KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pulau Dengan Seribu Keeksotisan

Kulitku merasakan hangat matahari pantai. Tak terasa aku sudah berenang hampir satu jam di laut. Aku menghirup segarnya angin di Pulau Seribu ini. Kulanjutkan langkahku memasuki hutan kecil di pesisir pantai menuju penginapan sekelas losmen. Di bawah pohon Artocarpus Altilis aku melihat anak-anak sedang bermain bebentosan. Permainan yang dimainkan sekitar enam anak itu cukup menarik perhatianku. Aku tak ingin ketinggalan, aku langsung mengambil kameraku yang dalam beberapa detik kemudian mengabadikan senyum lugu anak pulau seribu.

Kepulauan Seribu bukan berarti jumlahnya ada seribu melainkan hanya sekitar 342 pulau, termasuk pulau-pulau pasir dan terumbu karang yang bervegetasi ataupun tidak. Aku sudah satu minggu berada di sini. Pekerjaanku sebagai jurnalis lepas di salah satu koran ternama Ibukota milik bos properti membuatku menikmati hari-hari meliput kehidupan asli Pulau Seribu. Aku selalu mengalungkan tanda pengenal yang telah dilaminasi bertuliskan RAMON MARTIN, agar orang desa mudah mengidentifikasi orang asing sepertiku. Setiap hari aku berkeliling pulau naik sepeda butut milik empunya penginapan. Mengambil gambar realita kehidupan masyarakat dengan budaya Timur yang masih kental. Mempelajari cara-cara mereka bertahan hidup di pulau yang tak terusik kebisingan kota karena di sini kehidupan berjalan damai. Di pulau yang tak terjamah permainan politik karena penduduk lebih mementingkan apa yang akan mereka makan esok hari daripada memikirkan petinggi negara yang memakan uang mereka. Atau mungkin mereka hanya tahu nama pemimpin negaranya lewat radio-radio nasional yang memprotes kebijakan yang tidak populer dikalangan rakyat kecil seperti mereka. Ironis memang.

Sore ini aku akan pergi ke pantai, mengambil obyek terindah ciptaan Yang Maha Esa, potret mata elang disirami semburat senja kemerah-merahan membuatku takjub dan mengucap Subhanallah berkali-kali dalam hati. Betapa agung ciptaannya. Lamunanku tersadar ketika seorang laki-laki paruh baya menepuk pundakku. Lelaki yang kukenal namanya Pak Sitohang ini adalah empunya penginapanku. Beliau seorang nelayan asli kampung pulau Pramuka ini. Beliau mengajakku ke perayaan desa. Bergegas kuambil laptop yang tergeletak di pasir tempatku melamun. Di sini memang tempat strategis untuk menuliskan pengalaman yang telah kulalui seharian. Melepas penat dan mensyukuri anugerah Tuhan yang diberikan di Tanah Air Indonesiaku. Sedikit berlari aku menyusul Pak Sitohang yang sudah berada di bibir hutan. Langit mulai gelap, matahari pun pulang ke peraduannya.

Malam itu aku dan para penduduk desa sibuk menyiapkan tempat duduk. Dengan tikar seadanya kami duduk melingkari api unggun mengusir hawa dingin yang merasuk ke tulang. Ibu-ibu dan para gadis menyiapkan makanan ala kadarnya untuk disajikan. Kepala desa membuka acara dengan memanjatkan doa yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan pendek. Acara dilanjutkan dengan membawa arak-arakan buah kelapa muda yang disusun rapi untuk kemudian dihanyutkan di pantai. Wujud rasa terima kasih masyarakat kepada laut yang telah memberikan hasilnya demi kelangsungan penduduk desa. Bukan hal yang mengherankan bila mereka melakukan ritual “ Syukur Desa “ ini setiap satu tahun sekali, karena komoditi utama masyarakat Pulau Seribu berasal dari laut. Beruntung sekali aku dapat melihat secara langsung proses perayaan dari awal hingga akhir.

Esoknya Pak Sitohang mengajakku melaut. Dengan peralatan sederhana, kami menaiki perahu kayu milik keluarga Pak Sitohang. Aku mengamati bagaimana mereka menjala ikan atau cara mereka memanen rumput laut di tengah laut, hasil panen tergantung pada tempat kita mengembangbiakkan rumput laut. Biasanya petani meletakkan benih yang di ikat tali di sepanjang laut bagian tengah, karena rumput laut tumbuh lebih besar di laut bergelombang besar. Sekalian saja aku menceburkan diri ke laut, membantu Pak Sitohang dan warga desa yang lain memanen rumput laut. Aku juga menemukan koral-koral Porites Lobata, karena memang koral dari genus Acropora dibudidayakan di sini.

Pada suatu sore yang cerah aku mengayuh sepeda mengitari desa. Sambil mendengarkan lewat headset lagu “ I’m Yours “ milik Jason Mraz kurasakan freedom dalam hidupku. Kuhirup napas dalam-dalam merasakan nikmatnya hidup. Ketika melewati areal persawahan, dua orang lelaki sebaya denganku memanggilku. Mereak ingin mengajakku masuk ke hutan sebelah selatan  desa. Aku ikut saja karena penduduk di sini terkenal ramah. Setelahnya aku berkenalan dengan mereka. Laki-laki kurus pendek bernama Danar memarkirkan sepedaku di rumahnya, sedang seorang lagi berperawakan tinggi besar dengan rambut keriting bak Giring vokalis band Nidji mengajakku jalan duluan. Gayus namanya.

Empat puluh lima menit kemudian kami telah berada di tengah hutan. Di hutan kami melihat banyak pohon obat Morinda Citrifolia. Perjalanan melelahkan yang kami tempuh, melewati semak belukar dan mengarungi anak sungai yang cukup deras arusnya. Terbayar sudah peluh kami, melihat pesona air terjun bertingkat di depan mata. Hijau daun di sekeliling air terjun menambah kecantikan alami tersendiri. Luar biasa. Ada tempat seindah ini di pulau terpencil sebelah Utara Jakarta. Tanpa pikir panjang aku, Danar dan Gayus langsung melepas kaos dan kemudian melompat ke air. Kurasakan dingin menusuk tulangku. Tapi tak kuhiraukan karena aku terpukau kagum pada air terjun ini. Deru airnya menampakkan keeksotikan daerah tropis. Oh, indahnya anugerahMu Tuhan. Aku bersyukur dapat merasakan nikmatMu yang tak terperi. Pulau Seribu bila diolah sebagai daerah pariwisata tentunya mempunyai potensi yang sangat besar. Maha karya Tuhan yang terpendam di zamrud khatulistiwa, sebagai pulau budaya dan wisata yang dapat menghasilkan devisa bagi negara.

Dua hari lagi aku harus kembali lagi ke Jakarta. Pak Niko pemimpim redaksi sudah berkali-kali menelponku menyuruh agar aku segera kembali. Menyerahkan hasil liputanku selama ini di Pulau Seribu. Beruntung aku yang ditugaskan dalam perjalanan kali ini, karena bisa melihat keindahan yang kurang tereskpos media. Tapi dari sini, sepulang dari surga dunia ini, akan kutulis sebanyak-banyaknya tentang Pulau Seribu. Tentang keindahan alamnya, keasrian hutannya, kekayaan lautnya, keramahan penduduknya, dan seluruh keanekaragaman hayati di pulau ini. Takkan cukup sejuta kata mengungkapkan kekaguman ini. Akan kubuka mata dunia, agar mereka dapat melihat satu di antara seribu pulau di Indonesiaku tercinta .

Tinggalkan Komentar