Kesempatan Itu
Desember 12th, 2008 by linda_kurnia
“ Vita !!! “
Sebuah teriakan yang cukup keras. Tak hanya yang punya nama yang menoleh. Rere sedikit berlari ke arah Vita. Dia mengambil nafas panjang. Baru berbicara pada Vita.
“ Ada apaan sih, Re? Kok sampai kamu teriak-teriak gitu?“ tanya Vita heran.
“ Aduh, sori deh. Tapi aku pengen ngomong penting sama kamu,“ sahut Rere.
“ Masalah apa ? Bentar lagi kan sudah masuk. Nanti saja ya,“ tolak Vita.
“ Nggak bisa, Vit. Pokoknya harus sekarang.“
“ Ya udah cepat bilang. “
“ Kita duduk di situ aja yuk, “ ajak Rere.
Mereka duduk di dekat mading.
“ Vit, aku tadi lihat Kaga sama Deva. Mesra banget mereka berdua. Suer, aku nggak bohong. “
“ Mungkin kamu salah lihat kali. Aku yakin Kaga nggak kaya gitu kok. Aku percaya banget sama dia. “
Bel pun berbunyi. Vita langsung pergi ke kelasnya, meninggalkan Rere.
Dalam hati Vita ragu. Meski dia bilang percaya sama Kaga, tapi Vita ingin tahu juga. Rere sahabatnya sejak SMP. Buat apa dia bohong.
Setelah pulang sekolah Vita mendapat jawabannya. Dia melihat sendiri Kaga anterin Deva pulang. Vita tak percaya dengan yang dilihatnya, tapi memang Kaga dan Deva di dalam mobil itu.
Vita benar-benar nggak diterima dibohongin kaya gitu. Apabila sama orang yang disayanginya. Meski mereka baru dua bulan jadian, tapi Vita benar-benar pada Kaga. Dia merasa Kaga juga merasakan hal yang sama. Ternyata Vita salah.
Vita menelpon Kaga.
“ Hai Sayang, maaf aku nggak bisa jemput hari ini, “ ucap Kaga sambil mengangkat HP-nya.
“ Ga, mulai sekarang kamu nggak usah hubungi atau temui aku lagi. Sekarang kita putus. Aku benci kamu, Ga. Kamu jahat. “
Vita langsung menutup HP-nya.
“ Halo, Vit, halo!“ teriak Kaga.
“ Kenapa Ga ? “ tanya Deva.
“ Aku nggak tahu. Tiba-tiba aja Vita mutusin aku. Padahal aku nggak tahu apa salahku, “ jawab Kaga.
“ Benar kamu nggak pernah nyakitin dia ? “
“ Aku yakin banget. Masa Vita mutusin aku cuma gara-gara aku nggak jemput dia hari ini? “
“ Jadi semua gara-gara aku dong. Sorry banget , Ga. Andai mobil Papa nggak masuk bengkel. Pasti kamu nggak perlu anterin aku, “ sesal Deva.
“ Enggak, Dev. Kamu nggak salah. Lagian aku udah bilang kok kalau aku nggak bisa jemput karena aku mau nganterin sepupuku.”
“ Terus kenapa Vita kayak gitu? Tunggu, Ga. Vita tahu nggak kalau aku sepupu kamu ?
Kaga menggeleng.
“ Jadi dia nggak tahu. Jangn-jangan tadi dia lihat kita. Terus dia kira… “
“ Iya, bisa juga. Aku harus telpon dia. “
Kaga me-redial nomor HP Vita. Tapi mati.
“ Pasti dia marah banget. Hp-nya aja sampe dimatiin.”
“ Kamu harus ke rumahnya. Bentar lagi udah sampai rumahku. Kamu…. Kamu langsung kesana aja. Aku jadi nggak enak neh. “
“ Oke, Dev. Aku akan ke rumah Vita sekarang. Bye. “
Kaga sampai di rumah di Vita. Tapi tak bertemu siapa pun. Vita, atau ibunya. Kaga pulang dengan pikiran kacau.
Tak henti dia hubungi nomor Vita, tetap tidak aktif. Setiap Kaga ke rumah Vita selalu kosong. Kaga semakin tak mengerti. Apa Vita benar-benar ingin melupakannya.
“ Re, Vita mana kok nggak bareng sama kamu ? “ tanya Kaga pada Rere yang baru keluar dari gerbang sekolah.
“ Ga, Vita nggak mau dan nggak akan pernah lihat kamu lagi. Kayaknya dia udah benci banget sama kamu. Percuma kamu usaha, dia nggak akan pernah maafin kamu, “ ucap Rere serius.
“ Beneran Vita ngomong kaya gitu ? Aku harus ngomong sama dia, Re. Ini cuma salah paham. Vita harus dengar penjelasanku. Dia pasti mau maafin aku, “ yakin Kaga.
“ Ga, aku kenal Vita. Aku tahu banget gimana sifatnya. “
“ Maksud kamu apa, Re ? “ Kaga semakin bingung.
“ Kayaknya nggak enak kalau diomongin disini. Gimana kalau kita ngomongnya sambil makan siang.”
Kaga menurut. Apapun akan dilakukannya agar Vita memaafkannya. Apalagi ini hanya salah paham. Kaga dan Rere masuk sebuah kafe. Hanya berjarak 500 meter dari sekolah.
“ Re, apa maksud kamu tadi ? “ desak Kaga.
“ Sabar dong, kita makan dulu ya. Aku lapar banget. “
Kaga berusaha sabar. Dia tak merasa lapar sama sekali. Hanya Vita yang ada di pikirannya.
“ Kamu nggak makan, Ga ?” Rere belagak nggak tahu maksud Kaga.
“ Aku nggak lapar. “
“ Aku tahu. Kamu penasaran kan sama omonganku tadi ? Maksudku, percuma kamu masih harap dia kembali. “
“ Please , Re. Bilang apa maksud kamu. Aku bener-bener nggak ngerti. “
“ Vita itu nggak beneran sayang sama kamu. Kalau dia sayang kamu, nggak mungkin dia nggak mau mendengar penjelasanmu. “
“ Mungkin dia masih marah banget sama aku. Memang aku juga yang salah. “
“ Kamu nggak salah, Ga. Vita aja yang emang ingin putus sama kamu. “
“ Aku nggak ngerti. “
“ Vita sekarang lagi dekat sama Riki, teman sekelas Vita. Yang aku tahu, Riki udah lama naksir Vita. Kamu tahu dong, cewek dideketin terus tiap hari. Siapa yang bisa nolak ? “
Kaga benar-benar kaget mendengarnya. Dia nggak percaya dengan ucapan Rere. Tapi seandainya Rere bohong. Buat apa ?
“ Kamu nggak bohong, Re ? “
“ Udahlah, kamu percaya aja sama aku. Percuma kamu tetap dekatin dia lagi. Hanya akan bikin sakit hati. Nggak cuma Vita kan satu-satunya cewek di dunia ini ? “
“ Kamu benar. Kalau Vita udah nggak peduli sama aku, aku juga nggak akan ganggu dia lagi. Tapi aku nggak bisa lupain dia gitu aja. Dia berarti banget buat aku. Aku sayang banget sama Vita. “
“ Maaf. Kalau aku buat kamu jadi sedih. Aku cuma nggak ingin kamu buang-buang waktu. Kalau nantinya kamu bakal kecewa. “
“ Nggak apa-apa, Re. Justru aku berterima kasih. Kamu mau ngomong yang sebenarnya. Aku pulang dulu ya. “
Sejak saat itu Rere terus mendekati Kaga. Dia tak siakan kesempatan ini. Usahanya ternyata berhasil. Dua minggu sejak Vita menghilang, Kaga meminta Rere menjadi pacarnya.
Hati Rere bersorak gembira. Terwujudlah sudah keinginannya. Tapi dia ingin tahu ke mana Vita sebenarnya. Dua minggu ini Vita tidak pernah masuk. Suratnya menulis dia sakit. Tapi Rere tak mengira akan selama ini. Rere pikir saat itu Vita sedang kacau karena Kaga, sekarang dia mulai ragu.
Rere pun datang ke rumah Vita. Sepi. Tak ada seorang pun yang dijumpainya.
“ Cari siapa, Mbak ? “ tanya tetangga Vita.
“ Saya temannya Vita, Bu. Sudah lama dia tidak masuk. Saya ingin menjenguknya, “ kilah Rere.
“ Oh. Vita tidak ada di rumah. Dia dirawat di rumah sakit sejak dua minggu lalu.”
“ Memangnya Vita sakit apa, Bu ?” Rere penasaran.
“ Dia kecelakaan setelah pulang dari sekolah. Saya dengar kepalanya luka parah sampai harus operasi.”
Rere kaget mendengarnya. Dia nggak mengira Vita benar-benar sakit. Tak ada rasa senang menghampirinya. Padahal itu artinya Vita tak akan mengganggu hubungannya dengan Kaga.
Bukan itu. Seperti sesak yang tiba-tiba hinggap ditubuhnya. Perasaan bersalah muncul. Dia tak ingin kehilangan sahabatnya itu. Setelah bertanya rumah sakit tempat Vita dirawat, Rere langsung ke sana.
Apa yang udah kamu lakuin Re ? Hanya demi seorang cowok kamu udah nyakitin sahabat kamu sendiri. Vita nggak salah apa-apa. Kenapa dia harus menderita kaya gini ? Rere memaki dirinya sendiri.
Rere sampai di rumah sakit. Dia langsung ke kamar 107. Tempat Vita dirawat. Pelan dia membuka pintu. Sedikit ragu melangkah mendekati Vita.
“ Bu,” ucap Vita berat.
“Ini Rere, Vi,” balas Rere.
Vita mencoba membuka mata. Penuh heran menatap wajah Rere.
“ Kamu mau ngapain kesini ? Pengen lihat seberapa menderitanya aku ? Keluar kamu, Re,” usir Vita.
“ Vi, kamu tahu dari mana kalau aku…”
“ Eh, ada Rere. Udah lama ?” ucap Ibu Vita yang baru datang.
“Bu, suruh dia pergi.Vita nggak mau lihat dia.Vita benci sama dia…uhukk..”
Vita tak sadarkan diri.
“ Vita…,” panggil Ibu Vita.
“ Tolong panggilkan dokter, Re,” pintanya.
Rere keluar dan memanggil dokter.
Rere dan ibu Vita menunggu di luar, cemas. Rere sangat bingung. Dia sudah membuat sakit Vita tambah parah. Dokter keluar setelah sepuluh menit.
“ Bagaimana keadaan Vita, Dok ?” Rere menghampiri.
“ Vita mengalami shock lagi. Dia mengalami kritis. “
“ Maksud dokter ?” tanya ibu Vita.
“ Vita tak sadarkan diri.”
“ Dia tidak meninggal kan , Dok?”
Rere semakin takut mendengar kata-kata dokter. Dia akan sangat menyesal jika Vita meninggal. Semua karena Rere.
“ Tidak, Vita tidak meninggal. Tapi dia mengalami koma. Kami tidak bisa memastikan kapan dia bisa sadar. “
Rere tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya. Dia nggak tahu apa Vita mau memaafkannya jika sadar nanti.
“ Maafkan saya, Tante. Semua ini gara-gara saya,” sesal Rere.
“ Saya sudah tahu apa yang terjadi. Deva yang cerita semua. Sebenarnya kondisi Vita sudah membaik. Tapi, mungkin ini memang takdir Tuhan. Saya tidak mau menyalahkan siapa pun. “
Rere duduk disamping Vita. Vita yang tenang menutup mata. Tapi hatinya pasti pedih tak karuan. Semua karena Rere.
“ Vi, aku tahu aku adalah sahabat yang paling jahat. Aku memang nggak pantas buat jadi sahabat kamu. Aku sudah rebut Kaga dari kamu. Sekarang, aku buat kamu nggak sadar. Kaga tetap milik kamu, Vi. Dia nggak pernah sayang sama aku, cuma kamu yang ada dihatinya. Kalian pasti bisa sama-sama lagi nanti.”
Rere tak bisa menahan air matanya lagi. Dia sangat menyesal. Dia tak sanggup lagi berucap apa-apa, hanya sebuah janji terucap dengan tulus dari hatinya.
Vit, aku akan selalu menunggu. Menunggu kamu membuka mata lagi. Menunggu sampai kamu menerima maafku. Sampai kapanpun.
Crtx bgus k0q. . .
V,endingx k0q gntung gt0. . .
Truz,,vita n kaga gmn?
Blik’n pa gk?