Antara Rasa Bersalah dan Uang
Desember 14th, 2008 by lebah
Rio sedang berjalan. Beberapa meter di depanya ia melihat seorang laki-laki paruh baya bercelana hitam dengan kemeja biru lengan panjang dan berdasi. Lelaki itu berdiri di pinggir jalan dengan koper di tangan kanannya juga arloji berwarna emas melingkar di pergelangan tangan kananya, Lalu Rio mendekati lelaki itu.
“ Maaf Pak, boleh saya bertanya jam berapa sekerang?” tanya Rio pada laki-laki yang kini berdiri di sampingnya.
Laki-laki itu menoleh pada Rio, dia lalu melihat arlojinya. Saat itu tiba-tiba ada rombongan motor gede yang lewat. Laki-laki yang ada di samping Rio mengalihkan perhatiannya kepada rombongan motor yang melintas di depannya. Kesempatan itu lalu dimanfaatkan oleh Rio untuk menjalankan aksinya.
Dengan hati-hati dan perlahan, Rio mengambil dompet yang ada di saku belakang celana lelaki di sampingnya. Lalu ia menyimpan dompet yang diambilnya ke saku celananya. Rombongan motor gede pun menjauh. Lelaki paruh baya itu mengalihkan perhatianya kembali kepada Rio, sebelumnya ia mengecek kembali arloji di tangan kananya. Lelaki itu segera memberi tahu waktu yang ditunjukkan jarum arloji di tanganya.
“Terima kasih Pak,” ucap Rio yang dibalas dengan anggukan kepala oleh lelaki yang baru saja diambil dompetnya oleh Rio. Dengan segera Rio meninggalkan lelaki itu. Namun baru beberapa langkah Rio berjalan, seorang perempuan muda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Dia tahu apa yang baru saja dilakukan Rio.
Rio mengenal perempuan yang menatapnya,namun Rio malah meninggalkan perempuan itu,ia berlari menjauh secepat-cepatnya. Rio berhenti berlari di depan sebuah bangunan kosong tak terawat, napasnya tersengal-sengal.
“Rio!” Sebuah suara memanggilnya saat napas Rio sudah kembali normal. Rio membalikkan badannya,dihadapanya telah berdiri seorang anak laki-laki seusianya dengan kumal dan celana pendek menempel di tubuhnya. Rambutnya agak panjang dan berwarna hitam kecoklatan. Anak itu bernama Gema.
Kemudian, Rio mengambil dompet yang baru saja diambil olehnya dari lelaki paruh baya di pinggir jalan. Dompet itu ia serahkan pada temanya, Gema. Namun Gema menolak dompet itu dengan menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak ingin kau mencopet lagi. Apa yang terjadi jika keluargamu mengetahui hal tersebut?”
“Terimalah uang dalam dompet ini Gema,” kata Rio setelah ia melihat isi dompet yang baru saja ia copet. “Aku tahu kau membutuhkan uang ini untuk adik-adikmu. Dan sebenarnya kakakku sudah tahu bahwa aku mencopet. Ia tadi melihatku saat aku melakukanya.“
Rio menyodorkan kembali dompet yang ada di tangannya kepada Gema. Tapi Gema masih tidak mau menerima dompet itu.
Gema menatap mata cokelat Rio, “Lalu apa yang dikatakan padamu saat dia melihatmu melakukan hal itu?” katanya kemudian.
“Dia tak sempat mengatakan apa-apa karena aku lari setelah ia melihatku mencopet” Gema menghela nafasnya.
“Seandainya aku mau menerima uang itu kamu juga harus berjanji.” Rio mengernyitkan dahi mendengar ucapan Gema. “Kamu harus berjanji tak akan mencopet lagi dan harus menjelaskan semua yang kamu lakukan pada kakakmu. Rio kamu berasal dari keluarga baik-baik. Aku tak mau hanya karena aku dan adik-adikku kamu jadi pencopet.”
“Atau jika kamu tidak mau berhenti mencopet aku dan adik-adikku akan pergi dari bangunan ini, kita tidak akan bertemu lagi,” kata Gema sambil memandang bangunan tak terawat yang merupakan rumah kosong. Ia telah menempati bangunan itu bersama anak-anak jalanan yang masih kecil-kecil dan ia anggap sebagai adik-adiknya sejak satu tahun lalu.
Rio tahu, Gema dan adik-adiknya akan sulit mencari tempat tinggal baru. Rio mengingat kembali kebaikan Gema padanya. Dua minggu lalu Gema telah menolong Rio bersembunyi dan menghindar dari kejaran orang-orang yang menuduhnya sebagai pencopet.
“Baiklah aku setuju dengan saranmu,” kata Rio akhirnya. Ia lalu menyerahkan dompet hitam yang sedari tadi ia genggam. Lalu Rio pun pergi meninggalkan Gema diiringi angin sepoi-sepoi yang membelai rambut hitamnya yang basah karena keringat.
*****
Rio masih duduk di bangku panjang yang ada di halaman Rumah Sakit.
“Kamu pikir Kakak akan percaya dengan ucapanmu bahwa kamu mendapat uang itu dari seorang laki-laki yang berbaik hati !” Devi, kakak kandung Rio berkata di hadapanya. “Kamu sudah pernah mencuri uang orang lain, lima kali katamu! Menjadi Robinhood bagi anak-anak jalanan, jadi mana mungkin aku percaya uang itu kamu dapatkan secara cuma-cuma, atau sebenarnya kamu mendapat uang itu dengan cara merampok!” Devi melanjutkan perkataannya sebelum Rio membela diri, nada suaranya terdengar merendahkan.
Rio menatap wajah kakaknya. “Kak, sungguh aku sudah tidak mencopet lagi sejak kakak melihatku melakukan hal itu. Sungguh itu yang terakhir kalinya aku mencopet. Dan aku tak mungkin merampok, aku tak tahu bagaimana cara melakukan hal itu,” ucap Rio dengan rasa penyesalan yang dalam.
Mata Devi terlihat berkilat-kilat. ”Kalau tidak merampok,mungkin kamu mencuri atau kamu jadi kamu jadi bandar narkoba,” katanya kemudian dengan nada suara yang melunak namun terdengar sinis.
Ada rasa sesak di dalam dada Rio setelah mendengar perkataan kakak kandung satu – satunya, Devi. Ia tak pernah mendengar kakaknya bicara seperti itu sebelumnya. Kakaknya benar – benar sudah tidak percaya lagi padanya. Rio menunduk memandang rerumputan yang ada di halaman rumah sakit.
“Kak sungguh ini uang halal yang ……” Rio mencoba berkata pada kakaknya, namun kakaknya telah memotong perkataannya, “Sudahlah aku tidak ingin mendengar penjelasanmu lagi. Dari manapun uang itu kamu dapatkan harus kamu kembalikan lagi kepada pemiliknya. Aku akan pergi mencari uang untuk biaya operasi dan perawatan Ibu.” Devi lalu pergi meninggalkan Rio.
Rio mendongak, menatap langit biru yang bersih tanpa awan. Wajah Gema terlintas di kepalanya. Dia mengingat awal pertemuanya dengan Gema. Ia ditolong oleh Gema dari kejaran orang-orang yang menuduhnya sebagai pencopet. Dan ia pun berteman dengan Gema serta mengetahui jika Gema adalah Robinhood bagi adik-adiknya. Gema mencuri bukan hanya untuk dirinya sendiri, ia mencuri (mencopet) untuk menghidupi adik-adiknya
Waktu dua minggu rasanya cepat sekali berlalu.
“Mencuri atau mencopet itu tidak baik Gema,” kata Rio waktu itu setelah ia tahu pekerjaan mencopet Gema. Gema tertawa hambar saat mendengar ucapan Rio.
“ Aku mencopet untuk menghidupi adik-adikku. Lagipula aku mencopet dari orang-orang kaya,” katanya kemudian.
“Dari mana kamu tahu mereka,maksudku orang-orang yang kamu copet adalah orang kaya?” Terdengar rasa ingin tahu dari ucapan Rio.
“ Penampilan mereka, “ jawab Gema singkat. Rio tahu Gema mencopet karena ia tak mempunyai cara lain untuk menghidupi dirinya dan adik-adiknya yang masih kecil.
Pikiran Rio beralih dari Gema kepada kakaknya. Ia sangat marah saat mengetahui adiknya sebagai seorang pencopet.
“ Sejak kapan kamu melakukan hal itu ?!” tanya Devi dengan nada marah saat Rio pulang ke rumahnya di hari terakhir dia mencopet. ”Sudah berapa kali kamu melakukan hal itu?!” kakaknya bertanya lagi pada Rio sebelum ia sempat menjawab pertanyaan pertama Devi.
“Dua minggu lalu Kak,” Ucap Rio sambil menunduk, “dan baru lima kali,” lanjut Rio cepat.
“Baru lima kali kau bilang!”
“Aku berjanji hari ini yang terakhir,” kata Rio. Dia lalu menceritakan apa yang membuatnya mencopet, tentang Gema dan juga tentang adik-adiknya. Rio mengatakan saat mencopet ia tak pernah bermaksud melakukan hal itu. Dia hanya mencopet dari orang-orang kaya serta jika situasi dan kondisi memungkinkan. Namun, Devi tak mau mendengarkan penjelasan Rio lagi,ia sudah terlanjur kecewa pada adiknya itu.
Rio masih memandang langit di atasnya. Kini ia seolah melihat wajah Ayah, Ibu, dan Kakaknya di atas sana. Rio merasa bersalah kepada mereka bertiga. Pertama ia merasa tak mampu menjadi anak yang baik sesuai keinginan terakhir Ayahnya. Kedua ia merasa bersalah kepada Ibunya karena perdebatannya dengan Devi tiga hari lalu membuat Ibu mereka jatuh sakit tak sadarkan diri sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Ia berpikir telah mengkhianati kepercayaan Kakaknya juga kerja kerasnya mancari nafkah untuk keluarga setelah Ayah mereka meninggal dunia satu tahun lalu.
Sambil memegang amplop cokelat berisi segepok uang, Rio beranjak dari bangku yang ia duduki. Ia teringat wajah laki-laki yang memberinya uang, seorang laki-laki paruh baya dengan rambut yang mulai memutih juga keramahan terpancar di wajahnya. Lima puluh juta! Rio tak pernah menyangka ia mampu mendapatkan uang sebesar itu dengan mudah, ia hanya mengejar dan menangkap penjambret yang berusaha mengambil koper lelaki paruh baya itu kemarin sore.
Rio merasa tak pantas menerima uang yang ditawarkan lelaki tersebut. Ia telah mencopet lima kali, mencuri uang orang lain walaupun bukan untuk dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa menerima uang sebesar lima puluh juta. Apalagi ternyata orang yang pernah dicopetnya di pinggir jalan waktu itu yang menawarkan uang.
Rio menunduk malu, mengakui kesalahannya dan meminta maaf pafa lelaki paruh baya tersebut. Lelaki itu tersenyum.
“Temanmu sudah mengembalikan dompet saya beserta isinya, ia juga menjelaskan tentang dirimu kepada saya, lupakanlah hal itu, kamu telah menolong saya, menyelamatkan koper yang isinya jauh lebih berharga dari uang lima puluh juta ini,” kata lelaki itu sambil memegang amplop berisi uang.
“Saya tahu ibumu sedang sakit dan membutuhkan uang ini,” lanjut laki-laki tersebut. Akhirnya Rio pun menerima uang yang ditawarkan lelaki paruh baya tersebut pagi tadi.
Maafkan aku, Kak, mengecewakanmu lagi, gumam Rio pada dirinya sendiri. Setelah berpikir keras ia akhirnya memutuskan berjalan ke bagian administrasi rumah sakit untuk membayar biaya operasi Ibunya dan segera menemui dokter yang menangani Ibunya. Rio tak peduli apa yang akan dikatakan Kakaknya nanti, ia hanya ingin melihat Ibunya sembuh dan sehat lagi.