Dongeng
Desember 12th, 2008 by miftah fadhli
“Lalu perempuan itu pergi dan berkata, ‘ Hujan, badai, banjir akan kutempuh berulang kali meski kau tak pernah setuju denganku,’ sambil menunjuk-nunjukkan tangannya ke langit.”
Rumi memangku kedua cucunya.
“Setelah itu, apa badai akan benar-benar datang?” sambung Ina–cucu paling kecil.
“Dengarlah dulu. Hari itu langit cerah. Dan tak satu pun awan menunjukkan akan datangnya badai. Orang-orang dipayungi dengan sangat sempurna. Bahkan anak-anak kampung sempat bermain layang-layang. Burung-burung sempat berkicau. Gunung terpotong-potong dengan sempurna. Sebuah siluet Brastagi yang memukau. Perempuan itu berjalan. Ia kecanduan berjalan sampai lupa cara untuk menengok ke belakang, pun untuk sekedar menangis.”
Ina mencari perhatian, ” Apa itu bodoh? Aku saja sudah pandai naik sepeda apalagi menangis.”
Tapi perhatian itu hanya jawaban berupa senyum dari Rumi.
“Iya, kau pintar.”
“Aku juga!” Uki–cucu pertamanya–tak mau kalah. Ia memukul-mukul dadanya. “Aku tentu tak sebodoh perempuan itu. Aku jago karate.”
Rumi mencium kening kedua cucunya itu.
“Bukankah cerita itu belum selesai?” Ina tersenyum manja–andai Rumi tahu kalau itu sebuah sindiran.
“Baiklah. Ibunya masih bisa mengingat anak perempuannya beberapa tahun lalu. Sosok yang manis, manja, dan penurut itu selalu hadir membahagiakan dirinya. Cantik, dikagumi banyak orang. Tentu saja! Perempuan selalu ingin diperhatikan. Seperti kalian! Selalu minta perhatian.
“Ratih–gadis itu–berselendang sutra- kadang ia tak segan memakai ulos ibunya jika bepergian. Entah apa maksudnya, tapi ulos itu memang mengilau. Potongan-potongan maniknya sangat teratur. Mamantulkan cahaya begitu berseni. Ia suka menari-nari. Bagi ibunya, Ratih adalah mahkota terindah. Lebah selalu tertarik dengan baunya. Bau Rafflesia.”
“Ikkhhh..”
Ina menutup mulutnya.
Dari tadi, dialah yang terlihat lebih lasak di pangkuan neneknya.
“Baiklah, kalian mendapat kisah paling memilukan. Beberapa tahun berlanjut, Ratih menjadi bunga yang semakin besar. Wajahnya angkuh. Bahkan ia tak pernah mau peduli lagi dengan omongan ibunya. Kini, bunga itu benar-benar mengerikan. Karnivora busuk.” Rumi menenggelamkan matanya.
“Bunga karnivora?”
“Ya, itu karnivora dari segala karnivora. Geriginya yang tersembunyi mampu mengunyah hewan-hewan yang terperangkap. Ibunya sendiri terperangah melihat kebiasaan Ratih yang memakan hewan-hewan kecil. Ia melumatkan segala bentuk manusia menjadi makanan yang istimewa.”
“Hmm.”
“Ibunya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Anak perempuan satu-satunya itu pergi dengan amarah. Mungkin mimpinya terlalu akut, hingga ia tak bisa membedakan mana pilihan; mana kesetiaan. ‘ Terserah, ‘ itu kata ibunya. Tapi masih dengan rasa yang lembut. Sejak kepergian anak tunggalnya itu, ibunya lebih sering terlihat merenung. Kalian tahu, ia sering memanjat pohon hanya untuk melihat gunung. Gunung adalah dewa baginya. Ratusan merpati akan terbang melewati pohon itu setiap sorenya. Ia harap salah satu merpati mau singgah dan mengajaknya bercakap-cakap. Ibunya berharap ia bisa menanyakan keadaan anak perempuannya dari percakapan itu.”
Uki salah tingkah. Ina semakin bandel.
Rumi tersenyum. Memekik dengan suara sesederhana mungkin. Mereka masih bisa melihat bayangan gunung Sinabung berkelebat di tengah malam.
“Baiklah. Apa yang kalian mau?”
“Aku ingin mendengar bagian akhir ceritanya!” Uki berteriak.
“Kalian akan mendapatkannya jika mau mendengarkan cerita ini sampai habis.”
“Ya!” Mereka memekik semangat.
“Itu gunung yang abadi. Ia kerucut yang paling megah di antara daratan. Hijau yang bergumul, serta keindahan sore yang tersimpan di baliknya. Konon, kita bisa memeluk, menyentuh, mencium matahari jika berada di puncaknya. Gunung itu akan terlihat sebagai tanah yang angkuh jika dilihat dari atas Gundaling. Daratan yang memanjang dan mengibarkan kebahagiaan. Dari sana, kita bisa melihat andong berjingkrak-jingkrak membawa orang mengelilingi seputar tebing. Tanah yang berkelok. Gundaling adalah teropong Sinabung yang angkuh. Dari sana, kita cuma miniatur rumah-rumahan yang sewaktu-waktu bisa dihempaskan dengan ganas oleh gunung itu. Gunung yang gagah–juga angkuh. Ia menyimpan banyak cerita yang terkikis sepanjang jaman, tergantung bagaimana perasaan orang-orang saat itu. Tapi perasaan ibu Ratih saat itu memang cukup untuk mengikis banyak dongeng yang tumbuh di sekitar gunung. Cuma satu yang tersisa, dan itu cuma Ratih. Ibunya yang selalu memekik sederhana hingga membuat tetangganya terganggu olehnya. Eh, kalian tahu Boru Sinaga?”
“Iya.”
“Dia akan menerkam semuanya jika ia merasa terganggu. Tapi tak jarang Boru Sinaga menjadi pelawak. Ia punya jurus-jurus pantonim yang jitu untuk membuat orang banyak tergelak. Meski renta, tapi kekuatannya mampu menyihir banyak Boru-Boru lain yang putus asa. Ya, ia pahlawan bagi orang-orang yang putus asa–bagiku. Boru Sinaga juga orang yang mudah luluh hatinya kalau diperlihatkan pada orang seperti ibunya Ratih. Guyonan paling menggelitik darinya bahkan tak pernah bisa membuat mulut ibu Ratih terbuka. Sekedar untuk memperlihatkan guratan senyum. Sedikit saja. Dan malam-malam selanjutnya menyerang bagai akut. Sampai akhirnya ia terkurung dalam guratan keriput-keriput wajahnya yang semakin tumbuh dewasa.”
“Seperti Nenek?”
“Ya. Tapi sudah sedikit berkurang berkat cucu-cucu yang menggemaskan.” Rumi mencubiti pipi cucu-cucunya. Ia makin tak sadar malam hampir menyerangnya dengan hiportemia. “Sebentar lagi kalian akan mendengar kisah kalian sendiri.”
“Benarkah?”
“E-hemm.”
Keduanya memekik semangat.
“Oke. Ratih masih tak memberi kabar setelah tujuh tahun kepergiannya. Tak sepucuk surat pun datang. Tak ada kabar mengenai Ratih, meski ibunya itu sudah berusaha mengirim orang untuk mengetahui keadaan Ratih. Tapi ibunya yang tua itu cuma tahu hal-hal tentang Ratih berupa isu. Kebenaran beritanya belum bisa dipastikan. Tapi semangat itu terus ada. Yang penting, meski cuma satu kalimat, ia bisa mengetahui kabar Ratih, anaknya. Kemudian, ah, dream comes true. Ibunya berteriak kegirangan ketika Ratih mendekati rumahnya. Dengan dua anak lucu di sampingnya. Anak yang selalu tertawa. Enggan untuk bersikap lebih manis dan sopan. Tapi menggemaskan.”
“Ia memeluk Ratih seperti memeluk roh suaminya dalam mimpi. Ia bahkan memberitahukan kebahagiaannya ke seantero kampung. Ia berniat mengadakan syukuran tapi itu terjegal karena Ratih tak mau direpotkan. Hal itu sudah menegaskan tentang kebenaran Ratih sebagai anaknya.”
“Kebenaran apa?”
“Kebenaran. Dua anak perempuan kecil imut dan lucu itu adalah cucunya. Mereka adalah anak-anaknya Ratih. Tapi hal itu masih membuat persoalan yang janggal. Ibunya berulang kali mencoba mengajak Ratih berbicara tentang rumah tangganya. Hanya saja Ratih terlalu malas untuk menceritakan hal itu. Sebagai seorang ibu, ia hanya takut anaknya tak memiliki suami. Ia takut anak-anaknya itu sulit menerima kenyataan bahwa calon ayahnya yang dulu sangat dicintai Ratih tak bertanggung jawab. Pergi bagai angin yang sombong. Dan pada suatu malam, akhirnya ibunya bisa membuat Ratih berbicara. Memang butuh sedikit paksaan.”
“‘ Aku kira Ibu masih tak menyukainya,’ kata Ratih. ‘Tapi meski begitu Ibu ‘kan kepingin melihat suamimu.’ Ratih menjawab, ‘ Masku nggak kepingin datang. Katanya banyak pekerjaan menantinya. Sangat banyak.’ Dan ketika ia ditanyai tentang pekerjaan suaminya, tiba-tiba ia merasa harus tidur dan membungkam untuk terakhir kalinya. Hal itu menjelaskan tentang kejanggalannya kali ini, makin jelas. Ibunya semakin gundah.”
“Lalu, apa yang terjadi dengannya?”
“Dia tidak tahu. Ibunya tidak mau mengikuti anaknya ke kamar. Itu hal gila. Bukannya Ratih sudah dewasa. Ia juga tak mau dipaksa. Perasaan tentang pertanyaan yang dipendam ibunya tak biasa. Ia selalu membuat gundukan dari tanah. Yang di dalam masing-masing di dalam gundukan itu ada selembar kertas dengan dua pertanyaan yang berkaitan. Hal yang aneh. Mungkin itu tafsiran ibunya soal pertanyaan yang dipendam. Karena sebenarnya, kata-kata itu tak benar-benar harus terjadi. Itu cuma kiasan. Ibunya semakin jarang bicara. Ia hanya menggunakan bahasa tubuh seadanya dan selalu bertahan jika ada perkataan yang ingin diucapkan.”
“Kenapa?”
“Takut!”
“Kenapa?”
“Di rumahnya bukan hanya ada dia dan anaknya–Ratih. Tapi juga ada anak-anak Ratih yang masih kecil. Sangat dan teramat sangat. Ia takut akan menanyakan berbagai macam pertanyaan yang seharusnya tak didengar oleh mereka. Ia takut akan mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya didengar oleh anak-anaknya. Ia juga takut kata-katanya akan memicu pertengkaran yang selama ini berakhir dengan kejanggalan.”
***
“Tiga hari Ratih berada di rumah ibunya, ia terlihat sangat tidak senang. Akhirnya, hari keempat, Ratih memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tapi ia meninggalkan anak-anaknya. Ibunya semakin tak karuan. Ia semakin bingung. Ibunya bertanya tapi Ratih hanya menjawab bahwa ia sibuk. Itu alasan yang tak bisa diterima ibunya. Apalagi kesibukan ibunya sebagai penjual tahu tidak kalah dengan kesibukan Ratih. Mungkin. Ratih mengatakan bahwa ia dan suaminya harus bekerja dan pulang pagi setiap hari. Ia takut anak-anaknya tak terurus. Ia juga berkata, anak-anaknya akan merasa nyaman jika berada di bawah asuhan neneknya. Ia menyangka ibunya bukan orang yang super sibuk. Ia mengira bahwa tahu-tahu itu ia buat dan hanya untuk dititipkan di kedai-kedai. Selebihnya, ibunya hanya menunggu uang hasil penjualannya datang kepadanya. Ah, ibunya tak tahu harus merencanakan apa. Ia takut anak-anak Ratih tak sekolah karenanya. Itu akan membuat mereka tak punya masa depan ‘kan?”
“Ya. Apalagi ini musimnya masuk sekolah. Nek, kapan aku sekolah?” Uki menarik-narik lengan baju neneknya.
“Hmm…beberapa hari lagi aku akan mengurus kelengkapan sekolahmu. Tenang saja. Pada kenyataannya, cerita itu tidak menjadi kenyataan. Paling tidak segelintir dari kisah itu tidak jadi kenyataan. Kalian tahu, ibu kalian orang yang manis, penurut, dan manja, seperti kalian.”
“Oh iya, mana bagian akhir ceritanya?”
“Baiklah. Bagian terakir dari kisah itu adalah, ibunya bersama kedua cucunya hidup nyaman dengan belas kasih orang lain. Dan sebagian hidpnya lagi ia gunakan untuk mencari uang dari tenaganya sendiri. Dan pada akhirnya, ibunya kembali tak mengetahui kabar anaknya.”
Rumi mengajak kedua cucunya ke kamar setelah dongeng itu usai. Dengan wajah yang kelelahan dan mata sedikit menoleh ke arah gunung yang masih bisa dilihat bayangannya, Rumi menutup pintu seolah tak pernah ada cerita apapun yang ia ceritakan kepada orang lain. Dalam hatinya, ia hanya bisa menghilangkan kebiasannya memanjat pohon. Melihat gunung dan menanti merpati-merpati yang akan singgah dan membuka percakapan dengannya. Dan ia tak pernah berharap lagi untuk menanyakan kabar anaknya pada merpati-merpati itu. Bahkan untuk sekedar menitip pesan.
Lubukpakam, 2008