Hujan di Hatiku
Desember 12th, 2008 by septiws
“ Door…door….”
Kudengar letupan-letupan peluru berdesingan di telingaku. Di bawah lingkar pohon setinggi dua meter aku tersungkur di antara semak-semak kering dan tumbuhan berduri. Ketakutan akan suasana mencekam ini terus menyelubungi sekujur tubuhku. Seluruh tubuhku menggigil, gigiku terus bergemelutuk, aku pias dan wajahku pucat pasi.
Aku sendirian di daerah hutan kecil ini. Tak kuingat apapun kecuali beberapa jam yang lalu aku sedang mencari kayu kering di hutan kecil pinggir desa. Sungguh tak terbayangkan melihat puluhan lelaki bertubuh kekar dan memegang senjata buatan amerika berlaras panjang. Baku tembak pun tak terbantahkan lagi. Aku berlari pontang-panting. Melesat seperti antelop dikejar raja hutan. Tak terpikirkan apapun selain menyelamatkan diri dari timah panas membabi buta yang bersiap bersarang di tubuh. Di sini, di tanah yang menempel dengan pipiku ini jantungku berdegup kencang sekali. Detik selanjutnya, aku tidak merasakan apapun lagi. Segalanya terasa berputar. Lazuardi menghitam di mataku. Aku tak sadarkan diri.
Hujan malam itu membuyarkan mimpiku. Aku tidak tahu pasti sudah berapa lama tertidur di alam liar dengan udara dingin menusuk tulang. Nyamuk-nyamuk seukuran lalat mengerubungi kaki dan tanganku dengan rakus. Kucoba berdiri walau kaki ini tak mau berkompromi. Setumpuk asam laktat menggunung di tiap otot-otot kakiku. Dengan gaya berjalan pengkor aku tertatih-tatih meninggalkan hutan. Kaos warna putih yang kukenakan telah berubah warna menjadi coklat tanah bercampur sedikit darah yang keluar dari tangan yang tertusuk onak dan duri. Kepalaku masih pening dan pandanganku sedikit kabur.
Di ujung hutan aku tak melihat seberkas cahaya lampu rumah-rumah penduduk. Jalanan gelap dan becek membuat langkahku lambat. Semakin kurasakan senyap yang menyesak dada dan secara tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Bau anyir menusuk hidungku. Bau yang bisa membuat siapa saja memuntahkan isi dalam perutnya. Bau darah.
Kupercepat tempo berjalanku dan setengah berlari menuju rumah. Tak kuhiraukan rasa sakit yang mendera kedua kakiku. Yang terbesit hanya mencari tahu keadaan adikku satu-satunya, adik perempuanku. Sebagai anak yatim akulah orangtua runggal baginya. Aku adalah anak laki-laki pertama berusia 20 tahun yang ditinggal mati orangtua dan mempunyai tanggung jawab sangat besar menjaga adikku yang masih berusia 8 tahun.
Di depan balai desa kulihat seorang ibu menangis sejadi-jadinya dan sang suami hanya diam mematung. Matanya menatap nanar jasad kaku yang terbaring penuh darah di hadapannya. Hatiku semakin gamang.
Di persimpangan aku bertemu Pak Cik. Aku bertanya di mana adikku dan kugenggam erat pundaknya yang kurus kering. Aku mengguncang-guncangkan bahunya dan terus berteriak menanyakan adikku. Tapi tak sepatah kata keluar dari bibir keriputnya. Dia memandangku dengan iba. Sangat iba sampai-sampai airmata meleleh di pipinya yang penuh kerutan. Dia membuka mulutnya, berusaha mengatakan sesuatu tapi tak jua mampu karena lidahnya kelu. Aku berlari meninggalkannya dengan penuh tanda tanya. Sesampainya di depan rumah, kulihat beberapa orang duduk di beranda. Menunggui seseorang terbaring di sebuah kursi kayu yang panjang. Wajah mereka sembab.
Dengan jarak tiga meter dari kursi kayu itu aku berdiri. Dingin terasa lebih menusuk-nusuk tulangku, menghujam jantungku. Hujan terus mengguyurku. Membasahi tubuh dan hatiku. Badanku bergetar hebat melihat sesosok tubuh yang terbaring kaku di kursi kayu. Seorang gadis mungil berkulit pucat pasi dan membiru. Adikku. Tubuhku terkulai lemas dan aku bersimpuh di tanah. Wajahku penuh dengan kekecewaan dan keharu birua. Aku tak mampu melihatnya, melihat adikku. Pak Cik menghampiriku seraya merangkul pundakku.
“ Dia mencarimu. Berlari ke arah hutan ingin memberitahumu bahwa terjadi kontak senjata antara Thailand dan Kamboja ini yang memperebutkan kuil Preah Vihear desa kita. Dia takut terjadi apa-apa padamu. Tapi di tengah perjalanan saat ia berlari menyusulmu, tiba-tiba tentara itu menembaknya. Melihatnya bersimbah darah tak ada yang bisa kulakukan karena mental pengecutku memaksaku terus bersembunyi di semak-semak perdu. Maafkan aku. “
Pak Cik menangis di pundakku. Cerita miris itu sontak merajam hatiku. Menghancurkan pondasi-pondasi hati yang kubangun untuk selalu menjaga adikku. Aku menengadah menghadap langit dan berteriak, “TUHAN AMBIL JUGA NYAWAKU…….!!!”
sedih banget ih. kenapa harus ada perang ya?