Lila dan Dua Bayi
Desember 12th, 2008 by komang ariani
Lila meninggalkan rumahnya dengan hati suntuk. Sepatu kerja ia pakai dengan tergesa, sehingga satu tali tidak terpasang dengan sempurna. Tali itu terlepas ketika Lila baru menghenyakkan pantatnya di sadel motor ojek langganannya. Lila merutuk dalam hati. Ia terpaksa harus kehilangan beberapa menit untuk membenahi tali sepatunya yang terlepas. Guratan kesal makin memancar di wajah Lila.
Sepanjang perjalanan, insiden itu memenuhi benaknya. Kelda, putri semata wayangnya yang baru berusia enam bulan menolak ia gendong. Kelda merengek agar Dina, baby sitter-nya yang menggendongnya. Lila mengeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir miris hatinya. Kelda sudah demikian lengket dengan Dina. Ia sudah melupakanku, batin Lila.
Sebulan yang lalu Kelda masih sangat lengket dengannya. Ia masih ingat bagaimana riangnya tawa Kelda bila Lila mencandainya. Lila juga masih ingat mata sumringah itu bila ia menggendongnya. Namun sekarang, semuanya sudah berubah. Sebulan lebih bekerja, Kelda mulai merasa asing dengannya. Padahal pekerjaan ini Lila dapatkan dengan susah payah. Setelah ia mengirim ratusan lamaran dan berpuluh-puluh wawancara. Lila berhenti bekerja di perusahaan lamanya sejak ia hamil tiga bulan.
Sejak Kelda berusia tiga bulan, Lila semakin intensif mencari pekerjaan. Pengeluaran rumah tangga yang demikian besar membuat Lila ngotot agar bisa segera mendapat pekerjaan. Setelah Kelda berusia lima bulan, akhirnya mimpi Lila terkabul. Sebuah perusahaan yang cukup besar, menerimanya sebagai sekretaris. Bukan pekerjaan impian Lila, namun ia senang akhirnya bisa bekerja kembali.
Namun Lila tidak menyangka, baru sebulan bekerja, Kelda sudah demikian jauh dengannya. Kelda sudah melupakan Lilalah Mamanya. Lilalah yang mengandung anak itu selama sembilan bulan. Ialah yang bersusah payah, mengatur setiap gerak langkahnya agar jangan sampai membahayakan keselamatan Kelda. Lila ingat betul, ketika dokter memvonis kandungnya lemah, Lila bertekad untuk sangat berhati-hati menjaga kandungannya. Ia memasang matanya dengan awas, meneliti setiap jengkal jalan yang ia lalui, juga dengan telaten mengatur makanan apa saja yang dimakannya. Ketika Kelda baru berusia beberapa hari, tiap malam Lila harus bangun malam-malam untuk menyusuinya. Padahal saat itu perutnya masih terasa sakit karena luka akibat operasi cesar belum sepenuhnya sembuh. Belum lagi ketika Kelda demam tinggi saat ia berusia tiga bulan. Sendirian Lila menunggui Kelda malam-malam saat bayi mungil itu menangis keras. Betapa kuatirnya Lila saat itu. Betapa pontang-pantingnya ia melakukan apapun agar Kelda segera sembuh dari sakitnya dan tak lagi menangis. Oh… Kelda, I love you so much. Dan sekarang, ternyata di benak kecil Kelda, ia hanya mengingat Dina, orang yang paling sering bersamanya. Mungkin bocah kecil itu mengira Dinalah Mamanya. Ada perih yang mengiris hati Lila.
**
“Apa saya harus berhenti bekerja Ta?” Lila dan Duta suaminya baru merebahkan badan untuk beristirahat.
“Maksudmu apa La? Kau baru bekerja sebulan, setelah susah payah lamar sana lamar sini. Maumu apa sih?” Duta mendelik gusar mendengar lontaran Lila.
“Kelda udah asing sama saya. Saya nggak rela kalau Kelda akhirnya menganggap Dina sebagai Mamanya. Menurut saya, Kelda lebih penting dari apapun, termasuk karier dan uang, Ta!”
“Saya setuju. Tapi bukan berarti kamu mesti berhenti bekerja. Semakin besar, Kelda akan semakin sadar akan lingkungannya. Ia akan tahu yang mana Mamanya, yang mana bukan. Jangan kuatir La, nggak ada yang bisa menggantikan posisi kamu dalam hati Kelda. Ia menolak kamu mungkin cuma kebetulan. Mungkin bukan kamunya, mungkin ia lagi pengen sesuatu, namun tidak bisa ia ungkapkan. Namanya juga bayi, ia belum bisa mengatakan apa yang ia mau. Santai aja La! Percaya deh, Kelda masih ingat kok kamu Mamanya.”
Lila mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia cukup merasa lega dengan kata-kata Duta. Tapi yakinkah Duta, Kelda tidak akan semakin asing dengannya, dan melupakannya? Lila masih ingin menjadi orang terdekat dan terpenting bagi Kelda. Tetapi Lila tidak mempunyai cukup banyak pilihan. Tidak bekerja berarti ia harus setengah mati menghemat pengeluaran agar cukup setiap bulannya. Jangankan menabung, untuk impas saja masih sulit. Lalu bagaimana dengan biaya pendidikan Kelda kelak. Bukankah pendidikan sangat penting saat ini. Lila bertekad memberikan pendidikan dengan kualitas terbaik pada Kelda. Lila sudah berencana menyiapkan tabungan untuk pendidikan Kelda. Untuk itu, bekerja menjadi harga mati bagi Lila. Lila menghela nafas.
**
Hari itu Lila berangkat ke kantor dengan sisa gundah di kepalanya. Entah mengapa “insiden Kelda” masih terus mengganggu pikirannya. Ia memandang kosong lalu lalang kendaraan bermotor dari metromini yang ditumpanginya. Lila merasa terbelah. Ia bingung apa yang harus dilakukan. Kelda… Kelda… Kelda… Ia begitu mencintai putri pertamanya itu. Andaikan ia kaya dan punya pilihan, ia ingin di rumah saja merawat bayinya. Tidak dipikirkannya karier atau gengsinya sendiri. Bagi Lila, tidak penting semua orang memandangnya remeh karena ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Kelda telah membuatnya terlalu bangga.
Lila berusaha mengenyahkan keresahan di hatinya dengan memandang ke luar jendela. Lalu lintas bergerak lambat. Seluruh badan jalan dipenuhi mobil dan motor. Pemandangan yang sama setiap hari. Tiap hari, jutaan orang bertarung dengan keganasan ibukota demi mencari sesuap nasi. Lila menghela nafas. Sebenarnya Jakarta bukanlah kota impiannya. Lila memimpikan tinggal di kota kecil yang tenang, dan berudara bersih. Namun pernikahan dan pekerjaan yang membawanya ke Jakarta. Ikut menyesaki ibukota dan ikut berpacu dengan kota yang berdetak demikian cepat.
Metromini yang ditumpangi Lila berhenti di lampu merah. Puluhan motor dan mobil di sekitar metromini itu menunggu lampu lalu lintas menyala hijau. Begitu lampu kuning menyala semua kendaraan langsung menancap gas dengan tidak sabar. Mereka berlomba saling mendahului membelah jalanan Jakarta. Mata Lila masih berkelana ke luar jendela. Ketika tiba-tiba matanya menangkap seraut wajah mungil yang merah dan bersimbah air mata. Wajah seorang bayi yang tidak berdosa sekaligus tanpa daya. Samar-samar terdengar suara tangis yang mengiris jiwa. Suara tangis yang sia-sia melawan deru suara motor dan mobil.
Bayi itu terlihat dengan mulut menganga di gendongan seorang perempuan di persimpangan jalan. Perempuan yang bergeming dengan melengkingnya tangis si bayi. Perempuan yang tentu belum pernah melahirkan dan menjadi seorang ibu.
Dengan tergesa, Lila menyetop metromini yang ditumpanginya dan turun. Dengan langkah-langkah panjang didekatinya perempuan yang menggendong bayi itu. Segala perasaan berkecamuk di dadanya. Lila merasa hatinya begitu sakit. Sangat sakit.
“Ibu, mengapa dibiarkan menangis begitu? Bukankah lebih baik merawat bayi di rumah,” kata Lila langsung tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perempuan itu terlihat kaget. Tidak menyangka akan ada orang yang menghampirinya dan bertanya begitu.
Perempuan itu masih diam saja dengan tatapan mata datar.
“Kalau Ibu tidak menginginginkan bayi itu. Biarlah bayi itu untuk saya,” kata Lila keras.
Lila tidak tahu dari mana datangnya pikiran itu. Ucapan itu terlontar begitu saja. Tanpa menunggu Ibu itu menjawab, Lila merogoh dompetnya. Ia mengambil uang dua ratus ribu yang ada di di sana. Ia serahkan uang itu dan menyorongkan tangan untuk mengendong bayi yang masih menangis keras itu. Perempuan itu menerima uang yang diserahkan Lila dan membiarkan saja Lila mengambil bayinya.
Lila bergegas menyetop taksi untuk membawa bayi itu. Lila merasakan sakit yang semakin dalam di hatinya mendengar tangis bayi itu. Siapa yang begitu tega membiarkan bayi sekecil ini terus menangis? Butiran-butiran air bening berjatuhan dari mata Lila. Ia ingat Kelda. Ia berjanji tidak akan membiarkan Kelda menangis berlama-lama. Juga bayi manapun di dunia. Lila merasa ia sendirilah yang harus memastikan itu. Kelda akan dirawatnya sendiri. Juga bayi ini. Mungkin juga bayi-bayi lainnya di dunia.
**
“Saya mungkin ditakdirkan hanya menjadi ibu rumah tangga, Ta! Maafkan saya,” kata Lila pada suaminya ketika akan memutuskan berhenti bekerja.
Duta hanya menghela nafas dan tersenyum.
“Kamu bukan saja berhenti bekerja untuk anak kita, tapi kamu malah membawa satu bayi lagi ke rumah ini!” kata Duta sambil tersenyum lebar. “Nggak apa-apa La, kata orang, bayi bisa mendatangkan rejeki yang berlimpah!” Lila tersenyum lega, Duta mengerti keputusannya.
**
Hari-hari selanjutnya tidak pernah dipikirkan Lila. Ia bahkan merasa tidak mempunyai waktu untuk sekedar melamun, merenungkan apa saja yang telah dilakukannya. Hari-harinya terlalu sibuk dengan dua bayi mungil kecintaannya, Kelda dan Linda. Bila suatu kali ia mempunyai waktu—karena seorang pembantu menggantikannya– -Lila menghabiskan waktunya untuk menulis. Menulis pengalamannya dan perasaannya selama mengasuh Kelda dan Linda. Lila mengirimkan artikel-artikelnya ke surat kabar atau menulisnya menjadi cerita pendek. Beberapa artikel dan cerpennya dimuat. Honor yang lumayan pun masuk ke kantongnya.
Sementara itu, di saat yang hampir bersamaan, Duta suaminya mendapat kenaikan jabatan. Gajinya naik cukup besar. Keduanya hanya tersenyum lega dengan kabar baik itu. Lila tidak menyangka, masalah keuangan yang mereka hadapi selesai begitu mudah. Ia tidak ingin menebak apakah itu keajaiban ataukah kebetulan semata. Saat kabar itu ia terima, Lila menciumi kedua bayinya berlama-lama sambil bercerita panjang. Ia tahu bayi-bayi itu belum mengerti kata-katanya, namun ia yakin mereka dapat memahami maknanya. Kini Lila merasakan ekstase yang tidak pernah habis dalam hidupnya. Ia merayakan setiap detik waktu yang ia punya.
**
21 tahun kemudian
“Karena Mama saya… Karena ia yang mengambil saya dari jalanan dan membawanya pada rumah yang indah!” ucap Linda mantap dalam sebuah konferensi pers. Hal yang selalu diucapkan Linda pada siapapun yang bertanya tentang rahasia keberhasilannya. Karena Mama. Semua karena Mama. Hati Lila selalu mengharu-biru mendengarnya. Dadanya terasa penuh. Sepertinya udara paling segar dari pegunungan paling hijau telah dihembuskan kuat-kuat ke sana. Linda kini telah menjadi gadis dewasa yang berkemauan kuat. Ia menjadi pelukis yang karya-karyanya dikagumi dunia.
Sementara Kelda, putri terkasihnya kini telah menjadi seorang model cantik. Setiap hari Lila bisa menyaksikan kelincahannya di layar kaca atau halaman-halaman majalah. Walaupun Kelda tidak pernah menyebut “Mama” sebagai rahasia keberhasilannya, Lila selalu merasa semangatnya telah menitis pada Kelda. Baginya Kelda adalah Lila kecil. Kelda mewarisi kecintaannya pada bayi-bayi mungil. Anak itu begitu baik hati pada orang-orang yang tidak mampu. Ia mendirikan tempat penampungan bagi bayi-bayi dan anak-anak jalanan. Cita-cita besar Lila, yang belum sanggup ia wujudkan. Lila hanya tersenyum bahagia sambil memeluk Duta suaminya. Di usia tua ini, ia merasa hidupnya tidak sia-sia. Kerja kerasnya ternyata berbuah demikian manis…
hehe…
cRitA dGn mNinGGaLkN moRaL iiaNk bGtu dLeM…