KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Tatap Surya Seperti Malam

Bicara cinta  seperti tidak akan pernah bertemu Z jika ia alphabet. Ada saja tentang cinta dan mungkin aku masih mau bicara cinta, cinta yang berbeda tapi kupikir beginilah seharusnya cinta.

    ***

Namanya Surya. Seharusnya dia pria berusia dua puluh empat tahun yang sangat biasa, dengan penampilan seperti semua pria normal, yah… mengenakan pakaian warna gelap dan jarang menyisir rambut. Surya tidak perlu jadi sosok yang aneh dengan rambut jambul yang menghabiskan sebotol wax, atau kulit terawat bak kulit wanita, atau mengenakan pakaian-pakaian keren yang up date. Cukup dengan penampilan yang biasa, membuatnya dinobatkan sejurusan Sastra Indonesia sebagai sosok paling dicari dan diselidiki.

Surya selalu tampak ‘malam’, misterius, tanpa ekspresi. Satu-satunya tempat dia biasa mengeluh yaitu di perpustakaan, saat dia sedang membaca dan petugas perpustakaan memaksanya keluar karena perpustakaan sudah tutup, dan satu-satunya tempat dia biasa tersenyum tipis juga di perpustakaan, saat dia membaca buku “Sejarah Filsuf” lalu menemukan entah apa yang lucu dalam buku itu. Mahasiswi-mahasiswi tertentu yang berada dalam daftar fans clubnya akan antri meminjam buku “Sejarah Filsuf” setelah Surya.

Kenapa aku tahu semua itu? Ya, topik pembicaraan yang selalu hangat di sekelilingku hanya tentang Surya, apa dia tambah muram pagi ini?

    ***

Kikik yang membuat jijik itu kembali terdengar seperti bel tersendiri bagiku bahwa Surya telah tiba dalam kelas. Aku mendesah, apa peduliku? Kutekuri lagi buku.

“Tempat ini kosong?” singkat, seseorang bertanya padaku.

Aku mengangkat dagu, itu Surya.

“Maaf, Retno memintaku untuk menyimpan tempat untuknya, ini tempatnya.”

Surya lalu meletakkan tasnya dan duduk tanpa perasaan bersalah di sampingku.

“Hei!”

Tapi percuma bicara dengan Surya, dia seperti berasal dari planet berbeda yang hanya mengerti sedikit sekali bahasa manusia. Aku memijit kening dan mengalihkan perhatianku darinya.

Sudah aneh dan ada yang semakin aneh berada di sisi Surya. Aku mengerlingnya dan aku terkejut melihat mata Surya membalas tatapanku, membuatku berpikir bahwa dia  telah menatapku sejak tadi.

“Ada apa?” tanyaku heran.

Tidak ada jawaban, hanya tatapan aneh yang sulit diartikan, seperti sedang membaca sesuatu di wajahku.

Menit-menit berlalu, kulirik Surya, masih memandang.

“Ada yang salah di wajahku?” Aku gugup, sungguh tidak nyaman ditatapi seperti itu.

Surya bergeming.

    ***

“Surya, maaf.” Aku meringis tidak nyaman, saat Surya telah tiba di hadapanku, menopang dagu dan memandangiku.

Surya lagi-lagi tidak merasa melakukan khilaf apapun, hanya menatap.

Hampir setengah jam di ruang baca jurusan, Surya tidak berminat mengambil buku untuk dibaca atau pulang, misalnya.

Aku ingin lebih menyendiri dari pertapa,” gumamnya sambil menatapku.

Aku tersentak, menatap Surya tidak percaya, apa katanya? Bukankah itu penggalan puisi “Aku Sendiri” karya Ulfatin Ch.? Apakah penggalan puisi itu tertera di wajahku.

“Aku suka puisi itu.”

Surya tersenyum.

Ayolah! Apa dia masih tidak ingin bicara!?

“Kenapa kau terus menatapku?” tanyaku putus asa, bukan tanya karena sepertinya tidak akan dijawab.

“Entahlah, hatiku ingin.”

Sebuah suara terdengar, pasti suara Surya. “Entahlah, hatiku ingin.”.

“Apa maksudmu?”

Tapi bukan Surya kalau ia bersedia memberi keterangan lebih panjang, ia benar berasal dari planet lain yang tidak mengerti kata-kata kami, penghuni Bumi.

    ***

Harus kuakui bahwa Surya memang memiliki khas tersendiri di wajahnya, sangat berbeda, mungkin karena terlalu orisinil; jarang digunakan berekspresi. Itu yang membuatnya dikejar banyak sekali gadis; semakin misterius seseorang itu artinya semakin keren, entah siapa yang mencetuskan teori ini. Sial bagiku, begitu mahasiswi-mahasiswi itu tahu aku pernah ‘bicara’ dengan Surya…..

“Suaranya terdengar bagaimana?”

“Kalian membicarakan apa?”

“Apakah kau mengganggunya saat dia membaca?”

Surya tidak tahu ini dan seandainya tahu, mungkin juga tidak memberinya perhatian lebih.

Aku tidak mengerti tentang apa yang sangat menarik dariku, aku sungguh hanya gadis biasa yang bersyukur karena masih memiliki dua mata, hidung, mulut dan semuanya berfungsi baik tapi mungkin Surya pikir itu istimewa. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak tajam, tidak sinis, tidak pula terpesona. Tatapan Surya seperti menghadapi buku yang harus ia baca karena ujian pertengahan semester akan diselenggarakan besok.

Hal itu berlangsung selama berbulan-bulan terakhir ini, beberapa kali aku menghardiknya, tapi Surya tidak menghentikan kebiasaannya itu dan tidak bicara, hanya ‘membaca’.

    ***

Aku tidak tahu apa dia memastikan namaku benar-benar Bulan atau dia ingin aku sadar bahwa dia tengah menatapku karena aku mulai berpikir untuk tidak mengacuhkannya saja.

“Bulan.”

Petang ini, aku berjalan tergesa mengejar langit sebelum ia redup. Surya di ufuk barat nyaris padam dan Surya yang lain menggumamkan namaku, lagi.

Aku menoleh mendapati Surya di belakangku, mungkin tujuh meter radiusnya, menatapku.

“Bulan.”

“Apa? Ada yang ingin kau sampaikan, Surya?” tanyaku, meski sepertinya Surya hanya ingin menatap seperti biasa dan aku akan berlalu kalau ia masih tidak berminat bicara.

“Terima kasih.”

Aku terkejut, kosa kata baru yang kudengar darinya.

“Atas apa?”

“Bukan padamu.”

Aku tidak mengerti.

“Pada Tuhan,” ia menjelaskan dengan kedataran yang biasa kudapat, “karena Ia memberiku cinta dan cinta itu belum berubah setelah satu tahun berlalu.”

Aku sama sekali tidak mengerti, “Itu puisi?”

Surya tersenyum. Kalau aku tidak pernah melihatnya tersenyum, pasti aku sudah sangat terkejut sekarang.

“Aku mencintaimu.”

Nafasku tertahan, suaraku tercekat, Surya berlalu.

    ***

Bisik tentang itu sudah lama kudengar, bukan dari siapa-siapa, namun dari nuraniku bahwa Surya menyukaiku, aku tidak ingin percaya itu.

Ia menatapku, belum pernah terlihat bosan atau muak, baru berhenti ketika aku meninggalkannya dan dia tidak memintaku tinggal. Itu mungkin caranya mencintai, sangat berbeda dengan pria normal kebanyakan dengan deklarasi mereka, dengan picisan-picisan mereka, dengan ekspresi-ekspresi mereka. Surya memang berasal dari planet bernama “Berbeda” tidak mengenal itu semua.

“Tolong Surya, kau salah mencintai! Aku tidak pantas dan tidak ada yang bisa kau harapkan dariku!” kataku tegas pada Surya.

Surya menunduk. Ini pertama kali ia menunduk ketika menghadapi aku, dan aku merasa wajahnya menyiratkan kekecewaan. Ia menggeleng samar.

“Apa yang aku harapkan? Aku tidak berharap apapun,” gumamnya pelan dan terdengar lelah.

Semua orang yang mencintai pasti punya harapan, ingin yang dicintainya membalas perasaannya, ingin ia menjadi miliknya, ingin ia selalu ada di sisinya. Paling tidak itu yang dilakukan manusia Bumi.

“Aku tidak ingin kau mencintaiku, aku tidak perlu itu. Seandainya kau mau lari dariku, aku tidak akan mengejarmu. Aku hanya ingin mencintaimu.”

Aku sudah menyangka kalimat-kalimat asing yang sangat jarang diucapkan manusia itu akan keluar dari mulutnya.

Surya, hari ini berlalu.

    ***

Ia memenuhinya. Ia sungguh tidak pernah lagi menampakkan dirinya sejak hari itu, ingin membuktikan padaku bahwa ia benar-benar tulus mencintaiku.

Hari yang malam dengan Surya, bertambah malam tanpanya, seperti kehilangan dan aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa kadang aku berharap menyadari sedang ditatap atau dipanggil dengan sangat pelan seperti panggilan yang tidak punya keperluan apapun.

“Bulan.”

    ***

Pagi di kampus, aku mendapati banyak mahasiswi tersedu.

“Ada apa Ester? Kuku kalian patah?” Seingatku mereka pernah menangis karena kasus ini, dan belum ada yang lebih parah dari itu.

Ester mengerlingku tajam lalu semakin terisak kemudian meratap seperti ia telah menemukan pengumuman hasil semester, dan ia tidak lulus empat mata kuliah.

“Bulaaan!!!” Ester lalu berlari menghampiriku dan merangkulku.

“Ada apa?”

“Surya, Bulan, SURYAA!”

Kakiku dingin mendengar nama itu. Setelah berhari-hari absen, ada apa dengan manusia aneh nan misterius itu?

Ester memberitahuku hal sangat buruk itu, hal buruk yang membuatku bergabung meratap dengan mereka. Pertahananku sungguh telah runtuh.

    ***

Aku tidak akan naik ke pucuk menara, di mana jam

Menghapusmu

Dari Praha. Plasa kehilangan kusam,

Aku kehilangan kita

(Kwatrin Untuk Ingatan, Goenawan Mohamad)

Matahari: terkapar lelah di suatu tempat, membaca puisi.

Berulang-ulang kubaca puisi itu, tulisan tangan seseorang yang akhir-akhir ini setia menatapku seperti berusaha memahamiku.

Apa yang membuatnya cinta masih jadi misteri, dan ia ingin tahu misteri di balik itu, karena itu dia membaca cintanya, ingin memahaminya. Begitulah cara dia mencintai. Pun tanpa harapan, tanpa angan, tanpa cita-cita, hanya ingin menikmati perasaan itu di dalam hatinya, bersyukur karena belakangan dia sadar setahun sudah berlalu, anugerah terindah bahwa cintanya belum berubah. Begitulah seharusnya cinta.

Tapi sungguh kini ia benar-benar tiada, terbenam. Aku tidak ingin percaya itu.

Setelah ia yakin bahwa dirinya mencintai, ia ingin pergi sebelum harapan muncul di hatinya, karena itu tidak semestinya. Dia keterlaluan! Orang di Bumi tidak melakukan itu!

Aku masih ingin menyangka Surya menatapku di pagi hari dengan cintanya, dan ia memang masih di sana. Lalu ia memanggil namaku “Bulan,” tanpa keperluan, tanpa berharap aku menoleh, hanya menyebut. Tapi aku akan memenuhi panggilan itu, meski aku tidak tahu kapan….

Cinta Surya seperti cinta benda lain bernama sama, hanya cinta, tanpa harapan. Jadi, biarkanlah Surya terus menatap Bulan.

***

Puisi-puisi dikutip dari buku “Epiphenomenon; Telaah Sastra Terpilih” disusun oleh Arif Bagus Prasetyo.

5 Responses to “Tatap Surya Seperti Malam”

  1. on 13 Dec 2008 at 06:53Aliah

    Whiiiih… Bagus banget!

  2. www.yahoo.com

  3. on 14 Dec 2008 at 08:57cahaya hidup

    Cerpennya bagus…..berpaduan antara cerita dengan selipan-

    selipan puisi yang bergitu indah dan menyentuh ….dan itu hanya

    dapat dirasakan oleh manusia-manusia yang mengerti arti cinta

    sebenarnya…

  4. on 18 Dec 2008 at 11:09Raidah Intizar

    thx everyone.
    aku pernah menjadi seorang surya, tapi yang kukagumi darinya adalah kepolosannya tentang cinta, sungguh tidak ternoda. Aku belum bisa melakukan hal yang sama.

  5. on 07 Dec 2009 at 20:42unknown

    Buat Raidah, gue boleh ggak pake cerpen lo buat tugas film pendek gue? oiya, boleh minta no lo yang bisa dihubugin ga? soalnya gue perlu perizinan dari lo
    thx before

Tinggalkan Komentar