Frida dan Yanuar
Desember 12th, 2008 by faqirfan
Sebenarnya bukan dari mana ini harus diceritakan. Tetapi bagaimana itu bisa terjadi. Adalah wajar dalam kehidupan ini ada insan yang saling bercinta. Frida dan Yanuar-sebut saja nama itu. Bagaikan Romeo-Juliet atau Laila-Majnun, mereka bisa saja disandingkan tetapi bisa juga dilebihkan. Kisah mereka adalah sebuah kisah percintaan yang begitu dalam tetapi pada ujungnya kebablasan. Sebuah kisah yang lazim. Sejujurnya, aku tak ingin menceritakan kisah ini karena ini adalah cerita yang biasa. Akan tetapi ada yang menuntutku harus menceritakan kisah ini bagaimanapun. Sebuah kisah dengan nama-nama yang selalu berada dalam jengkal ingatanku. Rupanya ada pengaruh yang tersimpan dalam kisah ini.
Siapa itu Yanuar? Siapa pula itu Frida? Takkan ada banyak orang yang tahu karena mereka adalah orang-orang yang tidak ternama tetapi sudah bergaya seperti orang ternama. Yanuar, dia anak pengusaha kaya. Hidup dengan bergelimang harta benda duniawi dan terbiasa dimanjakan kedua orang tuanya yang gemar berpesta dan berbelanja. Hampir tiap minggu mereka selalu membeli barang merek terbaru yang harganya selangit. Sungguh boros memang.
Yanuar bukanlah anak pintar di sekolahnya tetapi karena kekayaan orang tuanya ia mempunyai pengaruh. Ia adalah ketua geng orang-orang kaya yang selalu memalak anak-anak miskin di sekolahnya setiap hari. Anehnya, tak ada guru yang bertindak dan membiarkan saja itu terus terjadi. Yanuar hampir setiap pulang sekolah selalu pergi nongkrong ke mana pun dia suka bersama teman-teman se-geng-nya dan selalu pulang tiap menjelang pagi. Tak ada peringatan keras dari orang tuanya yang terlihat masa bodoh dan sibuk menghitung harta. Bahkan ketika Yanuar yang jago menggebet cewek-cewek primadona di sekolahnya dan terkadang membawa salah satu dari mereka ke rumah untuk free-sex orang tuanya tetap seperti itu.
Sedangkan Frida, sejujurnya ia sama dengan Yanuar. Sama-sama anak orang kaya. Sama-sama bertindak sewenang-wenang di sekolahnya dan mempunyai orang tua yang jarang memperhatikan dirinya karena kesibukan di luar rumah. Maklum bapaknya seorang pegawai departemen dalam negeri dan ibunya seorang sekretaris umum di sebuah perusahaan. Kadang-kadang keduanya jarang pulang ke rumah. Maka, Frida agar tak kesepian sering mengundang teman-teman ceweknya ke rumah sekadar untuk berpesta dan sering pula ia pergi pada malam hari hingga dini hari hanya untuk berdugem.
Bagaimana keduanya bisa bertemu? Itu pun tak disengaja. Lewat sebuah tabrakan di klub malam.
“Woi, kalo jalan pake mata dong!” kata Frida kesal. “Gak diajarain sopan santun yah?”
“Enak aja!” sahut Yanuar kesal juga. “Lo dong ngaca! Lo harusnya pake mata!”
Mereka berdua pun bertengkar dengan hebatnya sebelum akhirnya dipisahkan dan dikeluarkan oleh pegawai klub malam tersebut.
“Sialan!” kata Yanuar setelah itu, “gara-gara tuh cewek brengsek gue nggak bisa bersenang-senang!”
Frida juga demikian,
“Dia pikir dirinya siapa? Ganteng kagak pake mau ngelak!”
Mereka berdua yang berada di blok parkiran yang terpisah segera menyalakan mobil mereka untuk mencari hiburan di klub malam lain. Malang tak dapat diuntung, tiba-tiba saja keduanya bertemu lagi kali ini dalam sebuah tabrakan kecil yang mengakibatkan keduanya terkejut lalu keluar sambil marah-marah,
“Lo nggak kapok yah bikin gue sial mulu!” kata Frida dengan emosi memuncak. Ia lalu melihat kaca lampu mobilnya yang pecah dan bemper depan penyok. “Lo kira murah apa?”
“Yang bikin kapok siapa?” kata Yanuar mengelak. “Situ duluan yang mulai!”
Ia lalu mellihat kaca lampu dan bempernya juga demikian.
“Ini mahal tau!!! Makanya kalo mau ngegaul jangan sok banyak gaya deh!”
“Harusnya gue yang bilang kaya gitu: lo jangan banyak gaya. Muak gue ngeliat!”
Mereka terus bertengkar sampai akhirnya pegawai keamanan klub datang lagi. Melerai lalu mengusir.
“Masih muda sudah bertengkar! Sana pulang belajar!”
Dan begitulah keduanya lalu pulang masing-masing dengan hati-hati dan perasaan yang sedemikian gusar.
Yanuar pulang ke rumahnya pada pukul 4 pagi. Beberapa jam lagi ia harus sekolah dan rupanya ada ulangan. Namun, sungguh disangsikan dalam keadaan kantuk yang berat dan mabuk. Begitupula Frida. Ketika mereka pulang suasana rumah keduanya sepi sama sekali. Tak berpenghuni kecuali para pembantu mereka. Hal yang pertama-tama mereka lakukan ketika sampai di rumah adalah mencari kamar dan jatuhkan diri ke tempat tidur yang empuk.
Ketika pada pagi harinya tepatnya pukul 7 mereka harus segera berangkat sekolah, keduanya malah masih terlelap entah kemana. Para pembantunya yang sering membangunkan malah dibentak. Akhirnya pun mereka tak ke sekolah dan terbangun pada siang harinya jam 12.
Yanuar terbangun dari mimpinya. Ketika matanya terbuka ia segera melirik pada HP-nya sekadar melihat jam. Ada sebuah sms terpampang di layar menunggu untuk dibaca. Ia segera membukanya. Rupanya dari Raymond, temannya:
“Yan, kemana aja lo hari ini? Kok nggak masuk? Parah lo! Ada ulangan matematik tau! Ya udah, ntar abis pulang sekolahl lo ke tempat hang-out kita yah. Awas lo kalo nggak datang!”
Begitulah isi pesan dari Raymond. Yanuar tak begitu serius menanggapi. Tapi yang pasti ia akan datang tepat setelah sekolah usai yaitu, pukul 3.
Lalu bagaimana dengan Frida? Gadis cantik tak terperhatikan ini juga masih terlelap tapi sudah dipaksa bangun oleh teman-teman gengnya yang masuk ke kamarnya. Kebetulan sekolah mereka libur dan buat mengisinya yah dengan berjalan-jalan. Jadilah, Frida yang dalam keadaan kantuk itu kini dalam mobil wagon temannya. Dalam keadaan kantuk ia malah diajak bicara.
“Payah lo dugem sendirian! Nggak ngajak-ngajak!” kata Sherly, salah satu temannya.
Tapi, Frida tak menjawab.
Mobil wagon yang mereka tumpangi berjalan ke arah Sudirman seterusnya ke Thamrin kemudian berbelok lagi ke arah Semanggi. Di sebuah bangunan megah bernama Plaza Semanggi alias Pelangi mobil itu masuk. Seperti biasa mereka langsung menyerbu Starbucks. Hanya sekedar santai sambil ngopi.
Yanuar datang dengan mobilnya segera masuk ke sebuah tempat yang telah menjadi tongkrongan mereka sejak kelas 1 SMA. Teman-temannya telah menunggunya di Semanggi 21. Mereka memang pada setiap senin punya kebiasaan nomat alias nonton hemat. Kali ini mereka hendak menonton filmnya Will Smith.
Setelah bertemu di bioskop itu, Raymond dan beberapa temannya segera menyalami dirinya.
“Waduh, si monyet datang juga!” seru Raymond. “Ngapain aja lo sampai nggak masuk?”
“Biasa,” kata Yanuar, “Dugem,”
“Masih jaman lo dugem-dugeman?” kata Steve menyahut.
Yanuar tak menanggapi itu. Mereka setelahnya memesan tiket sekaligus memesan tempat duduk. Ketika transaksi selesai, Yanuar yang memesan tiket segera berbalik dan bertabrakan dengan orang di belakangnya karena meleng.
“Maaf, Mbak, maaf,” kata Yanuar yang segera menyamperi orang yang ditabraknya. “Nggak apa-apa kan?”
Orang yang ditabrak itu segera menengadahkan muka. Yanuar pun terkejut. Orang yang bernama Frida itu juga terkejut.
“Heh, maksud lo apa?” kata Frida dengan cepatnya bangkit. “Lo nggak kapok-kapok yah cari gara-gara sama gue!”
“Lo justru yang nggak kapok cari gara-gara!” sahut Yanuar.
Mereka bertengkar. Perhatian pun terpecah. Keduanya segera dipisahkan oleh teman-temannya.
“Bilangin yah ke cowok brengsek ini supaya jalan pake mata!”
“Salah lo! Harusnya lo yang pake mata! Paham!”
Akibat pertengkaran itu keduanya tak jadi nonton begitupula teman-temannya.
“Malu-maluin lo berantem sama cewek!” kata Raymond setelah itu.
“Dia duluan yang mulai sejak dugem kemarin!” elak Yanuar.
Frida juga demikian.
“Ngapain sih lo pake adu bacot segala sama tuh cowok brengsek!” kata Sherly kesal.
“Lagian ngapain juga gue harus ngebacot?” elak Frida. “Dia yang mulai duluan!”
Setelah kejadian itu, keduanya tak lagi bertemu dan asyik dengan kesenangan masing-masing. Sampai akhirnya ada yang harus menyeret keduanya dan kedua orang tua mereka di kantor polisi karena pertengkaran di jalanan yang membuat jalan macet. Kedua orang tua mereka marah besar dan menghukum anak-anaknya masing dengan tak boleh keluar malam selama sebulan. Bagi mereka sungguh merugikan. Akan tetapi dalam hati mereka pun bertanya-tanya kok orang tua mereka yang juga keluar malam malah tidak dihukum dan asyik-asyikan bersenang-senang.
Karena tak tahan keduanya pun diam-diam cabut dengan membawa banyak barang. Tanpa sengaja keduanya bertemu di salah satu taman. Mula-mulanya mereka bertengkar lagi tetapi cuma sebentar dan mereda. Lalu berkenalan satu sama lain.
“Gue sebenarnya ogah keluar malam,” kata Yanuar, “tapi karena rumah gue selalu sepi dan gue kesepian makanya gue sering keluar malam,”
“Gue juga begitu kok,” kata Frida. “Orang tua gue selalu dengan alasan sibuk dan nggak pernah ada di rumah,”
“Kayanya kita sama yah,”
“Ya gitu deh,”
Setelah pertemuan itu keduanya pun diam-diam memutuskan pulang ke rumah mereka. Rupanya ada kecocokan dan kenyamanan ketika berbicara. Itu yang membuat keduanya memutuskan untuk terus bertemu setiap hari secara diam-diam. Awalnya, Yanuar tak menganggap Frida menarik. Malah sebaliknya. Begitupula Frida. Tapi, karena keduanya sering bertemu rahasia di sebuah tempat sebelum jam 6 sore dengan menghindar jemputan lalu mengelak dengan alasan logis pertanyaan-pertanyaan orang tua mereka, mau tak mau benih-benih cinta tumbuh di hati mereka. Karenanya mereka memutuskan menjadi sepasang kekasih. Sampai akhirnya, di rumah Frida terjadi kegemparan karena tanpa sengaja ditemukan batang tes kehamilan di kamar mandi oleh bapaknya.
Batang tes kehamilan itu menunjukkan tanda positif hamil. Ia yang melihatnya langsung marah serta mengeluarkan paksa Frida dari kamarnya yang sedang mendengarkan musik. Anak itu dimasukkan ke kamar mandi lalu diguyur. Ibunya yang melihatnya tak bisa berbuat apa-apa. Frida dipaksa mengaku siapa yang berbuat tindakan memalukan ini. Ia dengan tersedu menjawab: Yanuar. Kemudian ditanya lagi siapa itu Yanuar, masih dengan tersedu pula ia menjawab dengan detil. Maka berangkatlah bapaknya ke rumah Yanuar.
Bapaknya Yanuar yang menerima kedatangannya terkejut dan terpukul lalu setelahnya mengeluarkan paksa Yanuar dari kamarnya dan memukulnya habis-habisan. Hingga akhirnya, keduanya pun dikeluarkan dari rumah mereka. Kini Frida dan Yanuar tak punya apa-apa lagi. Ini akibat dari perbuatan memalukan mereka pada suatu hari di tempat yang biasa mereka kunjungi. Dalam sebuah gudang yang remang keduanya bercanda penuh tawa tentang kebiasaan mereka. Ketika mereka lelah dan diam alias tak punya apa-apa lagi untuk diperbincangkan, Frida bersender di bahunya. Yanuar yang menyadari itu segera mencium keningnya lalu meraba-raba tubuh Frida yang langsing dari pantat hingga dadanya yang cukup besar. Namanya juga tempat sepi dan godaan pun otomatis datang. Ia lalu menggigit perlahan kuping Frida. Frida pun terangsang. Kemudian secara perlahan mulut Yanuar menuruni muka lalu menuju mulut. Mereka pun berciuman dan terjadilah selanjutnya. Mereka bersetubuh. Yanuar awalnya menganggap ini biasa saja. Tetapi ketika persetubuhan itu selesai ia menyadari bahwa ia tak memakai kondom yang selama ini biasa ia pakai. Sebuah tanda celaka. Frida lalu hanya bisa menangis karena Yanuar yang tak memakai kondom. Yanuar menghiburnya dan berjanji bertanggungjawab.
Kini setelah keduanya tak lagi mempunyai rumah dengan sisa-sisa uang jajan yang berjumlah sekitar 500 ribu keduanya mengontrak sebuah rumah kecil dan mulai menjalani semacam hidup baru yang belum disiapkan. Karena tak terbiasa susah dan tak bisa apa-apa keduanya hampir setiap hari selalu hanya bisa mengeluh dan bertengkar. Sampai akhirnya 3 bulan kemudian mereka diusir karena tak sanggup bayar kontrakan. Mereka pun kini luntang-luntung mengemis di pinggir jalan, di bawah jembatan bersama dengan bayi mereka yang lahir pada suatu malam. Tak ada yang mempedulikan mereka. Sampai akhirnya mereka ditemukan oleh seorang tua yang bersedia menampung mereka di rumahnya dan diajari cara bekerja di rumah yang selama ini jarang mereka lakukan. Yanuar pun karena mempunyai ketrampilan dasar seperti itu bisa bekerja sebagai kuli bangunan kemudian menjadi mandor. Frida pun demikian. Ia pun menjadi pengusaha tanaman setelah diajari cara menanam dan merawat tanaman oleh seorang tua bernama Pak Rahman dan biasa dipanggil Abah. Dengan itu pula mereka bisa membesarkan anaknya, Yandi dan menyekolahkan hingga ke perguruan tinggi. Dan itu adalah aku sendiri.
Yah, Frida dan Yanuar adalah orang tuaku sendiri. Aku pada awalnya tak menyangka kisah hidup mereka dahulu seperti itu. Makanya sewaktu aku kecil dan juga remaja aku selalu dilarang dan diperingatkan oleh mereka dengan keras untuk keluar malam. Aku tahu mereka seperti itu karena tak mau kejadian serupa terulang. Pada awalnya aku memberontak tetapi lama-kelamaan aku mengerti. Mereka sekarang sudah haji dan sering membuka majelis pengajian di rumahku yang sejujurnya adalah pemberian Abah yang telah wafat 10 sepuluh tahun yang lalu. Lepas dari itu, aku masih bertanya-tanya siapa kakek-nenekku yang telah mengusir mereka? Di manakah mereka sekarang yang sebenarnya menelantarkan kedua orang tuaku ini hingga berbuat tak senonoh? Ayah-ibuku itu hanya bisa menggeleng kepala, tanda mereka tak tahu. Apa mungkin mereka sudah tiada? Hanya Tuhan yang tahu. Toh, kisah ini kuceritakan semata-mata hanya sebagai tanda baktiku pada mereka.
Oh,, beNeRan toH reaLita???
c’Rita taOn bRpA niH?? SettinG’ jaduL duNk!!
Wah…Kalo realita??Syukur alhamdulilah karena kedua orgtua mas yandi msh diberi chaya oleh Allah, smga bisa nemuin grandma n grandpa…
Wow………..!!!!!! Ceritra beneran nih!!!!! Syujurx k’lo bener!!! Lo’ hrsx berterima kasih ma ke2 ortumu krn mereka mpy suatu komitmen yg besar nutk membesarkan kamu dgn berbagai cara…..Thx
wah wah ceritanya beneran terjadi??