Dendam Maryam
Desember 11th, 2008 by Fathor Rasyid
Di tempat tidur, mata Maryam nyalang. Bagai ikan di atas kuali, tak henti-henti Maryam membolak-balikkan tubuhnya. Sesekali ia duduk, berdiri, kemudian kembali lagi ke tempat tidur. Begitulah gelisah mendera Maryam di malam-malam terakhir ini.
Bukan karena gerahnya udara, atau pula bau comberan yang menusuk-nusuk hidung Maryam. Maryam resah tak lain karena menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Padahal sejak desus-desus itu beredar, berbagai peralatan yang Maryam butuhkan telah dipersiapkan. Ada linggis, parang, golok, dan berbagai senjata tajam lainnya tersimpan rapi di kolom tempat tidurnya. Bahkan di dinding kamarnya tergantung bedil burung yang beberapa butir pelurunya ia biarkan berserakan di meja. Maryam sendiri tak mengerti, apakah senjata-senjata itu akan ia fungsikan semua. Yang jelas kedatangan mereka harus Maryam sambut dengan sabetan parang dan linggis.
Dendam Maryam memang sudah membuncah. Gara-gara si setan keparat itu, geram Maryam setiap kali melihat dirinya dalam cermin, Maryam merasa harga dirinya tercampakkan.
Gara-gara si setan keparat itu, geram Maryam setiap kali pembantaian berdarah menghantuinya, ia merasa kecantikannya ternodai. Percuma bagi Maryam bersolek-rias jika kakinya yang digul membuat para lelaki jalang lari tunggang-langgang menjauhinya.
Tapi lain lagi di mata pelanggannya. Maryam tetaplah perempuan yang mengundang berahi. Selagi ada hasrat, siapa saja boleh menggerayangi tubuh Maryam. Dari pegawai negeri sipil rendahan hingga kuli bangunan, telah Maryam puaskan. Tidak terlalu menguras kocek banyak, cukup dua kali tarikan becak atau seharga sebungkus rokok, bersama Maryam hasrat terlampiaskan.
Toh, dari wajahnya, Maryam tidak terlau tua. Apalagi lehernya yang masih jenjang, terasa sedap untuk dijilati. Hanya saja kakinya yang digul, membuat Maryam membanting harga.
Berbeda saat Maryam berprofesi sebagai penyanyi kafe plus -yang waktu itu nama samarannya Vita–Maryam menjadi rebutan banyak lelaki. Dari pengusaha hingga para pejabat birokrat berlomba-lomba menjadikan Maryam istri simpanan.
Tidak sedikit uang yang Maryam kantongi. Sampai-sampai rencana membeli rumah dan mendirikan usaha kecil-kecilan hampir Maryam capai. Tapi sayang, sebelum rencana itu kesampaian, musibah menimpa Maryam. Saat itu Maryam sedang melantunkan suara, tiba-tiba segerombolan orang di halaman kafe memekikkan takbir, menyerukan jihad, kemudian menghancurkan kaca jendela dan pintu. Mereka memukuli orang-orang yang ada di dalamnya. Dan saat Maryam hendak melarikan diri lewat pintu belakang, balokan kayu sebesar paha orang dewasa menghantam kedua betis Marya berulang-ulang, hinga tulangnya remuk. Maryam, terkapar tak sadarkan diri. Dan ia menemukan dirinya ketika kedua kakinya telah berbalutkan perban.
Berminggu-minggu Maryam di rawat di rumah sakit, tapi tetap saja kedua kakinya tak kunjung pulih. Saat uang simpanannya mulai menipis, Maryam memutuskan pulang ke rumahnya. Rumah yang sebenarnya bukan miliknya, melainkan pemberian sementara dari seorang pejabat yang sewaktu-waktu dapat diambil alih.
Di rumah itu Maryam tak bisa berbuat apa-apa, kecuali meratapi nasibnya di atas kursi roda. Melihat Maryam tak lagi mampu memberi kehangatan, dilemparlah ia ke sebuah lokasi yang pemukimannya bagai tumpukan sampah.
Maryam sengsara. Maryam merana. Hidup Maryam bergantung pada belas-kasih seorang duda tua dan renta yang setiap harinya makan dari hasil mengumpulkan botol air meneral. Bersama duda tua itu, Maryam hidup. Hidup dalam satu kamar, tanpa ruang tamu dan halaman, Maryam berlapang dada.
Lebih dari itu, Maryam rela tubuhnya digerayangi duda tua yang bau keringatnya membuat Maryam ingin muntah. Harapan Maryam hanya satu, sebelum ajalnya tiba ia ingin melunasi dendam-dendamnya. Sebab itu ia berusaha untuk tetap hidup, walau keadaan memaksanya menyingkir dari kehidupan. Tapi, untung saja duda tua itu keburu dilindas kereta. Maryam pun terbebas. Semangat mengembalikan kedua kakinya seperti semula mulai tumbuh. Hingga berangsur-angsur Maryam bisa berjalan, walau kakinya tidak sesempurna dulu, untuk selamanya. Ya, untuk selamanya ia akan dinyatakan sebagai perempuan yang memiliki kaki digul, alias perempuan cacat.
Maryam sadar betul akan hal itu, tapi bukan berati membuatnya surut untuk menggait laki-laki. Tak perduli lelaki itu siapa dan apa profesinya, Maryam layani. Terlanjur basah, lebih baik mandi sekalian, begitulah ungkap Maryam.
Bukannya Maryam tidak ingin menjadi perempuan yang sewajarnya. Lebih dari itu, cita-cita Maryam mulai. Ia ingin menjadi perempuan yang berpendidikan tinggi hingga berguna bagi masyarakatnya. Tapi apa dikata, masa silam yang Maryam jalani tak semulus keinginan, tak seindah harapan. Keburu selangkangan Maryam berlumuran darah, keburu peluru timah bersarang di tubuh kedua orang tuanya, impian Maryam berwujud dendam.
Saat itu Maryam masih gadis, juga masih berstatus mahasiswa. Jauh dari rantau Maryam hendak memenuhi panggilan orang tuanya yang dalam suratnya mengutarakan bahwa rindu kepada anak gadisnya kian tak tertahankan. Tapi setelah kaki Maryam menginjak kampung halamannya, keganjilan mulai menyergap perasaan Maryam. Maryam merasa ada anyir darah di tanah itu.
Sesampainya Maryam di depan pagar kayu rumah orang tuanya yang dimakan rayap, Maryam tertegun melihat sosok perempuan yang kian tinggal tulang berdiri di antara gawangan pintu. Sebentar kemudian berlarilah Maryam mendekatati perempuan itu.
“Anakku,” pekik perempuan itu ketika Maryam menghambur dalam pelukannya.
Seperti memuntahkan kerinduan, air mata Maryam berjatuhan dalam pelukan perempuan tengah baya itu yang tak lain adalah ibu Maryam sendiri.
Tiga tahun berpisah, bukanlah waktu yang sebentar bagi meraka. Dan pulau di ujung barat negeri ini pun tak sedekat yang tergambar dalam peta sekolahan. Sebeb itu, sebelum Maryam merantau ke seberang, kedua orang tuanya telah merelakan anak gadisnya tidak pulang kampung sebelum kuliahnya rampung. Tapi, keburu orang tuanya tak mampu menahan rindu, apa boleh dikata Maryam pun harus menjemput rindu itu.
“Masuklah Nak,” ajak ibu Maryam dengan suara serak. “Istirahatlah, Nak. Tentunya kau sangat capek,” ungkapnya lagi setelah menutup rapat daun pintu rumahnya.
“Oh ya. Bapak mana, Buk?” tanya Maryam mengalihkan pembicaraan.
Ibu Maryam berusaha berbohong. Tapi Maryam yang sekarang bukanlah Maryam yang dulu. Maryam yang sekarang adalah Maryam yang tak buta informasi. Sekali pun selama tiga tahun Maryam tak pernah menginjak kampung halamannya, berita tentang tanah kelahirnya dapat Maryam sadap lewat mana saja.
“Ibu tak perlu berbohong. Aku tahu Bapak. Bapak adalah, adalah…” desak Maryam terputus.
“Ya, terserah mereka, Bapakmu mau dituduh seperti apa. Yang penting Bapakmu tidak ada keinginan menjadi pemberontak. Bapakmu hanya ingin membela haknya, hak seluruh warga di sini. Jika kamu kecewa, jangan akui dia sebagai Bapakmu. Dan jangan akui kami juga sebagai keluargamu. Kami sudah siap menerima segala resiko,” jelas Ibunya sembari membuang muka ke luar jendela.
“Tidak Bu. Bagaimana dan seperti pun Bapak, Bapak tetaplah orang tuaku, tempat kelak aku berteduh. Dan aku tidak rela jika mereka menyakiti Bapak,” balas Maryam meyakinkan.
Seolah menyesali perkataannya, ibu Maryam tertunduk. Dengan suara pelan, ia mulai angkat cerita. Cerita tentang suaminya dan para lelaki dewasa di kampunya yang hidup dari hutan ke hutan. Selain itu, pembunuhan dan pemerkosaan tak luput pula ia ceritakan. Saat di tanyai siapa pelakunya, wajah ibu Maryam seperti orang dicekam ketakutan.
”Jangan lawan, jangan lawan. Mereka adalah orang kuat dihadapan kita. Mereka tak segan-segan menyiksa kita. Bahkan jika mereka sudah tahan atas kebungkaman kita, mereka akan membunuh kita. Sebenarnya aku tak berharap kau pulang di saat-saat seperti ini. Surat itu aku kirim sebulan sebelum situasi di kampung ini mendidih. Aku takut mereka mencederaimu,” jelas Ibunya lagi.
Tak lupa pula Ibunya menceritakan perihal kerinduan suaminya yang tak tertahankan kepada anak gadis semata wayangnya, Maryam. Sebab itu, ia berjanji akan mempertemukan suaminya dengan anak gadinya lewat pesan yang akan disampaikan besok pagi oleh orang kepercayaan suaminya. “Besok malam, Bapakmu datang datang.”
Keesokan malamnya, saat penduduk larut dalam mimpi-mimpinya, Maryam dan Ibunya yang sedang menunggu kedatangan seseorang yang paling istimewa dalam hidupnya, tiba-tiba saja dikagetkan oleh letupan senjata berulang-ulang di halaman depan.
Keduanya saling beradu tatap, seolah tak tahu apa yang harus diperbuat, kecuali diam sediam-diamnya.
“Sepertinya, malam ini akan digenangi darah,” bisik Ibu Maryam.
Darah Maryam berdesir. Keringat dingin mulai keluar dari pori-porinya. Kekhawatiran tetang ketidakhadiran seseorang kian menyeruap dalam benaknya. Entah di gerakkan oleh siapa, mendadak Maryam memberanikan diri membuka pintu dan menyeruak ke halaman rumah. Ibunya yang tak kuasa mencegah, hanya tertegun melihat Maryam.
Ketika melihat Bapaknya yang bersimbah darah terkapar di tanah, Maryam peluk tubuh Bapaknya dan menjerit sejadi-jadinya. Sementara Ibunya yang tangan kanannya memegang pedang, menghambur ke segerombolan orang-orang berambut cepak. Tapi, sebelum Ibunya mengayunkan pedang, peluru timah menghujani tubuhnya.
Dan saat Maryam hendak menyusul perlawanan Ibunya, dengan cepat mereka menyeret tubuh Maryam masuk rumah. Dan dengan beringas mereka jilati tubuh Maryam, hingga selangkangannya berlumuran darah.
Maryam merasa hidupnya hancur. Cita-cita yang ia pupuk, tumbuh menjadi dendam. Dendam yang tak mungkin punah, hingga ia harus menjelma Vita, rebutan banyak lelaki. Tapi, belum lunas dendamnya yang pertama, Maryam harus menanggung dendam yang kedua. Hingga saat ini, saat dirinya terpontang-panting dalam sebuah kamar menunggu kedatangan segerombolan orang.
“Maryam, aku merindukanmu. Maryam, buka pintunya. Bukalah Maryamku!” teriak seseorang seperti sedang mabuk, menggedor pintu kamar Maryam berkali-kali.
Mata Maryam awas. Secepat tupai melompat, Maryam langsung menyambar bedil burung yang tergantung di dinding kamar. Tak lupa pula tangan kanannya erat mencengkram parang.
Teriakan orang itu dalam pendengaran Maryam menyerupai pekikan jihad yang keluar dari mulut orang-orang berjenggot. Kadang pula seperti bentakan segerombolan orang yang berambut cepak.
“Maryam! Cepat buka pintunya. Aku sudah tak tahan, ni,” teriaknya lagi lebih keras.
“Masuk saja Goblok. Tidak dikunci,” balas Maryam yang sudah siap menarik picu bedil.
Dengan kasar, pintu pun terkuak. Tanpa menunggu waktu, Maryam sarangkan peluru itu ke jantung lelaki yang mulutnya nyerocos tak karuan. Kemudian dengan kecepatan tinggi, Maryam tebas leher lelaki itu hingga lehernya hampir terputus. Merasa tidak puas, Maryam mencecah tubuh lelaki itu hingga menjadi bagian-bagian kecil. Baru setelah itu mulut Maryam menyeringai penuh kemenangan. Dan ia berteriak-teriak membangunkan tetangganya satu-persatu untuk memberi tahu bahwa dirinya telah melunasi dendam Ayahnya, Ibunya, orang-orang kampungnya, dan juga dendam dirinya sendiri.
Selang beberpa jam setelah pembunuhan yang menggerkan warga setempat, kedua tangan Maryam diborgol dan digiring ke sebuah ruang introgasi yang seorang pun tak sudi membelanya. Setengah sadar dalam tawanya, air mata Maryam berjatuhan.
Yogyakarta, September 2008
Kisah Maryam sungguh tragis,,
bolehkah saya berkenalan dengan penulisnya? tolong berikan saya alamatnya.
Banyak orang luar yang mengatakan kalau cerpen Indonesia lemah konflik. Saya mengakui itu memang benar. Tapi ketika saya baca cerpen yang ini, tidak juga. Konflik yang dibangun dalam cerpen ini cukup besar dan menarik. Salam dari kami (Sanggar Rewo).