Cinta Rahasia, Hanya Untukku
Desember 14th, 2008 by Maulani
Kujadikan dia sebagai alasanku, lagi, untuk kedua kalinya…
Regret nothings, fear less,then just do it! Kugumamkan kata itu berulang kali, kutanamkan jauh dalam pusat hatiku. Harus kupastikan bahwa kata itu benar-benar tertancap, sebelum semua tentangnya terlalu jauh,
‘Bout that boy..
It’s not about fear, it’s about love, ’bout heart. Rupanya sisi lain diriku menolak pendapatku sebelumnya. Detik ini kebimbangan berdesir dalam dadaku.
Saat ini tatapanku melekat kuat pada wajahnya. Tiga bulan bukan lagi waktu yang singkat untuk memendam beban seberat ini. Ingin sekali kucari tahu apa yang mesti kuketahui, selama ini selalu saja samar. Sebenarnya sejauh mana dirinya padaku, sedekat apa seharusnya kita berdua.
Aku pencinta manusia, aku ingin selalu menebak apa yang mereka pikirkan. Kedinamisan mereka membuatku ingin tahu. Biasanya semua itu terasa lancar, untuk tahu semua itu. Tetapi kenapa keraguan-mutlak terjadi saat kucobah telaahnya.
Karena itu, karena semua itu, ingin sekali kuhadapkan kita dalam empat mata, dan akan kutanyakan berentet, beribu, dan berjubel pertanyaan tentang kita, tentang yang seharusnya terjadi. Bukan yang kuinginkan terjadi atau imajinasiku yang selalu memaksaku mewujudkannya.
Nampaknya sisi otakku yang lain membuatku kembali tenggelam dalam ragu. Haruskah seorang gadis baik-baik melakukan itu?
NO WAY! OF COURSE NOT!
Lalu akan seperti apa tindakanku. Hari ini kuhentikan pertengkaran pribadiku sampai disini, titik. Tak ada niatan untuk menuntaskannya sekarang. Karena saat ini aku harus kembali ke realita. Kulepaskan tatapanku darinya, sebelum ia merasa diawasi.
-
Kutatap dirinya,
Bukan cantik, bahkan sebenarnya tidak terlalu. Tetapi ada alasan lain kenapa dia menempati tempat spesial di jantungku, teristimewa di paru-paruku dan memiliki seluruh jiwaku.
Aku tahu selama ini dia mengawasiku.
MUNGKIN,
Mungkin dia mengawasiku. Matanya terlalu dalam untuk diselami, senyumnya terlalu rumit untuk dimengerti. Begitu tulus, namun maknanya belum tertangkap olehku. Selalu saja memberiku misteri tersendiri.
Entah. Aku merasa nyaman seperti ini, menatapnya. Kalau dia yang akan jadi milikku, ia akan jadi yang pertama, karenanya lubuk kecilku kurang-lebih berharap takkan ada kegagalan.
Belum juga kutemukan sesuatu itu, yang dapat memantapkan hatiku. Sampai saat ini, setelah kutatap dia selama setengah semester. Apa perlu kuyakinkan diriku bahwa dia akan menjawab seperti yang kubayangkan? Itu memang tidak terlalu penting, namun itu mungkin yang membuat sedikit keraguan yang berkecambah. ADVICE? I guess Iy!
-
Bukan lagi dia yang kutatap, melainkan langit-langit kamarku. Kuputuskan untuk menemukan ketuntasannya malam ini, tentang langkahku ke depan menghadapinya. Harus tuntas. Tak kuhiraukan lagi jam yang terus berputar, waktu yang terus berlalu, malam yang makin larut.
Aku tekankan pada diriku, kuingatkan pada jiwaku, bahwa aku hanya seorang gadis. Dan sudah seharusnyalah, gadis hanya menunggu. Apapun zamannya, hawa akan tetap menunggu.
Well, I’M QUIT.
Kucukupkan kebimbanganku, keraguanku selama ini. Aku keluar dari rasa ini. Belum terlalu jauh, belum terlalu jauh untukku menghilangkannya. Biarkan dia jadi cintaku yang terpendam, cinta yang pernah ada, tanpa ada yang tahu.
-
Dua kawan mendukungku, jawaban lain yang tersisa hanya ‘terserah’ dan ‘nggak tahu’, yang terakhir malah menginterogasiku balik jati diri gadisku, ehm, incaranku. Namun dapat dipastikan dia pulang dengan tangan hampa, karena aku tidak akan mengungkapnya sebelum usai.
Kurenungi kembali pendapat-pendapat temanku, dan akhirnya kudapatkan juga kesimpulan,
OK,I’m game!
Apapun jawabannya bukan menjadi masalah. Yang penting aku telah mencoba menjadikannya milikku.
-
Aku bertatap mata dengannya, lebih dekat dan lekat dari biasanya.
-
Tatapan ini, tidak, jangan keluarkan sekarang! Itu bisa merusak rencana agungku. Menjadikanmu milikku.
-
Kuberanikan diri untuk kembali mencoba membaca apa yang dipikirkannya saat ini. Namun, tiba-tiba saja terlintas keputusan akhirku semalam, I’m quit. Kutundukkan diriku, kuputuskan tetap memegang kata itu.
-
Kenapa kau lepas senyummu, jangan sekarang. Kau membuatku ragu, lagi. Mengapa jawabannya kembali jadi penting? Telah kuputuskan bahwa aku akan masuk dalam permainan ini. Kutarik dan kulepas nafasku sedikit lebih lambat dari biasanya, melonggarkan rongga dadaku yang terlalu sesak. Setelah berusaha keras, akhirnya terlontar juga kata itu, kupinta ia menduduki tempat terkhusus di hatiku, jantungku, dan seluruh jiwaku.
-
Jantungku berdetak terlalu keras, aku terlalu kaget untuk kata itu, yang terlontar dari mulutnya.
Aku..
Aku,
Ehm! Aku harus fokus pada keputusan akhirku. Sudah kuputuskan!
Sudah kuputuskan,
Kuputuskan apa,
REGRET NOTHINGS, FEAR LESS, JUST DO IT!
Hanya itu yang teringat di otakku, terutama dua kata terdepan.
REGRET NOTHINGS, terus saja berulang. Jangan sesali apapun atau mungkin lebih terdengar jangan sampai menyesal! Ditambah seruan lain yang bersaing,
It’s not ‘bout fear, it’s ‘bout love, about YOUR HEART!
Demam panggung pun seketika muncul di tempat tak seharusnya, di depannya. Aku hanya terpaku tanpa jawaban. Bukannya berkoorporasi, seruan-seruan di otakku semakin kencang. Akhirnya keluar juga jawabanku, bukan kata-kata, hanya anggukan. Kusadari otakku mengangkat bendera putih pada hatiku, kukembangkan senyumku, kutatapkan mataku setulus mungkin, sedalam yang kubisa pada sosok didepanku.
-
Tatapan itu, aku tahu! Senyum itu, aku mengerti!
Aku memecahkan sebagian misteri atasnya. Senyumnya, pandangannya, segala yang ia berikan padaku selama ini adalah perasaan yang sangat kuinginkan, jawaban yang selama ini membimbangkanku.
-
Tabir tersirap, semua terbuka. Dia padaku. Sejauh inilah seharusnya kita berdua.
By Melanie AliFf, 02112006
aku merasakan di posisi mu, sangat sesak ketika dia cuma diam .tak perduli pdahal hati ini menjerit ingin dmengerti .
Km crita apaan c?q agk g ngerti.tp…q jg p’nah ngalamin yg namaY jatuh cinta ma first love,tp g brani ngomong.q pendam rasa it hampir 5 tahun.smpe skrng…q ttp msh ska ma dy.wlo kta dah 3 tahun g ktemu,skrng aj kta d’t4 yg b’beda.
Aku sih berencana buat ngasih cerpen ini ke temenku cowok sing penakutnya minta ampun..
sapa tau bisa inspiring dia jadi lebih optimis, n brani nembak gebetannya! (setelah sekian lama)
Cool bro!!
Try to write another story okay^^
Cek semua tulisanku dengan meng-klik : author maulani
dibawah judul