Rena, Kekasihku
Desember 12th, 2008 by erlanda
Telah berjalan kurang lebih tiga tahun perjalanan cintaku dengan Rena. Rena wanita yang sempurna bagiku, wanita yang matang, dewasa dan berperilakuan sopan. Kedua orang tuaku pun menyetujui hubungan kami, seakan tak ada yang cacat di kehidupan kami. Mungkin umur Rena lebih tua dari aku sehingga tak jarang dia yang biasanya mengalah buat aku bahkan memanjakan aku setiap waktu. Umur kita terpaut empat tahun namun hubungan kita punya komitmen yang kuat. Rena tak pernah sekali pun mempermasalahkan beda umur kita, justru aku yang biasanya mempermasalahkannya. Mungkin karena status Rena yang sudah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, yang terkadang hal itu cukup membuat aku sedikit minder. Sedangkan, aku hanyalah seorang mahasiswa semester tujuh yang tengah mempersiapkan ujian skripsi.
Aku mulai mengenal Rena awalnya di sebuah toko buku ternama di kotaku. Saat itu aku tengah sibuk mencari-cari buku untuk kuliahku dan tak memperhatikan sekelilingku. Aku ingat betul saat itu ketika aku sedang berkutat dengan buku-buku ekonomi, ada seorang wanita yang kelihatannya kesulitan mengambil buku di rak bagian atas hingga kakinya yang putih terlihat ototnya karena sekuat tenaga menjinjit-jinjit. Tak tega dengan wanita itu, akhirnya aku menghampirinya dan menawarkan bantuanku. Agaknya dia sedikit tak suka dengan kehadiranku, itu bisa aku lihat dari cara dia memandang aku. Niatku tulus dan aku langsung berkata,”Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”. Dia hanya menjawab seadanya sambil memberi isyarat bahwa dia ingin mengambil buku dengan cover warna marun yang seingatku pengarangnya R.L. Daft, aku kurang tau judulnya tapi sekilas itu juga buku ekonomi. Kukira ia awalnya adalah seorang mahasiswi ekonomi juga, tapi setelah aku melirik kartu identitas di saku kiri dadanya, ternyata ia seorang sekretaris di perusahaan swasta terbesar di kotaku.
Itu sekilas cerita tentang awal pertemuanku dengan Rena, seorang sekretaris cantik, lajang pula. Tuhan pun tak sekedar mempertemukan aku dengan Rena di toko buku itu. Ternyata Rena adalah teman kakak pertamaku yang juga bekerja di tempat Rena bekerja, hanya saja kakakku jabatannya di perusahaan itu lebih rendah dari Rena. Dari seringnya Rena bertandang ke rumahku, akhirnya kami pun saling mengenal satu sama lain dan lebih dekat dari pertemuan-pertemuan awal kami yang sempat membuat Rena merasa kalau aku adalah seorang pengganggu, ingin tahu urusan orang atau sok kenal sok dekat.
Aku tak tahu kapan tepatnya kami mulai sangat dekat. Kami sering keluar bersama, ke cafe, nonton bioskop, belajar bersama, karena setelah aku tahu ternyata Rena juga seorang mahasiswi ekonomi di universitas swasta. Bedanya, saat itu aku sedang menginjak semester dua dan Rena akan menjalani yudisiumnya bulan depan. Ternyata Rena bekerja sambil kuliah, mungkin hanya untuk mencari gelar sarjana Ekonomi supaya cepat dapat promosi di kantornya.
Awal aku mempunyai hubungan khusus dengan Rena ketika aku sedang mengantar Rena pulang ke kontrakannya. Malam itu hujan deras mengguyur kota kami. Rena yang saat itu bermain ke rumahku sambil mencoba resep kue yang baru dengan kakakku, minta diantar pulang karena malam makin larut dan hujan juga belum reda. Ketika di dalam mobil, tak ada yang memulai inisiatif untuk berbicara duluan. Entah kenapa hari itu mood-ku sagat kacau sekali sehingga enggan untuk mengeluarkan satu patah kata pun. Rena memulainya dengan berdehem cukup keras dan itu membuatku tersentak
“Sepi banget ya malam ini?” kata Rena. Sedikit menyindir mungkin.
“Ehm…rumah kak Rena di belokan depan ya?” Aku pun mengalihkan pembicaraan.
“Jangan pangil aku ‘Kak’, formal banget ah kamu!”
Aku heran, biasanya Rena paling malas kalo bicara dengan aku. Entah kenapa malam ini dia sedikit membuka dirinya dan terang-terangan berbicara dengan aku.
“Maaf Kak..! Eh, Ren!…Ehm, sudah sampai, aku langsung pulang aja, Ren!”
Aku tidak terbiasa memanggil namanya tanpa embel-embel ‘Kak’, mungkin karena aku lebih muda dari dia.
“Gak masuk dulu? Aku buatin kopi biar kamu gak ngantuk di jalan…”
“Makasih, Ren! Tapi aku buru-buru, sungkan ama tetangga.”
Rena pun tak membalas penolakanku, aku tidak enak sebenarnya. Kami sudah berada tepat di depan kontrakan Rena, tapi Rena tak beranjak keluar dari mobil, seakan ada yang mengganjal di pikirannya saat itu. Tiba-tiba Rena berkata sambil memegang tanganku.
“Di… kamu suka gak ama aku???”
Aku tersentak mendengar pernyataan Rena. Diluar hujan makin deras diiringi petir yang bergemuruh kencang dan kilat yang menyambar hebat, tapi tidak sedahsyat perasaanku saat itu. Jantungku berdegup kencang, makin kencang hingga aku tak bisa membedakan mana suara gemuruh petir dan mana suara gemuruh hatiku…dengan lidah kelu, aku menjawab.
“Aku gak ngerti apa maksud kamu, Ren. Kamu sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Tapi, sebenarnya aku juga mengagumi diam-diam, lama sebelum kamu menanyakan hal itu.” Aku bingung hendak berkata apa, tapi hanya itu yang mampu aku ucap saat itu.
“Kita tidak usah memperlebar masalah ini, malam ini juga aku ingin memintamu jadi kekasihku, kamu mau, Di?”
Pikiranku masih belum bisa menyatu dengan perasaanku saat itu. Bingung, malu, senang, dan kembali aku dihadapkan dengan kebingungan. Apa aku harus menerima permintaan Rena? Tak bisa aku sangkal kalau aku juga menyukai Rena. Rena wanita berpendidikan, dewasa, cantik dan sopan, aku melihat tidak ada yang kurang di dirinya…Tuhan, bantu aku beri jawaban yang tepat buat Rena…
“……” Aku masih berpikir keras dan tak sanggup berucap sepatah katapun.
“Kalau Ardi keberatan, aku gak apa-apa. Aku memang kurang pantas jadi kekasihmu. Kamu masih muda, sedang aku wanita yang sudah siap maju ke pelaminan. Ya udah, selamat malam, hati-hati kalau pulang!”
Rena pun memutuskan untuk keluar dengan perasaan penuh sesal. Begitu jahat aku, membiarkan dia pergi tanpa sebuah kepastian. Aku pun mencegahnya dengan menggenggam erat tangannya.
“Ren, beri aku waktu untuk mencoba semuanya. Aku akan mencoba jadi pacar yang baik buat kamu. Maaf buat sikapku yang tadi. Ayo kuantar masuk ke rumah.”
Aku pun lega dengan semua ini. Aku mengambil payung di jok belakang dan mengantarnya masuk ke rumah. Hujan pun berangsur reda dan tak ada lagi gemuruh di langit maupun di hatiku.
————————–
Siang itu di luar sangat panas. Hari ini aku punya janji dengan Rena di sebuah cafe. Sepulang kuliah aku langsung menuju cafe. Mungkin aku sedikit telat 20 menit karena tadi ada tambahan jam kuliah. Aku pun memarkir mobilku dan langsung masuk Cafe. Kulihat Rena di meja pojok ruangan. Hari ini Rena cantik sekali, tak seperti biasanya. Mungkin karena aku kangen dengan dia dan kita tidak bertemu selama seminggu karena kesibukan masing-masing. Aku pun langsung menuju tempat Rena dan memberinya kecupan manis di dahinya.
“Kamu cantik sekali hari ini, Ren.”
“Makasih, Di. Aku memang sengaja dandan buat kamu.”
Aku pun memanggil pelayan di ruangan itu. Aku langsung memesan secangkir cappucino tanpa gula kesukaan Rena dan segelas lemon tea dingin buat aku.
“Di, aku langsung bicara aja apa yang ingin aku utarakan siang ini. Aku harap kamu gak tersinggung atau marah setelah mendengar pernyataanku nanti,”
Kembali aku dihadapkan dengan pikiran-pikiran rumit dan gemuruh hebat di dadaku, sama seperti saat Rena memintaku untuk jadi pacarnya empat tahun yang lalu. Apa yang akan dibicarakan Rena dan apalagi yang akan diminta Rena? Aku bingung dengan jalan pikirannya yang sering tidak terduga-duga.
“Di…,” Rena pun mulai angkat bicara lagi, “kamu tahu kan kalau aku semakin tua? Umurku sendiri sudah menginjak 27 tahun. Aku ingin status yang jelas di antara kita.”
Aku masih bingung dengan topik pembicaraan ini. Pelayan pun mengantar pesanan kami, sedikit mengusik konsentrasiku untuk mencerna ulang perkataan Rena barusan.
“Apa maksud kamu,Ren? Apa selama ini status kita kurang jelas?” Dengan wajah bodohku, aku bertanya pada Rena.
“Aku ingin kamu menikahiku segera, Di!”
Aku tersentak bukan main mendengar permintaan Rena. Perasaan kacauku sepuluh kali lebih hebat dibanding empat tahun lalu, ketika Rena menyatakan perasaannya. Siang itu begitu panas menyengat tapi seakan ada petir menyambar hebat di depan mataku dan menghujam jantungku. Semua saraf di tubuhku seakan mati rasa, darahku seakan berhenti mengalir dan nafasku seperti tersumbat sesuatu. Aku begitu menyayangi Rena, tapi untuk berpikir ke pelaminan belum terlintas sama sekali di pikiranku.
“Pikirkan itu semua dan aku butuh jawabanmu paling lambat tiga hari lagi, Di. Aku sangat sayang kamu dan semoga kamu mengerti apa yang barusan aku ucap.”
Rena pun berpamitan pulang, meninggalkan aku yang masih duduk diam tak bergerak. Dia mengecup bibirku lembut namun perlakuan itu masih belum bisa menyadarkan aku dari lamunan. Pandanganku kosong tapi otakku penuh dengan pikiran-pikiran yang rumit. Tiga hari mungkin tidak cukup memberi aku kesempatan untuk memikirkan jawaban yang tepat buat Rena.
————————-
Sore itu aku baru pulang dari kampus. Rasa penat menyerang pikiranku. Bukan hanya tugas kampus yang begitu menggila tapi hari ini adalah hari ketiga setelah pertemuanku dengan Rena di cafe. Itu artinya hari ini adalah hari terakhir aku memberikan jawabanku pada Rena. Ingin rasanya aku lari dari kenyataan ini tapi aku tak bisa dengan seenaknya meninggalkan Rena yang begitu ku cintai. Bersama Rena adalah keinginanku dan menyandingnya adalah impianku sejak dulu.
Dengan kecepatan penuh aku menyetir mobil, ingin rasanya cepat pulang dan mengusir kepenatan ini. Tiga hari setelah pertemuan itu membuat kacau seluruh waktuku. Pikiranku tertekan seakan-akan kewarasan dan kegilaan tak ada bedanya. Semalam Rena mengirim SMS yang berisikan, Besok hari terakhir kamu memberikan jawaban atas permintaanku yang lalu. Semoga apa yang Ardi pilih adalah yang terbaik buat kita nanti. Aku kangen kamu, aku sayang kamu. Met tidur honey…
Aku sengaja tidak memasukkan mobilku di garasi. Aku berniat setelah mandi dan menenangkan diri, aku langsung menuju ke kontrakan Rena untuk memberi jawaban. Aku sudah siap dengan jawabanku dan aku tak berhenti berdoa semoga Rena dapat memaklumi keputusanku. Aku akan menikahi Rena setelah aku wisuda. Sudah bulat keputusanku.
Ketika aku masuk rumah, aku mendengar samar-samar percakapan dua orang. Suara itu ternyata dari dalam kamar kakakku. Mungkin itu teman kakakku. Aku pun menuju kulkas untuk mengambil minum. Sebentar! aku sepertinya mengenal suara itu. Suara Rena! Iya, itu seperti suara Rena.
Aku pun menuju kamar kakakku, menempelkan telingaku di pintu kamar. Entah kenapa aku punya niatan mendengarkan pembicaraan mereka. Dari dalam kamar aku mendengar pembicaraan yang sepertinya begitu serius. Apa ini tentang hubunganku dengan Rena? Aku dengarkan baik-baik percakapan itu.
“Lin, aku gak mau hidup dalam ketidakpastian, aku butuh jawaban segera!”
Aku yakin sekali, pasti ini tentang aku dan Rena. Mungkin Rena butuh pendapat kakakku. Mungkin ia begitu tergesa-gesa dengan rencana pernikahan ini karena Rena tak ingin dimakan umur hanya untuk menungguku. Sementara aku disini menghadapi dilema yang begitu hebat.
“Selama ini… apa kamu menganggap aku penting di hidupmu? Apa aku hanya pelampiasan semata? Aku masih sayang kamu…”
Kamu??? Aku semakin bingung dengan arah pembicaraan ini. Mungkinkah sekarang di kamar kakakku sedang berlangsung sebuah drama yang bertemakan pernikahan yang tertunda atau pernikahan yang penuh dilema? Aku dengarkan pembicaraan mereka lagi dengan seksama.
“Ren, tolong jauhi adikku! Kalau kamu ingin pelampiasan, jangan korbankan adikku! Kamu cinta pertamanya dan aku tidak ingin melihat perasaannya kacau. Ardi adikku satu-satunya, dan aku sangat sayang dia. Cukup aku yang jadi korbanmu, korban dari seorang lesbian sepertimu!”
Mulutku menganga, tak percaya kenyataan ini. Aku menangis mendengarkan semua ini. Baru kali ini dalam hidupku, aku mengeluarkan air mata. Ternyata Rena, wanita yang begitu aku cintai dan yang telah mengisi kehampaan hatiku tiga tahun ini adalah seorang lesbian. Hatiku begitu remuk menerima semua ini dan aku tak yakin apa aku sanggup menyusun kembali kepingan hatiku itu. Seperti ditenggelamkan di lautan es, begitu beku dan aku tak bisa merasakan apa-apa. Kepalaku pening dan aku seperti hendak jatuh, tapi kakiku begitu kaku. Aku ingin pergi ke kamarku, menenggelamkan semua kepedihanku. Tapi tak bisa…Tuhan, kuatkan hatiku, tabahkan aku…
Semua harapan yang aku impikan untuk bisa hidup bersama Rena hancur begitu saja sebelum aku sempat mewujudkannya. Sejak peristiwa itu, Rena pun memutuskan aku. Dia menceritakan semuanya, kenapa ini bisa terjadi. Rena adalah seorang lesbian sejak dia masih SMP. Dia pun pernah mengencani beberapa wanita termasuk kakakku. Rena ingin sembuh dari penyakitnya itu dengan memintaku untuk jadi pacarnya. Sejak mengenalku dan menjalin hubungan denganku, Rena menghadapi ketidakpastian dalam hidupnya. Dia ingin melawan penyakitnya dengan mencoba menjalin kasih denganku. Mengajakku menikah mungkin akan bisa membuatnya lebih yakin kalau kelainan seksualnya telah pergi, namun tidak seperti yang dia harapkan. Dia semakin gamang dan takut untuk melangkah. Dia merasa, itu bukan dirinya dan bukan hidupnya.
Aku pun sekarang tahu jawaban dari semua keganjilan hubungan kami. Selama ini sinyal-sinyal itu sudah tampak tetapi aku berusaha mengusirnya dari pikiranku. Ketika kami pergi berdua, kami sangat jarang sekali bermesra-mesraan. Aku pikir mungkin karena Rena sudah tamat mengalami masa remaja sehingga bermesra-mesraan ia anggap bukan dunianya lagi. Aku masih ingat kala aku mengajaknya di sebuah danau yang ketika sore hari banyak sekumpulan angsa berenang sambil bercengkerama dengan lainnya, dan ada juga sepasang angsa yang sedang dimabuk cinta sehingga mereka begitu asik menikmati waktu berduaan di atas air danau yang tenang dan semilir angin yang menghembuskan rasa damai. Aku membayangkan dalam hati, andai saja sepasang angsa itu adalah aku dan Rena. Aku begitu larut dalam angan-angan itu dan entah keberanian apa yang memaksaku sehingga aku memutuskan untuk mencumbu Rena, tepat di bibirnya yang ranum dan lembut. Rena tersentak mendapat perlakuan itu dan ia pun menamparku. Sakit sekali.
Aku bingung dengan perlakuan Rena terhadapku. Aku kekasihnya tapi kenapa hanya mencumbu bibirnya saja aku tak diijinkan. Aku tersinggung dan esoknya aku tak memberikan kabar sama sekali lewat SMS ataupun telpon. Lima hari setelah kejadian itu Rena datang ke rumahku untuk meminta maaf atas kekasaran yang ia lakukan kepadaku. Tak sanggup melihat linangan air di matanya, aku pun memaafkannya. Aku berjanji padanya untuk tidak mengulangi peristiwa saat di danau itu dan sejak peristiwa itu, aku hanya bisa mengecup keningnya untuk menjaga perasaan Rena. Tak masalah bagiku, asal Rena tak pergi meninggalkan aku.
Sesak sekali mengenang masa-masa hubungan kami. Suka duka kami lewati bersama. Rena orangnya menyenangkan dan ia pandai sekali menghiburku ketika aku sedang stres dengan kuliahku atau dengan keluargaku. Membuat aku merindukannya setiap waktu dan berjanji tak akan mengkhianatinya.
Sejak kejadian sore hari di kamar kakakku itu, aku pun lambat laun merelakan kepergian Rena, meski dalam hatiku aku tidak yakin apakah aku sanggup melepaskannya begitu saja. Keputusan Rena mungkin yang terbaik buat kita. Ini bukan dunia Rena dan aku tak ingin menyiksa Rena untuk jadi wanita sejati. Cukup tiga tahun saja Rena harus hidup dalam kepalsuan dan cukup tiga tahun saja aku hidup dalam cinta yang semu.
aku ikutan sedih n terharu setelah membaca ceritanya…..sayang sekali zaw hubungan yang begitu indah ternyata harus di putuskan gara2 cweknya seorang lesbian….sayang sekali………
Cerpenx bgus seh, , ,
v,endingx krang asyk, ,gk da kpstian, , ,
UhhyeaCh….
Ka jd icut2′n CediCh NiCh…
Ka Qra Crpn’a JueLex Tp trnYta KeRen Jg…
Hixz.. hiXz.. HiXz..
hehehe…
thanks atz msukannya
sumpah yach ceritanya sedih + BKIN UE TERHARU.
Salut2 ue ma lo yang bkin cerpen ini.