Angin Timur (dari Hari-Hari yang Sia-sia)
Desember 16th, 2008 by suryansyah
k’tong pe sudara-sudara di timur
Kapal kecil itu berlayar meninggalkan teluk dengan dipukul angin Timur di buritan. Bau asam laut yang dilemparkan ombak dan terpencar ke seluruh dek bersahabat dengan bau muntah serta minyak kayu putih. Herson berdiri menyaksikan Gamalama perlahan-lahan menyurutkan punggungnya yang biru dan perkasa di hamparan laut. Lalu kesemuanya menjadi garis lurus berkedap-kedip.
Tak pernah terpikirkan keduanya bisa berada di saat sekarang ini, melihat bulan terakhir tersembul dari balik empat gunung. Dan esok atau berminggu lagi yang jauh di sana matahari Timur mereka akan mengintip dari balik punggung gunung yang lain. Mereka akan sangat merindukan saat pagi tiba dan banyak baikole melonjak-lonjak di dahan-dahan Pala membangunkan. Tapi mereka di laut sekarang, dan di laut semuanya sama, bila datang gejolak bergejolaklah segalanya, bila datang tenang maka tenanglah segalanya, cuma cibak ombak yang menambrak dinding kapal yang akan senantiasa membangunkan mereka.
“Pelabuhan Bastiong sudah lewat Sin, kau lihat tadi kapal menyisir melintas di tepi Tidore, katanya masih berasap kepulan terlihat tinggi?”
“Yyya…” Husin menjawab dengan perasaan berat yang menempel pada ucapannya.
“Kenapa kita pergi, Sin?”
“Lari maksudmu?”
“Yya begitulah….ahhh.. bila saja kita tak pernah pergi.”
“Kau takut rindu, Bocah darat!”
Husin masih menghadapkan wajahnya ke laut, beberapa ekor lumba-lumba berenang tipis di kulit air dan sesekali melompat. Memberi suara seperti siulan.
“Kalau kita tidak pergi lantas bagaimana lagi?”
“Setidaknya kita bisa sembunyi, beberapa hari saja di balik hutan.”
“Ini tidak berlangsung beberapa hari Her”
“Tapi setidaknya kita di sana!” Herson berteriak membentak Husin sambil mengarahkan telunjuknya kekumpulan pulau-pulau kecil yang telah seperti sebuah noktah-noktah yang terang.
“Hahh… Kau mengomel seperti mereka, dan sebentar lagi omelanmu akan sampai ke kepala merusak pikiranmu dan matamu hingga kau bisa melihatku seperti setan”
“Kita bukan setan, mereka yang setan! Setan!!!”
Lalu mereka memilih diam. Tanpa saling berhadap-hadapan.
Pertengkaran itu disudahi dengan sebatang rokok terakhir yang tersisa. Mereka menghisapnya bergantian di samping geladak, menghembuskannya dari mulut dan berharap asap itu bisa membentuk wujud-wujud yang aneh yang bisa ditertawakan. Tapi ternyata tidak ada yang bisa ditertawai di atas kapal ini, cuma puding kelabu yang tersapu di atas laut, lumba-lumba yang capek berenang turun jauh ke dalam kepekat kedalaman laut meninggalkan keduanya. Tak ada lolong hewan, karena di laut selain siul si lumba, hewan lain tak berbicara. Monolog angin bisa membentuk harga mati; Makan itu sunyi! Orang-orang di dalamnya sama dengan mereka berdua, naik dengan tergesa-gesa seperti ingin ke jamban. Wajah mereka itulah wajah laut, dan mata mereka basah seperti kabut.
“Kau tak ke dalam Her? Siapa tahu ada satu keluargamu terselip di sana?”
“Keluarga mana lagi?”
“Pacar mungkin?”
“Isyah maksudmu? Hh, bapaknya hampir menombakku bila saja kau tak cepat datang.”
“Bukankah dulu dia baik padamu, Her?”
“Yya… setidaknya sampai dia melihatku menyapu di halaman gereja Ayan, dan bodohnya lagi aku membuat tanda salib saat kaget melihatnya berdiri di depanku.”
“Setidaknya kau telah belajar banyak dariku untuk Isyah, Her.”
“Bismillah maksudmu?”
“Alfatteha! Bismillah itu ucapan pembuka di semua ayat.”
”Tapi kau menggunakannya kan saat kau menombak seekor rusa Halmahera.”
“Yyya lama sekali itu, entah kapan lagi ke sana.”
Lalu pikiran Herson seperti disapu cahaya cemerlang, menatap Husin sambil memegang dua pundaknya yang delapan senti lebih tinggi dan lebih kekar. Dia memberi usul.
“Ke Halmahera Sin, Halmahera. Bagaimana kalau ke sana, kau mau?”
“Halmahera sebelah mana lagi? Tobelo maksudmu? Nanti malah aku yang ditombak! Dan apa mungkin kau akan ganti datang menolongku? Hhh!”
Husin membuang rokok itu yang tak lagi separoh tarikan apinya akan menyentuh jarinya. Satu titik api kecil itu hilang di tengah lautan sebelum ditiup angin malam. Lautan yang tenang membuat mereka betah melewati sepanjang malam perpisahan. Lalu Husin meraih tasnya menaruhnya di lantai dan berbaring membenamkan kepalanya di sana. Sementara Herson masih saja di tempat tadi berusaha melihat empat gunung yang sudah hilang jauh. Bahkan makin tak terlihat sama sekali. Di sana hanya ada lautan gelap dan berangin, lalu langit hitam yang membungkus laut beserta kapal. Tanpa rembulan.
“Sayang sekali aku tak bisa membaca bintang, padahal bintang sedang ramai di atas.”
Husin kemudian mengutuk dari balik tasnya yang kempes hingga menenggelamkan separoh wajahnya, “Bocah darat, kau tak pantas di laut!
“Tapi aku tak pantas mati! Iya kan Sin?”
Husin tak bergeming dan ia tetap kembali tidur.
“Pernah terpikir, aku di posisimu dan kau di posisiku?
“Hhhuahh…Nggakk!” Husin menjawab sambil melepaskan uap kantuk dari mulutnya, tidak peduli.
“Hh… tapi setidaknya kita tetap saling mengenal maka tiada masalah. Tapi bagaimana seandainya….. tidak… dan yang akan menombakku waktu itu bukan bapaknya Isyah tetapi kau sendiri, bisa aku bayangkan ujung lancip tombak itu menyentuh dadaku, kau menghujamnya dengan deras hingga tak sedikit pun sakit aku rasa, masuk sampai ke dalam mematahkan rusuk lalu menembus jantungku. Dan begitu juga aku tanpa mengenalmu suatu waktu menemukanmu sendiri sembunyi di sebuah mimbar masjid, lalu kuseret engkau keluar, kucincang tubuhmu sebentar lalu membakarmu sebelum kau merasakan mati? Ahh, kurasa ada benarnya kita berdua pergi dan orang-orang ini yang juga pergi. Tidak berada di mana-mana, tempat seharusnya kita berada bukan berarti kita tiada. Tidak ada pada siapa-siapa, pihak yang seharusnya kita memihak bukan berarti kita tanpa arti. Keadaan dimana kita tanpa siapa-siapa justru membuat kita bisa memilih apa saja, tempat mana saja. Kau dengar aku Sin? Hhhm, Bocah pantai! Ombak laut dikira ayunan tidur kau!”
Malam masih panjang, Herson beringsut dari tempatnya dan duduk di samping Husin yang rebah. Dia menarik tasnya juga, ringan tak seberapa, membukanya, mencari satu lembar baju ganti dan memakainya, tanpa dia sadari para penumpang wanita melihatnya dari balik tiang pintu memperhatikan Herson sebagai satu dari beberapa pria yang tersisa di kapal.
Semua pria memilih bertahan di kampung halaman mereka, entah nanti mereka mati atau tetap saja hidup. Sudah terbayang di benak para wanita seandainya kapal ini tetap saja di laut dan semua kampung halaman dipenuhi perang tiada henti, tiada pelabuhan yang bisa disinggahi, maka tiada tempat buat wanita. Karena perang sedari Kabil dan Habil awalnya cuma dari lelaki, oleh lelaki, dan untuk para lelaki. Dan mereka terpaksa harus memulai hidup baru. Melaut bagai kapal pelaut yang dikutuk. Para lelaki yang tersisa ini jadi pengganti. Mereka harus jadi penerus suami-suami mereka. Pejantan mereka untuk mengganti anak-anak mereka yang terlepas dan hanyut di pantai.Tapi pikiran akan hidup baru di tempat seperti ini, bisa saja tidak normal. Dengan segala yang tiba-tiba tenang, tapi nanti, ombak gombal itu juga pun akan merusak kesabaran mereka. Kekacauan terbentuk disetiap ketidakseimbangan pikiran dan perasaan. Lalu mereka akan sama seperti para lelaki mereka yang dulu.
Berebut hidup.
“Tidaaak!!!”
Karena tiba-tiba suara seorang perempuan memekik. Membongkar sunyi laut di dalam kapal. Dia melompat dari bangsal tidurnya, seperti gila.
“Gila!!! Su gila dia!!” Beberapa wanita berteriak dan terbirir-birit bersegera berada jauh dari si wanita gila. Dia membawa kapak. Sebilah kapak dengan lidah lebar yang tajam mengkilat bergagang kayu, mengancam penumpang-penumpang di kapal. Lalu dia mencuap seperti kerasukan.
“Awas!!! Pigi jau, ngoni tra bisa lari! Kamana? Dilao? Di dara k’tong pu tampa hidup tra akang ada tampa lain, ya Jou! D idara katong hidup, ini tamako tahang ngoni lari, jangan la ngoni lari, dilao ngoni mati, inga dilao ngoni mati!”
Ribut itu sampai ke geladak membangunkan Husin. Maka Husin bangkit dari tidur setelah dia mengambil sebilah pisau di salah satu kantung ditasnya. Dicarinya Herson, tapi ternyata sudah lebih dulu ke arah keributan karena sejak tadi dia terus terjaga. Lalu pekik ribut makin kencang. Wanita itu, dia sudah kerasukan ombak, rawan akan amukan. Tiada lelaki satu pun dikapal itu yang mampu menahannya. Dan lelaki hanya ada beberapa, itu pun anak-anak dan para pria tua dengan lutut-lutut oleng yang mabuk laut.
“Awas!!! Jang dekat eeeyy.. awaasss!!”
Dia menyerang, bertubi-tubi.
Sebuah pisau menancap tepat. Membuka arus darah yang menyembur. Lalu lantai kapal jadi merah tua…..
********
Malam itu, semuanya berkumpul dalam upacara sederhana. Herson memimpin doa pemakaman. Orang-orang tercenung diam bagai tercelup ke lautan es. Di setiap perasaan mereka yang terbentuk hanyalah; “Suasana seperti inikah yang tercipta apabila kita tak pernah sampai ke dermaga? Sekujur hati dan jiwa kami menjelma mengikuti laut? Diamnya laut adalah diri mereka sendiri, penuh kerawanan yang sensitif. Kegilaan yang melompat-lompat.
“Lempar saja ke laut!”
Husin balik ke geladak telentang di atas bangsal tidur bekas si wanita gila yang dia bawa. Angin Timur bertiup melap wajah Husin dan bau amis di kapal. Kapal masuk sampai ke laut batang dua, ombak jadi begitu tinggi dan terlipat-lipat. Dia tertidur begitu pulas sebagai bocah laut, berharap kapalnya sampai ke dermaga, dan matahari yang lahir dari balik gunung adalah matahari di punggung Gamalama. Dia bermimpi menombak seekor Rusa Halmahera.