KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

“Aku cuma nggak pernah suka bila kamu pakai sepeda itu menjemputku, lebih baik kau nggak usah jemput aku lagi sebelum sepedamu kau ganti dengan kendaraan yang lebih baik dari rongsokkan itu!”

Perempuan yang baru keluar dari emperan pasar di ujung kota itu masuk lagi ke dalam pasar yang kumel. Wajahnya gusar. Setelah menggerutu. Rambut dan wajahnya berubah makin kusut. Cahyono tidak tahu lagi harus berbuat apa, lelaki yang barusan kena damprat. Begitu saja. Diam kena semprot dari Rini, pacarnya. Dia masih memegang erat setang sepeda bututnya. Bannya gundul. Peleknya sudah amburadul. Joknya robek-robek. Remnya blong. Karat di mana-mana. Dan di belakang sepedanya, ada  jok terbuat dari besi dan masih memuat karung berisi sayuran.

Cahyono baru pulang. Dari kampung seberang. Setelah menjual sayur-sayuran yang ditanam bapaknya. Dan dia mampir ke pasar. Tidak jauh letak dan tempatnya dari rumah. Bermaksud menjemput pacarnya – Rini – dia malah dimarahin. Habis sudah. Apa daya. Masa pacaran mereka sudah empat tahun. Mulai luntur.

Cahyono pemuda yang giat. Dan taat. Tubuhnya tumbuh subur. Ototnya kencang. Rambutnya ikal. Dan wajahnya lumayan tampan. Tapi sekolah dasar saja dia tidak kelar. Kepentok biaya makan adenya. Makanya setiap subuh. Tubuhnya diguyur air sungai untuk mandi. Dan sebelum matahari nongol dia sudah berangkat menjual sayuran.

Rini gadis belia. Tumbuh dari anak penjual ayam dan hewan ternak lainnya di pasar. Rambutnya lurus hitam. Tubuhnya tinggi dan berisi, seksi. Kulitnya kuning langsat. Bibirnya manis. Hanya saja dia terlalu sibuk bantu orang tuanya di pasar. Jadi dia nggak punya waktu untuk memikirkan bedak atau lipstik untuk bibirnya yang manis, apalagi memikirkan perawatan kecantikan lainnya guna menjaga tubuh remajanya.

       ***

Di subuh yang buta, mereka berdua bertemu dan bebarengan menuju pasar. Saat itu Cahyono bermaksud menjual sayuran ke pasar. Sedang Rini bergegas harus menjaga dagangan orang tuanya. Mereka berdua nggak sengaja saling kenal-mengenal. Dan kasmaran pun menggerayangi mereka berdua. Cinta hinggap di antara belahan jiwa mereka berdua.

Hingga kini, empat tahun berlalu.

Tahun pertama adalah hari-hari yang istimewa bagi mereka. Setiap subuh  mereka berdua berangkat kerja sama-sama. Rini dibonceng sepedanya. Tangan memeluk mesranya. Cahyono menjaganya. Mereka berdua tertawa-tawa. Bahagia. Saling menerima. Apa adanya. Melengkapi, menghargai, menyayangi.

Dan beranjak dua tahun masa pacaran, kerikil-kerikil kecil mulai datang, mengganggu di setiap jengkal jalan.

Begitu seterusnya sampai empat tahun bergeser. Rini semakin nggak dimengerti oleh Cahyono. Mengapa Rini bukan yang dulu lagi? Yang mau menerima Cahyono dengan segala kelemahannya. Seperti Cahyono yang menerima nasib-nasib remajanya.

Rini sebenarnya masih cinta sama Cahyono. Malah cintanya semakin besar dari tahun-tahun yang berlalu. Tapi Rini sudah tidak tahan lagi. Setiap pagi begitu warung dan dagangannya dijual di pasar. Para pembeli, umumnya para ibu-ibu muda – yang dulu adalah teman sebayanya – selalu  membuat dia iri. Senantiasa di antara mereka berbelanja dengan perhiasaan yang merias seluruh seluk beluk tubuhnya. Kalung emas di leher, cincin yang bercahaya di jemari, gelang yang berbunyi-bunyi, wajah yang ceria, dompet buaya yang tebal isinya, suami atau pacarnya yang rapih, dandanan kelas atas, dan jemputan mobil keluaran baru atau paling tidak motor ninja yang gaya.

Makanya setiap kali Rini melihat Cahyono datang ke pasar – bukan karena dia tidak senang pacarnya perhatian – tapi dia datang dengan wajah sisa kerja. Kumel, kuyu, baju bau keringat, tubuh bau pasar, tangan kasar, mata yang layu, dan terakhir sepeda butut. Rini merasa nasib sudah mempermainkannya dan dunia sudah menjungkir-balikkan mimpinya.

       ***

Rini mengusap lekuk lehernya yang berkeringat. Rambutnya dia belai dan ikat. Matanya yang indah itu terlihat lelah. Tanganya yang dulu lembut kini kasar, kering.  Dia tidak peduli dengan semua itu. Dia tidak bersedih hati. Tapi kalau ada pembeli yang dulu temannya, apalagi dengan stelan juragan istri, hatinya teriris. Sakit. Iri.

“Berapa ayam sekilo Rin?” Sambil mengepit tas yang bagus.

“Dua puluh lima rebu Jeng,” jawab Rini. Lemas.

“Oh, aku beli lima kilo. Kembaliannya ambil aja.” Bibir Rini senyum, tapi hatinya menangis. Menjerit. Sakit.

Dia selalu berpikir kapan Cahyono – kesatrianya itu – akan melamar dengan uang segepok dan mobil yang kinclong. Kapan Cahyono bakalan mengangkat Rini dari jongko pasar ini, mencemplungkannya ke rumah besar, menjadi pasangan suami- istri muda, lalu memandikannya dalam kolam susu, ke dalam kamar yang penuh dengan alat-alat make up. Kapan Cahyono bakalan memangkunya ke atas ranjang empuk, selimut tebal. Nggak ada nyamuk. Bila sore mengajak dia jalan-jalan, belanja, seperti halnya kebanyakan anak muda lainnya.

Mestinya. Tidak ada yang perlu mengiris hatinya lagi. Sudah cukup bagi Rini untuk hidup yang sudah ia jalani. Sudah kenyang dia makan hati.

       ***

Sekitar jam empat sore, begitu pembeli mulai sepi, Rini membersihkan dagangannya. Mana yang bakal ia simpan atau mungkin dia bawa pulang untuk sekadar dimasak untuk makan. Setiap hari selalu begitu. Tangan Rini bau daging. Rambutnya tidak pernah disisir, mesti bau anyir. Baju yang baru dicuci mesti keciprat darah. Kaki yang indah mesti kena pegel dan rematik. Jari-jari lentiknya berubah menjadi besar-besar dan kasar. Keremajaannya terasa sia-sia.

Sore ini Cahyono tidak nongol. Rini tahu, dia malu. Takut. Kasihan juga. Tapi nggak apa. Biar tahu, dan dia nyadar ke sananya. Tapi sepi. Makin terasa sangat sepi. Hatinya kosong. Melompong. Apa penyebab Rini merasa sendiri sekali?

       ***

Jalan menikung ke kampung-kampung. Berliku. Berbatu. Di tepian jalan tumbuh rumput liar, pepohonan, guguran daun hijau. Butuh setengah jam sampai ke kampung Rini dari pasar. Dan jalan kecil inilah yang terdekat. Jalan inilah yang mempertemukannya pula dengan Cahyono. Kampung Cahyono mesti jalan lagi setengah jam dari kampung Rini tinggal.

Adzan magrib samar terdengar, terbawa angin suaranya. Matahari tinggal sisa cahaya di kapas awan jingga.

Jalan kecil. Ingatan-ingatan. Suara derai tawa hilang. Anak-anak larian. Kenangan. Perasaan lelah. Rasa cinta. Begitu sangat tajam mengiris masa silam. Rini merasa diingatkan lagi ke hari-hari bersama Cahyono sewaktu dulu. Dia merasa bersalah bersikap begitu pada pacarnya.

Baru sampai di depan rumah, bau daging tercium lagi. Kini ditambah bau tubuh hewan ternak sesekali meliwat, menusuk hidung. Kandang-kandang, ayam, kambing, kerbau, padang rumput terlihat samar di bawah malam yang mulai membungkus.

       ***

Dari jarak beberapa meter, bayangan yang sepertinya hapal. Rini menyelidik. Hatinya bertanya-tanya. Siapa? Namun sebelum mata Rini jelas menangkap wajah, orang itu menampakkan dengan sendirinya. Cahyono, kekasihnya. Dia duduk di beranda rumah Rini. Dari tadi sepertinya.

“Sedang apa kau di sana?”

“Menunggumu Rin, kau masih marah ya?”

“Marah kenapa?” Rini nyelonong begitu saja menuju ke samping rumah, menyimpan barang bawaannya, menyusunnya, merapihkannya.

“Marah karena aku nggak punya apa-apa. Nggak bisa ngasih apa-apa.” Cahyono mengikutinya. Rini diam. Cahyono serba salah.

“Kamu berpikir aku marah karena kamu itu nggak punya apa-apa? Kamu nganggap aku ini apa?” Rini setengah marah.

“Habis. Kemarin?”

“Kemarin aku hanya ingin tahu saja. Bagaimana isi hatimu? Serius kau menyayangiku Yo? Tunjukkan dong! Mencintai yang sebenarnya. Jangan seperti ini terus, buktinya mana!”

Cahyono kini yang balik diam. Cahyono seperti ditonjok. Cahyono ingin sekali berteriak menyampaikan isi dalam hatinya, bahwa dia, seperti anak muda yang lainnya, ingin membahagiakan kekasihnya. Ingin mengajak ke mall. Jalan-jalan. Belanja. Membonceng Rini dengan motor. Sedikit ngebut di jalan. Mentraktir makan di restoran. Membelikan baju bagus. Mengajaknya ke salon. Melihat keindahan di bukit hijau. Pergi ka tempat romantis. Memeluknya erat. Menciumnya sedikit dengan nafsunya. Menyia-nyiakan waktu. Memanjakan diri. Bersuka ria. Pesta. Menari berjoget dangdut sampai suntuk malam. Segalanya ingin Cahyono lakukan. Laksanakan. Tapi itu semuanya hanya dapat dia impi-impikan karena Cahyono bukan nggak mau mewujudkan mimpinya.

“Kau anggap aku nggak pernah ngiri ya Rin? Aku tahu bagaimana perasaanmu setiap ngeliat teman-teman kita yang dulu.” Cahyono bersuara. “Setiap kali aku di dekatmu Rin, aku selalu berusaha tersenyum bahagia agar kau menyadarinya. Dengan kehadiranmu di hidupku aku puas. Aku merasa senang. Meski sebenarnya hidupku nggak pernah memuaskan. Bapakku sudah tua, adikku banyak, masih kecil. Aku nggak pernah jelas mengenal Ibu. Beliau pergi sewaktu aku masih kecil. Usiaku masih muda. Seharusnya aku seperti yang lainya, nggak perlu cape-cape berpikir ini-itu. Tapi semua nggak bisa seperti itu Rin.”

Cahyono kemudian yang beranjak pergi. Dia menuju tempat sepedanya berada, menyandar di dekat pohon Jambu. Cahyono menaiki sepedanya, siap-siap mengayuhnya.

“Aku mencintai yang sebenarnya. Mencintai perempuan yang akan kubahagian. Aku akan membangunkan rumah untuknya dengan mimpiku, dengan usahaku, keringat, dengan harapanku. Aku akan menjaganya, tetap ada di sampingnya, saat dia senang, sedih, atau bahkan saat dia marah padaku sekali pun.” Cahyono dengan mata yang berbinar-binar kembali menyeruakan hati.

“Lupakannya perkataanku barusan Rin! Besok aku jemput kamu ya? Mudah-mudahan aku bisa wujudkan keinginan kita berdua. Keinginanku dan keinginanmu.” Cahyono nggak berharap Rini menjawabnya. Dia langsung pergi. Malam itu begitu dingin sekali. Angin terasa mengambang. Bulan padam.

       ***

Di bawah malam, gelap menyembunyikannya. Cahyono mengendap-ngendap. Masuk rumah Pak Dirto. Dengan setengah gila, dia memanjat pagar rumahnya. Melihat ke setiap arah. Barang kali saja ada orang di sekitarnya. Dalam hatinya berkecamuk perasaan aneh. Dia nggak mau melakukan ini. Tapi dia harus berbuat apa lagi selain ini. Semuanya bercampur begitu saja.

Jendela dicungkilnya dan terbuka. Matanya mengarah kamar dan menyebar begitu saja. Mencari apa saja yang bisa dia ambil kemudian jual. Namun cahaya itu, cahaya yang begitu nggak Cahyono harapkan, menyala dari kamar. Lampu itu menyemburkan bayangan. Ada orang terbangunkan Si punya rumah.

Serentak Cahyono mencari jalan keluar seadanya. Dia tergesa-gesa.

“Harusnya aku nggak di sini,” lirih hatinya.

Namun langkah Cahyono bukan langkah malaikat yang nggak tertangkap mata.

“Bangsat. Bangsat,” Teriak orang yang menemukan Cahyono. Berulang-ulang. Semakin keras.

Cahyono lari sekencangnya. Dia loncati pagar seperti meloncati mimpinya. Dia cari celah untuk melepaskan diri, seperti mencari celah bagaiman bisa membahagiakan orang terkasihnya. Dia masuk ke kebun. Dia lalui pohonan. Dia tinggalkan sepeda butut miliknya satu-satunya. Seperti dia buang begitu saja keluguannya, kejujurannya, imannya.

Tapi orang-orang sudah mengepungnya. Mereka serentak muncul begitu saja dari berbagai arah setelah terdengar orang teriak sekeras-kerasnya meminta tolong ada pencurian. Orang-orang memburunya. Matanya bengis, tangannya lapar seperti Cahyono yang dulu memburu cinta dari Rini. Cahyono seperti babi yang siap ditombak. Cahyono membelah angin. Nggak berhasil. Cahyono masuk dalam kepungan. Kepalan, tendangan, hantaman kayu. Semuanya mendarat sudah, nggak bisa terelakkan lagi.

“Ampun!” Semua makin membabi buta.

“Ini aku lakukan…untuk,” Cahyono terputus-putus bersuara. Malah makin keras dan makin banyak orang memukulnya. Makin lama berlangsung makin sakit Cahyono rasakan.

Namun akhirnya, sedikit-sedikit rasa sakit itu mulai nggak terasa. Hilang perlahan-lahan. Bahkan malam begitu saja terasa hangat seketika. Sepertinya, Ibunya yang dulu meninggalkannya sudah ada di sampingnya, memeluknya, membelai rambutnya, memeluk lagi erat.

“Bakar-bakar,” seru orang-orang itu.

Cahyono nggak ngerasa takut sedikit pun, nggak gentar, karena dia sudah ada di dekat ibunya, di dekat orang yang benar-benar dirindukannya sepenuh jiwa dan hati. Untuk selamanya akan mencintai sebenarnya.

Bulan saat itu semakin memucat. Pasi. Kemudian sembunyi.

6 Responses to “Mencintai yang Sebenarnya”

  1. on 13 Dec 2008 at 15:00shasha

    Astaga, Rini harusnya merasa bersalah untuk semua ini.

  2. on 13 Dec 2008 at 18:14thetep

    kasihan tu cahyono,mati ga ya. . . .HEHEHE

  3. on 15 Dec 2008 at 13:40asrul

    kasian si cahyono, kalo memang tidak mampu, ngaoain dipaksakan, daripada menjual iman.

  4. on 16 Dec 2008 at 14:26asih

    subhanallah…
    sebegitu sayangnya cahyono sm rini…
    cinta yg sprti i2 udh jrg bngt bs dtmukan.
    jd jgn abaikan cnta yg dbrikan org2 dsktr qta, krna siapa th mreka akn mmbrikan cnta sprti yg chyono miliki…
    ^_^

  5. on 25 Dec 2008 at 20:24Luluk

    Hmm..Apakah ada cinta seperti cahyono?

  6. on 11 Mar 2009 at 17:00Nabila

    Kasihan cahyono. Cuma gara-gara Rini, Cahyono rela melakukan itu

Tinggalkan Komentar