronta bertambah kuat juga tangan-tangan itu memegangku. Plak! Tamparan keras mendarat di kedua pipiku, sakit sekali, aku pun berteriak. Mereka menarikku menuju kloset dan membenamkan sebagian wajahku di sana, sesak…sakit…aku tak bisa bernapas, ya Tuhan tolong aku… Akhirnya mereka melepasku, sesosok gadis menyeringai padaku dan berkata, “Itulah hukuman yang pantas buat lo!”. Sosok yang tidak pernah aku lupakan, dialah Adinda Putri.

Aku terbangun, tubuhku menggigil basah bersimbah keringat. Mimpi buruk lagi, mimpi buruk kenangan masa laluku di SMA. Kenapa terulang lagi, mimpi buruk ini, apakah kejadian hari ini telah mengguncang alam bawah sadarku, membuka luka lama yang telah kukubur dalam-dalam, membangkitkan trauma terbesar dalam hidupku.

Aku menjalani masa-masa sekolah SMAku bagai di neraka, pelecehan dan kekerasan fisik maupun verbal kuterima hari demi hari. Aku berusaha tegar dan kuat menghadapinya, hanya dengan satu keyakinan akulah di pihak yang benar. Kejadian ini pada awalnya hanya bermula dari satu kesalahan. Aku terlalu dekat dengannya, seorang Rio yang sempurna, Rio yang disukai  oleh banyak wanita, Rio yang juga disukai oleh Adinda, gadis berpengaruh di gank sekolah. Tapi tidak, seharusnya ini bukanlah suatu kesalahan, aku pun melawannya.

Tekadku untuk melawan genk tersebut serta kebodohanku untuk bersikap diam kepada orang tua dan guru telah membawa akibat yang fatal. Setiap hari aku dicekam ketakutan dan kecemasan. Sejak saat itu aku pun memilih untuk menutup diri dan tidak mempercayai siapapun, sebelum akhirnya bertemu Frisa yang mengembalikan duniaku.

***

Pagi itu teleponku berdering, Frisa menelepon, aku langsung mematikannya. Aku tahu aku salah, tidak seharusnya aku bersikap begini kepada sahabatku sendiri, tapi aku merasa muak berhubungan dengan segala sesuatu yang dekat dengan gadis jahat itu, apalagi dengan adiknya sendiri. Maka untuk beberapa hari ke depan aku memutuskan untuk menghindarinya. Namun siang itu di kampus Frisa menemuiku di kelas dan memaksaku untuk berbicara.

“Aku tahu kamu menghindariku. Sudah beberapa kali aku telepon ke rumah dan HP tapi nggak pernah dijawab. Salahku apa Bon?”

“Tidak ada.”

“Boni please…”

“Sudahlah, ngomong-ngomong apa kabar kakakmu? Kenapa kamu nggak pernah cerita punya kakak?”

“Ehm.. aku…aku..”

Mendengar pertanyaanku seketika itu wajah Frisa memerah dan kebingungan. Aku pun melanjutkan pertanyaanku.

“Kenapa? Soalnya selama ini yang aku tahu kamu anak tunggal kan?”

“Boni, maafin aku, aku nggak pernah bermaksud bohongin kamu, sungguh, aku sudah lama ingin memberi tahu tapi kamu harus tahu aku tulus menjadi sahabatmu dan aku nggak ingin persahabatan ini berakhir.”

“Maksudnya??”

Mata Frisa berkaca-kaca, ada kesedihan terpancar disana, lalu dia pun melanjutkan perkataannya.

“ Aku… aku sebenarnya bukan anak tunggal, Adinda memang kakak kandungku dan dia menyuruhku untuk tidak mengatakannya padamu.”

“Lalu?”

“Dia juga yang memintaku untuk jadi sahabatmu”

“Apa??”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa, jadi selama ini persahabatan kami hanyalah kepalsuan, sahabat yang begitu besar artinya bagiku hanyalah seorang penipu. Aku merasa ditikam dari belakang, hatiku sakit, rasanya seribu kali lebih sakit dari putus cinta sekalipun. Aku tidak butuh seorang penipu, aku tidak butuh dikasihani.

      ***

Hari ini hari terakhir bulan Ramadhan, aku jadi teringat kejadian hari ini setahun yang lalu; aku, Frisa, teman-teman seangkatan kami dan juga Sena, merayakan malam takbiran dengan acara takbir keliling. Acara tersebut begitu meriah karena kami mengemasnya dalam bentuk karnaval. Berbagai macam kostum, tarian islami, alat musik, serta parade bedug, kami tampilkan. Kami bersatu dalam keanekaragaman, karena ternyata penyelenggara dan peserta acara ini adalah mahasiswa angkatan kami yang berasal dari berbagai latar belakang suku, agama, dan ras. Rasanya begitu damai dan menyenangkan. Namun hari ini aku hanya duduk sendiri di kamarku yang sunyi.

Aku pun teringat Frisa, teringat pertengkaran terakhir kami. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku merindukannya, merindukan persahatan kami, merindukan cerita-cerita dari mulutnya, merindukan ide-ide “gila” yang kami lakukan bersama. Lalu aku sadar, jika memang ini palsu mengapa hanya kebaikan yang dia berikan padaku, jika ini palsu mengapa tidak sekalipun dia pernah mengecewakanku, jika ini palsu mengapa dia yang selalu bisa kuandalkan.

Aku seakan terbangun dari mimpi dan segera meneleponnya, HP nya tidak aktif. Aku harus ke rumahnya, aku harus bicara dengannya. Sore itu aku segera bergegas menuju ke rumahnya, namun tidak ada seorang pun disana. Pikiranku seketika itu juga tertuju ke rumah sakit. “Iya benar, pasti mereka semua ada disana, aku harus ke sana.”

Keadaan Rumah sakit pada malam itu cukup ramai, dokter dan suster berlalu lalang di koridor Rumah Sakit pada malam lebaran itu. Aku segera menuju kamar nomor 306, tapi ranjang di kamar itu kosong, maka aku mencari suster jaga, dan dia memberikan keterangan mengejutkan:
“Pasien dengan nama Adinda Putri sedang menjalani operasi pengangkatan tumor di kepala, silakan Mba ke ruang operasi di lantai empat.”

Akhirnya aku tiba di ruang tunggu operasi lantai empat, seorang suster yang berjalan dengan terburu-buru hampir saja menabrakku. Aku melihat Frisa, matanya sembab oleh air mata, tangannya sibuk memencet HP dan menelepon seseorang. Sejurus kemudian matanya tertuju padaku, dengan ragu-ragu dia mendekatiku.

“Boni?”

“Iya..”

“Bon, maafin aku, aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Boleh aku tahu kenapa? Kenapa kamu melakukan ini?”

“Kak Dinda, dia mengidap tumor ganas di kepalanya, sejak lulus dari SMA dokter memvonis hidupnya tinggal beberapa tahun lagi. Suatu hari dia memintaku untuk menjadi sahabatmu di universitas dan selalu menjagamu. Meskipun aku lebih muda satu tahun dari kalian, tapi di SMA aku mengikuti kelas akselerasi sehingga lulus dengan cepat dan sekarang setingkat dengan kalian. Aku pun tidak tahu kenapa, mungkin dia berpikir hanya inilah cara untuk menebus kesalahannya dimasa lalu. Aku memang pada awalnya hanya mengikuti pemintaannya, permintaan kakakku yang paling kusayang, tapi jujur Bon, setelah itu aku merasakan kamulah sahabat terbaik yang pernah aku miliki.”

Lalu tiba-tiba seorang suster datang dan memotong pembicaraan kami.

“Kami butuh darah bergolongan AB+, pasien mengalami pendarahan hebat, sehingga stok darah kami tidak mencukupi. Kami sudah menghubungi PMI, tetapi ternyata stok darah bergolongan darah tersebut juga habis dikarenakan permintaan meningkat menjelang Lebaran. Jadi bagi orang yang bergolongan AB+ bisa ikut saya sekarang untuk menjadi donor…”

Frisa menggeleng cemas, golongan darahnya bukan AB+, meskipun dia bersaudara dengan Adinda tapi golongan darahnya B+ mengikuti ayahnya, sedangkan ayahnya telah tiada. Tapi golongan darah itu, adalah golonganku.

“Suster saya AB+.” Aku pun menjawab dengan cepat.

Frisa memandangku, mulutnya sedikit terbuka untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata-kata, hanya namaku yang keluar dari mulutnya. Perlahan air mata menetes dari pipinya. Aku pun tersenyum

“Mari ikut saya.” Sesaat kemudian suster berkata kepadaku, memecah keheningan di antara kami.

***

Aku mengamati sedikit demi darahku mengalir memenuhi kantong darah. Ini pasti bukan kebetulan, inilah rencana Tuhan yang indah. Adinda aku memaafkanmu, terima kasih telah mengirimkan sahabat yang terbaik dalam hidupku. Sayup-sayup terdengar di luar takbir berkumandang dengan syahdu. Inilah hari kemenanganku. 

4 Responses to “Hari Kemenanganku”

  1. on 23 Dec 2008 at 15:04pinta

    ceritanya bagus siy. tapi cara menyajikannya udah biasa banget. kehilangan darah, stok darah habis kemudian akhirnya berkorban dan memaafkan. tapi btw, apa hubungannya stok darah dengan permintaan lebaran yah? jadi bingung?????

  2. on 27 Dec 2008 at 20:20le_ny

    Terima kasih dah kasih komen, aku cuma mo jwb pertanyaan Pita aja: klo qta baca berita, pasti qta tau pas menjelang lebaran angka kecelakaan meningkat dan lebih tinggi dari biasanya, truz jmlh pendonor jg berkurang. jd emang pada kenyataannya stok darah di PMI n rumah sakit banyak yg habis n kekurangan stok. Maap ga dijelasin d cerpennya yah…. anyway tengkyu skali lg atas tanggapannya ^^;

  3. on 30 Dec 2008 at 09:29Gendhi

    Bagus, itu aja yg bisa aq ucapkan. Boni cewe apa cowo, namanya kok boni

  4. on 04 Apr 2009 at 11:21Izzoel

    Nama panjangnya Boni tu siapa??

Tinggalkan Komentar