Tetaplah Jadi Cleopatra
Desember 2nd, 2008 by dif_4h
Hari ini ulang tahunku yang ke 16, tapi memangnya kenapa? Tidak ada yang spesial. Mungkin aku akan mendapatkan kecupan hangat dari Bunda Ram, pengasuhku di panti. Setelah itu, ya sudah selesai.
“Selamat pagi Shyyl!”
Nah, lihat, satu,dua.. yap!
“Mmuacch! Happy birthday Honey,” kecup Bunda.
“Thank’s Mom,” jawabku dingin.
“Heeyy, what happened Honey? Sikapmu tak menunjukkan sifat gadis berusia enam belas tahun. Apa Bunda masih harus membujukmu dengan Lolypop Milk seperti dulu? Agar kau dapat memperlihatkan senyum cantikmu?”
Ah liat, Bunda selalu saja berhasil membuatku tersenyum, meski palsu.
“Shyyl tak mau dewasa, Bunda,” kataku lirih.
“Mmm… Why?” Kulihat Bunda mengulum senyumnya. Mungkin Bunda mengira aku akan membuat teka-teki seperti biasa.
“Shyyl tak mau meninggalkan panti, tak mau meninggalkan Bunda.” Kalimat terakhirku tertelan di tenggorokan. Entah mengapa setiap berhadapan dengan wanita agung ini air mataku begitu mudah menitik, aku menjadi begitu rapuh, aku tak lagi menjadi Cleopatra yang angkuh, aku menjadi sangat berbeda.
Bunda memelukku.
“Honey, kau takkan meninggalkan Bunda, takkan pernah. Kau lihat Mas Abdi, Kak chen, atau Mbak Ely? Mereka telah menjadi orang yang berhasil, dan bila Bunda rindu dengan mereka, mereka selalu hadir di sini, mereka tidak meninggalkan Bunda. Kau pun akan seperti itu, kau akan menjadi merpati merdeka yang selalu ingat sarangnya. Jika kau lelah dengan kehidupan, kau dapat kembali ke peraduan dan mendengarkan kembali dongeng-dongeng kehidupan, sebelum kau kembali lepas. OK, Honey?”
“Dan jika aku tidak ingin pergi?”
Bunda memejamkan matanya.
“Oh dunia, pernahkah kau melihat seorang bidadari menangis?” Lama Bunda masih memejamkan matanya.
Tuhan, apakah aku begitu melukai batinnya?
“Bunda,” bisikku di telinganya.
“Pergilah Honey, don’t be late, hampir pukul tujuh, go!” Bunda mengelus pipiku, tangannya melambai ke arah teras, padahal aku masih berdiri di hadapannya. Aku tersenyum, menunggu kalimat rutin Bunda.
“Be carefully Honey, jadilah Cinderella di sekolah.”
“Tidak Bunda, aku akan jadi Cleopatra,” jawabku membatin. Sekolah adalah tempat aku menunjukkan karakter asliku, keras!!!
Perlu lima belas menit untuk sampai di sekolah, dan hanya perlu satu menit untuk beradu mulut dengan satpam sekolah yang memegang kunci gerbang. Telingaku sudah cukup tebal, sehingga umpatan terakhir yang kudengar hanya kalimat “cah gendheng”. Biasanya aku akan membalas dengan teriakan keras, “You too”, Mr. Crazy!”
Lalu aku akan melenggang angkuh ke kelas, tersenyum simpul pada sosok ringkih di depan kelas, yang dengan menggebu-gebu membagi-bagikan “hartanya yang tak terlihat” pada manusia -manusia bertitel siswa. Tanggapan para guru selalu bermacam-macam, ada yang mengernyit, ada yang acuh, ada yang menyindir, dan respon yang paling aku sukai adalah ketika seorang di antara mereka menggebrak meja dan mengumpatku dengan kalimat “kurang ajar!!”.
Mereka tidak pernah menyadari bahwa sebenarnya mereka mengejek diri mereka sendiri yang tidak pernah becus melahirkan manusia profesional sungguhan. Dan aku? Karena aku menganggap diriku adalah cleopatra maka aku akan memperlihatkan sebuah ekspresi keangkuhan.
Aku akan balas menggebrak meja, dan ketika wajah guru itu memerah, aku akan menjalankan pionku, “Maaf Pak, saya latah.”
Skak mat! Dan sang guru tetap bungkam. Akulah pemenang segala pertandingan. Kecuali dengan seorang lelaki bernama Aldi. Tidak, dan aku tidak akan pernah menang jika dengannya. Dia selalu berhasil membuatku menjadi Cinderella. Entah kenapa, aku pun tidak tahu. Aldi seperti mengenaliku luar dalam, dia dapat menelanjangi jiwaku. Menyentuh sudut-sudut hatiku.
Saat bel istrahat berdentang aku akan berlari riang ke sebuah pohon kecil, tempat di mana Aldi selalu mendongeng untukku. Suatu waktu aku bertanya, “Mengapa kamu suka mendongeng untukku Aldi?”
Aldi akan menjawab lembut, dan mata elangnya akan menatap wajahku.
“Agar kamu tidak kehilangan masa kecilmu Shyyl, masa yang seharusnya kamu lewati dengan bahagia.”
“Aku bahagia,” jawabku.
“Oh ya? Jawab pertanyaanku kapan terkahir kali kamu dibuatkan susu oleh ibumu, kapan terkahir kali kamu di gendong ayahmu! Jawab!”
“Aku yatim piatu sejak kecil Aldi, harus berapa kali aku katakan itu padamu?”
Untuk kesekian kalinya Aldi sukses membuat aku menjadi gadis Cinderella yang cengeng.
“Siapa yang mengatakan seperti itu? Apakah kamu ingat ketika Bunda Ram-mu membuatkan susu ketika kamu berumur tiga tahun?”
Aku terdiam, Aldi akan selalu menang, selamanya. Tapi satu hal yang tidak aku mengerti kemarahan Aldi, mengapa dia selalu mempermasalahkan masa kecilku, masa kecilku yang hilang. Dan seperti biasa juga, Aldi akan merengkuhku, meminta maaf dan berbisik.
“Ingatlah Shyyl, satu hal saja di masa kecilmu, satu hal saja!”
Setelah itu Aldi akan melepaskan rengkuhannya dan memulai dongengannya untukku.
“Ini adalah kisah Cleopatra, seorang ratu teragung di Mediterania, ratu Mesir yang begitu angkuh, hingga laut Mediterania memerah darah disebabkan perebutan cinta dua kaisar terhadap Cleopatra.”
“Aldi aku suka cerita ini, tapi bisakah kamu menceritakan cerita yang lain lagi? Kamu sudah menceritakan kisah Cleopatra tiga kali.”
Aldi akan tersenyum.
“Hmm… baiklah, kisah Putri Salju,” dan Aldi akan menjadi begitu asyik dengan dongengnya.
Mengingat semua itu rasanya aku tidak sabar untuk segera keluar kelas.
“Udah gatal tuh bokongnya!”
Sebuah suara nyeletuk, geram aku menoleh ke belakang, pasti suara si Shellomita. Dasar bebek!
“Kenapa loe? Naksir?” tanyaku sinis.
“Idiih amit-amieet, gue masih normal lagi.”
“Terus kenapa loe perhatian amat ama gue?”
“Gue? Dasar GR!!”
Shellomita menunjuk dirinya, lalu berlenggang keluar kelas. Ukhh, tanganku gatal nih. Sebuah mistar melayang dan mendarat sukses di kepala Shellomita.
“Ihh, baby amat sihh loe! Keluar kalo berani!” Si nenek sihir melengking.
Aku berdiri di atas meja dan melompat turun. Selalu dengan Shellomita aku akan terpancing meski berulang kali di peringati Aldi. Sory kali ini si Cleopatra ngamuk lagi!
“Yakin loe mo berantem lagi? Ntar jangan pura-pura sakit kep..”
PlAAKKK….!!!
Kalimat shellomita terhenti. Oh tidak! Kenapa selalu seperti ini, aku menjambak rambut Shellomita sekuat tenaga, samar-samar tapi terasa nyata, ada suara-suara teriakan, pukulan, tendangan, dan ada tangisan. Ukhh… kepalaku kembali pening. Kulihat Clive ketua kelas kami berusaha menjauhkan Shellomita dariku.
“Kkkhh…aaa…” Aku menceracau, seseorang memegang pundakku, merengkuhku dari belakang. Aldi!
“Hei Angkuh! Ini yang kamu hadiahkan untukku di hari ulang tahunmu?”
Bayang-bayang itu hilang, aku menatap Aldi.
“Tenanglah Merpatiku, ada saatnya kamu aku lepas. Hmm?”
Aku meronta.
“Al, saatnya mendongeng bukan?”
“Tidak! Kemarin adalah kali terakhir aku mendongeng untukmu.”
Aku menatap Aldi, mencari keseriusan di aura wajahnya.
“Tapi aku belum menemukan yang hilang dariku, bukankah kamu akan berjanji akan…”
“Yang hilang itu ada padamu.”
Kata-kata Aldi tidak aku mengerti.
“Ini, bacalah menjelang tidur.” Aldi menyerahkan sebuah bungkusan, mungkin buku, melihat bentuknya yang tipis dan lebar. Aldi tidak melanjutkan kalimatnya, ia berbalik dan melangkah perlahan, gerakannya begitu lamban sehingga aku dapat melihat sesuatu di matanya, air mata.
“Aldi, kenapa?” Bahuku melorot, Aldi berbalik tapi wajahnya tidak menatapku.
“Temui aku di tempat biasa. Itu jika kamu sudah mengerti hadirku di sini.”
“Aldi.”
Aldi tidak berbalik lagi, sosok itu menghilang di belokan kelas.
#########
“Shyyll, kamu tidak berkumpul dengan teman-temanmu?” Bunda berbicara dari balik pintu.
“Ehm, tidak Bunda, aku sedang sibuk.”
Terdengar langkah menjauh, sunyi kembali merajai, mengukungku dalam kekelaman malam.
Aku kembali menemui Aldi lewat Diarynya, mencoba memahami maksud… maksud… aku tidak tahu.
Tahun 1995 gadis itu hadir dalam hidupku, begitu manis dengan aura polos yang ia hadirkan, aku memintamu Shyyll untuk mendatangkan gadis kecil itu, kembali padaku.
Aku begitu merindukkannya, mencitainya, tapi tak bisa, karena gadis kecil itu adalah adikku, meski aku tahu kami tak seayah tak seibu, tapi aku mencintainya, telah lama aku merindukan seorang adik, dan Tuhan mengirimkannya!
Ayahku mengatakan aku memiliki ibu baru, menggantikan ibuku yang telah bercerai dengan Ayah, entah karena apa aku tidak tahu, tapi aku masih mengingat dengan jelas wajah terakhir Ibu, lebam dan membiru.
Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi, tapi setiap kali Ayah pulang larut dan memanggil Ibu yang menemani tidurku, Ibu akan memutarkan film untukku dengan suara yang cukup membuatku tidak mendengar keributan di luar. Ibu akan mengunciku di dalam kamar, ibu selalu berkata, “Jangan beranjak dari tempatmu Rei, Ibu sayang padamu.”
Tanpa Ibu, Ayah jadi lebih sering mengunciku. Pada saat-saat tertentu Ayah mengizinkanku keluar untuk mengambil makanan, suasana rumah begitu lenggang. Suatu waktu aku pernah bertanya, “Ayah, Ibu dan adik kecil itu mana?”
“Diam!!! Kamu tidak ada urusan dengan budak-budak itu!”
Aku begitu kaget dengan reaksi Ayah, lalu Ayah menyeretku dengan kasar dan membuangku ke tempat tidur. Terdengar pintu dikunci. Aku menangis dalam diam, menginginkan Ibu memelukku.
Aku terbangun dan kaget mendapati kondisiku, wajahku berantakan, mungkin aku tertidur karena banyak menangis. Di luar kamar terdengar suara-suara tidak jelas. Aku turun dari tempat tidur dan meraih handle pintu, terkunci.
Aku semakin menajamkan pendengaran, firasatku mengatakan sesuatu yang buruk terjadi. Aku naik ke atas meja dan mengintip di sela-sela fentilasi, dan aku melihat sesuatu yang tidak mungkin aku lupakan selama hidupku.
Kejadian itu terus terulang, puncaknya di suatu malam mendung. Aku melihat wanita yang kupanggil Ibu itu berteriak histeris memohon pada ayahku, dan gadis kecil itu…
“Ukh..” Aku menghentikan bacaanku kepalaku terasa pening, samar-samar suara-suara asing itu kembali merasukiku, terasa begitu nyata. Aku merasakan kesakitan di sekujur tubuhku. Darah, tangisan seorang wanita dan sesosok tubuh besar yang melemparkan kursi lipat ke arahku. Seorang anak laki-laki berteriak, “Cukup Ayah!!”
Sosok besar yang kalap, anak lelaki yang memelukku, wanita tua yang terbujur kaku, dan kilatan pisau. Darah, rasa sakit, erangan, rintihan, dan hening.
*******
“Histeria yang cukup akut.” Suara bariton itu tak kukenali, tapi suara lirih itu… Bunda?
“Penyebabnya Dok?”
“Efek traumatik yang mungkin berusaha dia lupakan. Jiwanya berusaha menekan beberapa memori yang tersembunyi di alam bawah sadarnya, mungkin suatu kejadian yang mengerikan. Memori ini akan mengambil alih tempat utama, ketika ada hal yang memicunya.”
“Seperti?”
“Surat itu. Saya merasa, gadis dalam surat itu adalah Shyyll.”
“Dan penyiksaan diri itu Dok?”
“Itu adalah efek dari tekanan jiwa yang timbul. Ketika memori itu muncul, otak bereaksi, alam bawah sadar memantulkan ilusi. Itu adalah perwujudan pertentangan dalam jiwanya, itu adalah karakter yang disembunyikan Shyyl.”
“Dia… begitu lembut,” suara Bunda memelan.
“Saya mendapat laporan, Shyyl sering tidak terkontrol di sekolah,” dokter itu melirihkan suaranya, dan melanjutkan,“ini akan sangat mengganggu psikis Shyyl. Jika semakin parah bisa mendorongnya menjadi… psikopat.”
“Shyyl… dia tidak… ”Suara bunda bergetar.
“Ibu, fenomena seperti ini sering terjadi terutama pada remaja. Shyyl melampiaskan kemarahannya pada diri sendiri karena dia tidak menemukan obyek pelampiasan. Dia membenturkan kepala, mencakar wajah dan tubuhnya…..”
“Dia hanya seorang gadis remaja yang kesepian,” Bunda memotong.
“Shyyl akan menjalani psikotherapi.”
Pembicaraan itu terhenti, aku tidak bisa melihat siapa yang datang. Ruang seberang dengan kamarku dipisahkan oleh tirai berwarna hijau, aku suka polanya. Kamar ini cukup sempit, suara-suara itu tidak lagi terdengar, tirai tersibak, memperlihatkan sosok di baliknya.
“Shyyl…” Sosok itu mendekat, aku dapat melihat dengan jelas wajahnya yang bersimbah air mata.
“Kamu seperti bocah berumur enam tahun, Aldi.”
“Kenapa kamu lakukan ini?”
“Kamu seperti bocah yang melompat dari jendela kamar da…”
“Shyyl!” Aldi mengguncang bahuku.
Ukh…. kepalaku. Aku merasakan sesuatu yang asing. Darah, tangisan, rintihan. Aku menangis. Lama Aldi memelukku. Ah…hahahaa sepertinya ini sangat lucu, kami seperti anak kecil. Anak kecil… anak… kami seperti dua anak kecil di malam dingin, berpelukan. Di belakang kami berdiri sosok besar, ada sesuatu di tangannya, aku membenci dia, kkhhk…
“Pergi!!!” Aku meronta,
“Shyyl…ssstt, tenanglah, maafkan aku, seharusnya aku tidak membangunkan tidur lelapmu selama ini, aku menyayangimu, aku… tidak akan membuka masa lalumu, aku akan menutupnya. Kembalilah menjadi Cleopatra yang angkuh, Shyyl.”
Aldi terus memelukku, aku tak lagi membalas pelukannya.
“Kamu tidak perlu memikirkan itu lagi Shyyl, tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya”
“Pergi Aldi! Keluar!” Sosok besar itu datang, dia membawa sesuatu di tangannya. Aldi berdiri di pinggir ranjang. Terpaku.
“Shyyl sudahlah, Shyyl…”
“Awas Aldi, dia di belakangmu!”
Ada banyak darah di lantai, bajuku memerah. Aku terengah-engah, sosok itu kian deket, dia melangkahi wanita tua yang tergeletak di lantai, spontan aku mengambil pisau buah di meja. Aku melemparkannya, sosok itu mengelak, aku mengambil buah dan melemparkannya.
“Shyyl… cukup!”
Otot-ototku mengendur, seorang anak laki-laki memelukku. Aku merasakan kedamaian, aku balas memeluknya, erat…
“Kak, Sheyla takut, Kak Rei.”
Anak laki-laki itu melepaskan pelukannya, dua telapak tangannya menopang wajahku, menatapku.
“Sheyl…la…. kau…?”
“Sheyla takut Kak, Ayah mengamuk lagi.”
Anak laki-laki itu menatapku bingung, wajahnya menyiratkan kecemasan.
“Shyyl, kamu di rumah sakit, lihat matahari itu, kicau burung-burung, damai…”
“Ayah memukuli Ibu, Kak.”
“Shyyl…”
“Ayo kita lari Kak Rei, agar Ayah tak…”
“Shyyl lihat sekelilingmu, ketenangan bukan?”
Anak laki-laki itu menangis.
“Kelam Kak, malam begitu kelam dengan ketenangannya.”
“Dok, Dokter!”
“Kak jangan pergi, hujan mulai turun.”
“Dokteeeer!”
Kak Rei tetap pergi, meninggalkan aku berteman sepi. Di luar hujan menderas, aku memeluk bantal, malam semakin menghitam.
Sayup-sayup aku masih mendengar suara-suara, begitu jauh entah dari mana.
“Dokteeeerrr!”
#selesai#
seru banget…