KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Fey’s Book

Draft drama setebal 89 halaman tergeletak seperti keset di lantai keramik Fey.  Sudah lebih dua hari hasil tulisan selama menyendiri di Batu dibiarkan saja tidak terurus seolah tidak ada nilai apa-apa.  Padahal selama ini dari sanalah dia memenuhi kebutuhan hidup.  Sejak enam tahun lalu.

Si pemilik kamar tampak akan beranjak dari tempat tidur.  Mulutnya menguap selebar-lebarnya.  Tangannya merentang ke samping seraya meliukkan tubuh mungil dan kurus.  Guling kecil terjatuh ke lantai ketika kaki kanan Fey tanpa sengaja menendang.

Kelopak matanya perlahan-lahan terbuka.  Nampaklah bola mata yang berwarna kecoklatan dan merah saking parahnya menahan kantuk.  Memang baru beberapa jam saja dia terlelap dan harus terjaga begitu otaknya memerintah untuk bangun.  Untuk melakukan kesibukan rutin sebagai seorang editor di sebuah majalah independen.

Ditariknya nafas panjang-panjang.  Ketika kepala diangkat, dia merasa dunia berputar cepat.  Cepat-cepat dia memejamkan kedua mata.  Batinnya memaki.  Hampir setiap pagi hal itu menyerang tanpa pernah mau terlalu lama membiarkan hilang tanpa jejak.

Fey kembali mencoba membuka mata.  Satu.  Dua.  Tiga.  Tidak ada sesuatu yang terjadi.  Tidak ada perputaran cepat seperti tadi.  Dia mengelus dada.

Samar-samar suara dering telfon tertangkap telinganya.  Nyaring dan berulang-ulang.  Sampai beberapa kali nada baru berhenti sejenak.  Semenit kemudian berbunyi lagi.  Fey melawan rasa malasnya untuk menjulurkan tangan meraih gagang telfon berwarna krem.  Begitu gagang diangkat, bunyi dering pun otomatis berhenti.

“Fey,” ucapnya dengan suara serak. 

Suara seorang remaja laki-laki terdengar bercampur dengan suara orang-orang di sekitarnya.  Dengan susah payah dia mengeraskan suara agar Fey tidak terus-menerus menyuruhnya mengulangi perkataannya.  Ternyata sulit sekali.  Tidak ada tempat yang cukup lengang untuk berbincang.

“Sama-sama,” ucap Fey kemudian meletakkan gagang di tempat semula.

Selimut disingkirkan ke tembok putih polos menyusul bantal empuk yang sejak semalam sudah disingkirkan saking gelisahnya Fey dalam tidur.  Beberapa kulit kacang sangrai jatuh ke lantai bersamaan saat kedua kakinya menginjak lantai.  Dia bergumam sebuah umpatan kasar dalam logat Jawa Timur yang kental.

Kedua kaki yang kecil dan pendek melangkah menyeberangi kamar sumpek berukuran 4×4 meter.  Kamar itu penuh dengan bundel-bundel naskah sinetron kejar tayang dan drama populer.  Di seberang tempat tidur ada seperangkat komputer lengkap dengan printer dan scanner.  Tidak lama lagi dia berencana memasang modem agar tidak perlu repot-repot ke warnet depan untuk mengecek e-mail dari produser yang mengajukan tawaran kerjasama.

Pintu kamar tertutup dari luar.  Menciptakan angin kecil sampai menerbangkan sehelai kertas yang menempel dekat saklar lampu kemudian mendarat di antara bola-bola kertas HVS.  Di salah satu permukaan kertas itu tertulis: “Fey’s Book.  14 Mei 2004.”

Seorang penulis amatir bolak-balik mengelap keringat dengan punggung tangan seraya melihat ke arah pintu yang sejak jam makan siang tadi tertutup rapat.  Sekretaris berdagu runcing terhitung sudah tiga kali masuk ke ruangan itu dengan leluasa.  Keluar beberapa saat kemudian dengan membawa map yang warnanya sepertinya hanya satu.  Putih.

“Bu, masih lama?” tanya si penulis amatir saat si sekretaris lewat di depannya.

Jawaban ‘Tidak, tidak lama.  Masih ada rapat’ kembali harus dia dengar untuk kesekian kali.  Si penulis amatir kembali menghempaskan dirinya di bangku kayu dan meletakkan tas kulit di sisinya.

Kepala si penulis amatir menoleh ketika mendengar pintu ruangan editor majalah Kreasi Muda terbuka dari dalam.  Wajahnya berubah cerah ketika melihat Fey yang mengenakan stelan blazer coklat berjalan meninggalkan ruangan.  Si penulis amatir menyambar tas kulit dan bergegas menghampiri sang editor muda.

“Naskah saya…”

Fey langsung menganggukkan kepala.  Tidak ada kata terucap darinya.  Si penulis amatir mengulurkan tangan, namun Fer terlanjur berlalu dari hadapannya.

Fey memungut kertas yang diterbangkan angin saat pintu kamar ditutup.  Bola-bola kertas yang berserakan dipungutnya satu-persatu lalu berpindah ke tempat sampah yang juga hampir penuh dengan bola-bola kertas lainnya.

Tangannya menekan tombol power pada printer dan seketika lampu indikator mati.  Semalaman printer tetap menyala tanpa disadarinya.  Matanya memang sudah begitu berat sehingga hanya sempat mematikan hard disk lalu naik ke tempat tidur kapuknya.  Fey seperti sudah terprogram mencari guling kecil untuk terus ada di dekatnya, menyingkirkan bantal agar jauh darinya, serta mengembangkan selimut untuk menutupi bagian tubuh sampai batas leher.

Dalam mimpi dia melihat sosok remaja laki-laki yang beberapa hari ini kerap datang ke kantornya.  Awalnya Sandro, nama remaja itu, mengirimkan naskah novel setebal 300 halaman untuknya.  Di dalam surat yang disertakan bersama naskah tersebut Sandro menuliskan alasan memilih Fey untuk mengoreksi naskah pertamanya.  Usianya masih 17 tahun 11 bulan ketika akhirnya Fey memintanya datang menghadap.

Sosok seorang anak muda yang rapi dan sopan.  Kacamata bulat menempel di batang hidungnya.  Menutupi sebuah tahi lalat kecil di tengah-tengah pertemuan dua alis tipis.  Suaranya lembut seperti perempuan.  Ditambah lesung pipi cukup dalam yang kerap terlihat ketika dia mendorong kedua bibir ke dalam mulut sebagai pertanda kecanggungan di depan seseorang yang dianggap tepat untuk membaca naskahnya.

Fey memanggil pemuda itu setelah sebulan naskah itu dibacanya sampai halaman terakhir.  Bukan karena terpaksa maka dia memanggil pemuda itu untuk datang, tetapi justru karena dia kagum dengan kecerdasan Sandro.  Naskahnya cukup menarik dan terbilang original.  Selama ini Fey terhitung pelit untuk menyatakan sebuah karya patut untuk dipuji.  Kali ini ucapan itu meluncur begitu saja sesuai dengan insting supernya.

Meski berniat membantu Sandro untuk menerbitkan karya perdananya, Fey tidak mau buru-buru mengabarkan kabar baik tersebut.  Dia ingin tahu siapa Sandro.  Siapa orang tuanya.  Apakah dia berbakat karena turun-temurun atau belajar mati-matian mengasah kemampuannya.  Fey cukup berpura-pura mengatakan pada Sandro bahwa karyanya belum sempat dibaca karena kesibukan di kantor dan juga pekerjaannya sebagai penulis naskah demi mencari tahu semua itu.

Ada kekecewaan terlukis di raut wajah pria itu.  Dia nampak putus asa dan kepalanya tertunduk seraya meninggalkan ruang kerja Fey.  Seperti anak muda pada umumnya.  Fey mengamati punggungnya.  Kesan pertama mengenai anak itu datar-datar saja.  Tidak emosional sama sekali.  Mungkin itu tabiatnya, namun Fey belum puas menguji.

Sebelum dia memanggil Sandro untuk datang, remaja bertubuh jangkung agak bungkuk itu sudah lebih dulu menunggu di dekat meja sekretaris.  Masih mengenakan seragam SMU dan buku-buku pelajaran memenuhi tas punggung hitamnya.  Sepulang les tambahan, Sandro memang memutuskan untuk naik satu-satunya angkot yang menuju ke kantor redaksi.  Dia tidak punya nomer telpon redaksi sehingga merelakan perjalanan setengah jam demi memuaskan rasa penasaran.  Meski hanya sebentar bertemu Fey, rasanya perasaannya lega.

Fey sudah memesan pada sekretarisnya untuk selalu memberikan berbagai macam alasan jika Sandro menanyakan keberadaannya saat itu.  Perintah selalu dilaksanakan dengan baik.  Berulangkali Sandro datang, lalu pergi dengan raut wajah kecewa.

Lama-kalamaan Fey merasa permainan sudah saatnya dihentikan.  Naskah itu siap untuk diterbitkan.  Tinggal menunggu tanda tangan Sandro di atas lembaran kontrak barulah diproduksi untuk cetakan pertama sebanyak 1000 eksemplar.  Nalurinya mengatakan buku itu akan laris di pasaran dan segera cetak ulang.

Sebuah catatan kecil pun ditempelkan Fey di dinding kamarnya untuk tidak melupakan tanggal peluncuran buku Sandro di sebuah toko buku besar.  Di hari itu Fey akan membawa Sandro ke sebuah dunia baru serta masa depan yang menjanjikan sampai usianya tua nanti.  Di depan pers, Sandro akan dengan bangga memperkenalkan novel perdananya yang berjudul “FEY’S BOOK” kepada publik.  Sebuah karya fiktif tentang seorang editor workaholik yang sukses menulis naskah-naskah layar lebar.  Sebuah alur cerita nyaris mirip seperti kisah hidup Fey dan kesehariannya.  Aneh, seolah Sandro tahu seluk-beluk kehidupannya tapi Fey yakin tidak pernah mengenal lelaki itu sebelumnya.

Yogyakarta, 28 Maret 2008  

One Response to “Fey’s Book”

  1. on 22 Mar 2009 at 13:17Abhie

    nggak ngerti aku???

Tinggalkan Komentar