Langit Jiwaku Masih Abu-abu
Desember 14th, 2008 by ed
Pukul sembilan lebih dua puluh menit. Malam ini sepertinya aku akan begadang. Tugas paper ini belum selesai juga, tugas yang kumulai sejak pukul lima sore tadi. Aku lelah, semangatku mulai tercerai berai. Sejenak tanganku berhenti mengetik. Otakku berhenti memikirkan kata demi kata yang akan kususun di paper ini. Tersisa pandangan kosong ke langit-langit kamarku. Jenuh.
Mataku lalu tertuju pada selembar foto di atas meja belajar yang kutaruh persis di samping laptop. Foto aku dan dia. Dia, wanita yang telah mengisi relung hatiku. Rambut hitam terurai panjang dan senyum manis itu tak akan pernah terkikis habis dari folder memori terindah dalam benakku. Ia telah menata hidupku, rapi. Tak seperti keadaan meja belajarku saat ini, penuh dengan sebuah laptop dan tatanan tak jelas buku-buku paksaan yang dijejalkan para edukator konservatif padaku.
Reni, sungguh nama itu telah terukir kekal. Dia yang pertama, tapi aku tak berani berharap dialah yang terakhir. Mustahil, bisik suara hati padaku.
Meski aku ingin menangis setiap kali memikirkannya, tapi aku tak boleh mengeluarkan bongkahan air itu dari mataku. Aku harus terus tegar, seperti yang selama ini almarhum Ayah katakan padaku. Aku jagoan, pantang menangis.
Membuka laci meja belajar, aku mencari sebuah buku kenangan yang berisi foto dan biodata guru-guru dan teman-teman saat duduk di bangku sekolah dasar dulu. Kuambil buku itu dari laci, kunaikkan kakiku ke atas kursi sambil membuka-buka lembar buku itu. Kelas 6-B, Reni Asih Widianti. Ah, betapa manisnya senyum gadis ini.
Aku ingat ketika pertama kali bertemu dengan Reni di bangku Taman Kanak-kanak. Tapi, aku tak ingat banyak apa yang terjadi saat itu. Ah, yang jelas, Adi Gendut sering membuatnya menangis. Sedangkan aku? Selalu berusaha menjambak rambut Adi, sebagai pembalasan dendam atas tangisan Reni. Aku tak bisa membiarkan si Gendut itu meremehkan gadis lemah. Itu salah satu pesan Ayah yang tak akan pernah kulupa. Aku harus melindungi kaum suci itu, tak terkecuali Ibuku.
Pertemanan antara aku dan Reni pun semakin erat. Kebersamaan antara aku dan dia berlanjut sampai ke tingkat sekolah dasar. Lagi-lagi, dia satu sekolah denganku. Tapi, tak hanya aku, Adi pun ikut terseret dalam kebersamaan kami. Yang terjadi? Yah, tak jauh beda dengan apa yang terjadi di Taman Kanak-kanak dulu. Aku selalu berusaha melindungi gadis kecil itu. Menatap tajam Adi ketika ia mulai menunjukkan maksud buruknya untuk menjambak rambut panjang Reni, balas menjambak rambut Adi jika tangis Reni memekakkan telingaku, itulah bentuk realisasi pesan Ayah untuk melindungi kaum suci, pesan yang mendarah daging di tubuhku. Sebenarnya bukan hanya Reni yang berusaha kulindungi, tapi juga teman lainnya yang kurasa perlu kulindungi dari si Gendut tak tahu malu itu. Bukan hanya Reni? Ya, tentu saja. Tapi, intensitas dengannya lebih besar. Ah, itulah yang membuatku jatuh dan mulai simpatik padanya.
Buku kenangan itu terus kupandangi, terutama tulisan dengan spidol berwarna merah membara di bawah foto Reni. Aku harus masuk SMP Negeri 115!!. Hasilnya? Dia berhasil masuk ke SMP impian itu. Aku? Kemampuan akademisku yang kurang membuat aku terdampar di sebuah sekolah tak bonafit di dekat rumah. Gengsinya tak sepadan dengan SMP 115.
Aku kembali pada ingatan masa lalu. Beda sekolah tak membuatku putus hubungan dengan gadis manis ini. Sore hari atau saat akhir pekan, dia sering memintaku untuk datang ke rumahnya. Menemaninya menghabiskan jingga di senja bersama-sama dan mendengarkan cerita yang ia bagi. Ia tak pernah meninggalkanku, meski sekolah kami berbeda. Ya, dia adalah orang pertama yang kutulis di hatiku sebagai seorang sahabat, bahkan lebih. Status itu tak ia dapatkan begitu saja. Aku butuh waktu lebih dari delapan tahun untuk menetapkannya.
SMA, aku ingin jadi lebih baik. Ini untuk Ibu dan Reni. Berjuang dan berdoa. Klise memang, tapi itulah yang kulakukan menjelang kelulusan. Hasilnya? Aku diterima di sekolah yang sama dengan Reni, sahabat yang terus ada di sampingku. Keajaiban? Tidak! Aku begadang bermalam-malam untuk mencerna berbagai teori ilmu alam dan ilmu sosial yang guru-guru itu suapkan padaku. Semua ilmu itu menambah keasaman di dalam lambung hidupku. Membuatku sebah dan ingin memuntahkannya. Ah, tapi toh aku berhasil menetralisirkannya dan mencernanya. Aku masuk SMA 8 bersama Reni, diiringi tangis bangga dari kedua mata indah Ibuku.
Di masa SMA, kami mulai mencari tuntunan, seperti anak ayam yang mencari induknya. Kata orang, kami labil. Kata orang, kami sedang dalam proses pencarian jati diri. Yah, benar, saat itu aku bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada diriku, termasuk bertanya-tanya tentang apa yang kurasakan pada Reni. Pencarian jati diri? Ya, bisa disebut seperti itu.
Aku tersadar dari ruang lamunan yang berisi pemutaran kisah-kisah bersama Reni. Kutatap foto di samping laptop itu sekali lagi. Aku sadar, dia tak mungkin menjadi milikku. Meski jurusan yang kami pilih berbeda, tapi dengan kampus yang sama, intensitas pertemuan kami tetap terjaga. Hal itu membuatku sulit menghilangkan rasa ini. Aku masih bisa menggenggam tangannya saat ia sedih, menghapus tangisnya, dan melindunginya. Rasa ini pun terus meluber, seperti perasaan Destiny dan Mystique dalam kisah X-Men. Tapi kali ini aku harus mencoba menjadi pahlawan bagi diriku sendiri, aku harus berjuang, menahan rasa ini bahkan berjuang untuk menghilangkannya. Aku tersayat, tapi aku tak boleh menangis. Aku jagoan, pantang menyerah.
Pukul sepuluh malam. Kusudahi lamunan-lamunan tadi, semangatku pun mulai tersusun kembali. Paper dihadapanku sudah menanti untuk segera diselesaikan. Kutaruh buku kenangan tadi di atas buku-buku yang berserakan di meja belajarku. Buku Kenangan SD 01 Pagi, tak lupa tercantum nama lengkapku pada bagian sampulnya, Adinda Nadya Putri Wulandari.
tuhan nggak pernah melarang kehadiran cinta…
dimana, kapan, dan pada siapa ia ‘kan tiba, hanya tuhn yang tahu.
lalu kpn cnta itu hdr kpada qta?
Hah? Jadi ini kisah cewe yang suka sama cewe?
Gue kaget liat rentetan nama di akhir cerita.
Wah..2 critany datar banget, tpi salut ma ironi di akhir cerita..