Dear
Desember 11th, 2008 by Renny Widya
Rasa itu hadir lagi. Kali ini juga aku berusaha untuk menepisnya. Tapi aku tahu itu tidak akan pernah berhasil. Jam yang berdentang perlahan-lahan akan mengaburkan rasa itu. Tapi cukup dua atau tiga hari itu merajut sembilu biru di dadaku. Pikiran itu semakin kuat hadir. Keinginan itu semakin mengikat otakku hingga kurasakan tak ada celah-celah untuk bisa berpikir logis. Ataukah justru ikatan kuat di otakku itu yang sebenarnya menciptakan keinginan yang logis. Aku tidak pernah bisa membedakannya.
Aku juga tidak pernah mengerti mengapa rasa itu sering datang hilang. Apa yang sebenarnya terjadi saat rasa itu menghampiri lagi. Mungkinkah asupan makananku yang kurang berkualitas hingga otakku tidak cukup menghasilkan oksigen untuk bisa berpikir jernih.
Nama itu… Kenapa bisa harus hadir di mimpiku. Padahal tak sedetik pun aku pernah memikirkan nama itu. Nama yang seharusnya hadir di belakang nama seorang pria yang membuat nadiku sering berdenyut lemah. Aku juga tidak pernah bisa tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan dan rasakan saat aku merasakan rasa ini. Mungkinkah elegi masa lalu menyergap pikirannya juga, membayangkan seraut lembayung wajah sendu wanita yang penuh sakit hati dan rasa mengalah diantara bangunan-bangunan tua kampus universitas Mulawarman.
Satu tindakan. Meraih telpon genggam memencet tombol-tombol bernomor itu sempat beberapa kali kulakukan tapi kata-kata ajaib itu tidak pernah berhasil hadir di penghujung bibirku untuk membentuk sebuah kalimat,”I miss u, I never stop loving you”, dan setelah itu dijamin aku akan pasti mendapatkan obat yang mujarab untuk sakit itu. Sebuah kesembuhan untuk akhir kebahagiaan atau juga sebuah kesembuhan untuk akhir kesedihan. Sayang, aku terlalu takut mengatakannya. Di sisi lain aku pasti sudah tahu jawabnya, tapi di satu sisi lain perasaanku mengingkarinya.
Umurku sudah 26 tahun. Seharusnya aku sudah punya kekuatan yang cukup untuk menerima kenyataan apapun kelak. Tapi kenapa selalu ketakutan itu yang lebih dulu menyergapku. Membuat otakku kembali berputar-putar untuk bisa meyakinkan hatiku bahwa aku perlu bertindak tegas mengambil keputusan. Seperti kanker, setelah itu aku akan sembuh dan bisa melanjutkan hidupku dengan normal tanpa harus takut tinggal menghitung hari lagi dan berharap-harap tiap hari bukanlah hari terakhirku.
I believe in miracle. Tapi keajaiban itu tidak pernah datang menghampiriku untuknya. Semuanya tersimpan rapat.