Dialog Ujung
Desember 12th, 2008 by bogiyuniar
DI DALAM rumah makan kecil dan remang di seberang Jalan Sudirman 65 itu hanya terdapat sekitar dua puluh meja. Aku dan Jena duduk di meja nomor lima, meja yang bersebelahan dengan kaca samping tempat itu.
Suasana di sekeliling kami tidak jauh berbeda dengan yang ada di seberang kaca sana. Mati dan seolah tanpa jiwa. Walau di kanan-kiri dan belakang kami ada sekurangnya tujuh orang lelaki paruh baya dengan mulut berasap dan wajah kusut mereka, walau dari jalanan kumuh di seberang sana orang berlalu-lalang dan deru kendaraan silih berganti mengalir.
Jena melambaikan tangannya dan tak lama berselang seorang waiter muda menghampiri meja kami.
“Sudah memutuskan memesan apa, Nyonya?” tanya waiter itu.
Jena menopang dagunya.
“Coffee, please.”
“Dan Anda?”
“Teh.”
Dia mencatat dan segera menyeret langkahnya ke ruang belakang.
“Aku heran mengapa kau memilih tempat remang, dingin, dan jelek seperti ini, Sayang?” tanya Jena dengan menggerutu.
“Karena hanya tempat ini yang masih mau menampung kita.”
Jena memalingkan wajahnya dengan bibir ditekuk.
“Lagipula ini tempat yang aman. Nyamuk-nyamuk itu tak akan mengganggu kita dengan jepret kamera dan tulisan-tulisan mereka,” tambahku.
“Menyedihkan, dulu The Star atau Lima Bintang masih mau menerima kita, sekarang…..Bah! Kau bisa bayangkan, Sayang! Brr…..dingin sekali. Ke mana saja pelayan itu. Aku ingin kopiku, bukan hawa dingin ini.”
Aku hanya diam. Kubiarkan dia nyerocos dengan keluhannya. Dua menit kemudian pelayanan itu datang ke meja kami. Jena masih terus mengeluh dan pemuda itu pun tak luput dari cerocosnya.
“Akhirnya! Kopi! Aku paling suka kopi!”
Dia menikmatinya perlahan, seperti wine.
“Ck! Ck! Ck! Terlalu pahit dan…..hitam! Hhh!! Aku jadi ingin cappuccino!”
“Kau tentu tahu itu tidak mungkin. Ini cuma tempat kecil, lagipula ini bukan Itali.”
Mata Jena mengawang-awang.
“Hmm. Kenapa aku jadi ingat Itali. Ah! Roma, aku rindu Roma, Piacenza, terlebih…..Milan. Kau masih ingat waktu para sponsor membiayai kita jalan-jalan ke Roma dulu? Ingat, kan? Dulu kita borong semua mode teranyar di Milan. Prada, Dolce-Gabanna, Gucci, semua masuk kantong!!”
Jena seperti mabuk oleh kopi murah itu. Kini dia tertawa melayang-layang.
“Bah! Seharusnya pengelola di sini bisa membuat cappuccino yang enak! Bukan kopi murahan begini. Kalau Dien masih sama-sama kita, tentu aku bisa menyuruh-nyuruhnya membeli cappuccino. Dia walaupun ada hujan nuklirpun, pasti pergi kalau kusuruh!” gerutunya tiba-tiba.
“Dien?”
“Ya, Dien. Kau ingat dia, kan? Salah satu pembantu kita itu. Sewaktu kita tinggal di Semarang. Dien yang aslinya Jogja. Yang bahasa Jawanya medhok itu lho, Sayang.”
“Ah! Ya, Dien yang itu. Jongos itu yang dulu sering kupanggil Kambing.”
“Kau memanggilnya ‘Kambing’? Keterlaluan kau, Sayang! Ia baik orangnya, lebih-lebih lagi penurut. Ha ha ha. Itu yang membuatku suka padanya.”
“Biarkan saja! Ia membuatku kesal. Dengan ilmu tukang rumputnya itu dia berani mengajariku filsafat! Bayangkan, Jen! Fil-sa-fat!”
Jena terbahak.
“Ia mengajarimu filsafat? Dien itu? Yang baju kerjanya kaus lusuh itu, yang tiap pagi menyiangi kebun kita itu, mengajarimu filsafat? Ha ha ha….memang kambing benar dia. Ha ha ha. Coba aku mau dengar filsafat macam apa yang dia doktrinkan padamu, hah?”
Aku meneguk sisa tehku dengan muka masam.
“Dia bilang seharusnya aku berjualan payung saja di kelontongan. Katanya aku akan bisa lebih sukses kalau aku berjualan barang itu daripada menapaki karir seperti sekarang. Menurutnya, kalau aku jadi juragan payung, hidupku bisa lebih berguna, lebih manfaat, hubunganku dengan Tuhan bisa lebih dekat. Karena katanya, payung itu simbolnya pengayom, simbolnya pelindung. Tidak takut hujan, tidak takut panas. Siang-malam selalu siap menjaga tuannya. Aku tentu tahu apa maunya. Dia ingin aku jadi payung itu. Nah! Itu yang bikin aku kesal bukan main. Dia secara tak langsung sudah mengatai kalau aku ini orangnya tak seperti payung! Menyebalkan bukan, Jen?”
Jena terdiam sesaat.
“Dia bilang begitu padamu?”
Aku mengangguk kesal.
“Dien yang bilang begitu padamu?”
“Ya. Si Kambing itu yang bilang!”
“Dien yang anaknya lima, masih bocah-bocah, istrinya anak seorang petani gurem, yang tinggalnya di dusun kecil dan jarang diurusi pemerintah setempatnya itu, berani bilang seperti itu padamu?”
“Ya! Heran, kau menyebutkan tentangnya lengkap sekali! Kau simpati pada si Kambing itu?”
Jena terdiam. Tertegun. Dadaku masih naik-turun. Ia terus memandangiku dengan pandangan kelabu.
“Mengapa kau diam?”
Jena memalingkan matanya ke bawah, mengaduk-aduk cangkir kosongnya dengan sendok.
“Tidak,” katanya lirih. “Sepertinya kita harus belajar dari dia soal filsafatnya itu. Hidup ini sudah seperti junk food saja. Banyak ditelan, tapi tidak pernah ada gunanya. Maksudku yang benar-benar ada gunanya. Hhhh…..kenapa aku menjadi rindu sama Dien.”
“Tadi Roma, sekarang Dien. Besok siapa lagi yang akan kau rindukan?”
Jena tersenyum kecil. Kedua alisnya turun dan dari dalam matanya tersirat semacam sinar redup disertai setitik air bening. Wajahnya seremang cahaya di sekeliling kami. Ia menggamit tanganku dan menggenggamnya erat. Aku tahu maksud semuanya itu. Aku merasa malu. Kubalas tatapannya dengan pancaran serupa. Kami saling membisu untuk beberapa saat.
Tiba-tiba Jena menarik genggamannya seiring dentang jam.
“Sudah, jam sembilan,” katanya.
Aku melirik ke dinding.
“Ya. Ayo pulang. Besok aku sendiri yang mengantarmu ke pengadilan.”