Sejumput Asa untuk Teman
Desember 13th, 2008 by cepi
Langit berwajah murung, ditemani sang bintang yang terpisahkan oleh keangkuhan nafsu duniawi para pemujanya. Hanya redup sebagai penghias malam mereka. Irama rintik gerimis di antara milliaran kebisuan menjadi iringan ratap yang menyayat ruh-ruh qudus. Kesaksian sunyi tak akan menguatkan gugatan kepedihan di pengadilan kejujuran yang semu. Sunyi hanya bisa menawarkan jasanya lewat tetesan air dari lembah hati kebisuan.
Sendu dalam gerimis Agustus
Bau tanah bercampur asap kendaraan kembali merebak dan menyelinap masuk kedalam hidungku. Khasnya bau udara bercampur hujan begitu menusuk. Hari ini awal musim hujan. Oh, bukan! Aku lupa! Sekarang bukan awal musim hujan, melainkan hari pertama aku menikmati hujan di kota Bandung, setelah sebulan lebih aku tinggal di sebuah kampung yang cukup padat penduduknya. Dan yang paling membuatku terharu, bahwa bau yang kuhirup tersebut, kudapati sedang bergulat dengan tetesan air mata langit. Dan tentu saja orang-orang yang seangkot denganku, bahkan yang ada di angkot lain pun, semakin senang untuk duduk berdempetan dengan orang di sebelahnya, karena udara begitu dingin. Dan saat itu pula, yang paling kurasakan betul adalah langit menangis begitu deras seperti bayangan temanku yang melepaskan bendungan air mata dari kelopak indahnya, setelah membaca koran hari ini. Kaca mobil yang kutumpangi mengabarkannya dengan jelas kepadaku lewat sentuhan air mata hujan di atas tubuhnya.
Sejenak kulihat orang-orang yang seangkot denganku. Ya hanya sekedar memastikan, bahwa semuanya dalam keadaan baik. Dan jika memang mereka memerlukan bantuan, barangkali saja diriku dapat sedikit membantu. Akan tetapi, tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Kuarahkan kembali pandanganku ke luar sana, menembus tebalnya kaca angkot yang terselimuti rintik air hujan. Langit begitu sendu. Rasanya hati ini semakin tidak kuat untuk membayangkan kembali wajah temanku yang membaca koran hari ini. Langit yang kubaca, tak mau berkata.
***
Kumasukkan koran hari itu yang sengaja kubeli di pertigaan kampus ke dalam tasku. Tangga masjid yang sedari tadi kududuki tetap saja membisu, meski kutatap lekat penuh harap. Barangkali saja ada sebutir harapan yang akan kutemukan di sana, namun ternyata sia-sia saja. Tangga itu enggan berbicara.
Sungguh, aku merasa sakit, ketika selesai kubaca koran pagi itu. Ingin rasanya kutumpahkan air mata yang menggenangi hati ini. Suara dari sana, suara teman yang berhati bersih terus memanggil jiwa ini, seakan teman lama yang sangat merindu untuk bertemu denganku, namun itu semakin membuat beban ini terasa sangat berat untuk kupikul. Belum puas rasa sedih menghampiriku, kini aku harus tinggal di tempat yang terasa sangat asing bagiku, tanpa teman yang selalu dulu bersama. Ya, setidaknya bersama dalam mengisi waktu luang untuk menghilangkan kepenatan dari hiruk-pikuknya suasana belajar di kelas. Ya, kuakui sekarang, bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap orang telah diberi oleh Tuhan perbekalan untuk dirinya sendiri, yang sungguh itu merupakan aset terbaik dalam diri. Kelebihan dan kekurangan ada, karena Tuhan berkehendak agar manusia bisa saling melengkapi satu sama lain dalam meraih suatu impian. Ya, aku sadari hal itu, meski kuterlambat untuk mendapatkan kesadaran akan hal itu. Aku malu, sungguh malu. Di saat aku membutuhkan teman, aku baru merasakan hakikat dari rasa itu.
Tetapi bukan berarti dulu aku tidak mengindahkan anugrah tersebut. Yang kutahu, bahwa Tuhan akan memberi balasan sesuai dengan apa yang manusia itu sendiri kerjakan. Karena itulah, aku tidak terbiasa untuk memberi kesempatan sedikit pun kepada diriku untuk banyak bergaul dengan orang lain. Dan satu hal yang penting, bahwa aku punya prinsip dalam hidupku. Jika memang manusia itu sendiri masih menempatkan nafsu duniawinya menjadi penasihat dalam hatinya, untuk apa aku bersosialisasi dengannya. Aku sungguh muak dengan sikap mereka. Rayuan yang mereka utarakan begitu indah didengar dan sungguh tidak ada cacat sama sekali. Sebesar dzarah pun tidak tampak! Dan yang kutahu, mereka orang yang selalu menjunjung tinggi ayat-ayat yang diwahyukan oleh Tuhan kepada para utusan-Nya. Sangat luar biasa! Semangat mereka begitu berkobar laksana api yang melahap kayu kering di tengah padang pasir nan tandus yang terbakar matahari. Dua acungan jempol, pantas untuk mereka.
Namun di sini, hati yang berbicara, bukan mulut atas perintah lidah yang terlatih dalam musim debat di setiap perlombaan. Hanya hati yang bertanya dan hanya hati pula yang menjawab. Sungguh, tidak ada teman yang dapat kuajak untuk mendengarkan kegusaran hati ini. Hanya gelap yang menangis disaat sepi menjelma.
***
Tuhan, sungguh hamba tidak bermaksud untuk menjauhi manusia yang Engkau ciptakan di dalam hidup ini, namun hamba hanya berharap, bahwa mereka dapat mengerti akan amat sangatnya kegelisahan hati ini. Sungguh suatu harapan yang benar-benar mustahil untuk terwujud, karena hamba sendiri begitu jauh dari kelayakan seorang pengharap yang akan dikabulkan do’anya, namun hamba tidak ingin berputus asa dari rahmat-Mu sepanjang hayat tidak beriwayat mati dan selama angin masih memberitakan kabar gembira bagi manusia yang selalu bersyukur.
Meski hamba penuh dengan dosa dan aib hamba sudah tak terlapisi lagi oleh lembaran malu di diri ini, namun tekad hamba untuk dapat berbuat baik di jalan-Mu demi mengharap ridho-Mu tetap menancap di jiwa dan terus menembus batas-batas kemampuan diri hamba sebagai seorang manusia sampai saatnya tiba bagi sang maut yang pasti akan menjemput. Di sanalah satu titik di mana hamba akan memetik hasil dari benih yang telah hamba tanam dan menikmati satu di antara dua pilihan di dalam kehidupan abadi, syurga atau neraka. Hamba yakin itu…Tuhan.
***
Derap langkah orang-orang di luar sana begitu bergemuruh di telinga, beriringan dengan lantunan parau setiap do’a di sisa-sisa waktu hidupku. Kutata kembali setiap nikmat yang telah dianugrahkan-Nya kepadaku, sebelum akhirnya kuputuskan mengenai sesuatu yang teramat penting dalam gersangnya hidup ini, meski begitu lama waktu yang kutempuh untuk menjalaninya.
Setiap ucap yang keluar dari mulut ini menjadi bagian dari saksi bisu yang tidak akan pernah terungkap kerahasiaannya sebelum Tuhan menghendakinya. Dan tentu saja, hal itu yang membuat hati ini mengalir tenang, bahkan kepasrahanku pun semakin kuat kepada-Nya. Aku tidak perduli terhadap tipu daya siapa pun, cukup hanya Dia saja yang menjadi Sang Pengobat hatiku.
Kudengar kembali jeritan-jeritan langkah yang merayap di setiap dinding bangunan megah dan sejuk yang kudiami ini, meninggalkan kesunyian masjid di antara senyap yang mengalir perlahan. Tetesan air mata menyerpih di atas lantai dalam sujud syukurku. Tidak mengapa, jika memang temanku yang berhati bersih belum berkesempatan untuk duduk di bangku kuliah, asalkan diri ini, aku, selalu dapat menjaga kobaran api semangat dalam jiwa yang sinarnya menjadi satu di antara sekian pelita bagi mawar yang terbakar dalam sukmanya, agar kuncupnya tetap bersemi sepanjang kesucian duri-durinya tidak ternodai.
Aku lewati kembali tangga yang tadi kunaiki. Aku sampaikan sesuatu padanya, bahwa kutemukan harapan itu, hidup yang tidak akan berakhir sia-sia, meski manusia tidak merasakan dunia kampus. Aku terbang kembali bersama do’a yang kukepakkan sayap-sayapnya menuju langit yang tidak menangis lagi.
***
Aku masih mengingat hari pertama pertemuanku dengannya. Waktu itu, dia hanya terlihat seperti patung yang terpajang di etalase-etalase toko benda unik, namun tidak diposisikan di tempat yang strategis, tidak seperti karya-karya mewah lainnya yang pasti selalu menjadi yang terdepan, karena si penjual tahu bahwa hal itu akan menjadi daya tarik bagi para pengunjung yang datang ke tokonya. Akan tetapi jika mata para pengunjung itu setajam mata elang atau seakurat matematika ketika mereka menjelajahi toko itu, satu hal yang pasti, dan ini hanya berlaku bagi si pencinta seni yang sejati, bahwa ia akan memilih patung yang sama dengan patung yang aku sorot ketika ku berdiri di ujung lorong bagian bangunan itu. Ya, dari sini begitu jelas tersirat, bahwa dirinya berjiwa bersih, ia tidak ingin salah memilihkan mata bagi tubuhnya yang selalu terbalut kain putih panjang berdawaikan angin. Ia akan selalu menjaga keanggunan yang diberikan Tuhan kepada dirinya, walau sesulit apapun kondisi yang ia hadapi.
Kala itu pun sama, kondisinya begitu tidak memungkinkan, bahkan tidak dapat diperkirakan, hanya pasrah yang meraja di dalam diri di saat kesombongan yang sangat membara, membuncah laksana letusan gunung berapi yang amat dahsyat dengan debaran jantung yang setiap saat semakin bertambah kencang, dan lajunya waktu yang seolah mempermainkan komitmen yang ia pegang erat-erat. Tetapi sia-sia saja semua ocehan itu, ia tetap berwujud air yang amat menyejukkan. Setiap senyum yang ia layangkan kepada orang-orang saat itu, mampu menerbangkan setiap jiwa yang menyapanya. Ia begitu yakin akan keputusan yang diambilnya, ia bertekad bahwa dirinya harus masuk SMA berstandar internasional di daerahnya, meski hasil nilai ujian nasionalnya mendekati garis kemiskinan.
Saat itu, ia hanya berkata kepadaku lewat panahan sinar matanya yang menembus megahnya langit, bahwa ia pasti bisa, karena Tuhan Maha Mengetahui hati siapa yang benar-benar ikhlas menjalani kehidupan yang Dia berikan. Sungguh, saat itu, aku mengakui akan kekalahanku, kekalahan dari orang yang hanya mengikuti keinginan nafsunya sendiri, namun saat itu pula aku dapat berdiri tegak untuk menggapai kembali gairah dari hakikat perjuangan yang ia lukiskan di atas arakan awan dalam birunya langit di sana.
Dan kemerdekaan pun membaur ke dalam riuhnya kesombongan di antara serpihan ikhlas dari segelintir manusia yang bersyukur kepada Tuhan. Passing grade dengan nilai 25,01 menjadi batas bisu dari orang-orang yang harus menerima kekalahan. Ia pun menangis, namun bukan kalah, melainkan menang dalam menindas nafsu duniawinya dengan keyakinannya akan kebenaran yang dikabarkan oleh Tuhan lewat bisikan hati yang begitu bersih. Ia resmi menjadi satu dari 400 siswa sekolah berstandar internasional di musim itu. Aku mendengar angin memadu kasih dengan riaknya air di sebuah parit.
***
Lukisan itu telah usai kuhapus dengan arakan awan yang semakin cepat di atas kota yang kini kudiami. Rasanya sungguh sebentar, seakan baru beberapa jam yang lalu aku berkenalan dengan sossoknya yang begitu meneduhkan hati ini. Sungguh, tiga tahun yang kulalui bersama dengan ketulusan yang selalu menancap kuat dalam dirinya, begitu belum cukup untuk menggilas habis penyakit hati yang ada dalam diri ini, seperti jiwanya yang berhasil menenggelamkan nafsunya ke lembah keikhlasan. Dan kini hanya coretan sembilu yang ia dapat. Tarian kesombongan manusia yang semakin memanas dalam kehidupannya, belum paham akan keberadaan jiwanya yang begitu halus, dan terus saja menyeret kain putih yang melekat dalam sukmanya di atas noda-noda kehinaan yang semakin mengental.
Saat malam berselimut tiris, kutautkan hati ini pada Tuhan. Dalam ganasnya peradaban manusia, mulai kutelusuri kembali jejak-jejak langkahnya yang tersamarkan debu kesombongan. Aku ingin semua manusia bisa seperti dirinya, menyanyikan lagu keikhlasan di setiap relung jiwanya, mendamba kasih dari Sang Pengasih dalam menapaki hidup ini. Tetapi aku ingat kembali akan perkataannya dahulu, bahwa jika memang ia harus menang saat ia menghadapi pertempuran itu, berarti suatu saat Tuhan akan kembali mengujinya dengan satu kata yang mendampingi gelar yang pernah ia raih, dan sekarang kata itupun bersenandung mesra di atas kepahitan yang melanda. Ia harus menerima kekalahan yang sebenarnya bukan sesuatu yang pantas ia sandang, namun tetap ia pada pendiriannya, sama seperti tiga tahun yang lalu, bahwa ia tidak akan putus asa dari rahmat Tuhan, meski ia harus mengorbankan jiwanya sekalipun, jikalau itu memang benar dari Tuhan. Ia tetap memenangkan pertempuran itu. Saat ini ia telah berhasil mendapat gelar seorang manusia yang jujur, jujur dalam segalanya, disaat yang lain telah memenangkan pertempuran itu, namun kemenangan yang penuh dengan kehampaan. Dan sungguh tidak pantas untuk kubandingkan antara kejujurannya dengan kedustaan mereka. Tetapi aku jatuh kembali ke dalam bahtera nafsu yang ada dalam diri ini, ketika kudapati kembali sebuah pesan lama dari dirinya, bahwa tidak pantas bagi manusia untuk merendahkan sesamanya, seburuk apapun mereka, karena Tuhan memiliki rencana tersendiri untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Ah, aku sungguh malu pada diriku. Aku meringis dalam gerimis musim ini, meski kutahu bahwa dirinya tidak selemah diriku.