Maaf, Aku Tak Pantas Jadi Sahabatmu
Desember 11th, 2008 by upik
Kepulanganku bersamaan dengan azan maghrib, rumah sepi, gelap. Anak-anak kemarin dijemput neneknya. Liburan ini kuberi kesempatan mereka menikmati kemanjaan yang diberikan neneknya, yang penting minggu depan mereka kembali menjadi anakku yang mandiri. Suami belum pulang, hari ini dia pulang larut karena lembur memeriksa sertifikasi guru. Aku segera berwudhu, memburu waktu open houseNya.
Usai menghadap, segera menekan power CPU, layar monitor, beberapa saat kemudian memulai dialog seperti hari-hari kemarin.
“Dia kambuh lagi.”
“Lalu?”
“Teman-teman menyarankan aku mengajaknya berobat.”
“Tak usah, engkau sendiri saja yang mengobati.”
Aku tersentak. “Apa aku bisa ?”
“Harus bisa ! Engkau kan sahabatnya !”
Aku diam, kepalaku teras berat begitu mendengar kata “sahabat”. Peran itu sangat berat untukku.
Aku bersahabat dengan seseorang yang tidak cantik, tidak kaya, dan tidak pintar. Pertemanan kami terjalin sejak masih sama-sama masih gadis sampai aku memiliki dua anak yang beranjak remaja kini. Aku cinta padanya, walau aku tak pernah bahagia bersahabat dengannya.
“Kok kuat sih ?”
“Hebat !”
“Kau tidak mual ?”
Begitu komentar teman-teman mengenai persahabatanku dengannya. Aku hanya tersenyum menanggapi komentar mereka. Begitu juga ketika berhadapan dengannya, ketika yang lain mencibir dan berbisik-bisik, senyum yang kuberikan untuknya. Apakah cibiran dan bisikan-bisikan itu yang membuatku tak pernah bahagia bersamanya ? Sering pertanyaan itu timbul dalam hati. Tidak juga, aku sudah kebal dengan semua itu. Termasuk ketika dulu (bahkan mungkin sampai sekarang) dia meremehkan suamiku yang hanya seorang dosen tanpa jabatan apa-apa di sebuah perguruan tinggi negeri dan merendahkan kondisi ekonomi kami yang biasa-biasa aja. Apakah suaminya seorang konglomerat atau pejabat ? Tidak juga, yang aku tahu suaminya adalah laki-laki setia yang siap mendampingi ke mana saja dia pergi, selebihnya ya di rumah.
“Dia salah satu Dewan Komisaris di perusahaan keluarga yang sudah turun temurun, jadi dia tinggal mengawasi dan terima laporan saja, nggak perlu keluar rumah,” jelasnya mengenai profesi suaminya, meski aku tak pernah sekali pun menanyakan apa pekerjaan suaminya.
Aku hanya kagum, seorang Dewan Komisaris mampu mengawasi sebuah perusahaan di rumah sederhana tanpa ada fasilitas komputer dan mesin fax. Bukankah seorang pengawas perusahaaan butuh data-data untung dan rugi dari perusahaan yang diawasi, itu berarti dia tak akan pernah bisa lepas dari alat-alat akses berteknologi tinggi ? Ah, mungkin secara de yure saja dia seorang Dewan Komisaris, secara de facto yang mengerjakan orang lain, jadi dia tinggal terima laporan tertulis dan terima income saja, dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak perlu dicari jawabannya.
Memoriku menyeret pada kejadian tadi siang di kantor.
“Dia kambuh lagi, cepat sana !”
“Di mana ?” Kuletakkan data-data keluar masuk barang yang sejak dua jam lalu aku pelototi.
“Di kantin.”
Segera kulangkahkan kaki menuju kantin. Dia sedang menggelepar dan mengerang kesakitan di tengah orang-orang yang menatap tajam dan saling berbisik. Tangannya memegang daun telinga kemudian leher setelah itu memegang tangan, begitu terus bergantian.
“Ajak dia berobat, penyakitnya semakin parah,” seorang teman menghampiri.
“Tolong sampaikan ini padanya, aku sudah bosan,” seorang teman yang lain yang menduduki jabatan Bendahara memberiku selembar kertas.
Kubaca lembaran kertas yang diberikannya, tagihan pinjaman yang sudah menunggak selama lima bulan. Dadaku sesak. Kuhampiri dia. Melihatku dia semakin menggelepar dan mengerang kesakitan.
“Lihat, indah ya ?” Dia menunjukkan telinga, leher, dan tangannya, nampak kilau berlian menyapa mataku.
“Ya indah.” Seperti biasa kuberikan senyum untuknya. Teman-teman yang lain nampak tak suka melihat sikapku. Aku paham makna tatapan mereka.
Kuberikan lembar tagihan dari Bendahara sambil mengucapkan dengan lantang, “Hentikan eranganmu! Cepat LUNASI HUTANGMU !” Pasti kata-kata itu yang mereka harapkan keluar dari mulutku.
“Sesekali beri dia shock therapy.” Begitu sering saran itu itu aku dengar. Tetapi aku selalu diam, diam , dan diam. Mereka tak pernah merasakan cinta seperti yang aku rasakan.
“Ayo, kita masih banyak pekerjaan.” Akhirnya kutarik tangannya segera keluar dari sana. Menuju ruang kerja, mulutnya terus mengerang kesakitan.
Bel berbunyi, memoriku buyar. Pasti itu suamiku.
“Kok pucat, sakit ?” tanyanya begitu kubuka di pintu pagar.
“Sedikit pusing.”
“Pasti terlalu lama di depan komputer.”
Aku tersenyum, ia sudah hafal dengan kebiasaanku.
“Kami sudah memberi toleransi yang sangat cukup ! Tapi anda yang tidak tahu diri!”
Telingaku menangkap suara yang sangat lantang begitu kakiku baru saja menginjak ruangan kerja. Ada apa ini, tanyaku dalam hati. Ku ihat dua orang laki-laki berbadan kekar dan kulitnya sangat gelap sedang pasang badan di depan sahabatku yang menunduk dan kedua tangannya menutupi wajahnya. Dia tampak tak berdaya. Teman-teman yang lain hanya melihat dengan tatapan “bahagia”, mungkin ini yang mereka harapkan selama ini.
“Bodoh sekali, dalam aturan sudah jelas, mobil yang masa kreditnya belum selesai, tidak boleh digadaikan, kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu ?!” Berganti laki-laki yang satu lagi menunjuk-nunjuk sahabatku. Sahabatku tetap menunduk dan menutup wajahnya.
Mobil? Dua bulan yang lalu dia memang membawa mobil, milik pribadi atau pinjam, seperti biasa aku tidak pernah menanyakan, meskipun mulutnya sampai berbusa menceritakan mobil itu. Apa itu yang dimaksud ? Seingatku hanya sebulan dia membawanya, setelah itu ya tidak.
“Kesalahan anda BERLIPAT-LIPAT, sudah nunggak 2 bulan DIGADAIKAN pula !” umpatan masih berlanjut.
“Kalau besok angsuran tidak dibayar, anda kami perkarakan!”
Setelah itu mereka berlalu, kuhampiri sahabatku, kubelai pundaknya. Teman-teman yang lain memandang sinis. Tiba-tiba sahabatku membuka tangannya. Eksperesinya datar, kemudian dia tersenyum padaku.
“Inilah hidup.” Kemudian melenggang berlalu.
Aku terhenyak, begitu juga teman-teman yang lain. Dadaku sesak, aku melangkah pergi dengan kecepatan tinggi diiringi tatapan heran teman-teman yang lain.
Seperti biasa, azan maghrib menyambut kedatanganku, gelap, sepi. Suami masih lembur, anak-anak masih menikmati kemanjaan dari neneknya. Segera mengejar waktu open houseNya. Dua puluh menit kemudian klik power CPU, layar monitor, memulai percakapan seperti kemarin.
“Aku menulis surat untuknya”
“Kalau tidak bisa ngomong langsung melalui surat juga oke”
“Ini jalan yang terbaik untuk kami berdua”
“Betul!”
“Aku diliputi rasa bersalah”
“Ah, jangan terlalu melow”
“Aku tidak bisa memberikan apa-apa untuknya”
“Maksudmu ?”
“Aku sudah memanfaatkan dia”
“Mengada-ada kamu !”
“Dia kujadikan kaca banggala dalam berkata-kata dan bersikap”
“Tapi kamu sangat berbeda dengan dia !”
“Justru itu ! Aku merendahkan hati selama ini karena aku tidak mau sakit seperti dia!”
“?”
“Sedangkan sampai detik ini aku tidak mampu mengobatinya”
“ ?”
“Kuputuskan meninggalkannya”
“Jangan membuat pikiranku kacau, apa isi suratmu ?”
”Maaf, aku tak pantas jadi sahabatmu”
“?”