2184 BL
Desember 11th, 2008 by Renny Widya
Sekali lagi aku menatapnya. Tak banyak perubahan. Bentuknya masih sama persis seperti dulu. Body orisinil warna hitam, ditambah sedikit variasi aksesoris. Masih, dua buah lampu sen warna-warni berkedap-kedip di depannya.
Dulu aku begitu mengidolakan benda ini. Setiap kali aku menemuinya di jalan, aku pasti akan kegirangan sendiri. Atau tidak aku pasti akan melengos, mencari-cari sela agar dapat melihat lebih dekat dan lebih jelas lagi. Tidak siang, tidak malam, mau jam kuliah, jam kerja, whatever, anytime. Yup I’ll always looking for you…
Alasannya, ya tidak jauh-jauh karena setiap kali aku menemukan benda ini, aku segera meyakini kalau aku juga pasti bakal bertemu dengan pemiliknya. Sudarso.
Ehhmmm… Nama kampungan itu. Lucu. Hari gini, di zaman ketika orang sedang heboh-hebohnya meneriakkan tentang global warming masih ada manusia bernama ‘Sudarso’. Bukan seorang kakek-kakek yang lahir di jaman penjajahan Belanda ataupun jaman kemerdekaan 45. Tapi seseorang yang lahir sudah di jaman club eightees. Di kampusku pun dulu dari sekian ribu mahasiswa hanya dia satu-satunya lelaki yang kutemui dengan nama Sudarso. Dan itu menyulitkan ruang gerakku. Setiap kali aku menyebutkan namanya atau membicarakan pria itu dengan teman-teman akrabku di kampus aku harus mengecilkan volume suaraku atau tidak setengah berbisik, karena jika ada yang mendengar pasti mereka akan segera menyadari kalau Sudarso yang aku bicarakan itu… ya Sudarso.
Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu menyukai pria ini. Dari namanya pasti banyak di antara kalian yang mengira kalau wajah pria ini pasaran, sekampungan namanya. Tapi tebakan kalian semua salah. Dia bukan Sudarso yang biasa. Aku tidak akan mungkin tergila-gila padanya kalau wajah dan penampilannya hanya seperti Pakle tukang jual bakso pikul yang sering ngider di kampungku. Dan aku pun bukan tipe wanita dengan selera pria rendah, sebut saja cowok-cowok yang masuk kategori idolaku, ada Baim wong, Ruben Elishama, bahkan Nino Fernandez. Bisa kalian bayangkan bagaimana penampilan fisik pria bernama Sudarso itu.
Hehehe… Kasian ya! Nama pria itu benar-benar gak matching dengan penampilan fisiknya. Aku saja dulu tertipu. Dari namanya aku meyakini kalau pria ini pasti bersuku Jawa tulen. Up’s… no… no… no. Dia bukan orang Jawa Bro!
Palembang, asli seratus persen. Kedua orang tua Sudarso memang asli Palembang, otomatis pria itu juga berdarah Palembang hanya saja karena dia dilahirkan dan dibesarkan di kota yang sama dengan tempat kuliahku dulu, Samarinda. Alhasil jadilah dia seorang Sudarso Indonesia, minus logat Sumatera sama sekali.
“Namanya Sudarso.” Mataku mendelik, nyaris melotot keluar, persis seperti mata Luna Maya ketika berperan di film layar lebar Coklat Stroberi ketika teman akrab kuliahku menyebutkan nama pria itu.
“Ah, serius kamu Jeng, Alan salah kali kasih infonya.” Aku mencoba ngeles, tak meyakini dengan apa yang dikatakan Ajeng, teman kuliahku itu.
“Beneran, Ren. Gak mungkinlah Alan salah, Alan kan satu tingkat sama idolamu, Sudarso itu, mana satu mata kuliah lagi.” Ajeng memastikan.
“Masa iya sih??” Aku masih tidak percaya sambil berpikir sejenak, menebak-nebak mencari ruang yang kira-kira masuk akal untuk nama pria ‘seukuran’ dia.
“Su..dar..so.. ya…!!!” Sekali lagi aku mengulang menyebutkan namanya.
“He…he…he…” Aku tersenyum sendiri sambil masih menggerak-gerakkan kedua bola mataku memutar yang menandakan bahwa aku masih sedang berpikir.
Dan tak lama kemudian…
“Ha…ha…ha…” gelak tawa itu, aku dan Ajeng tertawa lepas. Lucu juga.
Ya, apalah arti sebuah nama, name meaningless anything!!
2184 BL, aku menatap angka yang tertulis di plat hitam yang terpasang di bawah pintu belakang bagasi.
“Yup. Betul, tak salah lagi.” Itu memang plat nomor mobil yang selalu digunakan ‘De’ ke kampus. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari nama panggilan atau nama sebutan yang pas untuk Sudarso-ku ini. Dan pilihannya jatuh pada sebutan De. Hanya aku yang memanggilnya dengan sebutan inisial nama seperti itu. Habis, aku sering kali kebingungan menyebut nama pria itu, Su atau Dar atau So. Sepertinya ketiga sebutan itu tidak ada yang pas, maka kuputuskanlah memanggilnya dengan sebutan ‘De’ (Inisial dari Darso).
Semua kenangan itu terlalu indah jika diingat, kecupan manis, pelukan hangat. Hubungan itu begitu kabur, tidak pernah terungkap. Tapi dulu aku sangat meyakini kalau dia punya rasa yang sama sepertiku. Sampai akhirnya aku sadar, dia harus menikah dengan wanita lain di sana, jauh dari pandangan mataku.
Sekali lagi aku memperhatikan benda besar berwarna hitam itu. Mobil yang sama yang selalu digunakan De jika pergi ke kampus. Aku mengelilingi mobil itu, memutar, sekali, dua kali. Mengintip melalui kaca jendela, menempelkan wajahku. Tapi tak kutemui seseorang pun di dalamnya, tak ada De di sana. Siapa pengguna mobil itu kini? Ataukah…??? Seribu tanya berkecamuk di kepalaku.
Aku baru ingat setelah mencoba berpikir keras. De sudah tidak ada di kota ini, Samarinda – Balikpapan, tepatnya Kalimantan Timur. Dia sudah pergi, pulang kampung ke kotanya di Palembang. Ya… tiga tahun silam, begitu dia tuntas menyelesaikan kuliah S1 nya dan memutuskan meneruskan kuliah S2 di kota kelahiran kedua orang tuanya itu.
Pantas saja akhir-akhir ini perasaanku berantakan. Aku tahu persis hatiku. Aku meyakini dialah belahan jiwaku. Apa yang terjadi padanya aku bisa merasakan, persis ketika dulu dia hendak pergi meninggalkan kota ini entah untuk berapa lama atau mungkin selamanya. Dan kabar terakhir yang kuterima Sudarsoku itu akan segera menikah, sebentar lagi, bukan denganku seperti yang selalu kuharap dan kukhayalkan.
Aku begitu panik ketika ku dengar berita pernikahan itu langsung dari mulut Sudarso sendiri walau melalui perantara gelombang sinyal perusahaan selular. Padahal dulu aku sangat berharap dia akan kembali untuk menjemputku menjadi pengantin wanitanya.
“Sudah Ren, kamu gak usah bego gitu deh.”
“Kalau kamu memang kepikiran dia terus, telpon aja, tanya kabarnya,” begitu Anwar menyarankan padaku.
Cuma dia satu-satunya orang yang sering kuajak bertukar pikiran kalau aku sedang penat seperti sekarang ini. Anwar, dia sahabatku sejak kuliah. Pria ini yang selalu tulus memberikanku dukungan di setengah jiwaku yang rapuh. Kuturutilah sarannya, dan benar berita ini sekarang yang kuterima, pernikahan Sudarso dengan wanita bla…bla… yang tak pernah kutahu namanya dan tak kukenal sosoknya.
Aku berjalan di garis hitam putih beraspal ketika kendaraan sore itu di jalan raya depan kantorku begitu lengang. Aku melangkah pasti dalam kepanikan yang menyergap seluruh ruang di rongga kepala dan dadaku. Setelah siang tadi di tengah waktu istirahat siangku aku memutuskan mengambil telepon genggamku dan menekan tombol-tombol bernomor itu… 0..8..1..3..7..3..1..5..9..9..
“Gimana kuliahnya, sudah selesai?”
“Sudah.”
“Syukur deh. Kapan married nih?”
“Sebentar lagi, masih dalam persiapan.”
Aku sudah tak bisa meneruskan kata-kataku lagi selain mengucapkan satu kata ini.
“Selamat ya.”
Dalam percakapan singkat itu.
Sebuah mobil dengan body orisinil warna hitam, ditambah sedikit variasi aksesoris. Masih, dua buah lampu sen warna-warni berkedap-kedip di depannya menyambar cepat tubuh mungilku yang lantas tergeletak di garis hitam putih beraspal jalan raya itu dengan kedua lubang hidung dan telingaku mengeluarkan darah segar. Aku sempat memamadang kabur ke arah mobil berwarna hitam itu dan melihat plat yang bertuliskan angka 2184 BL. Itu mobil Sudarsoku yang sudah berpindah tangan ke orang yang tak kukenal. Dulu, aku sempat merasakan bagaimana jantungku berdebar keras saat aku menatap wajahnya ketika duduk di dalam mobil itu di sebelah pemiliknya yang sedang menyetir mengendarai mobilnya itu.