KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Percakapan Senyap

Baru tiga hari yang lalu aku melihat air matamu terjatuh di antara rumput yang mengering, kayu yang rapuh, ladang yang gersang. Baru hari ini aku tak melihatnya basah. Padahal aku rindu air matamu, walau kau bumbui dengan senyum, air matamu masih terasa hangat.

(1)

Lewat air matamu, kau perkenalkan aku dengan sunyi, kau papah aku di jalan yang tak bertepi. Kemudian kau bawa aku terbang, terbang melintasi tembok-tembok yang memisahkan antara aku dan kamu, bulan dan bintang, langit dan bumi. Ya, aku rindu itu.

Hingga sampai saat ini, Di sini, di sampingmu, aku akan terus menunggu air matamu hingga terjatuh, membasahi rambutku, rambut kita yang mulai memutih.

Tataplah mataku lekat-lekat. Lalu, dekaplah bola mataku, lumat dan lumatlah, supaya matamu benar-benar basah.

Percayalah, aku akan menemanimu selamanya, selagi engkau setia pada sunyi, pada sesuatu yang membuat manusia meninggalkanmu. Keluarkanlah, keluarkanlah air matamu sayang. Aku ingin mengunyah dan menelannya walau pahit terasa, aku suka.

Percayalah, aku suka pahit. Aku suka pada sesuatu yang membuat manusia takut, hingga manusia meninggalkanku. Selamanya, aku bersamamu. Karena aku adalah kamu. Yakinlah itu, Sayang.

Kenapa kau tengadahkan wajahmu yang pucat ke langit? Apa yang membuatmu mematung seperti itu? Tanpa suara.

“Kau ingin menangis kan!? Berikanlah satu tetes saja padaku sayang. Menangislah, menangislah Sayang. Mata nanar ini letih menunggu embun di matamu.”

Ya, aku takkan menghalangimu langkahmu lagi. Langkahkanlah kakimu menuju hamparan batu yang tak jauh di hadapanmu, tempat biasa kau rebahkan tubuhmu di saat-saat beribu tanya tak ada jawab di hatimu. Dan biarkan angin kering itu membelai bening kulit tubuhmu.

Dan lihatlah senja yang disepu merah tembaga, ia semaskin tua, memanggil-manggil namamu, nama kita.

Sedang jauh di sana, di antara tebing-tebing yang menjulang, barisan burung-burung menyusuri aliran sungai yang mengering, terbang menuju sarang.

Sementara aku dan kamu, masih bercengkrama dalam kebisuan. Kebisuan yang entah sampai kapan kau akhiri.

(2)

Biarkanlah aku disini, menyusuri lorong kebisuan, tanpa air mata, tanpa apa yang kau mau. Aku tak ingin kau hanyut oleh air mataku, terhempas di lembah kesunyian. Aku ingin kau berdiri tegap di anatara riuh-rendahnya suara, di anatara hempasan badai.

Aku ingin kau seperti dulu, gagah meniupkan terompet kemenangan, berpesta di antara tangis kekalahan. Aku ingin kau tertawa sembari menenggak arak dan mengunyah berpotong-potong daging babi.

Aku ingin kau tidur di atas tumpukan emas yang kau dapatkan dari rampasan perang. Aku ingin kau dipuji bayak orang karena kau tak terkalahkan. Aku ingin seperti itu, tidak sepertiku, menyusuri terowongan lengang ini.

Jangan bujuk hati ini, Sayang… Aku tak yakin kau sanggup tenggelam di danau air mataku. Dan aku tak yakin bahwa di bola matamu ada sunyi yang menghentak. Kembalilah pada dirimu sendiri, Sayang. Kembalilah…

Biarkanlah aku menyambut kematianku ini tanpa tangisan. Dan aku tidak berharap kematianku dikenang siapa pun. Aku ini manusia biasa, yang lahir dan matinya biasa-bisa saja.

(3)

Sepertinya masih jauh tanda-tanda jatuhnya setetes air di kelopak matamu. Tapi aku merasakan bahwa air mata itu ada, tersimpan di bagian tubuhmu yang tak dapat kusentuh. Bahkan air mata itu kau titipkan pada batu tempat kau merebah, dan pada dedaunan sebagai pelindung tubuhmu.
Aku cemburu, aku sakit hati pada batu, pada daun-daun yang melekat di tubuhmu. Rasanya ingin kuhancur-leburkan batu itu dan kulumat daun-daun yang menghalangi tubuhku dan tubuhmu.
Mumpung malam belum bertandang, dan sebelum bintang datang menjelang, tumpahkanlah air matamu pada kelopak mataku yang perih ini sayang. Mari kita tapaki jalan sunyi. Kan kupapah engkau menuju sarang.

“Marilah Sayang, sambut uluran tanganku. Di sini tak ada siapa-siapa kecuali engkau dan aku.”

Tahukah engkau, hati ini telah terbangun sejak engkau tak menitikkan air mata. Betapa engkau telah membangunkan aku dikebekuan, ketaksadaran, dan kealpaan.

Denganmu yang seperti saat ini, kau beri aku arti betapa berharganya air mata itu.

Dan di sini aku ingin kembali menjadi dirimu, menjadi diriku. Kita akan buka lembar-lembar tampa riuh gelombang dan debur ombak. Kita akan menenggelamkan diri kedasar yang tak bertepi, mereguk sunyi. Dan biarkanlah kepingan masa lalu menuturkan sesal yang takkan berulang.

Aku akui, ini salahku. Semestinya dunia ini kutabur wewangian dari sari bunga yang kau tanam dulu.

Ini salahku sayang. Bangkai itu telah terlanjur menjamur dan baunya menyebar diseluruh penjuru bumi ini. Tak mungkin bisa aku menarik kembali menjadi dunia dalam imajimu, Sayang.

“Nasi terlanjur menjadi bubur. Dan kita tak takkan bisa terus menerus hidup dalam penyesalan. Tak ada gunanya larut dalam kesedihan. Hidup ini nyata Sayang, seperti saat ini, saat-saat matamu tak lagi berembun.”

Sambutlah uluran tanganku ini sayang. Sambutlah segera, sebelum semburat merah di ufuk barat menjelma pekat. Sebelum sayap kita luruh oleh gelap.

Marilah kita terbang melintasi awan-gemawan yang menghitam itu. Terbang menuju ke dasar kesunyian seperti yang kau tawarkan dulu.

(4)

Sudahlah, kau dan aku tetaplah seperti dulu. Jalanilah jalanmu. Dan aku akan berjalan jalanku. Mungkin dengan kesendirian, kita akan lebih bebas menentukan diri sendiri, lebih bebas sampai ke dasar mana kita akan tenggelam.

Dan jangan ada kata terlanjur. Selagi ada niat dan kesungguhan. Sebab itulah jalan kita.

Tidak! Aku tak pernah tersiksa dalam kesedihan. Justru dengan sedih itu aku merasa manisnya hidupan. Andai kau tahu makna kesedihan, mungkin tak cuma air mata yang kau harapkan, melainkan seluruh luka yang telah kau gores di tubuhku ini.

Embun di mataku!? Itu dulu, kala engkau seperti singa yang tak mau menyapaku. Dan kini, engkau terlambat mengejarku. Aku sudah jauh diseberang, sedang kau masih merengek-rengik minta jemput semabari melontarkan kata-kata selal. Oh, kata-kata itu bagai serapah di telingaku.

Masih ingatkah ketika kau bersumpah di hadapanku untuk tidak menyentuh dan menyetubuhiku? Dan kini betapa naifnya engkau, tubuhmu yang bugil sungguh menggelikan.

Ya, takkan kau dapatkan apa-apa dariku, kecuali tubuhku yang sudah tak ada artinya lagi bagiku. Silahkan saja kau lumat tubuhku, tapi apa yang kau harapkan dariku, tak kan kau dapatkan. Ya, kau akan hidup dalam kebingungan. Bingung tanpa air mataku, tanpa tahu apa yang kau bingungkan.

Kau tahu sendiri kan!? Inilah kenyataanku yang tak dapat kau paksakan atau sekedar kau rayu. Langkah ini akan terus menapaki jalan tampa henti, tanpa menoleh padamu. Oh, sedikit pun rasa ibaku tidak untukmu.

Kupersilahkan tubuhku untukku kau lumat, sepuas-sepuasmu seperti dulu kala engkau gemar menabur bangkai dan menyemat mayat.

Segeralah tunggangi tubuh ini, sebelum malam mengemasiku dalam gelap. Segeralah, sebelum bintang dan bulan meluruhku dalam cahaya. Segeralah, sebelum birahimu ditelan pekat. Segeralah, sebelum sesal membunuhmu.

Segeralah, tubuh ini sudah terlentang tanpa sehelai daun pun menutupinya. Hidupkan kembali iblismu, hingga kau tak melihatku sebagai manusia yang bisa menangis.

(5)

Jangan kau buang dedaunan di tubuhmu Sayang. Jangan kau jemput ringkih kuda yang mulai lunglai ini. Dan jangan kau hidupkan kembali iblis yang bersarang di tubuhku.

Tangan ini sudah lunglai. Tak ada tenaga untuk memegang senjata. Tabuhku rapuh, serapuh jiwaku tanpa air matamu.

Sudah kubilang, sekarang aku bukanlah si gagah yang gemar menabur bangkai, lihai melumat tubuhmu dan kemudian mencampakkanmu.

Tidakkah kau tatap mata ini barang sejanak, agar kau tahu seiapakah aku sekarang.

Tapi jika terpaksa aku menyentuh tubuhmu, tak lain itu bukan karena muncul dari sifat kerakusan, melainkan aku ingin mengabadikan masa silam dengan keindahan bayanganmu, bukan dari kebinatangan. Toh, tubuh kita sudah sama-sama tak memiliki hasrat.

Ya, aku menyadari betapa panjang derita yang kau alami saat bersamaku. Dan kini kepasrahanmu di tengah belantara yang kucipta ternyata telah membunuhku. Tanpa suara, tanpa bahasa tubuh yang biasa kau mainkan, kini membuatku tidak ada di hadapanmu, dan kau tidak ada dalam dekapku.

Aku tak merasakan kenikmatan walau tubuhmu kureguk dalam-dalam, sedalam lukamu yang mungkin masih menganga. Aku benar-benar asing oleh wewangian tubuhmu. Aku tak merasakan engkau dekat selekat keringat kita yang mulai menyatu ini.

Ingin kuhempas tubuhmu, seperti hendak membuang nyeri yang kian menjadi. Semakin aku dekatkan tubuhku ke tubuhmu, semakin terasa sakitnya luka ini.

Aku tersiksa, ini bukan keinginanku, aku hanya mengajaknya bicara lewat bahasa tubuhmu. Apakah di sana engkau masih ada rasa. Dan apakah engkau masih bisa kuajak bicara.

Tapi semakin aku paksa tubuhmu untuk bicara, semakain aku merasa betapa engkau tiada. Tiada untukku, tiada untuk tubuhmu jua.

Seiring tenggelamnya matahari diufuk barat, dan pendaran mega yang menjelma pekat. Kini, jejekmu kian lenyap.

“Di manakah engkau Sayang? Kemanakah engkau pergi? Aku ikut bersamamu. Jangan kau tinggalkan aku. Jangan tinggalkan tubuhmu. Hempaskan tubuh gersangku yang sedang menjelajahi tubuhmu ini. Sayang kembalilah pada tubuhmu. Temani aku menyemai malam, memetik bulan dan bintang. Sayang, jika engkau tak mau bertandang di hadapku, tunjukilah jalan terbaik menuju peraduanmu yang sesungguhnya.”

(6)

Jangan kau lagi berpikir tentang baik dan buruk yang sebenarnya tak ada pada dirimu. Raihlah puncak ekstasemu. Koyaklah tubuhku ini hingga engkau benar-benar menghilang terhempas gelombang.

Aku tak lagi berpikir bagaimana nasib tubuhku yang terkoyak, sebab bagiku tubuh hanyalah sebatas wadak yang hanya menipu. Dan kau, adalah orang tertipu olehnya.

Selamanya aku takkan pernah hadir di antara sepimu yang sementara. Kecuali engkau telah memahami apa arti sesal.

Dan di sini, di tempat yang tak pernah kau ketahui, aku petik damai keabadian. Selamat tinggal, Sayang. Aku tak ingin lagi di hantui olehmu, atau sekedar berpikir tentangmu. Cari sendiri dirimu. Dirimu tak ada dalam dirimu, jua tak ada di diriku, apalagi ada di tubuhku yang kau lumat itu.

Sepekat malam ini, dirimu berjalan tanpa cahaya. Bisakah kau mencari sesuatu di gulita belantara yang kau cipta? Dan aku tak mungkin menjadi cahaya bagimu. Ini bukan dendam yang kusimpan, melainkan agar kau memahami apa arti cahaya yang dulu selalu kau campakkan.

Sebab itu, tak ada alasan untuk merintih dan menangis di hadapanku. Lebih baik kau pahamilah arti sesal itu, hingga kau bisa meraihku, mencapai puncak sejati yang tak kau dapatkan di tubuhku. Selamat tinggal, Sayang, selami aku di puncak sesalmu.

Yogyakarta, Juni 2008

Tinggalkan Komentar