KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mak Ijah

Mak Ijah baru saja pulang dari stasiun yang persis terletak dua ratus meter dari rumah reotnya. Beliau tidak biasanya sudah pulang pada siang hari. Dagangan  kacang goreng dan rokok kreteknya ludes dikerubung pembeli. Ada satu senyum yang bangga di situ.

Senyumnya tak berumur lama. Dua orang petugas pemerintah yang mengatasnamakan dari perusahaan  jawatan kereta api menemuinya. Pertemuan itu singkat, mereka membicarakan tentang akan diadakan penetiban tempat tempat kumuh yang ada di sekitar stasiun sana. Kemungkinan rumah kesayangan Mak Ijah bakal kena gusur. Kecuali dia harus menunjukkan sertifikat resmi atau surat surat sah yang menyatakan kalau tanah warisan  almarhum suaminya itu sah.

Tepat berada di depan rumah gubuk sederhana yang bertembok papan bambu itu, Mak Ijah kebingungan.  “Lah!! Ditaroh di mana ya? Konci pintu!!! Ya Alloh!! Masak lupa lagi?” Mak Ijah mengeluh sendiri sambil terus menerus mencari kunci pintu. Dicarinya di sela-sela baju. Eh ternyata ketemunya di kantung uangnya.

“Assalamu`alaikum!! Mak!!”

Joko, anak semata wayang, pulang dari sekolah SMP. Jaraknya sekitar satu kilo. Sehingga anak itu harus mengayuh sepeda onta jaman bahula.

Emak tersenyum. Di sela giginya ada pantulan sinar dari gigi peraknya.

“Waalaikum salam.” Dia menjulurkan tangan.

***

Di dapur, sore itu, Emak menunggu api di pawon menanak nasi, menggodok air. Riak wajah Emak kusut memikirkan sertifikat tanah. Pasalnya Emak sangat lupa menaruh di mana surat berharga itu dia letakkan. Padahal batas eksekusinya besok itu juga. Ah, Emak memang pelupa dan ceroboh.

Di dalam lamunannya, suara seorang menggedor pintu membuat Emak terkaget kaget.

“Iya iya. Waalaikum salam!!!”

Si Paijo, anak Pak RT, tepat nongol di pintu sambil tersenyum renyah.

“Oh, Paijo? Ada Apa Ta?”

“Ini Mak, saya mau ngasih surat pemberitahuan. Isinya mengenai himbauan kepada warga. Kalau besok diharapkan seluruh warga RT sini  mengumpulkan sertifikat tanah, jam sembilan di rumah  Bapak.”

“Wee. Jadi ngono? Ya ya. Aku ngerti. Tadi siang aku yo sudah didatangi dua orang petugas pemerintahan. Katanya besok ada eksekusi tanah.”

“Iya Mak. Katanya sih. Tempat tempat kumuh di sekitar stasiun bakal dibersihkan. Lha padahal kampung kita ini kan dekat sama stasiun, Mak. Mereka menduga, kalok sebagian tanah di desa ini adalah tanah milik stasiun.”

‘Wee lha dalah. Ini kan tanah asli warisan suamiku. Sak pena`e mereka ngaku ngaku ini tanah pemerintah!!!”

“Lha iya Mak. Makanya besok kita harus membuktikan pada mereka, kalok tanah di sini semua asli milik warga.”

***

“Malam larut begini Mak!!! Musti nyari di mana lagi? Saya sudah ngantuk!!!”
Joko terus menggerutu  di kamar yang sudah penuh tumpukan berkas berkas kertas berdebu. Sudah hampir tujuh jam mereka mencari sertifikat dan surat tanah berharga di kamar almarhum Bapak.

Tumpukan buku buku kuno, kertas kertas bertuliskan latin, surat surat kuno, semua sudah dikeluarkan dari tempatnya, dari almari, dari koper koper, dari kardus kardus. Maklum, Bapak memang dulu seorang juru ketik di instansi pemerintahan di Kotamadya. Tidaklah heran jika banyak buku berisi politik seantero negara hingga tulisan tulisan tangan dan surat surat banyak menghiasi kamar itu. Bahkan setahun lalu, Emak sengaja mengkilokan buku buku yang banyaknya satu becak. Karena kamar Bapak sudah seperti sarang buku.

Joko tertegun sejenak, dia mendapati puluhan amplop yang masih utuh ditempeli prangko prangko kuno jaman Belanda, ada juga prangko salah cetak, salah sablon, prangko kuno jaman luar negeri dan sebagainya.

Dia semakin penasaran. Dia mencermati isi surat yang berbahasa aneh, seperti bahasa Prancis, Jerman, apa Belanda. Dia tak pernah tahu. Yang menjadi tanda tanya besar, dari mana semua surat surat ini berasal. Almarhum bapaknya, setahunya hanya PNS kotamadya yang bergaji pas pasan. Ah, dia terus menyelidiki isi surat itu, kadang didapatinya rangka tahun 1934, 1940, 1946. Badannya semakin merinding.

Joko teringat cerita almarhum bapaknya. Kemungkinan besar, ini adalah surat surat kakeknya almarhum yang sengaja disimpan Bapak. Cerita  almarhum Bapak dulu, Kakek adalah seorang pejuang Indonesia yang merasa tersisihkan. Kakek adalah politikus ulung, dia sering berjuang di belakang layar. Teman teman Kakek banyak yang berasal dari luar negeri. Karena dulu Kakek memang pernah melanjutkan sekolah di Belanda.

Joko menyisihkan surat keramat itu di meja belajar. Satu surat dalam bahasa Indonesia, lamat lamat dia baca. Tulisannya masih menganut EYD jaman dulu, lucu, naik turun seperti kurva yang tak beraturan. Rangka tahunnya tertulis:   tanggal 18 boelan 08  tahun `45

Kira kira isi tulisannya begini:

“Bung!!! Alhamdulillah!! Kemarin Jumat Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Kita sudah Merdeka Bung!! Dari Belanda dan dari Jepang!! Tolong sebarkan kabar bahagian ini ke daerah daerah.

Merdeka!!

Joko merinding membaca tulisan itu. Sehebat itulah kakeknya? Dia tak pernah membayangkan kalau dia adalah bekas cucu seorang pejuang. Padahal dia merasa hidupnya pas-pasan. Bapaknya hanya PNS gaji pas pasan. Emaknya hanya anak petani desa di Jawa, tamatan SD yang berjualan  kacang di stasiun. Dia bahkan tak pernah tahu asal usul moyangnya. Setahunya, keluarga besarnya, termasuk kakeknya, banyak yang meninggal karena serangan sekutu di Kerawang-Bekasi jaman dulu.

“Mak? Sudah lewat tengah malam nih. Gimana Mak. Kita ikhlaskan saja Mak. Jangan jangan sertifikat itu tanpa sengaja terjual pas setahun lalu, bersama tumpukan buku rongsokan lain..”

Air mata Emak membanjiri lantai.

“Hah!!! Kemungkinan juga begitu!! Ya Alloh!! Besok kita bakal digusur Ngger!!! Aku ngga bisa ngebayanginnya!!”

“Sudahlah Mak!! Memang mungkin sudah takdirnya kita tidak tinggal di sini, tidak mendapat rejeki di tempat ini!! Mungkin Gusti Alloh berrencana lain.” Joko menghibur Emak.

Mereka diam. Emak masih bingung, sedih, cemas, marah, merinding.

Di saat gundah seperti itu, tiba tiba saja mata Joko menangkap satu tumpukan tepat di depannya. Dia menyorot satu bendel map warna hijau. Diambilnya map itu. Tertulis jelas Sertipikat  Tanah di sana.

‘”Lah!!! Ini Apa Mak!! Ma syaalloh!!”

“Alhamdulillah!!! Akhirnya kita masih bisa hidup Ngger!!”

“Weleh. Paling tadi Emak ngga teliti pas carinya.”

Emak mengangguk berkali kali.

“Iya iya!! Ya sudah. Besok pagi pagi surat ini bakal Emak serahkan ke Pak RT.”

“Oh. Harus diserahin ke Pak RT ya? Ya sudah, sekalian saja besok saya kasihkan. Kan saya  biasa menjemput Kardi.”

Yah, tak salah lagi karena Kardi adalah anak bungsu Pak RT, teman sebangku Joko di sekolahan.

***

Matahari berpijar dengan payah, menggantung tepat pada angka setengah sembilan. Suasana warga RT di sekitar Stasiun K.A menjadi geger. Mereka berkerumun di rumah Mak Ijah, janda miskin yang rumahnya hanya beberapa meter dari stasiun.

Di sana muncul pula beberapa preman berbadan kekar dengan mata gatal menyorot rumah itu. Mereka sedari tadi hanya menahan diri mendengarkan komando dari dua orang pegawai yang katanya utusan jawatan kereta api. Pasalnya, batas waktu eksekusi memang jam sembilan.

Lah. Kenapa pula mereka mengerumuni rumah itu? Karena memang hanya rumah itu yang tidak bisa menunjukkan bukti jelas perihal surat tanah. Kontan saja Emak menjerit jerit. Warga lain mencoba membela, termasuk Pak RT.

Lah memang tadi malam sudah ketemu. Terus sertifikatnya dibawa Joko. Tak tahunya bocah teledor  itu tidak mengasihkannya pada pak RT. Mungkin malah kebawa ke sekolah yang jaraknya satu kilo meter.

“Sudah hampir jam sembilan. Kami kira waktu sudah habis. Dan sebentar lagi gubuk ini akan kami robohkan,”  seorang petugas berpakaian rapi mencoba menjelaskan dengan kalimat lugas seperti tukang jamu.

“Sudah sudah!! Robohkan saja!! Buang buang waktu saja kita menunggu!! Toh sudah terbukti, tanah ini milik  jawatan kereta api,” seorang lagi dengan sombongnya membeo seenaknya.

Para Preman dengan beringas mulai masuk, mengeluarkan perabot perabot, almari, dan sebagainya.

Mak Ijah hanya pasrah. Dia menangis tersedu sedu ditemani beberapa tetangganya yang terus menghiburnya. Dia terus saja berdoa, berdoa agar Allah memihak kepada yang berhak, dan menjungkalkan yang bathil.

Ah. Para warga hanya diam memelototi para preman mengangkuti dipan dan papan gubuk. Sehingga gubuk itu sudah bolong semua, seperti sayuran layu yang dimakan ulat pelan pelan.

“MAAAAK!!!!! MAAAAK!!! MAAAAK!!!” Joko menjerit berulang kali dari kejauhan mengayuh sepeda onthelnya. Yah. Dia pasti teringat akan surat tanah yang kelupaan berada di tas kumelnya.

Beberapa saat kemudian, surat tanah itu diperlihatkan pada dua orang pemerintahan itu. Semua warga sangat gembira, rumah Emak tidak jadi digusur. Beberapa warga lain juga berlinangan air mata.

“Jadi bagaimana? Tanah ini asli milik Mak Ijah kan? Jadi silahkan anda anda ini cepat cepat mengembalikan kondisi rumah yang sudah anda rusak!!!” tutur Pak RT deengan diikuti suara “buuuuuuu” dari semua warga warganya.

“EH Eh!!! Sebentar!! Sebentar!! Tanah ini adalah tanah sengketa!!! Lihat saja, di dalamnya ada surat yang menyatakan kalau tanah ini masih dalam perselisihan!!!” Seorang yang pandai bicara itu coba menyangkal. Sepertinya mereka mereka ini sangat bernafsu mencaplok tanah Mak Ijah yang lumayan strategis dan lebar itu.

“Lah, di sini tertulis kalau tanah ini atas nama dua pemilik. Yang satunya sudah almarhum, dan yang satunya milik Pak Samiyo yang masih hidup,” ucap pegawai satunya lagi.

Emak hanya bungkam. Dia tak pernah tahu menahu tentang apa itu tanah sengketa. Dia tak pernah tahu bagaimana ceritanya tanah ini kok bisa dimiliki dua orang. Yang dia tahu, Pak Samiyo adalah kakak iparnya yang masih hidup dan tinggal di Menteng.

Kakak suaminya ini sikanya sangat sombong. Dia sudah putus hubungan silaturrahmi dengan Mak Ijah sejak kematian suaminya. Sudah tak pernah ada kontak lagi.

“Jadi, pada intinya. Biarkan tanah ini kami sita sementara. Atas nama pemerintah, biarkan kita selesaikan di meja hijua saja.”

Dari kejauhan, terlihat Paijo, anak Pak RT lulusan sarjana hukum, bersama beberapa orang berpakaian rapi mendekati kerumunan warga.

Tiba tiba orang berjas hitam itu memborgol dua petugas pemerintahan.

“Anda kami tangak dengan tuduhan mengadakan penipuan, dan bisnis terlarang.”

Para warga tersentak histeris.

Paijo mencoba menjelaskan, “Jadi begini warga sekalian!! Dua orang ini adalah penipu!! Mereka bukan petugas pemerintahan!! Mereka ini suruhan Pak Samiyo, kakak ipar Mak Ijah yang mencoba merebut tanah miliknya. Memang  tanah ini masih menjadi sengketa sehingga Samiyo ingin sekali menguasai tanah warisan ini,” Paijo berbicara gamblang setelah mendapat pengakuan orang berjas hitam yang ternyata adalah Intel.

***

Malam itu, Mak Ijah belum bisa tidur. Bukan karena gubuk yang telah rusak. Gubuk itu sudah diperbaiki para warga dengan bergotong-royong secara sukarela tadi siang. Mak Ijah belum tenang memikirkan tanah sengketa. Yang katanya besok seminggu lagi tanah ini akan disidangkan di meja hijau.

Dan harusnya Mak Ijah pastinya menggelontorkan uang buat mengurusi administrasi, pengacara dan seluruh tetek bengek lain. Dari mana uang itu munucul? Dari hutangan? Ngemis dari pintu ke pintu? Ah enggak. Mak Ijah hanya menyerahkan semua kepada Penciptanya. Dia yakin semua kehidupannya sudah ada yang mengatur.

Joko mencoba menyelami kesusahan itu. Meski dia baru menginjak kelas tiga SMP, ia mencoba memaksakan diri menjadi lelaki yang sok dewasa. Dia  memikirkan tentang biaya itu.

Tepatnya pagi hari, Mak Ijah sudah berada di pawon menyiapakan dagangan kacang rebus untuk dibawa ke stasiun jam delapan nanti.  Joko masih sarapan nasi sisa tadi malam dengan sambel goreng terong dan kerupuk udang. Mereka diam, yang dipikirkan masih seputar ongkos mengurusi tanah yang sedang mereka injak itu.

Emak menangis. Joko masih diam. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi hatinya mencoba berontak, berjuang menyelamatkan kehidupan mereka.

Dari bayang suram itu, sempat mata bocah itu menangkap kertas koran yang biasa dijadikan bungkus kacang goring. Di sana terpampang jelas foto prangko jaman kuno. Di bawahnya tertulis inset, lelang prangko unik dan kuno.  Ini adalah salah satu prangko yang berhasil dilelang dengan brandol harga satu milyar rupiah.

Dia menangkap, mencoba memahami. Yah, tak salah lagi itu adalah prangko yang pernah dia temukan tempo hari. Prangko aneh dari Belanda.

“Alhamdulillah Mak!!! Kita kaya!!!”

“He? Ngger!! Kamu kenapa? Kamu Kenapa? Kamu sudah ngga waras ya?”

***

Prangko, amplop plus surat yang ditemukan Joko tempo hari, sudah dijual ke kolektor. Harganya cukup fantastis, philatelist itu berani membeli seharga satu milyar plus dua rumah mewah di daerah Menteng.

Sebenarnya masih ada prangko lain yang masih tersisa. Tapi joko menolaknya, dia hanya menjual dua perangko itu, sisanya untuk dijadikan kenang kenangan.

Kini MEREKA sudah kaya mendadak. Tanah sengketa juga sudah selesai diurusi. Mereka menyulap tempat tinggalnya menjadi rumah minimalis.  Tak ketinggalan, mereka melakukan tasyakuran besar besaran di wilayah RT itu tujuh hari tujuh malam non stop.

21 Responses to “Mak Ijah”

  1. on 05 Dec 2008 at 09:03Fauzan Masri. Z

    Bagus bangat cerpennya, jarang sekali ada penulis yang sanggup memaparkan suatu cerita yang lugas dan cepat. Tapi disini penulisnya sangat imaginatif, sanggup dengan cepat dan lugas memadukan satu peristiwa ke peristiwa berikutnya, alias nyambung dan nggak berbelit-belit. Selamat berkarya, jangan pernah ada kata puas dalam berkarya, dan salam sastra dariku.

  2. on 05 Dec 2008 at 14:20mauL

    keRen..
    bener2 keRen, endingnya sama sekali tak bisa ditebak..
    buat pengarangnya, sukses selalu ya…

  3. on 06 Dec 2008 at 05:04ferdian

    hebat…

    cerpen yang bagus….

    maju terus penulisny….

  4. on 08 Dec 2008 at 13:26cuteee

    bagusss critanya . . . . .
    sukses yah . . .
    terus berkarya . .

  5. on 09 Dec 2008 at 10:07Agil

    Seru zim..bgus bgt cerpennya..
    Oia,yg masjid jamur kpn dmuat?He..
    Tetap berkarya sobat..semangat..!

  6. on 09 Dec 2008 at 12:21Sinyo

    Great Short Story… Keep Going…

  7. on 09 Dec 2008 at 15:29Bohiem

    Sungguh menarik.. Benar2 menarik dan tak bsa dtebak.. Sukses selalu!

  8. on 09 Dec 2008 at 15:36Waskito

    Ceritanya orisinil dan kreatif! Salut!

  9. on 10 Dec 2008 at 17:05Galih

    crtanya sungguh tidak terduga,,
    byk kejutan di sana sini,,

    dari novel ini sy bisa mengambil kesimpulan bahwa di tumpukan sampah pun ada harta karunnya,, hehehe

    trus berkarya y sobat….
    salam pena aja !!!

  10. on 10 Dec 2008 at 18:03lala

    bagus!! bagus bgt deh ceritanya!! aq suka bgt…

  11. on 10 Dec 2008 at 23:34N-cy

    Selamat De’…
    Mbak suka ceritanya

    Tapi jadi kangen Indonesia lagi neh…
    waktu baca si Joko yang sarapan dengan sambal goreng terong & kerupuk udang…em…yummy…coba di Inggris ada ya…

    Sukses terus ta Zim..

  12. on 11 Dec 2008 at 10:56danny

    bwt penulis cerpennya bgs, berbobot dan crtanya jg tdk terduga, byk kejutan di sana sini,,

    tp yg mw saya kritik adalah dlm penulisan istilah2 ke daerahannya msh di dpt sejumlah kecil kesalahn2 penulisan,
    mohon untuk lebih diperhatikan…

  13. on 11 Dec 2008 at 10:58bagoes

    brow…buat cerpen yang bertemakan miyabi dunk??

  14. on 11 Dec 2008 at 11:01ag

    apek.q kirimi lwat bluetooth y.mgko tak woco karo boker

  15. on 11 Dec 2008 at 13:59A L D 1

    Luar byasa!!
    Jika ad kt yg lebih dr kta bagus itulah cerpen ini..
    Crta yg manis,d awali dgn pmaparan yg inovatif,d tengah d bumbui dgn alur yg supernova..
    Dan akhrny d brikan suatu pnutupan yg spekta..
    Slamat bwat pujanggawan azim..
    Perfecto!!

  16. on 12 Dec 2008 at 14:59Andyna

    Seru cerpennya. Tapi pas ngebaca di tengah.. Bapaknya si joko ngga dicritain. Apa emang dah meninggal y? Tapi ngga tau juga dèng.. Tergantung kebijakan penulisnya. Hehe

    Pas di ending juga kaget bgt. Keren. Terharu. Bikin puas di hati.
    Salam cerpenis y?

  17. on 15 Dec 2008 at 08:23isa

    cukup bagus sebagai pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
    ambil hikmah dan terapkan.
    semangat!!!!!!!!!

    154

  18. on 15 Dec 2008 at 16:22mochamad

    menarik untuk bacaan anak muda masa kini

  19. on 17 Dec 2008 at 05:51ejonk_nda

    mav nieh ru sempet baca…

    one word for your short story…

    Kerenzzz

  20. on 17 Dec 2008 at 15:16putra

    wah,,!!!!

    bagus juga cerpen nya. beda dari yang laen..

  21. on 17 Dec 2008 at 15:19Raden joko

    Wahhh…cerpenya kerennnn bgt..Apalage pas crita sedih2an pas ditengah2 sawah..
    Pokonya ok dehh…….

Tinggalkan Komentar