KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Saat Ujian Tengah Semester satu bulan yang lalu, ada satu kejadian simpel yang berkesan bagi saya. Waktu udah menunjukkan pukul 16.00 yang menandakan bahwa ujian akan segera dimulai. Mahasiswa-mahasiswa yang sudah stand by di luar pun segera masuk ke ruangan. Soal dibagikan, lembar jawaban dibagikan, kami semua mulai membaca soalnya.

. . .

Sunyi..

Baru beberapa detik membaca, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang tenang. Kata-katanya diucapkan dengan pelan dan jelas. “Yak, sebelum ujian, mari kita berdoa dulu agar semuanya lancar dan diberi kemudahan. Berdoa dimulai.”

. . .

Ternyata sang bapak pengawas ujianlah yang bersuara. Seumur-umur saya kuliah, baru satu kali kejadian ini saya alami. Baru kali ini ada bapak karyawan kampus alias pengawas ujian yang mengingatkan mahasiswa untuk berdoa sebelum mulai mengerjakan soal ujian.

Saya terkesan. Tidak hanya saya, karena saya mendengar suara-suara respon dari teman-teman saya. Respon positif tentunya. Salah satu teman saya menyeletuk, “Wah, keren, keren,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Hmm..apa kita ingat kapan kita terakhir membaca doa di kelas?
TK, SD, SMP, SMA.
Selama duduk di tingkat-tingkat tersebut, kelas selalu diawali dengan doa dan salam yang dipimpin oleh ketua kelas masing-masing. Saat kuliah, apalagi kerja, karena kita dianggap sudah dewasa dilihat dari umur, kita diasumsikan bisa me-manage diri sendiri, maka dari itu kini tidak ada lagi kewajiban membaca doa bersama sebelum kelas resmi dimulai.

Tapi..
Berapa banyak dari kita yang ingat untuk berdoa?
Padahal doa merupakan hal simpel yang sangat berarti, sangat menentukan bagaimana Allah akan menilai suatu aktivitas yag kita lakukan.

Dengan doa, kita bisa meluruskan niat.

Dengan doa, kita bisa ingat kembali tujuan kita dan mengaplikasikan ilmu yang kita sapa untuk kebaikan bersama (aamiin, semoga).

Dengan caranya yang sederhana, bapak pengawas ujian itu telah menginspirasi dan mengingatkan kita agar senantiasa meluruskan niat, mengingat kembali tujuan kita, dan tentunya tidak lupa akan keberadaan-Nya.

Siapa tahu selama ini kita bekerja tanpa nyawa?
Siapa tahu ilmu yang kita dapat selama ini hanya mengawang dan sia-sia?
Mudah-mudahan tidak.

Hmm..
Mari kira luruskan niat dan jangan lupa berdoa sebelum melakukan hal apapun!

8 Responses to “Sang Pengawas Ujian”

  1. on 03 Dec 2008 at 18:51dhiz

    bagus deh…
    tpi ko’ dkit bgt…

  2. on 04 Dec 2008 at 19:21Mariani Tri Agustina

    syukurlaah, trima kasiiih
    iya, makasi juga sarannya ;p

  3. on 09 Dec 2008 at 00:03NUHRAFI

    WAH CERPEN KAMU BAGUS BANGET BISA, BISA NGINGATIN ORANG YANG LUPA TERIMA KASIH YAAAA……..

  4. on 10 Dec 2008 at 19:50Mariani Tri Agustina

    makasih juga^^
    btw, sbnrny sih bukan cerpen, tp pengalaman pribadi, hohohow

  5. on 24 Dec 2008 at 13:03Miory

    Bener bgt,seringkali kta lpa b’doa sblm mlakukn sesuatu.pdhal ad lagu “diawali dgn bismillah,disudahi dgn alhamdulillah…” tp emang skrng bnyk yg lpa c.smakn tinggi tk.pendidikn,kox jd smakin jarang b’doa?

  6. on 25 Dec 2008 at 17:00Mariani Tri Agustina

    btuuuullll

  7. on 26 Dec 2008 at 17:33Luluk

    Aq suka cuplikan qm…Dan bener juga, doa adl rasa percaya kita pd Sang Khalik, dan mengingat-Nya dlm stiap khdpan adl suatu iman.,tks y

  8. on 07 Jan 2009 at 11:31ladina

    hey ran, saia dataaang… hehehehe

    ciyeeeeeeeehhhhh… *ga jelas*

Tinggalkan Komentar