Formasi Empat Bangau
Desember 4th, 2008 by Maulani
“Dia harus mati,” kata Selfi. Tangannya meraih sebuah cutter sementara tangannya yang lain telah memegang selembar kertas origami 20×20cm berwarna merah darah. Kertas tersebut telah terlipat rapi, siap untuk diiris menjadi empat persegi kecil-sama besar.
Empat origami merah darah kini berceceran di depan matanya. Cutter telah ia lepaskan dari tangannya sedetik yang lalu. Ia memungut satu persegi. Lama ia berkutat dengannya, ia terdorong dalam waktu yang lain.
“Kalau aku yang sudah mengenalmu sejak lama masih kau anggap tidak mengerti dirimu, lalu siapa yang kau anggap tahu!” seorang berambut pirang sebahu memaki seorang di depannya.
Selfi tampak marah. Matanya memerah menahan gejolak panas dalam dadanya. Ia merasa tak seharusnya dicaci dengan cara seperti ini. Dia, memang tak pernah mengerti dirinya. Selfi selalu berpikir, rambut pirang licik! Kau kira, dengan bercerita tentang kelulusanmu dari University of Yale, kau bisa berbesar kepala seperti itu padaku! Kau cuma pandai bersembunyi di balik gelar besarmu. Aku tahu itu. Aku benar-benar mengenalmu. Ia mendengus pelan di akhir gumamannya. Hanya gumaman, selama ini hanya gumaman. Hanya itu yang ‘sanggup’ ia lakukan ketika si rambut pirang dengan tubuh semampai itu mengolok-oloknya. Walaupun sudah hampir meledak rasanya, amarahnya tetap tak bergeming, masih tertahan berdiri dalam dirinya. Sejak saat itu, Selfi benar-benar haus darah, darah seorang berambut pirang, yang terlalu lama bertopeng kesarjanaan Yale.
Sebuah crane[i], ia dudukkan di depannya, di lantai yang sama tempat ia duduk bersila sejak senja ini. Selfi menurunkan punggungnya, dan mendekatkan pandangannya ke crane kecil berwarna merah darah.
“Cantik,” katanya singkat. Tepatnya anggun dan kejam, warna yang sempurna untuk menyembunyikan kebengisannya. Ia tersenyum tipis. Sebentar, barangkali hanya sedetik.
Tinggal tiga lagi, dan semuanya akan siap.
Ia menegakkan kembali punggungnya, memungut sebuah persegi merah darah, lagi. Melipatnya menjadi dua segitiga sama besar, lalu melipatnya menjadi segitiga yang lebih kecil, sama besar.
“Aku sudah sering memperingatkanmu, kau di sana untuk belajar, menyelesaikan studimu yang menguras uang keluargamu, dan segera kembali. Titik, tidak ada yang lain. Hanya itu!” Si Pirang kembali mengoceh di depan Selfi. Selfi tertunduk, ia diam. Ia diam dalam kemarahannya, kemarahan yang tak pernah bisa diluapkannya. Aku tahu! Aku tahu itu! Tak pernah kau perhatikankah aku selama ini. Aku belajar. Tetapi, orang rajin juga butuh kesenangan.
“Jawab Fi, aku bosan dengan caramu mendiamkan aku.” Si Pirang membentak lagi. Namun suaranya tercampur dengan sesuatu semacam isakan. Selama ini ia berusaha bersabar dengan kelakuan Selfi, tetapi Selfi tak juga sadar. Ia benar-benar kesal. Akhirnya malam itu, pecahlah ketegarannya. Ia menangis di depan Selfi.
“Selfi..” Si Pirang mendekatkan posisinya dengan Selfi. Mengelus rambut lawan bicaranya sembari menenangkan dirinya. “Aku sayang kamu, seperti aku sayang pada diriku. Apapun yang kamu rasakan, aku juga merasakannya. Seharusnya kau ikuti kata-kataku.”Seharusnya aku mendengarkannya. Aku tahu itu.
Seharusnya aku memang harus mendengarkannya. Mendengarkannya menjerit saat cutter ini sampai di lehernya. Dia pasti berpikir, akulah yang berdosa dan dia yang selalu benar. Asal kau tahu, kau tak berbeda denganku.
Sebuah crane, ia dudukkan di depannya, di lantai yang sama tempat ia dan sebuah origami crane duduk sejak senja ini. Sekarang ia punya dua bangau yang anggun dan kejam, dibalut warna merah darah.
Dua lagi, dan semuanya akan siap.
Kertas persegi kecil berwarna merah darah yang ketiga, diambilnya. Matanya menyipit melakukan dua langkah terawal membentuk crane. Setelahnya, ia buka kembali sebentuk segitiga di tangannya kembali seperti langkah pertama mencipta sang Bangau. Ia balikkan segitiga itu –sehingga kini, puncak segitiganya berada di bawah—lalu, ia tekukkan ujung kiri-kanannya ke dalam, hingga segitiga terbalik itu berubah menjadi belah ketupat.
“Fie, Mau ikut kita?” Seorang teman satu asrama, Angie, mengajaknya keluar sore itu. Selama kuliah di Negeri Orang, Selfi hidup dalam atap asrama, bersama berpuluh siswa dari seluruh dunia. Beruntung, ia bisa menemukan beberapa anak Jawa di sana. Tiga orang wanita. Kristin, Thya, dan, Angie. Tiga dara trendy yang telah terbiasa hidup serba ada di negaranya, di negara orang, ataupun di tanah manapun yang mereka injak.
Sejak mendengar tawaran Angie sore itu, Selfi merasa ganjil. Tapi, ia bukan gadis yang suka dikontrol oleh perasaan dan prasangka, ia seorang yang logis. Seorang calon ilmuwan waras yang empirik. Karena itulah, ia berani bertaruh untuk mengambil sekolah di luar negeri. Ia berpikir sejenak. Tugas minggu ini, baru saja aku selesaikan. Laporan rutin ke kedutaan Indonesia sudah kulakukan dua hari yang lalu. Kiriman bulan lalu, masih ada sisa. Ehm, tak ada salahnya refreshing sebentar. Orang pintar juga butuh hiburan. Ia tersenyum mantap di akhir analisis intrapersonalnya.
“Kemana?” Selfi menjawab pertanyaan Angie.
“Are you with us, or what?” Logat bule Thya keluar. Lidahnya sudah terlalu parah teracuni bahasa pribumi, terlalu kelu untuk menyampaikannya dalam bahasa yang seharusnya menjadi kebanggaan putri Tanah Air.
“OK, I’m in.” Selfi berusaha mengimbangi Thya.Mereka berempat berjalan menuju gerbang asrama, tempat sebuah sedan kuning yang telah menanti. Sebuah taksi meninggalkan gerbang depan asrama, membawa tiga remaja pencinta euforia, dan seorang anggota baru mereka.
Senja baru saja lewat ketika mereka masuki area hingar-bingar malam di New Haven[ii]. Parade neon tampak begitu menipu. Menyihir para pendatang dan mengabarkan akhir hari tak akan datang. Kehidupan mereka mulai dari malam ini, dan tak akan berhenti. Itulah keabadian yang ditawarkan sederet night club disana.
Selfi berjalan di belakang ketiga temannya, ini benar-benar kali pertamanya menginjakkan tempat yang begitu jauh dari asrama. Pertama kalinya ia berdiri di depan sebuah night club, yang bahkan bukan tempat yang pernah terpikir olehnya untuk didatangi, dan kini ia sedang berjalan memasukinya.Kesempuranaan semu malam hari makin terasa di dalam, musik, kerumunan, lampu, dan laser begitu mendominasi, menyembunyikan keanggunan malam yang sesunguhnya.
“Fi! Kita di sini!”Angie melambaikan tangan ke arah Selfi yang masih saja mematung di dekat pintu masuk. Ketiga temannya telah menemukan spot mereka, sebuah meja stainless bundar kecil dengan tiga kursi yang mengelilinginya. Selfi mendatangi teman-temannya.
Angie berdiri memberikan kursinya pada Selfi.
“Fi, to the dance floor! Come on girls!” Thya setengah berteriak pada teman-temannya, tak sabar untuk segera menjawab panggilan musik yang mendominasi ruangan itu. Kristin dan Angie mengikuti Thya ke lantai dansa, sedangkan Selfi mau-tidak-mau mengikuti mereka. Terlanjur di sini, basah saja sekalian. Mungkin begitu pikirnya.
Tak perlu memakan waktu lama, Selfi bukan lagi terlihat sebagai anggota baru genk euforia itu, ia tampak begitu menikmati musik yang ada. Melenggak-lenggok memuaskan pikirannya yang selama ini tertahan dan hanya tertuju pada college stuff.
Kristin menepuk pundak Selfi, membuyarkan chemistry antara dirinya dan musik malam itu. Angie dan Thya telah menepi dari lantai dansa, Kristin mengkode selfi untuk mengikutinya, mengikuti arah Angie dan Thya. Mereka tidak kembali ke spot awal, melainkan ke sebuah ruangan yang lebih private. Di dalam ruangan itu, suara musik di luar sedikit teredam. Sebuah jendela kaca bening berbingkai stainless membuat mereka masih bisa melihat keriuhan suasana dalam night club itu.
Setelah pelayan yang mengantarkan pesanan mereka pergi, ruangan ini benar-benar milik mereka berempat. Tiga buah botol dengan warna yang cantik berdiri di meja kaca yang dikelilingi sofa empuk yang diduduki Selfi dan teman-temannya. Itu minuman keras. Angie memulai, ia membuka tutup salah satu botol dan mulai menuangkannya ke gelasnya dan meminumnya. Thya dan Kristin tidak mau kalah, ia ikut menuang isi botol itu ke gelas mereka. Selfi masih diam, hingga Thya mendekat dan merayunya untuk ikut minum. Terlanjur di sini, basah saja sekalian. Kata itu terucap lagi di batinnya.
Tak perlu memakan waktu lama, Selfi telah resmi menjadi anggota. Kini ia sudah asyik dengan gelasnya yang ke-7. Mereka berempat tak lagi tampak waras, mereka saling bicara dengan bahasa yang melantur. Thya berseru, “Let’s the party begin!”. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan Selfi menyadari sesuatu. Mereka pemakai! Namun, kesadarannya tak lagi sanggup membuatnya bergeming. Ia hanya mengikuti alur malam itu. Angie mulai menyuntikkan sesuatu ke tangan Selfi, dan yang dilakukan Selfi hanya tersenyum teler. Batinnya menolak, tapi badannya pasrah.
Bagi Selfi, malam yang indah, berakhir saat itu.
Air matanya menetes, kesediaannya untuk mengiyakan ajakan Angie sore itu, selalu membuatnya menyesal tiap kali mengingatnya. Dan belum pernah gagal untuk membuatnya menangis.
Sebuah crane, ia dudukkan di depannya, di lantai yang sama tempat ia dan dua buah origami crane duduk sejak senja ini. Sekarang ia punya dua bangau yang anggun dan kejam, dibalut warna merah darah.
Satu lagi, dan semuanya akan berakhir.
Kertas persegi kecil berwarna merah darah yang tersisa, diambilnya. Matanya menyipit melakukan langkah-langkah membentuk crane, sampai kertasnya berubah menjadi belah ketupat. Kedua sisi belah ketupat itu di buka ke atas, melewati 2/3 bagiannya. Kini belah ketupatnya berubah menjadi wajik. Kedua kaki wajik itu ia lipat lagi semakin ke dalam dan menipiskannya untuk kemudian ditekukkan melewati tengah bagian badan wajik yang tidak dilipat, ke arah atas. Terbentuk huruf ‘W’ dua dimensi yang menipis di masing-masing tepinya. Crane terakhir hampir siap.
Akhir-akhir ini, selalu saja ada hal yang membuatku masuk ke pusat kesehatan. Sepertinya flu-pun bisa membunuhku. Kenapa aku jadi serapuh ini?
“Ms. Selfi Hendrawan?” Seorang dokter datang membawa sebuah map biru gelap dan lantas duduk di mejanya, tempat dimana seorang telah menunggu di depan mejanya.
“Yes, me.”
“We have a bad news. But it’s gonna be alright if you let us to examine you periodicly.”
“What’s happening, Doc?” Dokter itu membuka map birunya dan menyodorkannya ke jangkauan mata Selfi. Telunjuknya berjalan dan berhenti di suatu tempat dimana tertulis, HIV (+).
Selfi menatap kosong tulisan itu. Rasanya semua harapan dan usahanya selama ini musnah. Keinginannya segera lulus dan kembali ke Indonesia dengan bangga, seakan tak pernah ada.
Salah satu ujung tepian kertasnya yang membentuk ‘W’ ditekukkan ke bawah, melalui bagian tengah. Dan Tinggal menarik tiap bagian tengah bentuk ‘W’ tersebut ke arah yang berlawanan, maka sebuah crane tercipta. Lengkaplah sudah. Empat bangau origami tertata rapi, masing-masing mewakili empat arah mata angin, membentuk sanctuary[iii].
Si pirang dengan kedok kesarjanaan Yale itu masih ada di hadapannya. Wajahnya saja sudah cukup membuat Selfi muak. Mendadak segala emosinya yang selama ini hanya terpendap sebagai shadow[iv] dalam dirinya, menjelma ke permukaan.
Tangannya meraih sebuah cutter sementara tangannya yang lain telah mencengkeram rambut Si Pirang. Selfi menatap kedua matanya, dengan geram ia berkata, “Akulah yang lebih tahu kau! Kau hanya orang yang bersembunyi di balik gelarmu. Padahal sebenarnya kau tak pernah lebih dariku. Seorang yang gagal dan terpuruk karena kotoran yang menamakan dirinya Human Imunity Virus. Paling tidak aku tidak munafik sepertimu, yang mengaku pada orang tuamu bahwa ada masalah administrasi pada ijazahmu, sehingga kau tak bisa menunjukkannya pada mereka. Padahal kau tak pernah lulus. Kau pasti berpikir, akulah yang berdosa dan kau yang selalu benar. Jika begitu, BAWA SAJA PIKIRAN ITU KE NERAKA, BERSAMAMU!”
Bersamaan dengan kalimat terakhirnya. Selfi mengiriskan cutternya ke leher Si Pirang. Sebuah teriakan pilu yang panjang, menggema melampaui tangisan mereka yang disiksa dalam neraka lapis tujuh.
Cipratan merah darah kini berceceran di depan matanya. Cutter telah ia lepaskan dari tangannya sedetik yang lalu. Ia berusaha memungut empat bangaunya. Lama ia berkutat dengannya, tangannya tak juga sampai pada empat bangaunya. Sampai akhirnya ia menyerah. Formasi empat bangau tak tersentuh. Tak ternoda oleh cipratan merah darah. Satu-satunya yang tak tersentuh. Anggun dan kejam.
Epilog:
Tit.
Sssyh..
Tit.
Ssssyh..
Tit-sssyh..
Dua suara itu terdengar paling padu dalam sebuah ruangan. Kombinasi yang harmonis antara mesin penghitung nadi dan sebuah alat bantu nafas bersistem pompa. Sederet kaca jendela gelap di satu sisi ruangan, sanggup memantulkan hampir seluruh bayangan di depannya. Di dalamnya, terlihat seorang terbaring di sebuah ranjang besi khas rumah sakit. Ia terbaring dengan darah yang masih merembes menembus perban yang melingkar di lehernya. Terlilit berbagai kabel dan selang bening di sekujur tubuhnya. Di dada, kepala, tangan, hidung, dan beberapa bagian tubuh yang lain. Mata Selfi menangkap bayangan itu, tetapi tak cukup jelas. Ia berusaha mengakomodasikan matanya lebih keras, pandangan matanya masih kabur. Yang sanggup ia terjemahkan adalah, ada seorang berambut pirang terbaring di sebuah ranjang rumah sakit dengan darah yang masih merembes menembus perban yang melingkar di lehernya. Sedetik setelahnya matanya menajam drastis, menatap dengan pasti bayangan dirinya di kaca yang gelap, detik selanjutnya matanya berhenti menatap. Nafasnya tertahan. Musik satu nada dimainkan, tepat di sebelah ranjangnya. Musik dari sebuah kotak dengan layar monokrom yang bergambar garis lurus. Tak ada lagi bunyi yang harmonis dari dua mesin di ruangan itu. Alat bantu yang menyerupai pompa itu, sudah tak sanggup menyokong hidup konsumennya. Seorang berambut pirang, bernama Selfi, tewas hari ini.
That’s the secret to survival. Never go to war, especially with yourself
Lord of War— A. Maulani – 04122008, 17:01
[i] Kreasi origami dengan bentuk burung bangau. Sering dihubungkan dengan harapan kesembuhan.[ii] Sebuah kota di Connecticut, USA.[iii] Tempat nyaman yang dapat memberikan perlindungan
[iv] Bayang-bayang kepribadian yang mengarah ke indikasi negatif (berisi kekurangan)
Cerpenku yang ini beruntung loh, sempet ngantongin juara 2, lomba cerpen hari AIDS gitu,,