Cinta yang Kucari
Desember 14th, 2008 by RatNa@aNdy
Yah! Lagi… untuk kesekian kali.
Ratna, itulah aku. Aku mencari seseorang yang telah hilang satu tahun terakhir ini. Seseorang yang sangat maya untuk kehidupanku, tapi sangat kuyakini kehadirannya adalah hidup yang sangat indah. Dia benar-benar hilang, tapi aku menginginkan dia, mengharapkan dia untuk kembali padaku, dan sekarang aku tengah mencarinya, akan terus mencarinya sampai aku dapati dia dan cintanya lagi. Satu untuk selamanya.
***
Hidupku terus berputar, dalam pencariaan ini aku menemukan orang yang menjanjikan kebahagiaan untukku jika aku bersamanya. Nama orang itu Nando, sahabatku selama 1,5 tahun di SMA ini. Aku mencoba mencintainya seperti dia yang mencintaiku, tapi hatiku menolak. Aku terus mencari kebahagiaan bersama Nando, walaupun tanpa sepengetahuannya aku tetap mencari cintaku yang hilang. Harapanku tak pernah putus untuk mengharapkan kedatangannya kembali.
“Lupakan orang itu Na!” pinta Nando satu waktu.
Dan aku hanya bisa menjawab klise, “Iya Do,” penuh kebohongan.
Aku mulai mencintai Nando, setelah keceriaan yang dia datangkan untukku dan setelah dia mampu membuatku cemburu saat aku melihat SMS mesra dari wanita di handphonenya. Tapi jujur, jauh dari hatiku yang terdalam aku tetap mencintai cintaku yang hilang, aku memiliki keyakinan bahwa satu hari aku akan menemukan dia. Terkadang aku ragu untuk semua harapanku, tapi keyakinan itu selalu ada, kadang sangat menghujam jantungku, kadang sangat tipis sampai aku berpikir untuk melupakannya.
Aku ingin yakinkan hatiku untuk mencintai Nando saja, dan melupakan cintaku yang hilang. Aku mencoba mengingat saat pertama kali aku tak dapati kabarnya. Sakit! Dia pergi tanpa satu patah katapun untukku. Dia pergi tanpa pesan. Dia pergi dan aku tak tahu di mana dia sekarang. Aku mengutuk hatiku sendiri, kenapa aku terus berharap dia kembali??? Dia telah melukaiku, dan seharusnya aku melupakan dia.
Untuk beberapa waktu kuhentikan pencariaanku, kuhentikan memikirkan dia, kulupakan dia…
***
“Aku sayang kamu Na . . . “.
Suara itu mengagetkan ku yang tertidur saat mendengarkan lagu “Dinda” dari “crossbottom” yang diputarkan di sebuah radio. Kulihat sekitar, hanya ada kakakku. Lalu suara siapa tadi? Suara itu …….?
“Ya Tuhan…?” pekikku.
“Kenapa Dek?” tanya kakakku kaget karena pekikanku.
“Dek lupa mau nyuci,” alasanku sambil berlalu pergi.
Kakakku tahu tentangku begitu dalam. Aku mencari alasan agar dia tak lagi meyakinkan aku tentang cintaku yang hilang. Kakakku tak setuju hubunganku dengan Nando dan sangat mendukungku untuk mencari cintaku yang hilang.
Sambil mencuci baju (agar Kakak tak curiga) aku melamun. Aku kenal suara itu, suara orang yang kucari. Kuyakinkan itu hanya lamunanku saja. Dan mencari hal-hal yang mengingatkanku kepada Nando. Tapi aku tak bisa menutupi betapa susah melupakan dia.
Sekali waktu aku salah sebut nama Nando dengan nama dia. Kulihat sedih di mata Nando, tapi aku tak bisa berbuat apa – apa.
Suatu malam pun aku bermimpi bercanda dengan Nando, tiba – tiba ada yang memelukku dari belakang lalu menangis sambil bersujud di hadapanku. Dalam mimpi itu Nando pergi setelah melihat aku membalas pelukan orang itu. Wajahnya samar tapi aku tahu itu adalah cintaku. Dia menangis tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya.
Mimpi itu membuat aku pilu dan berharap lagi untuk menemukannya. Walaupun ragu, kutanamkan dalam hati ku, aku ingin berjumpa lagi dengan cintaku, apapun yang terjadi aku ingin melihat dia.
***
Dua tahun lebih telah berlalu setelah kepergian cintaku, dan selama itu aku mempertahankan hubunganku dengan Nando, sampai Nando bosan menunggu hatiku kosong dari kenangan cintaku. Sampai pada hadirnya dia di acara ulang tahun Risa, sahabat masa kecilnya, dia bertemu dan berkenalan dengan Kyeila, teman dekat Risa di SMA ( beda sekolah denganku dan Nando). Waktu itu dia tak mengajakku karena tahu aku juga punya acara dengan kakakku.
Singkat cerita hubungan Nando dengan Kyei (sapaan Kyeila) semakin akrab. Mereka sering menghabiskan waktu di luar sekolah, tentu tanpa sepengetahuanku. Suatu hari pada jam istirahat, Apri, teman sekelasku, menyapaku dengan keseriusan yang tak biasanya.
“Na, Nando ga keliatan, ke mana?” tanyanya serius.
“Mama nya tadi pagi telpon aku, katanya dia lagi pergi ke Bandung nemuin kakeknya,” jawabku polos
“Oooh!” jawaban yang singkat tapi terlihat ragu.
“Emang kenapa, tumben nanyain dia?” tanyaku penasaran.
“Ngggg… ga apa-apa!”
Diam sejenak lalu melanjutkan pertanyaannya yang belum selesai.
“Aku boleh tanya ga soal kalian berdua?” Pertanyaan yang serius.
“Yupz!” jawabku singkat.
“Hubungan kamu sama Nando baik – baik aja kan?”
“Emangnya kenapa Pri?” tanyaku memancing.
“Aku… aku kemaren liat dia naik motor ma cewek tapi dia bukan kamu, aku yakin mereka ada apa-apanya soalnya mesra banget,” penjelasan yang ragu tapi jelas.
“Ooh!”
“Loh, kok kamu biasa aja, emang kamu sama dia ….???” Terpotong Bell bunyi tanda masuk.
“Nanti aku SMS,” lanjutnya sambil berlalu menuju kelas disusul olehku.
***
Malamnya Apri sms menceritakan apa yang dia lihat soal Nando. Dia juga tahu siapa gadis yang dia lihat bersama Nando dari Risa (Nando, Risa, dan Apri memang dekat). Dan aku tetap bersikap biasa walaupun sedikit kaget. Rasanya aku pantas mendapatkan ini, mungkin Nando jenuh menunggu pintu hatiku terbuka untuk dia. Hal itu membuat aku bingung, bingung untuk menentukan sikap jika esok bertemu dia.
Tiba – tiba aku merasa masalah itu alasan yang cukup untuk mengakhiri hubunganku dengan dia. Tidak seharusnya ini berkepanjangan. Toh aku masih menunggu cintaku, yang kuyakini akan kutemukan.
“Good idea!” tandas kakakku saat kumintai pendapat soal ide yang kudapat sebelum berangkat sekolah.
“Good luck yaaaH!” Semangat sekali kakakku memberikan motivasi.
“Na….. Na…. Na….” Suara Nando bersautan beberapa kali memanggilku yang mengacuhkan dia sejak pagi, dan terus mempercepat langkahku menghampiri kakakku yang terlihat sudah lama menungguku di gerbang kecil untuk mengajakku pergi dengan teman – temannya sepulang sekolah.
Nando sms dan mencoba menghubungiku dari telpon rumahnya, namun tak kuperdulikan. Aku terus memikirkan hal ini, akan kuteruskan atau bagaimana???
Esoknya Nando memaksaku meluangkan waktu bicara.
“Ada apa?” jawabku singkat dan datar.
“Kok kamu nanya kayak ga ada apa-apa sih?” tanyanya heran.
“Loh, emang ada apa?” Aku berkelit.
“Kamu kemaren itu kenapa, seharian ngediemin aku, ga biasanya kamu kaya gitu, aku salah apa, aku kan bilang sama kamu waktu mau ke Bandung?”
“Emmm, tapi kamu ga bilang kalau kamu jenuh sama aku dan kamu udah jadian sama Kyei,” jawabku datar sambil berlalu.
Singkat cerita aku tak lagi menggubris kata-kata Nando yang terus meyakinkan aku, bahwa dia khilaf dan tidak serius dengan Kyei. Dia terus merajukku untuk memaafkannya, dan aku mulai bimbang dengan keputusanku untuk tak lagi berhubungan dengan dia.
***
Satu minggu aku sudah mulai bersikap biasa sama Nando. Tapi di hari yang ketujuh itu aku merasa benci melihat Nando. Aneh, perasaan itu tanpa alasan yang tepat jauh dari masalah dia dan Kyei. Seharian aku baru bertegur sapa dengan Kakak setelah makan malam, karena Kakak baru saja pulang dari rutinitasnya yang dihabiskan di luar rumah.
“Sebel deh, seharian ini ada yang telpon-telpon Kaka ga jelas gitu dari nomor baru, Kaka ga kenal, Ka angkat malah dimatiin, gituuu terusss. BT. BT. BT” Kaka mulai membuka ceritanya sambil menunjukan nomor telpon yang ganggu itu padaku.
“Ini nomor Jakarta Ka, pengagum rahasia lagi tuuuh,” ledekku sambil melirik nomor itu.
“Eh by the way, soal pengagum rahasia, ada pengagum rahasia yang nanyain kamu ke Kaka lewat SMS,” sambil membuka SMS yang dimaksud dan menyodorkan hapenya lagi ketanganku.
Kubaca SMS itu dan mencoba menebak siapa dia, tidak ada identitas pengirimnya.
“Siapa ya Ka, kok nanyain De ke nomor Kaka. Kenapa ga langsung ke nomor De ajah?”
“Dia ga tahu nomor kamu yang sekarang kali,” jawab Kakak sekenanya.
“Siapa? Walaupun baru tapi nomor ini kan udah 1 tahun De pake Ka???”
“Ya mungkin orang yang lost contact sama sebelum kamu ganti nomor itu.” Kakakku terlihat berpikir juga.
“Au aah! Emang Kakak ga bales SMS nya?” sambil mulai mengotak-atik hape Kakak
“Ga sempet, sibuk tuh”. Sambil senyum-senyun ga jelas.
Diam Sejenak__
Hape Kakak yang kupegang berdering, tidak lama langsung mati.
“Iseng banget, ga niat ngubungin nih, nomor yang dari pagi ganggu ni Ka…”
“Biarin ajah De!”
“Opzzz… ini nomor yang sms itu loh Ka,” pekikku kaget.
“Oh yah? Coba liat.”
Aku dan Kakak sama – sama melihat nomor baru itu menyamakan nomor dengan nomor si pengirim SMS itu. Aku saling pandang saat sama-sama berpikir tentang orang iseng itu, satu-satunya identitas dia adalah nomor daerah Jakarta.
Kami berdua sama – sama tersenyum, mencoba menebak, tapi takut salah.
“Ka?”
“De?”
Kami saling panggil dalam waktu bersamaan. Mata kami saling bertatapan, mengisyaratkan bahwa kami punya pikiran dan satu nama yang sama untuk orang itu.
“Kaka ini….?”
“Dede ini….?”
“ANDY Ka, ANDYyy”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………!
Kami sama – sama teriak. Bersamaan loncat-loncat diatas kasur. Kami terus tertawa bahkan aku tertawa sambil menangis. Kakak memeluk ku erat dan berulang kali mengucapkan “selamat yah de”. Aku sendiri tak tahu harus bersikap seperti apa, aku merasa marah, senang, ragu, suka, bahagia, benci, semua rasa bersatu malam itu.
Tubuhku bergetar saat hatiku berbisik, “Andy, Andy, Andy ….?” Berulang kali aku sebut nama itu.
Oh Tuhan…….. inikah akhir penantianku? Inikah kasih sayangMu untukku? Inikah jawabanmu atas doa-doaku? Benarkah itu dia? Dia orang yang selama ini kunanti, kuharap, kucari, kutunggu. Dia datang, dia kembali. Buatkukah? Untukkukah?”
Malam ini begitu indah kurasakan. Bahkan sangat indah. Lebih indah dari malam-malam yang ku diceritakan kakakku saat bersama pacarnya. Malam ini sangat panjang, berjalan detik demi detik dengan perlahan. Dua kali lipat lebih lambat dari detik-detik sebelumnya. Lebih lambat dari detik-detik yang kuhitung untuk mencari dan menantinya.
Andy, Andy, Andy, aku tak perduli berapa lama kamu hilang, pergi meninggalkan cinta di hatiku. Aku tak perduli kamu kemana selama itu. Aku tak perduli dengan tetesan-tetesan airmata yang terderai tiap kali aku mengingatmu, merindukanmu, dan menantimu. Asal kamu benar-benar datang untukku, untuk menyirami lagi hatiku yang telah lama dahaga akan kasih sayangmu. Asal kamu tidak lagi mengulangi ini. Asal kamu tidak lagi meninggalkanku.
Malam itu sangat magic, kebahagiaan yang kurasakan tak terkira indahnya, menyihirku untuk semangat belajar menghadapi ujian nasional minggu depan. Kaka ku melonjak kegirangan, dia berbahagia untuk ku atas semua yang baru saja terjadi.”
***
Karena kedatangan Andy aku mulai tak perduli dengan Nando. Dia tak mempermasalahkannya karena dia juga harus serius menghadapi ujian nasional. Sampai ujian selesai aku belum memutuskan hubungan dengan Nando, karena kami sama – sama sibuk dengan tugas akhir dan ujian sekolah. Sementara itu aku dan Andy tengah merasakan kerinduan yang teramat sangat walaupun belum bertemu lagi karena jarak yang jauh memisahkan aku dan dia. Dia menjelaskan kepergiannya selama ini, dan aku percaya dengan kata-katanya. Dia masih sama seperti dulu, cintaku yang manja, penuh kasih, dan perhatian. Aku benar-benar membutuhkan dia dalam hidupku. Dia segalanya untukku. Aku yakin dia pun memiliki cinta yang sama dengan cintaku.
Acara kelulusan yang diadakan sekolah satu hari lagi. Dan aku mulai memilih-milih pakaian yang akan kukenakan. Aku pergi dengan Kakak ke sebuah pusat perbelanjaan untuk mencari kostum yang pas. Di sana aku bertemu dengan Apri saat makan di food court bersama teman lainnya yang kukenali. Apri pun membuka pembicaraan dengan menanyakan hubunganku dengan Nando. Sudah lama kami tidak saling cerita. Dia bercerita banyak mengenai Nando dan Kyei. Rupanya mereka masih berhubungan. Kakakku mengisyaratkan bahwa itu celah untukku
Esoknya di acara kelulusan sekolah, aku dan Nando berbicara serius tentang hubunganku.
“Aku tahu tentang kamu sama Kyei. Aku ga apa-apa kok Do, kalau kamu sama dia. Kamu juga udah tahu kan kalau aku ingin menemukan cintaku? Lagian aku ga mau ketemu kamu lagi, kamu udah nyakitin aku dan aku udah nyakitin kamu. Walaupun ga sengaja tapi itu ada. Aku mau kita masing-masing ajah. Jangan ada lagi komunikasi antara kita biar pasangan kita merasa tenang dan yakin tentang perasaan kita ke mereka. Aku mau kuliah di Jakarta.”
Dia hanya diam. Dan aku mulai beranjak.
Dia menarik lenganku. “Kita masih teman kan?” tanyanya singkat.
“Kita teman sampai minggu depan saat pembagian hasil belajar kita selama 3 tahun. Setelah semua beres aku langsung pergi ke Jakarta, setelah itu anggap aku bukan siapa-siapa dan kamu ga pernah kenal atau ketemu aku. Lupakan semuanya!” tegasku.
Dia terheran dengan jawabanku dan bertanya, “Kenapa?”
“Demi kebaikan semua pihak, aku dan cintaku, kamu dan Kyei,” jawabku.
Dia tak berkata apapun lagi.
Dan saat semua urusanku selesai di sekolah itu. Aku pergi ke Jakarta menemui cintaku yang selama ini kurindukan.
***
Akhirnya waktu untuk pertemuanku dengan sang pujaan hati semakin mendekat. Malam sebelum hari yang Andy janjikan untuk menemuiku, begitu lambat bergerak. Sama seperti malam tak terlupakan saat dia baru menghubungiku lagi. Kuulas semua kisahku dengan dia. Awal bertemu dengan Andy, awal aku menyadari mencintai Andy, awal Andy mengutarakan perasaannya suka aku, sayang aku,cinta aku, rindu aku. Hilangnya dia, datangnya dia, yang terjadi berulang kali. Semua kuingat dengan jelas. Dan yang paling kuingat saat ini kata – kata dia saat dia meyakinkan aku.
“Andy ga akan pergi ninggalin kamu lagi Na, Andy sayang kamu, Andy ga akan mengulangi kesalahan itu untuk kesekian kalinya, ini yang terakhir, Andy janji ga akan pergi lagi, Andy akan jaga kamu, cinta kamu, kepercayaan kamu, hati kamu, perasaan kamu dan semuanya Na. Andy janji… Maafin kesalahan Andy”.
Dia menangis mengucapkan kata – kata itu. Walaupun tidak secara langsung tapi aku meyakininya. Aku sangat sangat mencintainya. Airmataku pun terderai hebatnya saat mendengar janji manisnya, janji suci yang kupegang untuk selalu mencintainya.
***
Tuhan .. . jadikan aku pendamping hidupnya yang pertama dan terakhir. Yang terbaik dan selalu mencintainya sampai akhir hidupku. Jadikan kami pasangan yang saling mengasihi, menyayangi, mencintai, saling setia, saling mengerti, saling perhatian. Ya Tuhan aku sangat mencintai dia…
Tiba saatnya aku berjumpa dengan Andy, cintaku yang hilang, cintaku yang kucari tapi kini telah kembali. Dadaku bergetar, jantungku bedegup kencang. Aku bingung mesti bagaimana. Rasanya hatiku ciut untuk menemuinya. Tapi lagi – lagi aku ingat kisahku tentang dia dan itu kekuatanku untuk menemunya.
“Apa kabar Sayang?” sapaan yang hangat penuh kerinduan. Aku tak bisa menjawab. Aku terbata- bata dan akhirnya hanya tersipu malu. Hari pertama yang penuh sensasi, penuh warna dan sangat hangat.
Batinku berbisik, ”Inilah cintaku, dialah tambatan hatiku, Andylah masa depanku, Andylah kehidupanku.”
Pertemuan – pertemuan itu terus berlanjut. Aku terus jatuh cinta sama dia. Tiap waktu cintaku bersemi, aku tak bisa lagi mengungkapkan cintaku lewat kata-kata.
Andy begitu baik, hangat, penuh cinta, dan selalu memberi kejutan – kejutan indah untuk ku. Dia tahu aku suka dengan kejutan – kejutan manis.
Hari – hariku begitu indah kulewati bersama Andy. Aku tak akan menyia-nyiakan dia. Aku tak akan biarkan dia pergi lagi.
Wajahnya yang rupawan sangat manis saat dia bilang, “Na, kamulah yang bikin Andy Bahagia, kamu semangat buat Andy menjalani hidup, Andy pengen deket kamu terus. Kamu mau kan jadi istri Andy, ibu dari anak – anak Andy?”.
Tuhan….sekali lagi waktu terasa lambat berputar saat aku mendengar kata – kata itu. Hatiku bergetar hebat, sangat hebat.
“Andy ……… aku butuh kamu karena cinta yang suci. Aku butuh kamu dalam hidupku, seperti aku membutuhkan oksigen untuk bernapas.”
Jawabanku dimengerti olehnya. Dia memelukku, mengecup keningku sambil berlinang airmata. Tak ada lagi kata yang bisa mewakili cinta ku dan cintanya. Tuhan menjadi saksi janji yang kami tambatkan dalam hati. Untuk cinta kami, diri kami. Janji itu satu untuk selamanya……..!!!
Ehm…..
Ya.. Allah …seandainya cerita ini terjadi pada Kehidupanku……
Amin… ya robbal ala’min.
Bgs bgt.penantian yg tdk sia2,klo leh ju2r critany sm kyk ksh aq skrng.dan cinta q lom kembali smp skrng.aq jg pny pnantian yg sama
happy ending…
kisah cinta ku juga sama..
mudah2an kisah ku happy ending seperti cerita ini
amien…
“I always waiting for you my honey”
Wah !! Crtanya sM sPrti kEadaAn Q sKrg, mG pNnTiAn yG sLm iN Q bYgKn… cPt2 tRjd ! aMienn
ohhh……so sweet….
penantian yang ga sia-sia……jarang lho ada orang yang sanggup menanti begitu lama dalam ketidakpastian…….tanpa tahu masihkah ada harapan untuk bersamanya lagi……
seperti aku…..akankah aku sanggup menunggu cintanya…..?
cinta dari orang yang berada dekatku, namun terasa begitu jauh….
akankah cintanya untukku….??
good… good.. good…
ceritanya neih hampir mirip sama kisah cinta ku….
i like that…. ^_^
walaupun baru 6 comment Na Cenneeeng BGT Baca Nya. JUJUR ini cerita Nyata. Na nunggu andy dari september 2005 ampe april 2007. dan sebelum kita lost conntact kita emang udah lama ga ketemu. dari desember 2004. baru ketemu lagi juni 2007.
penantian Na selama itu bikin andy sayaaang bgt m Na. Na tau itu, karna na bisa ngerasain itu dengan yakin.
thx 4 all. na doain yang lagi pada nunggu dikasih kesabaran and JALAN. aamiin
Crtanx sih lumayan bgus
tpi jd bkin ga sreg pas bca pnkohan si Andy yg trksan lembek’.
to Fila
thx wat comment nya.
sbnr nya andy bukan lembek tapi dia lembut. crt nya mang rada ngambang coz ga terlalu detail. gw pikir itu wajar coz ni cerpen (cerita pndek) jadi agak gw ringkas. kalo panjang NOVEL dong namanya. nanti klo crt ni mw gw jadiin novel gw pertegas dch masing2 dari tokoh nya. thx yaaa