KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Thank’s Tan

Huh ! Sumpek ! Pusing ! Bosan ! untuk kesekian kali kutekan tombol delete. Kulihat jam di tangan, ya ampun ! Jarum jam sudah mendarat di angka 10 lebih sedikit, berarti sudah dua jam lebih pantatku menempel di kursi dan mataku melotot di depan komputer tanpa menghasilkan satu kata pun. Ide-ide tak jelas yang terbit di kepala malah membuat migrainku kambuh. Sebenarnya aku sedang tak mood menerima order tulisan fiksi ini, tapi daripada otak jadi tambah bodoh karena nggak pernah dibuat mikir, kuterima saja dengan setengah hati.

“Assalamualikuuuummmmm.” Seorang teman yang baru datang menepuk pundakku.

“Waalaikum salam,” jawabku.

Tak lama kemudian disusul teman-teman yang lain. Ada yang manyapa, ada yang memberiku senyum, ada juga yang acuh-acuh saja. Sesuatu yang lumrah di kantor ini, jam sepuluh siang  penghuninya baru mulai berdatangan, maklum proyek lagi sepi. Aku saja jika komputer di rumah tidak error mungkin lebih memilih tinggal di rumah, tidak keluar uang bensin tapi pekerjaan tetap bisa kukerjakan.

“Sampai kapan kondisi seperti ini, proyek sepi, padahal tahun ajaran baru sudah dekat” gerutu seorang teman tertangkap telingaku. Aku masih bertahan di depan komputer dan masih bolak-balik menekan tombol delete.

“Eh, katanya tahun ini gak ada THR ya?”

“Masa sih, aku tadi lewat Kusuma Bangsa masih ada kok.”

“Di Kusuma  Bangsa ?”

“Iya masih ada kok.” Hening tak ada umpan balik.

“Oooo… maksudmu Taman Hiburan Rakyat ?” Hening sudah pecah.

“Dasar botol (bodoh dan tolol) ! Ngapain mikirin Taman Hiburan Rakyat ! Maksudku Tunjangan Hari Raya!“

“Ooo…”

Aku tak tahu siapa yang sedang berdialog di ruangan sebelah, tapi cukup membuatku menahan tawa, lumayanlah saraf di otakku agak mengendur.

“Lagi sibuk Pak?” Seorang karyawan senior menghampiriku.

“Nggak Pak, iseng-iseng aja kok dari pada nganggur,” jawabku sekenanya.

“Gaji ke-13 cair bulan ini ya?”

“Ya tergantung bendaharanyalah, kapan membagikan.” Orang-orang di belakangku membicarakan topik lain.

Aku masih di depan komputer dengan keruwetanku. Telingaku samar-samar mendengar suara permainan game, kegiatan rutin di kantor ini.

“Selamat siang semuanya!” ucapan salam mengiringi bunyi langkah sepatu high heel.

“Selamat siaaangggg.”

Bagaikan paduan suara, teman-teman satu ruangan menjawab salam seseorang yang baru saja datang dan sangat kukenal walau tak melihat sosoknya. Tapi aku enggan menyapanya, sekarang yang utama segera menyelesaikan order dan menerima bayaran.

“Aduh Jeng, cantik banget, baru ya ?”

“Oooo… ini oleh-oleh dari teman, dia kan ajudannya istri Bupati. Kemarin dia nemenin istri Bupati keliling Eropa. Waktu hang out di butik sepatu katanya inget kalau aku koleksi sepatu, jadinya dioleh-olehin deh.“

Dalam imajinasiku dia pasti sedang menggerak-gerakkan kakinya memamerkan sepatu oleh-oleh dari sang ajudan istri Bupati.

“Dia itu udah seperti saudara sendiri, aku sering kok dioleh-olehin. Sebulan yang lalu aku diberi tas Virssasi.”

Virsasi? Emang ada ? Tanyaku dalam hati, bukannya Versace ? Meski laki-laki pengetahuanku cukup lumayanlah soal merek-merek fashion internasional.

“Versace mungkin, Jeng, kayanya Virsasi gak ada deh,” terdengar sahutan seorang teman. Tuh kan bener!.

“Lho itu yang palsu ! Yang asli virsasi!” Sok tahu!

Lama tak ada sahutan, mungkin teman-teman sudah capek menghadapi mahluk satu itu. Langkah-langkah sepatu oleh-oleh ajudan istri Bupati menghampiriku.

“Hallo Jejaka, ngapain? Aduh proyeknya gencar ya ? Cipratin aku dong !” Dia menjawil daguku. Tante girang lu ! Tiga kata itu sudah di ujung lidah, tapi kutahan tidak keluar, takut kualat! Usianya sangat jauh di atasku. “Lagi dapet job ya ?” Matanya melirik genit. Kupaksakan tersenyum mendengar kicaunya.

“Eh, sepatumu keren banget”! Si Tante menunduk-nundukkan kepala melihat sepatuku. “Wow ! Capriaci bok ! Sebulan yang lalu aku juga mbeliin anakku. Sudah sebulan ini dia kerja di perusahaan asing, jadi harus jaga penampilan, apa-apa harus bermerek, gak boleh pakai yang murahan. Tapi dasarnya anakku itu seleranya memang tinggi, jadi dari dulu aku gak bisa mbelikan yang murah-murah.” Hanya dengan ekor mata aku dapat melihat gerakan kepalanya yang bergoyang-goyang dan bibirnya yang melenggok ke kanan dan ke kiri . Tiba-tiba perutku mules.

“Kamu masih belum punya calon ya ?”  Bibirnya semakin mencap-mencep.

“Banyak Mbak, tinggal milih aja.”

“ Waduh, ya nggak heran, siapa sih yang nggak mau sama kamu, ngguanteng, berpendidikan, mapan!” Orang ini sarapan apa sih tadi pagi, ngomong berbusa-busa begitu nggak ada capeknya.

“Kamu cari yang kaya apa sih ?”

“Saya ingin istri yang konvensional, di rumah saja tidak usah bekerja, biar saya kerja keras menjemput rezeki buat keluarga, dan perempuan yang sederhana tidak MERK MAINDET !” Sengaja dua kata itu aku beri intonasi yang kuat. Si Tante langsung terdiam, entah sekarang wajahnya seperti apa.

“Mbak, patungan buat anaknya Redi.” Nila, bendahara kantor menghampiri si tante dengan membawa selembar kertas dan satu buah amplop.

“Urunan apalagi tuh, sepertinya bulan ini kok sering banget urunan ?” tanya si Tante sinis.

“Anaknya Redi yang paling kecil kena demam berdarah, Mbak, semua sudah, tinggal Mbak yang belum.” Dari suaranya kentara sekali Nila menahan emosi.

“Oh iya, sorry ya, gini lho kalau kebanyakan urusan sampai lupa segalanya.”

Tangannya merogoh saku, sengaja kulihat berapa harta yang dia keluarkan. Aku berdecak kagum, orang yang mengklaim selalu memenuhi selera tinggi anak-anaknya dengan IKHLAS mengeluarkan uang LIMA RIBU RUPIAH. Nila dan aku saling pandang, dia tersenyum sinis. Aku dapat menangkap makna ekspresi wajahnya, pendapat di otaknya pasti sama dengan yang ada di otakku.

Kepalaku semakin pusing, perutku mual, pinggangku mulai tersa sakit, tanda harus segera beranjak.

“Lho Jejaka Ngganteng, mau ke mana, diajak ngobrol mbaknya kok nyingkir.“

Puji syukur, Mbakku tidak seperti dirimu, kataku dalam hati. Tanpa menghiraukan dia aku pergi menuju kantin.

Kusruput kopi pahit dan satu sendok makan nasi rawon ke dalam mulut, dengan harapan dapat menghilangkan pusing dan mual yang aku rasakan. Sejak pagi perutku belum terisi apa-apa. Sebenarnya aku sudah terbiasa tidak sarapan, adegan tadilah yang membuat kondisiku drop seketika.

Setelah suapan kedua kupinggirkan piring, kunyalakan rokok dan kuhisap dalam-dalam. Memoriku merewind adegan demi adegan di ruangan tadi. Tiba-tiba memoriku berhenti pada suatu adegan, segera kubayar kopi dan nasi rawon pesananku, dengan semangat aku berjalan menuju ruanganku.

Si tante menggoyang-goyangkan kaki, memamerkan sepatu, yang katanya oleh-oleh dari ajudan istri Bupati….. Tanganku dengan lincah mencetak kalimat demi kalimat. Thank’s Tan, setulusnya kuucapkan dalam hati.

One Response to “Thank’s Tan”

  1. on 26 Dec 2008 at 17:54danu

    akhirnya, bergabung juga kau di kolm kita. Tokohnya terinspirasi aku ya? huekekek….Btw, dapat salam tuh dari Bu Lies. Dia lagi punya versassi baru. Terus menulis, Bu!

Tinggalkan Komentar