Segores Pena untuk Ayah
Desember 2nd, 2008 by rey_khazama
Yubahar, Ayahku.
Ayah, kau di mana? Begitu pilu hatiku, Ayah! Betapa sedih hatiku, Ayah! Betapa malang anakmu ini , Ayah! Dan betapa aku merindukanmu, Ayah!
Ayah, kunjungi aku di sini. Datanglah ke dalam mimpiku. Datanglah biarpun hanya sekedar menyapa. Aku sedang butuh kau. Aku sedang ingin menyentuh janggutmu. Aku juga sedang ingin memeluk pinggangmu yang besar. Jadi datanglah kemari, Ayah.
Rumah kita akan dijual, Ayah! Rumah kita sudah ada yang menawar! Rumah kita akan ditempati orang Jakarta, Ayah! Jadi datanglah kesini, Ayah. Cegah Ibu menjualnya.
Aku ingat pesanmu Ayah!
“Jangan pernah mau jadi orang bodoh. Jadilah matahari.”
Ayah, aku belum bisa jadi matahari. Aku belum bisa menerangi. Dan aku belum bisa menjiwai. Aku masih butuh kau, Ayah. Aku butuh dukunganmu. Aku butuh suaramu. Dan aku sangat butuh dekapanmu ketika seribu wajah menghujamku dengan hina.
Mereka melempariku dengan pelacuran kata. Menelanjangi nafsuku hingga kerah jantung ini robek. Mereka ampelas aku dengan fitnah-fitnah yang datang dari antah-berantah. Yang paling parah, mereka menggunduli harkatku hingga noktah cinta keluarga kita punah. Mereka jahat, Ayah! Mereka jahat! Jangan mau berteman, bila mereka masuk surga. Jangan biarkan mereka menjilati matamu dengan cahaya cinta. Mereka itu manusia tak beradab dari neraka. Percayalah padaku, Ayah! Sekali ini saja percaya padaku!
Ingatkah kau, Ayah? Ketika kau masih hidup, kita ke rumah mereka. Saudara kandungmu itu. Dan ketika aku masih memakai jas hitam yang gagah. Mereka menyanjungmu dengan kata mesra. Saat itu aku menyangka semua baik-baik saja, dan mereka tak berdusta dengan kata.
“Anak kau ini akan jadi orang hebat, Bayu. Masih kecil saja dia sudah gagah. Sudah besar dia mungkin akan jadi konglomerat. Melebihi orang barat. Tak percaya aku kalau dia akan melarat nanti. Kalaupun melarat akan kubantu dia jadi konglomerat,” kata mereka kala itu.
Ingatkah kau, Ayah! Coba dengarkan kataku, Ayah!! INGATKAH KAU, AYAH!!
Ketika kau dipanggilNya, jangankan untuk membantuku menjadi konglomerat. Meminjam uang yang tak seberapa saja pun aku malah di panggil ‘keparat’. Padahal saat itu Ibu menangis— meminta obat. Siapa sekarang yang ‘keparat’, Ayah. Siapa?
Hidup memang susah. Mencari nasi pun harus pungut dari tong sampah. Mencari seteguk air pun harus menyembah, dan membeli susu pun harus main darah. Aku sadar itu, Ayah.
Ayah, bila kau di sini , akan bilang apa kau pada mereka? Apa kau akan tetap tersenyum pada mereka? Walaupun jelas-jelas saja ketika kau melarat dulu, mereka membongkar lemari. Menjual pakaianmu agar mereka bisa makan dengan daging domba. Dan setelah kau kaya mereka tetap menjilati keningmu, lalu makan dengan daging sapi segar dari supermarket.
Kau terlalu baik, Ayah! Bahkan hatimu lebih lembut dari kapas tertipis di dunia. Kau laksana harpa. Semakin keras di petik, semakin merdu dan nyaring di kulit. Kau membuat bulu-kudukku merinding, Ayah.
Aku jadi preman kata bukan karena aku menyimpan dendam pada mereka, aku menggurat kertas pun bukan pula karena aku ingin kaya dan tertawa dengan perlakuan mereka. Aku datang dari neraka menuju surga, untuk menampar dunia dengan kata. Aku ingin membunuh jati diriku dan menjadi seperti dirimu. Menjadi seperti matahari. Menyongsong bumi dengan api dan tenggelam pun atas nama api. Namun ketika aku membara dengan merahnya aku harus sadar kalau aku tercipta dengan tanah, Ayah! DENGAN TANAH. Aku juga sadar kalau aku lahir dari air mani. Aku juga sadar kalau aku besar dengan susu Ibu. AKU SADAR ITU AYAH! AKU SADAR.
Memang aku belum bisa memberi makan Ibu dengan jajanan mewah. Memang aku belum menginjak tanah dengan sepatu yang wah, tapi aku akan menjadi matahari yang megah. Takkan terbantah.
Kakak pertama sudah menikah, Ayah. Dia menjadi Ibu rumah tangga. Memiliki suami seorang drive test di perusahaan asing. Ayah pasti tak tahu drive test itu apa? Bukan pengetes mobil loh, Yah. Drive test itu seorang pencari sinyal komunikasi yang kerjanya hanya duduk di mobil memegang laptop. Laptop, Ayah tahu kan? Oh ya, aku lupa Ayah itu buta teknologi. Intinya dia sudah punya harta. Gajinya saja delapan juta.
Kakak kedua juga menjadi Ibu rumah tangga. Suaminya seorang pedagang sukses di kota sana. Dia juga yang menyelamatkan harta kita. Karena dia yang meneruskan usaha Ayah. Dia memang seorang malaikat yang diturunkanNya dari surga. Selama ini pun aku diberi makan olehnya. Ibu juga.
Kakak ketiga kerja di kapal pesiar, biarpun kerjanya hanya mengelap meja, tapi dia selalu berusaha. Namun dia belum dewasa, Yah. Ketika pulang, kerjanya tertawa dan tertawa. Maklumlah. Ketika SMA dia hanya punya kita. Temannya selalu mencemoohnya. Malangnya kakak ketigaku tercinta. Padahal wajahnya menyiratkan cinta. Untung dia juga bergaji belasan juta.
Tapi satu kekurangan keluarga kita, Ayah. Mereka semua mengejar harta. Bukan dunia. Mereka hampir seperti saudara Ayah yang menyampakkan kita seperti gerombolan binal dari rumah pelacuran. Keluarga kita tersiksa bagai dalam penjara. Hati mereka meronta ketika rumah kita akan di jual, Ayah. DIJUAL.
Bujuklah mereka ayah. Bilang pada mereka, bahwa rumah ini adalah istana yang kau bangun untuk mereka.
Sebelum yang terakhir , Ayah. Janganlah kau menangis di surga sana. Jangan kau menangis– melahirkan anak bungsumu ini. Dia hanya menjadi sampah di atas meja kejujuran. Menjadi benalu namun bahagia dengan sebuah lugu. Menjadi cahaya hanya dengan selembar kata. Tapi inilah anakmu, Ayah. Anakmu!
Mungkin inilah takdirNya, Ayah. Ini takdirNya. Bukan pemain sepak bola seperti yang kau kira, bukan juga pedagang emas seperti yang kau inginkan. Inilah anakmu, Ayah.
Anak bungsumu ini duduk diatas meja dengan segores pena untuk Ayahnya di surga. Jikalau pun kau tak datang mengambil surat ini, aku tahu kau bangga, Ayah! Karena surat ini berasal dari tangan dewa. Tangan yang selalu menjamah roti dari tempat sampah ini akan membuatmu tertawa di nirwana. Tangan ini juga yang membawaku dalam cinta di dunia.
Ambil ya, Ayah! Kusimpan surat ini dalam rak mimpiku. Datanglah untuk mengambilnya. Ketika aku tidur. Ambil saja kunci lockernya dari sakuku.
Tujuh kata terakhir, Ayah. Jangan marah bila anakmu jadi Tukang Ngarang.
25 November 2008
Salut.bgs bgt pas aq bc seolah2 smua yg pengen aq critain dah trwklkan.aplg pengucapan kt ayah bags deh pokokny
ass. karangannya baguss bagt,,,,,,
i like it…
teruslah berkarya….!!!
semangat
cerpennya bikin aq nangis, sungguh cerita itu aku alami sekarang, walaupun saudaraku tidak bergelimang harta hiks2….tapi aq selalu berharap ayahku datang dalam mimpiku…