Sesisir Pisang Lelaki Tua
Desember 12th, 2008 by chandrakr
Sebuah topi pandan melayang, bersama debu-debu yang selalu menyerah untuk dihempas angin, mendarat tepat di tengah jalan raya. Pemiliknya, seorang lelaki tua, meletakkan karung glangsing, menengok kiri-kanan, dan mengambilnya tergesa-gesa. Panas matahari siang itu begitu menyengat. Nampak langkah cepatnya mendekati lari terbata-bata. Tukang becak yang menyaksikan itu turun dan melambai pada pengendara yang akan melintas, mengabarkan supaya melambatkan laju motornya karena ada seorang lelaki tua hendak mengambil topinya yang diterbangkan angin.
Dengan senyum lebar lelaki tua itu kembali ke trotoar. Ditepuk-tepuk topinya, sekedar mengabarkan kelegaan. Setelah mengucapkan terima kasih pada tukang becak itu dia pergi, membawa lagi karung glansing ke atas pundaknya.
“Minum dulu, Pak,” tawar penjual es tebu.
“Sudah, sudah! Terima kasih, Nak!”
“Lho, tidak apa-apa,” sambil berdiri dan mengambil gelas.
“Anu, Nak, gigi saya tidak kuat dingin,” kata lelaki tua itu sambil menepuk-nepuk pipi kirinya.
Setelah kepergian lelaki tua itu, jalanan menjadi hening kembali. Hening karena kesibukan dari suara-suara yang membentuk pola dan variasi yang tetap setiap harinya. Di rumah, lelaki tua itu membuka bawaannya di depan istrinya. Sesisir pisang.
“Harganya naik sekarang.”
“Berapa?”
Lelaki tua itu diam. Benarkah harga pisang naik? Ataukah ucapan yang asal saja karena pengaruh berita di televisi? Diulangi lagi saat-saat akan berangkat. Kalau tidak salah dia tadi mengantongi uang sepuluh ribu. Lalu ke pasar dan mendapat kembalian empat ribu. Tapi, kenapa yang ada di kantongnya cuma dua ribu rupiah? pikir lelaki tua itu. Mungkinkah terjatuh di jalan? lanjutnya.
Rasanya tidak. Dua kertas seribuan itu terlempit jadi satu. Jika benar jatuh, mestinya dua itu turut jatuh karena seingatnya setelah melipat kembalian, dia memasukkan ke dalam saku empat ribu kembalian itu.
“Sepertinya aku tadi berhenti sebentar, tapi…di warung!?” pikir lelaki tua itu sambil menggelengkan kepala.
“Sampeyan bau rokok, mampir di warung lagi ya?” sergah istrinya, seolah-olah ada hubungan yang tegas antara rokok dan warung.
Astaga! pikir lelaki tua itu. Dia baru ingat bahwa di warung tadi dia jajan segelas kopi dan dua batang rokok kretek. Uang sisa kemarin yang disangkanya berada di saku tidak ada. Beruntung dia dapat menahan keinginannya untuk mengambil pisang goreng. Bisa-bisa kembalian pisang habis di warung.
Lelaki tua itu merasa malu karena tidak dapat menahan keinginannya untuk jajan di warung. Dia ingat bahwa dia pernah berjanji pada istrinya untuk tidak jajan lagi di warung. Dia juga ingat pesan istrinya sebelum berangkat ke pasar tadi. Tapi, betapa melihat segelas kopi panas di tengah hari yang panas, memikatnya untuk duduk dan memesan segelas kopi. Dirasakannya air liur yang tertelan. O, mengapa setiap melihat sesuatu yang diingini, terasa benar tertelannya air liur ini? Sekarang dia ingin menolak ingatan akan keberadaannya di warung tadi.
Dengan hitung-hitungan bahwa istrinya tidak akan marah karena–menurut perhitungan biasanya, uang kembalian mesti berjumlah dua ribu atau tiga ribu, tapi di pasar penjual yang baik hati memberinya harga agak murah–juga sisa uang kemarin yang disangkanya ada. Dan hari ini, sudah empat hari dia tidak jajan ke warung.
Sebenarnya, di rumah istrinya tidak pernah alpa membuatkan kopi. Pun berangkatnya ke pasar tadi, kopi itu belum habis. Masih tersisa separuh. Tapi menikmati segelas kopi di warung memiliki kesan yang berbeda. Dia bisa memperhatikan sekitarnya dengan leluasa, tidak terhalang dinding rumah atau kamar. Dan bagi seorang lelaki tua seperti dia, hiburan ini terasa mengasyikkan. Kejemuan selama keberadaannya di rumah diletakkan untuk sementara waktu.
“Sudah dibilangin jangan ke warung…”
“Tidak, tidak. Yang kupakai itu uang kemarin.”
“Uang kemarin dari mana?!”
Dengan sendirinya, persoalan apakah harga pisang naik, dan jika benar berapa, raib. Lelaki tua itu tersenyum ketika istrinya masuk ke kamar. Dia tahu istrinya tidak marah karena dia jajan di warung atau karena uang kembalian pisang berkurang. Sudah tua, untuk apa marah-marah. Istrinya mesti ngomel-ngomel karena menginginkannya, karena apalagi yang bisa mesti dikerjakan oleh sepasang suami-istri yang sudah tua?
Anak-anak mereka sudah memiliki kehidupan yang cukup, dan memberinya cucu yang pintar-pintar. Seorang di antaranya bahkan menjadi guru. Suatu pencapaian yang memuaskan jika menilik latar belakang mereka. Dari sisi ekonomi, suami-istri itu tidak kekurangan, keperluan sehari-hari dibantu. Pun cucunya yang sudah bekerja, sesekali memberikan sejumlah uang karena tahu istrinya menggenggam rapat uang pemberian itu. Apalagi untuk jajan di warung.
Panas kemarau mengetuk atap rumah, membuat gerah ruang-ruang di bawahnya. Lelaki tua itu menyalakan kipas angin. Terasa benar kesejukan menelusup ke balik bajunya, ke tiap pori-pori badannya. Tapi tidak lama dimatikannya kipas angin itu karena badannya tidak akan kuat berlama-lama. Karena kenikmatan ini, lelaki tua itu membaringkan badannya di lantai yang sejuk. Dia ingin tidur. Akibat langsung dari kesejukan dan rasa capek bagi lelaki tua itu adalah kantuk.
Tiga hari kemudian, lelaki tua itu kembali berada di sebuah warung di pinggir jalan raya, tak jauh dari tempat di mana topi pandannya dulu diterbangkan angin–warung yang sama seperti tiga hari lalu. Kopi yang diseduhnya menggoda saraf-saraf lidahnya. Udara yang panas coba dikibaskan dengan topi pandannya.
“Dari mana Pakde, siang-siang kok kelayapan?”
Tawanya mengabarkan gigi yang sudah tak lengkap lagi. Dia menggaruk-garuk kepalanya, berpikir: lelucon apa yang mesti dikatakan untuk menjawab teguran itu? Bukankah pewarung sudah tahu kelakarnya tiap kali adalah: ‘cari pisang’? Tidak satu pun kalimat lucu dia temukan. Lalu, pewarung mengakhiri tegurannya dengan:
“Sudah, lekas diminum kopinya. Keburu dingin.”
“Lha, itu: kelayapan mencari kopi.”
“Kalau mencari tidak pakai uang, Dhe.”
Lelaki tua itu tertawa karena akhirnya berhasil menciptakan sebuah lelucon dengan pewarung. Lelucon kemarin yang akhirnya diulang-ulang juga. Pun beberapa orang yang jajan di situ, turut tersenyum, atau sekedar menunjukkan senyumnya. Hatinya bungah, lantaran leluconnya ditanggapi beberapa orang lain. Dia tidak terlihat seperti seorang lelaki tua yang beberapa hari lalu merasa kacau dan bersalah pada istrinya karena tidak mampu menahan keinginannya untuk jajan. Tapi alangkah berlikunya perasaan manusia. Sesaat dia merasa gembira karena ada sesuatu menyenangkan dirinya. Tapi dia juga harus menghadapi sisi lain yang lebih tajam dari tongkat kegembiraan itu.
Bagaimana pun nikmatnya kopi panas di siang ini, lelaki tua itu merasa gelisah. Mestinya, sehabis dari pasar dia langsung pulang ke rumah. Siang itu sudah dilalui dengan aktivitas: pergi ke pasar. Yang mana biasanya membuatnya lekas mengantuk sesampainya di rumah. Mestinya lagi, dia jajan ke warung sore atau malam hari. Bukankah itu saat-saat yang tepat untuk sebuah pleasure? Bukankah istrinya selalu bisa dibujuk? Pikirannya cepat melayang pada sisa kopi yang dirasanya mubazir sekarang.
Gelisahnya ini membuat nafsu makannya timbul. Diambilnya pisang goreng dan dimakan perlahan-lahan. Giginya yang sudah tua menolak memamah makanan yang keras. Karena itu, bagian-bagian tepung yang dirasanya keras dibuang. Dengan begitu, pisang akan terasa di mulutnya tanpa gangguan pada gerahamnya. Sesudahnya, seteguk kopi hangat. Dan yang terakhir: kepulan asap tembakau!
“Jangan merokok terus, Dhe, bisa batuk.”
Merasa nada kata-kata itu terlalu tajam baginya, lelaki tua itu bingung harus menanggapi lelucon itu dengan apa. “Apakah aku terlalu tua untuk berada di sini?” pikirnya. Pewarung yang mengetahui leluconnya terasa menyengat, segera menawarkan rokok keluaran baru, supaya lelaki tua itu menganggap kata-katanya tadi sebagai lelucon, dan bukan sebaliknya.
Lelaki tua itu menolak–pewarung tahu bahwa lelaki tua itu sudah menyalakan rokoknya. Pewarung itu berharap melalui tawaran itu suasana yang tidak mengenakkan berakhir. Katanya, “Aku tidak biasa dengan rokok lain.
“Sejak dulu dia terbiasa dengan rokok kretek,” lanjut lelaki tua itu. Merasa kegelisahannya bertambah dengan datangnya kalimat dari pewarung tadi, lelaki tua itu bercerita agak panjang. Tidak enak kalau tidak menghisap rokok ini, sambil menunjukkan rokoknya yang menyala kepada pewarung. Dan pewarung yang mengharapkan leluconnya tadi dilupakan, merasa tercapai maksudnya.
“Sudah, Nak, saya pulang dulu.”
“Mari, mari, Dhe.”
Langkah lelaki tua itu terasa sangat kecil dan lambat, karena di sekelilingnya segalanya bergerak cepat. Badannya yang sedikit bungkuk nampak rapuh, memikul karung glangsing berisi sesisir pisang. Sesekali, tangan kirinya memegang bagian atas kepalanya, supaya topi pandannya tidak melayang lagi. Pikirannya mendahuluinya sampai di rumah, dan tersenyum, membayangkan istrinya yang akan mengomelinya.
Surabaya, 6 Februari 2008