Bukit Bintang
Desember 13th, 2008 by mozaiq
Huf…hujan hari ini turun deras sekali dan aku terperangkap di pinggir jalan bersama orang-orang yang baru saja selesai menjalani aktivitasnya atau mungkin ada yang baru mau memulai aktivitasnya. Kendaraan bermotor memadati tengah kota yang kini mulai basah kuyup karena derasnya hujan. Anak-anak berseragam merah putih saling berlarian dengan raut wajahnya yang ceria dan seragam mereka yang penuh dengan noda-noda kecil dari cipratan-cipratan air hujan yang menggenang di jalanan tapi mereka tak merisaukannya, mereka terlihat senang bahkan menikmatinya. Anak-anak kecil itu seakan mensyukuri setiap tetes air hujan yang membahasi bumi.
Adapun seorang pengemis tua dengan pakaiannya yang lusuh sedang berusaha mencari tempat untuk berlindung dari hujan. Sedangkan orang-orang berdasi dengan wajahnya yang seakan tak peduli akan apa yang terjadi di sekitarnya, duduk santai dalam mobil ataupun di dalam gedung-gedung tinggi yang memadati jalanan ini. Mereka sibuk dengan kertas-kertas mereka, mereka tak peduli dengan hujan di jalanan, mereka tak peduli berapa orang yang kedinginan dan kelaparan saat hujan mulai membahasi kota ini.
Jarum jam tanganku telah menunjukkan pukul lima sore dan langit pun belum menampakkan senyumnya. Hari ini langit terlihat sedih. Pandangan mataku tak lepas dari jam tangan biru kesayanganku, aku berharap hujan segera berhenti. Setelah beberapa saat aku menunggu, akhirnya sang Langit mendengarkan jeritan hatiku, hujan mulai berhenti dan aku pun mulai melangkahkan kaki menyusuri jalanan setapak demi setapak.
Lampu-lampu kota mulai menghiasi jalanan dan sang Bulan siap datang menjemput sang Matahari untuk menggantikannya menjaga bumi dari kegelapan malam. Gerobak-gerobak kecil mulai memenuhi pinggiran jalan dan tenda-tenda pun mulai didirikan. Aroma kacang rebus, jagung bakar, martabak mulai tercium dan membangunkan para cacing-cacing dalam perut yang sedang tertidur pulas. Para pedagang bersiap-siap untuk saling bersaing mendapatkan pelanggannya. Inilah aktivitas di tengah kota menjelang malam hari tiba.
Di balik semua keramaian kota pada malam hari terdapat sebuah tempat yang berbeda, tempat yang jauh dari keramaian kota, jauh dari orang-orang yang sedang berpesta pora, jauh dari polusi kendaraan bermotor, yang ada disini hanyalah kedamaian dan ketenangan. Tak ada aroma kacang rebus, jagung bakar ataupun makanan lainnya, disini hanya ada aroma pohon Pinus, angin berhembus dan hamparan hijau yang dihiasi bintang-bintang kecil. Tempat dimana aku menemukan arti dari sebuah hidup, persahabatan dan cinta. Aku selalu menjadikan tempat ini sebagai tempat peraduanku disaat aku sedang merasa galau, risau ataupun senang, hanya tempat ini yang bisa membawaku dalam ketenangan dan kedamaian.
“Tari…” Terdengar suara seorang pria yang tak asing lagi menyebut namaku.
Aku pun menoleh ke asal suara itu terdengar dan aku kenal siapa dia, Tristan sahabat kuliahku dulu. Dulu kami selalu pergi ke tempat ini bersama, di tempat inilah kami selalu melepaskan penat dan berbagi cerita. Ya itu semua hanyalah cerita lalu yang telah menjadi bagian dalam hidupku dan kini semuanya telah berubah. Semuanya berubah ketika ‘peristiwa itu’ terjadi, peristiwa 5 tahun lalu yang tidak pernah akan aku lupakan hingga detik ini juga dan semenjak itulah kami tidak pernah pergi bersama ataupun tertawa bersama lagi, merasakan kebahagiaan seperti dulu.
“Tristan…,” jawabku lirih.
Tristan pun mendekat ke arahku lalu duduk di sampingku.
“Kamu masih mengingatnya?”
“Mana mungkin aku bisa melupakan itu semua. Semua karena ulahku. Seandainya semua itu tidak pernah terjadi, aku tidak akan kehilangan orang yang aku sayangi.” Air mataku mulai membahasi pipi dan Tristan mengelus kepalaku berusaha untuk menenangkanku.
Aku pun teringat masa-masa indahku bersama sahabatku.
*****
“Tari, sini aku kenalin sama anak-anak kelas kita yang belum kamu kenal!” Edwin menarik tanganku yang sedang asyik baca buku di kantin.
“Ah..kamu ganggu aku aja! Aku kan lagi asyik baca, suruh mereka aja yang ke sini!Lagian nanti juga kenal sendiri kalau perkuliahan udah dimulai,” jawabku dengan pandangan mata yang tak lepas dari buku yang sedang aku pegang.
“Baca kan bisa kapan aja.”
“Kenalan juga kan bisa kapan aja, gimana sih loe?! hehehe”
“Ah..ngehe loe, buruan!”
Karena Edwin seorang cowok, otomatis tenaga aku kalah sama dia dan dia pun berhasil menarik aku ke temen-temennya.
“Hai, Bro! Kenalin nih temen aku namanya Tari. Dia juga sekelas sama kita cuman cewek yang satu ini mah special, beda sama cewek-cewek kelas kita yang lain. Kalian belum kenalan kan sama dia? Aku tahu dia soalnya dulu aku satu SMA sama dia tapi nggak pernah sekelas sih baru kali ini aja pas kuliah sekelas sama dia, tapi walaupun nggak sekelas ….” Belum sempat Edwin meneruskan kata-katanya, cowok yang lagi anteng ngedengerin omongan Edwin yang nggak jelas itu langsung memotong kata-katanya.
“Kenalin nama aku Tristan dan ini temen aku Nino!” Cowok yang memotong kalimatnya Edwin menjulurkan tangannya ke arahku.
“Hmm… Namaku Atharina tapi anak-anak biasa manggil aku Tari. Salam kenal!”
“Nah, gitu donks kenalan! Maklum, Tar, Nino ini anaknya agak pendiem and susah deket ama cewek. Ya, kali aja dikenalin ama kamu jadi nggak minder lagi kalo deket cewek kalo Tristan sih jangan ditanya dia mah orangnya baik kok.”
Ya semenjak perkenalan itu aku semakin dekat dengan Nino dan Tristan tapi itu pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Waktu semester pertama kami belum begitu dekat tetapi ketika semester dua kami bertiga mulai dekat. Mereka sebenarnya tidak seperti apa yang anak-anak kelas ataupun orang lain nilai. Tristan yang blak-blakan terkesan sombong dan menyebalkan. Nino yang pendiam dan tidak banyak bicara terkesan angkuh dan menutup diri. Sudah satu tahun dari semester dua aku dekat dengan Tristan dan Nino, kita bertiga menjalin sebuah persahabatan. Orang-orang merasa aneh kepadaku karena bisa dekat dengan mereka khususnya dengan Nino. Di kelas Nino terkenal sebagai anak yang pintar dan pendiam, dia paling susah beradaptasi dengan orang lain dibandingkan dengan kita bertiga. Selain itu pula, dia dan Tristan adalah idaman para cewek-cewek di jurusan. Awal-awal kami dekat aku sempat dijauhi oleh cewek-cewek di kelas karena aku terlalu dekat dengan mereka dibandingkan dengan cewek-cewek di kelas tetapi sekarang mereka mulai terbiasa dengan persahabatan kita bertiga.
Satu tahun kami lewati persahabatan ini penuh senang dan duka. Kami selalu mengerjakan tugas bersama, pergi bermain bersama dan melakukan hal-hal lainnya. Salah satunya adalah pergi ke Bukit Bintang. Bukit Bintang adalah tempat favorit kami untuk melepaskan penat dan tempat kami untuk bertukar pikiran. Bukit Bintang sebenarnya adalah julukan yang kami buat untuk tempat ini karena ternyata di balik semua keramaian kota yang penuh dengan polusi terdapat sebuah tempat yang berbeda. Tempat ini tersembunyi dan tidak ada orang yang tahu tempat ini padahal tempat ini sangat bagus. Bukit-bukitnya pun masih terawat apalagi kalau malam hari pemandangannya sangat indah penuh dengan bintang, makanya kami menyebut bukit ini Bukit Bintang. Di sinilah kepribadian asli kami terlihat dan tempat ini pula yang menyadarkan aku bahwa aku menyayangi Nino, aku tidak mau kehilangan Nino. Selama kami bertiga menjalin persahabatan, aku dan Nino lah yang paling sering SMSan dan telepon-teleponan. Dia pula yang selalu menjemput aku ke kampus dan mengantarkan aku pulang. Dari situlah perasaan sayang itu muncul dalam hati aku dan juga Nino.
Tanpa sepengetahuan Tristan, Nino mengajak aku ke Bukit Bintang berdua.
“Tari, kamu tahu kenapa aku mengajak kamu ke sini?”
“Hmmm… Kamu mau ngasih surprise buat aku yah? Tapi kan ulang tahun aku masih lama,” tanyaku polos seakan tidak tahu apa-apa.
“Iya, Tar. Kamu masih inget puisi yang pernah aku kasih ke kamu lewat SMS?”
“Yang mana, No?” tanyaku bingung.
“Terimakasih untuk mentari kecilku yang telah mengembalikan semuanya. Hari keempatku penuh dengan cahaya. Hari keempat… hari pertamaku keluar dari lorong gelap. Lorong yang dibuat dia Sang pembuat teka-teki dalam hidupku.”
Aku terdiam mendengar puisi itu dibacakan langsung oleh Nino. Entah kenapa ada perasaan aneh dalam diriku, seperti ada kupu-kupu yang sedang terbang dalam perutku, hahaha.
“Kenapa kamu diam? Kamu tahu apa arti dari puisi itu. Tari, kamu tuh bagi aku adalah mentari kecil yang udah ngasih cahaya dalam hari-hari aku. Kamu tahu maksud hari keempat itu apa? Itu hari Kamis ketika kita pertama kali nemuin bukit ini. Sejak itu aku sadar kalau aku nggak bisa ngebohongin perasaan aku. Aku sayang sama kamu dan rasa sayang ini bukan sekedar sayang aku ke seorang sahabat tetapi lebih. Kamu udah banyak ngerubah hidup aku. Aku yang dulu pendiam, pemalu dan sulit untuk mengutarakan perasaan aku, kini semuanya berubah karena kamu. Kamu membuat aku menjadi berani menyapa orang lain duluan, membuat aku selalu tersenyum, pokoknya terlalu banyak hal positif yang telah kamu kasih dalam hidup aku. Aku nggak tahu harus gimana ngebales semua kebaikan kamu. Aku sayang kamu dan aku nggak mau kehilangan kamu.” Nino memegang tanganku sambil menatap wajahku dengan serius.
Aku hanya bisa terdiam mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Nino. Aku bimbang, entah kata apa yang tepat untuk aku keluarkan dari mulutku. Yang sekarang aku ingin lakukan adalah menangis.
“Tar, ngomong, Tar! Aku tahu aku salah, seharusnya aku nggak ngekhianati persahabatan kita bertiga tapi aku nggak bisa bohongin perasaan aku. Tristan pun nggak tahu tentang masalah ini.”
“Bukan masalah Tristan, No! Aku bingung harus memulainya darimana. Jujur aku juga sayang sama kamu, No. Kamu baik banget sama aku. Aku juga nggak bisa bohong kalau aku memang sayang kamu tapi aku nggak bisa, No. Aku nggak boleh sayang sama kamu. Ada satu hal yang nggak pernah kamu tahu dan aku bingung ngejelasin itu semua sama kamu.” Air mataku mulai berjatuhan satu persatu membahasi pipi.
“Kenapa? Ouw…aku tahu, apa kamu sama Tristan ternyata udah jadian hah? Jawab TARI!” Nino melepaskan tanganku dan nadanya pun mulai meninggi.
“Bukan, No, aku nggak pernah jadian sama Tristan. Aku…,” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahku dan Nino.
“Ouw… Jadi benar dugaanku selama ini. Kamu sudah mengkhianati aku, Tari! Dengan sahabat kamu sendiri? Gila…semua ini benar-benar gila!!!” Kedatangan Novan membuat aku dan Nino terkejut.
“Van, dengerin aku dulu! Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan sekarang.” Aku berusaha meyakinkan Novan bahwa sebenarnya aku dan Nino nggak ada hubungan apa-apa.
“Udah cukup, Tar! Selama ini aku selalu memata-matai kamu sama SAHABAT kamu ini dan semuanya udah terbukti disini. Aku coba untuk sabar menahan semuanya dan ternyata ini balasan kamu sama aku hah? Pertunangan kita cukup sampai disini!!! Aku nggak mau nikah sama cewek yang udah ngebagi rasa sayangnya untuk cowok lain, aku ini bukan kue yang bisa kamu bagi-bagi.” Novan pun pergi sambil melemparkan cincin pertunangan kami di depan muka Nino.
“Tar, maafin aku. Aku nggak tahu kamu sudah tunangan.” Nino memegang tanganku erat.
“Semua salahku. Maafin aku, No!” Sambil melepaskan tangan Nino dan aku pun mulai mengejar Novan.
Aku sayang Nino tapi aku nggak bisa ninggalin Novan, tunanganku. Kami sudah berpacaran dari semenjak duduk di bangku SMA dan enam bulan yang lalu baru saja kami bertunangan. Aku tidak pernah menceritakan ini kepada Nino karena aku tahu Nino sayang sama aku dan aku tidak mau menyakiti perasaannya, aku takut berita ini merusak persahabatan kami. Aku hanya menceritakan ini kepada Tristan, aku tahu Nino sayang sama aku semuanya dari Tristan karena itu aku tidak mau berita pertunanganku sampai terdengar oleh Nino.
Aku berusaha mengejar Novan untuk menjelaskan semuanya tetapi ketika aku menyeberang untuk menghampiri mobilnya Novan…
‘BRRRAK’
Sebuah mobil kijang inova hitam menabrak Nino yang sedang berusaha menyelamatkan aku. Dia melihat mobil itu akan menabrak aku ketika aku hendak menghampiri mobil Novan lalu Nino pun mendorong tubuhku dan Nino mengorbankan nyawanya untuk melindungi nyawaku. Aku menoleh ke arah tabrakan itu, darah berceceran dimana-mana.
“NINO!!!” teriakku sambil menghampiri ke arah tabrakan tersebut.
Pemilik mobil tersebut membawa Nino ke Rumah Sakit. Aku bersama Novan mengikuti mobil itu selama perjalanan ke Rumah Sakit, tak lupa aku menghubungi Tristan dan keluarga Nino memberitahukan kejadian yang menimpa Nino malam ini. Tapi keberuntungan bukan di pihak Nino. Belum sampai ke Rumah Sakit, Nino mengehembuskan nafas terakhirnya di pertengahan jalan menuju Rumah Sakit.
Setelah kejadian itu terjadi yang aku lakukan tiap malam hanyalah menangis menyesali semua kejadian ini. Semua karena ulahku. Akulah penyebab kematian Nino. Semua barang-barang yang telah Nino berikan untukku tersimpan rapi dalam lemari, foto-foto aku dan Nino waktu dulu aku tempel di dinding kamarku. Air mataku tak pernah berhenti setiap kali menatap foto-foto itu. Semenjak kejadian itu pula aku jarang bertemu lagi dengan Tristan.
Tiga tahun kemudian setelah kejadian itu aku menikah dengan Novan dan beberapa bulan setelah aku menikah, aku dikaruniai seorang anak laki-laki dan anak kami pun kami beri nama Nino.
*****
“Udah, Tar, jangan nangis lagi ya! Nino nggak akan pernah ninggalin kita, dia akan selalu ada di hati kamu dan juga aku. hari ini tepat lima tahun dia meninggalkan kita bukan berarti kita harus terus larut dalam kesedihan. Sayang Nino sama kamu nggak akan pernah pudar. Dia pasti bakal sedih kalau ngeliat kamu sedih terus kaya gini. Kamu kan udah punya Nino kecil, dia akan tumbuh besar seperti Nino yang pernah kamu cintai. Bukit Bintang ini sebagai saksi perjalanan hidup kita, perjuangan kita dan persahabatan kita. Dan kamu lihat bintang yang ada di ujung sana, satu-satunya bintang yang paling terang diantara bintang-bintang yang lain, itu adalah Nino. Nino akan selalu ada untuk kita dan Bukit Bintang kita ini,” Tristan merangkul pundakku sambil menyeka air mataku yang terus mengalir.
Ya, Bukit Bintang adalah tempat dimana aku mengerti akan segalanya. Betapa berharganya arti sebuah persahabatan dan betapa besar pula pengorbanan seorang sahabat. Bukit bintang telah menjadi saksi kehidupanku, tempat aku mengenal Nino, Tristan dan tempat aku kehilangan orang yang aku sayang. Sayangku pada Nino tidak akan pernah mati.
Puisi terakhir Nino yang dia berikan tepat sehari sebelum peristiwa itu terjadi :
Ia bangunkan aku dari tidurku
Membisikkan padaku hidup yang lebih bermakna
Ia menyirami hati dan fikiranku, dengan gelak tawanya membuat pagiku lebih cerah
Akan tetapi aku sadar semua itu tak abadi
Aku bukanlah penguasa yang memiliki hak memiliki
Penguasa yang merajai rasa
Pemimpi gang yang hanya bisa bersandar di hatinya
Untuk pagi ini dan menjadi berharga untuk detik dimana aku berbisik dengannya
Menyelesaikan teka-teki hidup yang kita hadapi
Tapi aku tetap menjadi pemimpi gang yang berharap
Ia akan datang di setiap pagiku
kereeeeennn… ga ada kata lain selain itu.

Yaah cukup bagus dn mnyentuh, tapi ceritanya klise banget..
Ih , . Kren bgt , aq trharu dweh bca , .
Kdng qta lbh mncntai sahbt qta sndri d bnding pacar qta , . Qta mrasa nyman jka qta brsma shbt qta , .
Toh gx da yg larang qta kn suka ma shbt qta ! !
Ih , . Kren bgt , aq trharu dweh bca y , .
makasih^^
.keren deh… n’ trusin tuk brkarya…