KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pra-Bahasa Perawan

Rasanya sekarang ombak sedang badai besar,

Dari tadi tubuhku terus saja bergoyang,

Kiri-kanan-kiri-kanan-kiri...

Atau, ini hanya ilusi samudra otakku yang kepenuhan.

Beberapa, eh, banyak. Banyak memori tentang orang ini yang semakin berat saja untuk kujejak kembali. Otakku terjejali terlalu banyak tentangnya. Bahkan range untuk statistik I-ku ikut termakan lahannya. Sebenarnya, sejak dulu sudah berat untuk selalu mengingat tentangnya, karena ketika mengingatnya, secara langsung akan menghubungkannya dengan realita yang sebaliknya.

Aku mengaguminya-aku tak akan pernah dikaguminya.

Di umurku yang sudah hampir 19 di tahun ini, istilah pacaran masihlah impian bagiku. Semua orang pasti menertawainya, tak apa, karena aku juga akan menertawakannya, lebih kencang dari tawa kalian semua. Aku masih saja belum yakin, apakah orang ini adalah hatiku? Cintaku yang kedua? Yang pertama? Yang pertama, habis dilahap temanku sendiri. Yang baru ingat kalau cowok yang ditaksirnya, adalah orang yang seharusnya didekatkannya padaku, setelah mereka putus.

Orang ini, sudah lama aku berniat menguras semua tentangnya dari cairan otakku, sudah kubuang rasa ini jauh-jauh, sejak ia mulai melirik seorang yang lain. Saat ini otakku masih saja berdebat denganku, ia tak mau mengeluarkan kata tentang orang itu. Rasanya langit dekat-jauh-dekat-jauh… kepalaku juga ikut, sempit-luas-sempit-luas…

Aku selalu ngeri ketika membayangkan orang ini diambil begitu saja oleh orang semacam monster kriting yang mengaku teman, dan yang diucapnya padaku hanya, “Ups, aku lupa kalo’ kamu yang suka”

Aku mau orang ini. Orang ini, orang ini, orang ini. Rasanya benar-benar mati ketika ia berhenti menganggapku ada, seperti belakangan ini. Separuh hidupku menghilang, rasanya tak imbang. Ketika berjalan, kutengok kakiku hilang satu. Saat makan, kutengok garpuku terdiam, tangan kiriku hilang. Saat aku menarik nafasku, lubang hidungku tinggal satu.

…ss, …ss, …ss. gawat! Bahkan sekarang ini aku sudah tak bisa memanggil namanya dalam kata lengkap. Terlalu berat.

Terakhir aku tersiksa rasa semacam ini, adalah empat tahun lalu, pada cinta pertamaku yang dimakan monster kriting. Monster kriting itu masih disekitarku hingga kini. Senyumnya lucu, tapi tetap berhasil membuatku jijik saat mengingat caranya memakan cinta pertamaku, menjijikkan! Tapi entah bodoh, atau apalah itu, aku masih memeliharanya. Dan masih selalu berharap dia akan menemaniku bolak-balik Surabaya-Gresik.

Masalah-masalah lainku, sepertinya sedang kompakan untuk muncul sama-sama. Membuatku mendadak bodoh, tak tahu prioritas. Dahiku berkerut sejak tadi, dan aku sudah mulai capek menahannya terus berkerut. Tapi aku tidak juga mengendurkan kerutanku. Mulutku ikut berkerut sekarang. Awal minggu ini, orang ini begitu indah. Senyumnya masih terlempar padaku sekali-kali. Mata sakawnya masih membuatku terbang melintasi kerajaan milik bapaknya Hercules. Kutukannya padaku juga sempat terlontar, dua kali. Tapi, kutukan itu indah buatku. Indah, daripada tak dapat apa-apa darinya.

Aku sudah sering curiga, orang ini sudah lama membongkar samaran perasaanku, yang berkedok “sok biasa”.  Terkadang otakku menanyaiku balik, kalau memang dia tak berbalas, mengapa masih ada hari indah yang membuatku semakin sering menggunakan tinta emasku yang terbatas, untuk menuliskan cerita tentangnya dalam lembaran hatiku. Berlembar-lembar. Otakku curang, jika ia bertanya padaku, aku akan jawab pakai apa. Otak yang bertanya, siapa yang akan memikirkan jawabnya untukku?

Kalaupun perasaannya benar berbalas, kenapa secara eksplisit membongkar samaranku ke khalayak. Kadang, masih sering terlintas, pikiran yang sering kupikirkan saat umurku 9 tahun. Aku telah kehilangan separuh dari apa yang aku miliki. Tangan kiriku tak ada, lubang hidungku tinggal satu, kini satu mataku mulai berputar mengendur, serupa skrup yang keluar dari bautnya. Hidupku di ujung waktu. Jika memang ini akhir hidupku, kenapa tidak sekalian saja kuhabiskan dan kuakhiri ceritanya dengan kehendakku. Kadang aku berpikir serupa anak 9 tahun. Akan kudatangi orang ini. Kugunakan kedua tanganku, ya, tanganku akan utuh lagi ketika menyentuh wajahnya. Kusentuh dan kupertahankan kedua tanganku di sisi kiri-kanan pipinya. Kugunakan kedua mataku yang normal, mataku tak akan jadi skrup, jika yang kutatap matanya. Kutatap matanya selama mungkin. Kutarik nafasku yang terlega, dengan kedua lubang hidungku, dan langsung kukunci bibirnya dalam bibirku. Hingga aku mati. Akan kurasakan itu sebagai racun hidupku, yang akan membunuhku, sekaligus sebagai madu jiwaku, melepaskan kehausanku selama 19 tahun. Aku rela mati. Kalau memang aku bisa sekuat itu. Tak mungkin aku sekuat itu. Jika aku memang sekuat itu, cerita ini seharusnya tak pernah tergores. Jika aku sekuat itu, aku tak perlu orang ini untuk terceritakan. Aku hanya perlu cinta pertamaku, dan dia saat ini pasti masih hidup, belum dimakan monster kriting itu.

Pada akhirnya aku berkaca dalam air di bawah mataku, aku cuma pengecut, pada akhirnya aku akan membuat orang ini bernasib sama seperti cinta pertamaku. Jika tak dimakan monster kriting, ya, kubiarkan dia berjalan menuju jalanan tanpa ujung, hanya mengiringinya dengan lambaian tangan dan senyum, bodoh!

   A. Maulani – 19032008, 21:07

4 Responses to “Pra-Bahasa Perawan”

  1. on 17 Dec 2008 at 12:44Lutfi

    wow,,,sumpah bagus banget plus emosinya itu lho…
    PAAANAAASSS

  2. on 22 Dec 2008 at 07:00erri

    good… good…

  3. on 24 Dec 2008 at 16:57AL

    Lho-lho-lho..

    senengnya yang dapet sambutan baek dari pembaca..

    Makasih2,
    Kayaknya emang tepat deh, aku gabung sama kolomkita.com

    bikin orang ter-inspire untuk lebih produktif..
    makasih teman!

  4. on 27 Mar 2009 at 13:54dimaz

    wow. . . Terharu. . .
Lanjutin duonk. . . . Maju teruz. . . .

Tinggalkan Komentar