KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Ayahku Seorang Mafia

Di usiaku yang hampir tujuh belas tahun ini, terus terang aku sama sekali tidak pernah merasakan indahnya memiliki seorang ayah. Secara lahiriyah, aku memang memiliki ayah kandung. Tetapi, secara batiniyah, aku tidak pernah memiliki seorang ayah.

Aku anak bungsu dari empat bersaudara. Semua saudaraku perempuan termasuk aku. Sejak kecil aku dididik oleh Ayah untuk menjadi seorang wanita perkasa, pemberani, dan tidak cengeng.

Di saat anak-anak seusiaku belajar sepeda didampingi oleh ayahnya, aku harus belajar sepeda sendirian. Jatuh, lecet, dan berdarah harus aku hadapi sendiri sampai aku dapat menaikinya. Bahkan, ketika anak-anak yang lain dapat berkeluh-kesah, bermanja-manja, bercengkerama dengan ayahnya, aku hanya bisa melihat dengan pandangan iri. Sesuatu yang tidak pernah aku alami selama menjadi seorang anak, karena Ayahku seorang mafia.

Bagaimana tidak kusebut Ayahku seorang mafia. Aku tidak pernah dapat bercerita lepas dengan ayah. Setiap hari Ayahku selalu memasang muka sangar. Bila aku sedikit bermanja-manja dengan Ibu, dan terlihat oleh Ayah, Ibu akan langsung ditegur.

Dengan lantang, Ayah akan berkata, “Jangan suka memanjakan anak, nanti jadi kebiasaan!”.

Kalau sudah begitu biasanya Ibu cuma bisa diam dan menyuruhku menuruti perintah Ayah. 

Belum lagi bila aku melakukan kesalahan sedikit saja, entah itu pulang sekolah terlambat, ulangan jelek, bermain sampai lupa waktu, dan tidak mau mengaji, maka tamatlah sudah riwayatku. Aku akan langsung dimaki-maki tidak karuan dan dipukuli habis-habisan. Aku bahkan pernah diikat dengan tali tampar setebal tali kapal, ketika aku masih TK gara-gara aku bertengkar dengan temanku. Aku diikat dan dimasukkan ke dalam bak yang sangat besar. Kalau sekarang, mungkin bak tersebut biasa saja. Tapi, bagi ukuran anak seusiaku saat itu, bak tersebut besar sekali. Sejak itu aku menjadi semakin takut dengan Ayah.

Oleh sebab itu, bila aku sedang merasakan kesedihan yang teramat sangat, biasanya aku akan berbagi dengan Ibu, lalu Ibu akan menghiburku dengan penuh rasa sayang. Kalau sudah begitu, biasanya, aku hanya bisa meneteskan air mata di pangkuannya. Itu pun hanya bisa kami lakukan bila Ayah sedang pergi bekerja atau keluar rumah. Tapi, hal itu tidak lagi bisa kulakukan setelah Ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir saat aku duduk dibangku kelas satu SMP.

Seumur hidup, aku tidak akan melupakan hari itu. Dimana, untuk terakhir kalinya aku melihat wajah Ibu. Ketika seorang anak kehilangan ibunya, sangat wajar bila dia merasa sedih dan akan menangis. Namun, berbeda dengan aku. Saat aku mengetahui Ibu telah tiada, aku sama sekali tidak menangis. Walaupun sebetulnya hatiku sudah remuk redam, aku ingin memeluk, menciumi jasad Ibu untuk yang terakhir kalinya, aku pun ingin menangis di tubuh Ibu karena setelah ini tak akan ada lagi tubuh yang memelukku dengan penuh kehangatan. Tapi, apa yang terjadi. Saat aku melihat mayat Ibu, Ayah segera menggandeng tanganku dan menuntunku ke belakang.

“Jangan menangis, jangan cengeng, orang mati tidak perlu ditangisi, tapi didoakan,” kata Ayah tegas.

Seketika aku tidak bisa meneteskan air mata. Padahal, semua kakakku dapat menangis dengan leluasa saat itu. Meski dadaku sesak, kutahan air mata ini sebisa mungkin.

Ketika matahari tidur dalam peraduannya, aku menangis di kamar sejadi-jadinya. Aku sedih, tiada lagi Ibu yang bisa aku jadikan sandaran ketika aku sedang membutuhkan tempat untuk berbagi suka dan duka.

“Sudah jangan menangis terus! Ibu tidak akan bisa kembali lagi. Lebih baik kita mengaji. Kirimi Ibu doa. Cuma itu bantuan yang bisa kita beri untuk Ibu,” hibur Kakakku sambil membelai rambutku.

Aku hanya terdiam sambil mengikuti ajakan kakakku untuk ikut mengaji bersama orang-orang yang sudah berkumpul di ruang tamu.

Sampai sebesar ini, belum pernah aku dapat berkomunikasi lancar dengan Ayah. Kalau ada kepentingan, aku akan berbicara, kalau tidak, lebih baik diam daripada aku bertanya ini itu.

Saat aku duduk di bangku kelas 1 SMA , aku mengalami sakit usus buntu. Sakiiit sekali. Tapi, untuk berkeluh kesah sakit kepada orang di rumah, sekali lagi aku katakan aku tidak terbiasa dan saat itu aku tidak menemukan satu orang pun di rumah. Keadaan yang telah menempaku untuk mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Maka, saat itu juga aku berangkat sendiri ke rumah sakit. Dokter mengatakan usus buntuku sudah akut, mau tidak mau aku harus segera dioperasi. Dokter tidak berani mengambil tindakan saat itu karena tak seorang pun mendampingiku. Supaya aku tidak dikatakan orang aneh akhirnya aku beritahu juga nama Ayahku, berapa nomor telepon handphonenya, dan di mana alamatnya.

Barangkali saat itu petugas rumah sakit langsung menelepon Ayah, sehingga proses operasiku segera ditangani. Bahkan, ketika aku membuka mata untuk pertama kali setelah operasi, orang pertama yang kulihat justru teman-teman sekolahku. Tidak ada Ayah dan saudara-saudaraku.

Setelah beberapa jam kemudian Ayah datang dengan Kakak pertamaku. Itu pun hanya satu kata yang diucapkan ayah,“ Masih sakit?” 

Aku hanya bisa diam sambil memegangi perutku dan mengangguk pelan.

Hanya kata-kata itu yang terucap dari mulut Ayah. Selanjutnya beliau menghabiskan waktu dengan duduk di sofa dekat tempat tidurku sambil membaca koran.

“Ini aku bawakan roti keju kesukaanmu. Ntar kalau kamu udah bisa kentut dimakan ya!” kata Kakakku sambil menyeret kursi dan duduk di sebelahku.

“Tadi ke sini naik apa?” kataku pelan.

“Ya naik sepeda motor. Setelah ini Ayah mau langsung kembali ke kantor tapi Kakak di sini kok sampai maghrib. Setelah itu Kakak pulang. Kasihan anak-anak di rumah tidak ada yang jaga!” jawab Kakakku lembut.

Aku hanya terdiam. Bahkan ketika aku selesai dioperasi pun, Ayah hanya dapat menemaniku beberapa saat.

“Ayah pamit dulu !” kata Ayah sambil mengulurkan tangannya. Aku segera meraihnya dan menciumnya.

“Sudah jangan sedih gitu, kayak tidak tahu Ayah saja. Coba sekarang cerita sama Mbak, gimana kok tiba-tiba langsung operasi? Apa selama ini kamu tidak merasakan apa-apa?” Mbak Sari mulai menanyai aku.

“Aku sendiri juga tidak tahu Mbak. Emang sih perutku biasanya nyeri-nyeri abis makan. Kupikir ya sakit maag biasa. Tapi, saat itu nyerinya sudah luar biasa sekali. Mbak tahu kan, nggak mungkin kalau tidak sakiiit aku sampai bela-belain datang ke rumah sakit,” jelasku pelan sambil meringis menahan sakit.

“Ya sudah kalau begitu. Sekarang yang penting kamu nggak usah banyak mikir biar cepet sembuh,” hibur Mbak Sari.

Pernah suatu hari aku melihat Ayah sedang berbaring lama di kamar tidurnya. Sebagai seorang anak, mungkin naluriku pun belum mati. Aku bahkan takut terjadi apa-apa dengan Ayah. Bagaimanapun beliau orang tuaku, tinggal satu-satunya lagi.

“Sakit apa Yah?” tanyaku pelan sambil mendekati tempat tidur Ayah.

“Sudah, urusi saja dirimu sendiri,” jawab Ayah ketus.

Aku hanya bisa menelan ludah dan akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan kamar Ayah.

Maka tidak mengherankan bila anak-anak perempuan pada umumnya sangat menyukai boneka, tidak begitu dengan aku.. Aku justru menyukai robot dan tokoh-tokoh pembela kebenaran, seperti Spiderman dan Superman. Kalau anak-anak seusiaku menyukai warna-warna soft ketika memakai baju, aku justru lebih menyukai warna-warna gelap seperti biru tua, coklat tua, ungu, dan hitam. Kalau anak-anak seusiaku menyukai bunga dan anak kecil yang lucu, sebaliknya, aku justru lebih tertarik untuk melakukan kegiatan mendaki gunung serta membersihkan kamar mandi. Bahkan, aku paling sebel ketika melihat seorang wanita berbicara dengan gaya kemanja-manjaan. Bagiku, itu sangat menjijikkan.

Tak heran bila di sekolah aku lebih suka curhat dengan teman laki-laki daripada teman perempuan. Bagiku berteman dengan anak laki-laki lebih menyenangkan. Mereka tidak suka berbasa-basi langsung to the point bila membahas sesuatu. Berbeda dengan anak perempuan mereka cenderung banyak ngomong dan suka bertele-tele. Namun, dalam hal bersosialisasi dengan teman-teman perempuanku aku tetap baik-baik saja dan tidak bermasalah.

Mulai kecil aku selalu diajarkan Ayah untuk tidak banyak bicara, bila tidak ada hal yang perlu dibicarakan. Beliau juga selalu menasehati aku untuk tidak terlalu mengurusi pekerjaan yang bukan menjadi tanggung jawab kita. Tentu saja sangat tidak nyaman ketika di sekolahanku mengadakan program konseling bulanan bagi anak-anak. Aku paling risih karena aku akan disuruh bercerita panjang lebar tentang riwayat hidupku atau masalah yang sedang aku hadapi.

Karena didikan yang teramat keras dari Ayah, maka aku tumbuh menjadi seorang wanita yang garang, ditambah lagi aku mempunyai tipe suara yang keras dan tegas serta kulitku berwarna sawo matang. Maka lengkaplah sudah julukan tomboy untuk diriku. Secara lahir memang aku seorang wanita. Tapi, secara batin aku tumbuh seperti seorang laki-laki, cuek, kasar, dan menyukai tantangan. 

Kalau aku ditanya apakah kakak-kakakku juga mendapat didikan yang sangat keras dari ayah, aku akan menjawab dengan cepat iya, cuma tidak sekeras aku. Mungkin karena waktu itu kakak-kakakku masih memiliki waktu yang agak panjang bersama Ibu. Mereka masih dapat belajar nilai-nilai kewanitaan dari Ibu. Sedangkan aku, aku hanya memiliki waktu kebersamaan dengan Ibu hanya sampai kelas satu SMP karena Ibu lebih dulu diambil Yang Maha Kuasa.

Aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku memiliki perangai yang keras seperti ini. Dalam setiap doaku aku hanya berharap, semoga suatu hari Allah dapat memberiku petunjuk untuk menjadi seorang wanita sejati dan membuka mata hati Ayahku agar dapat dekat dengan anak-anaknya. Bagaimanapun juga aku seorang wanita dan tidak boleh mengubah diriku untuk menjadi seorang laki-laki.

2 Responses to “Ayahku Seorang Mafia”

  1. on 15 Dec 2008 at 14:00Blink_Zhee

    Hikz, nanGiz aQhuu..

  2. on 29 Mar 2009 at 20:09RIO FERDIAN

    HAI,NI AKU RIO . .SABAR YAAAAAAAAAAA
    CERITA KAMU BAGUS . .AKU JUGA JADI SEDIH NI…
    TAPI KAMU TETEP SEMANGAT ……

Tinggalkan Komentar